“Urus segera!” Suara di seberang sana mengerang frustrasi. Sesiang ini waktunya terbuang untuk mengurusi titah Raja. Tapi siapa pun takkan bisa membantah si otoriter ganteng bak tiang listrik ini. “Sesuai alamat. Eksekusi. Selesaikan. Dan lapor!”
Astaga! Bisakah manusia satu ini sadar akan kadar ketampanannya? Tidakkah ia lihat mata-mata yang melintas mengagumi, berdecak, berseru girang tanpa malu?
Yang sebal maksimal justru Leora. Kafenya mendadak ramai. Tempatnya sesak. Pembeli antre. Hanya untuk memandang Raja dari radius terdekat.
“Mbak …” Leora menoleh. Di belakang meja kasir kedua matanya bekerja sangat capet dan fokus. Satu sisi memerhatikan gerak-gerik Raja, satu sisi melayani customer yang ingin membayar. Dan panggilan dari sampingnya membuatnya meringis kala bisikan terdengar. “Dia itu ganteng banget. Coba aku punya suami kayak dia.”
Ringisan berderet memperlihatkan gigi rapi Leora. Aldila namanya. Perempuan berumur dua puluhan semester empat jurusan manajemen bisnis melambungkan angannya. Tidak tahu saja dia sekejam apa Raja. Akan lari terbirit-b***t nantinya begitu tahu.
“Atau jadi teman tidurnya juga aku rela.”
Ughteaa ayo beristigfar. Jangan sampai yang punya telinga dengar. Berabe tujuh turunan, tujuh tanjakan.
“Kamu sudah selesai?”
Ya Allah sejak kapan manusia satu ini pindah tempat? Leora mengurut dadanya.
“Kita mesti ke kantor. Papi mau bahas proyek di Sumba.”
“Mbak … kenal?” Suara Aldila mencicit.
“Saya suaminya.” Leora melongo. Mulut Raja memang tidak punya saringan. “Ayo, Sayang.”
Berdugun-dugun jantung Leora. Rasanya aneh tapi tidak tahu apa. Rasanya tersengat tapi bukan aliran listrik. Rasanya menyenangkan kala sela-sela jemarinya terpatri dengan milik Raja. Rasanya seperti jangan berakhir tapi Leora tahu bahwa ketidakmungkinan selalu menyambangi.
Sedang Leora menikmati sensasi ‘rasa’ yang tidak bisa dirinya jabarkan. Raja mengenang masa-masa bahagianya.
Sejak kecil, Raja terbilang sangat dekat dengan papinya.
Tidak seperti kebanyakan anak-anak lainnya yang memilih dekat dengan ibunya. Raja cukup unik untuk memilih akrab dengan Papinya. Hal itu juga yang menimbulkan kecemburuan maminya kala Raja hanya mau menurut dengan Radit Anggoro.
Dalam pemikiran bayinya, Papinya adalah panutan. Lelaki tampan yang kuat dan gagah. Menyayangi maminya—bukan artinya Raja tidak sayang dengan maminya. Melihat pancaran cinta yang Papinya luapkan, Raja kecil mengerti jika keluarganya sempurna. Dirinya mengagumi pimpinan keluarga Anggoro dan terbentuknya keluarga yang berproses terus tercanang dalam otaknya.
Hanya saja, kesempurnaan yang terselubung kebobrokan tidak bisa di tampik. Begitu sempurnanya sebuah keluarga, kian bertambah borok yang tersimpan.
Seakan itu semua sudah satu paket, Raja menambahkan kerusakan lain agar semakin berbentuknya kesempurnaan yang sesungguhnya. Ada yang salah. Benar. Ada yang aneh. Itu juga benar. Tapi semua itu tidak bisa di kendalikan oleh akal manusia sekali pun. Raja pernah mencoba berhenti namun percuma.
Masa remajanya yang sudah rusak ia bubuhi kesakitan dalam perjalanan. Menjadi sasaran seks dari orang tercinta pukulan telak. Raja benci itu. Dan dari itu semua, dendamnya terbentuk.
“Ini nggak mau di lepas?”
Mata Raja mengerjap. Sejenak ling-lung akan keberadaan tubuhnya. Beruntung Leora berjalan ke arah yang benar—parkiran mobil.
“Apa?” tanya Raja yang belum sadar.
“Ini.” Leora mengangkat tautan tangannya. “Punya kamu keringatan.” Ringisnya.
Tidak secepat kilat Raja lakukan. Justru ia nikmati wajah Leora sejenak. Istrinya … cantik. Seratus persen cantik. Natural. Pipinya pas, tidak terlalu tembam atau pun tirus. Lekuk bibirnya juga pas. Bisa di pastikan ketika berbentur dengan milik Raja, akan menautkan benang-benang saliva yang lama. Hidungnya mancung sempurna—perpaduan papi Sagi dan mami Barella tercetak di sana. Leora cetakan sempurna yang membuat perempuan mana pun iri.
“Ayo.”
Entah kenapa Leora misuh-misuh. Mengalami kejadian aneh dengan rasa yang tidak bisa di jabarkan tapi tidak mau di lepaskan. Mendadak kosong saja.
***
“Kalian berdua kalau cuma akur nggak kasih kabar adanya cucu Papi ngambek.”
Sagitarius Yudantha tidak akan di pungkiri eksistensinya. Sejak zaman muda dulu sampai paruh baya sekarang ini, pikiran dan otaknya selaras. Bahkan perkara cucu saja harus dirinya recoki. Etis saja tidak. Kehidupan rumah tangga anaknya di pandu.
“Jangan konyol!” Yang menimpali istrinya—Barella Yudantha. Keturunan Yudhistira itu selalu sensi dengan omongan suaminya. Sering dirinya memberi nasihat untuk suaminya mengubah kebiasaannya. Tapi memanglah bebal lelaki yang dirinya nikahi itu. Mengaku menyesal juga percuma.
Keadaan itu tidak mengagetkan bagi Leora. Tapi berbeda dengan Raja yang mengubah mimik wajahnya. Segurat rasa enggan dan sungkan Leora tangkap. Sampai-sampai Leora usap lengan kekarnya dan memberinya senyum.
“Papi bercanda.”
“Papi serius!”
“Diam!”
Astaga. Leora meringis malu.
“Belum ada tanda-tanda Pi.” Terkutuklah mulut Raja. Yang Leora sipitkan matanya dengan tajam. “Kita mungkin mau nunda setahun dulu biar aku sama Leora puas bulan madunya.”
Endasmu itu puas-puasin bulan madu.
“Aku maunya kita pisah malahan,” bisik rendah Leora. “Aku tahu kamu sudah menikah. Jadi, ayo kita pisah. Aku nggak suka buat drama.”
Raja menegang. Kepalanya menoleh dengan mata melotot horor. Aku tinggalkan bagian dariku padamu agar kamu bisa merasakan kehangatanku dan kelembutanku. Mendadak ada musik menerjang rungu Raja dan lantunan kata dari hatinya ikut berbisik.
Leora terlalu cepat mengambil kesimpulan sedang apa yang di dengarnya tidaklah benar. Karena aku akan selalu bersamamu di mana pun kamu berada sampai di hari kamu kembali. Besok, hidup kita mungkin akan berubah. Tapi hari esok takkan bisa mengubah cinta kita. Raja embuskan napasnya dalam-dalam.
Pernikahan yang Raja jalani dulu hanya sekedar ikatan bisnis. Bukan pernikahan normal selayaknya dirinya jalani sekarang. Tapi memberi Leora penjelasan di atas kekeuhannya juga percuma. Keras kepala dan batu seperti Leora tidak mudah di tahlukkan.
“Oke.”
Berganti Leora yang tersentak. Semudah itu Raja melepaskan tanpa mau memperjuangkan. Papinya sangat salah memilihkan suami. Yang katanya baik nyatanya buruk. Yang katanya tidak akan menyakiti nyatanya menuangkan garam di atas lukanya. Yang katanya memiliki potensi suami idaman nyatanya b***t.
Tapi, tahukan Leora jika Raja sedang berusaha memperbaiki diri?
Lebih baik tidak tahu. Raja tidak akan memberi penjelasan apalagi alasan. Jika perpisahan yang perempuan itu inginkan, akan Raja kabulkan. Akan ia siapkan semua berkas perceraian secepat permintaan Leora. Dan seolah kembali pada waktu yang kelam, Raja menyimpulkan jika perempuan di dunia ini sungguh kejam, kecuali mami dan adiknya. Perempuan di dunia ini terlalu tinggi menjunjung egois dan martabatnya. Perempuan di mata Raja—setelah Leora meminta perpisahan—memang patut untuk di lukai.
Ah, padahal Raja sudah menepiskan aksi balas dendamnya. Tapi Leora memang pantas dirinya jadikan samsak ajang sakitnya. Mungkin Raja tunjukkan saja keasliannya agar Leora patuh. Agar mudah baginya menyiksa Leora. Seperti sepuluh tahun lalu. Agar semua perasaan sakitnya berkurang. Agar Leora tahu sakitnya di hancurkan.