Sepuluh

1331 Words
Bisikan Raja memproteksi diri Leora. Dengan sigap, meloloskan diri dari dekapan yang sialannya nyaman, membuat benteng perbatasan dan berseru, “Ini batas negara kita. Jangan melewati batas!” Tentu jawaban Raja hanyalah dengusan. Tapi lebih dari itu semua ada segaris semili yang menempel di bibirnya. Leora takkan melihat itu padahal sangat langka. Bisa di bilang keajaiban dunia jika seorang Raja bisa membagi senyumnya ke orang lain. Fokus Leora benar-benar ada di bencana jilid II. Karena sangat takut dengan ancaman Raja: “Kamu nggak akan selamat besok.” Maka menjauh adalah caranya. Meski percuma. Setelahnya yang dilakukan Raja ialah, membuang batas dari bantal guling yang Leora ciptakan dan menyeret istri pembangkang ke dalam regupannya. Kedua kakinya melilit kaki Leora. Sudah di katakan percuma. Leora berontak pun tak ada hasilnya. Malah lebih parah ketika tangan Raja menepuki punggungnya. Yang terjadi selanjutnya lebih dari kiamat. Leora tertidur dengan nyenyak hingga pagi menjelang. Yang akan Raja rekam ini untuk dirinya saja. Wajah bayi Leora kentara menyenangkan ketimbang saat mata kelamnya terbuka; menyebalkan, pembangkang, kepala batu dan segala keburukan yang bersemayam dalam diri Leora. “Kamu punya peliharaan?” Kenapa kalimat akhirannya tertuju tepat di wajah Leora? “Brandon.” Keduanya belum sadar jika pelukan masih terbungkus dengan selimut yang menutupi. “Sejak kapan?” “Semalam.” Leora sadar lebih dulu dan melepas lilitan di kakinya. “Jauh-jauh!” Leora ngeri—horor—dengan perbuatan Raja. “Nanti gue hamil!” Apa sih ini bocah? Dengusan Raja terdengar. “Jeruk sankis kamu itu kecil.” Gerakan natural tanpa dugaan yang gagal Leora hindari. Dadanya sudah di remas. Jangan tanya rasanya … itu enak. Tapi Leora gengsi mengakui apalagi mendesah. “Kalau saya celup-celup sariwangi terus colok-colok cilok, pasti bisa matang sempurna.” Astagfirullah Akhi. Mulutnya sesuatu sekali. Bebannya entah ke mana. Sayangnya seribu kali sayang. Fakta yang tidak terduga datang menghampiri. Begitu bulan madu yang kebanyakan pasangan lewati dengan sangat indah penuh romantis dan e****s. Tidak berlaku bagi Leora yang begitu menginjakkan kaki di ibu kota justru di suguhkan dengan drama apik malam hari. “Memang anak kamu!” Awalnya Leora acuh saja dengan keberadaan sang pemilik suara. Perempuan tentu saja. Hardikannya terdengar serius di pendengaran Leora. “Kamu lupa kita pernah bersama?” Lama-kelamaan jiwa kepo Leora menggelora. Maka mengintip dari balik tembok yang langsung terhubung dengan ruang tamu adalah caranya. “Oh jadi dia yang bikin kamu ninggalin aku?!” Kepala Leora menyembul tidak sepenuhnya dan tuduhan tidak masuk akal menyerbunya. Kenapa, ya, orang-orang kalau ngomong suka pakai urat? Santuy sedikit sambil ngopi, kan, enak? Dan hell kenapa membawa namanya? “Cukup!” Yang Leora beri cibiran dan lekas berlalu. Acuh pada obrolan—lebih ke pertengkaran sebenarnya—ngalor ngidul Raja dan tamunya. “Apa?!” “Kita sudah berakhir!” Jika ada kandidat tersantai dalam sebuah audisi, Raja pasti menjadi pemenang utama. Sudah sangat irit dengan jawaban, kesan malasnya juga terlihat. “Saya tidak pernah merasa perlu bersama kamu lagi.” Kaki Leora berat. Padahal tidak ada beban yang menahan laju tungkainya. “Kita sudah tidak bersama setelah kamu memilih lelaki itu.” “Tapi dia tetap darah daging kamu! Anak kamu, Raja!” Teriakannya lantang. “Kamu mempunyai kehidupan layak sejak dulu sedang aku—” “Kamu yang memilih jalannya sendiri, Era. Bukan salah saya dan menyoal anak itu … bukan atas hak saya lagi.” “Jangan gila!” Era histeris. “Kamu hanya suka membuatnya tanpa mau bertanggungjawab.” Olokan Raja lewat decihan kentara terlihat. “Saya dan kamu tidak ada lagi ikatan. Artinya dia bukan lagi hak saya,” jelas Raja. Era—Erlangga—perempuan cantik dengan tinggi badan semampai dan lekuk tubuh yang proposional pernah menjadi bagian masa lalu Raja. Cukup bahagia awalnya meski tanpa sepengetahuan keluarga Anggoro. Sudah Raja tekankan bahwa dirinya b****k. Menyembunyikan borok seperti ini dari keluarganya adalah keahliannya. Menikah secara siri demi kesenangannya dan rasa kagumnya pada Era kala itu. Semata-mata menggapai sebuah proyek pertamanya dan kesempatan tidak datang dua kali. Sedang Era pemegang sebuah tender maka Raja mengendalikan hati perempuan berdarah manado itu. Namun, pernahkah kalian berpikir bahwa manusia amatlah serakah? Benar. Raja pikir, Era satu-satunya perempuan yang paling tepat dirinya singgahi. Raja jadikan tempat pulang sebagai rumah yang sesungguhnya. Tapi akal sehat manusia selalu waras. Serakah akan tetap serakah tanpa bisa berubah. Kehidupan yang baik menyambangi bukan menjadikan tombak kemajuan melainkan pembelotan ulung. Era selingkuh. Lebih memilih lelaki lain. Membawa serta anaknya dan Raja membiarkan. Karena Raja bukan lelaki berisik yang suka membawa segala perkara ke meja hijau, melepaskan Era bukan hal yang sulit. Bantuan Era dengan menjadi istri sirinya amatlah membantu. Bisnisnya berjalan sangat lancar tanpa perempuan itu dug ajika sudah di manfaatkan. Raja seorang manipulatif. Akhir dari kisahnya takkan di jadikan halangan. Berakhir satu kali, melepaskan selamanya. “Kenapa?” Itu yang Raja tanyakan. Alis tebalnya menyatu. “Oh dia miskin? Atau jatuh miskin?” Sebenarnya tanpa perlu Raja bertanya, ia sudah tahu jawabannya. Dendam tiap manusia selalu berbeda. Dan Raja punya sisi lain untuk membalaskan dendamnya. “Coba dulu kamu setia sama saya …” Seharusnya dari jawaban ini Era menangkap maksud terselubung Raja. “Saya bukan manusia paling murah hati untuk membuka pintu maaf apalagi perkataan kembali kamu.” Raja meremehkan. “Jadi Era, bisa pergi dari sini?” Di tempatnya Leora tertegun. Mendengar semua pengucapan Raja yang terasa kejam. Ada yang terluka. Tidak berdarah. Seperti sudah seharusnya Leora lepaskan. Apa? *** Di lain kesempatan, hal tak terduga menyapa Leora. Awalnya ia pikir wajar saja karena ini mall dan tempat umum di mana semua orang bisa berkunjung. Tapi kalimat tanya yang meluncur untuk dirinya terdengar dan rasa nyaman mulai was-was ke tahap darurat. Leora simpulkan dirinya di kuntit. “Saya baru lihat di zaman ini masih ada perempuan nggak tahu diri! Oh, atau sudah nggak ada harga dirinya? Pantas!” Di katai begitu Leora santai saja. Selama bukan dirinya pelakunya, tidak masalah mendengar bagaimana pun penilaiannya. Karena sejatinya, kita baik tetap akan di hujat dan keburukan kita di jadikan ajang gossip para netijen. So, itu bukan masalah besar untuk Leora tanggapi. “Mas Raja itu suami saya!” Yang sudah di ceraikan—batin Leora menggonggong. “Kamu harusnya tahu diri untuk nggak dekat-dekat apalagi sampai menikah!” Sejarahnya begini: pernikahan Raja dan Leora sudah tercatat oleh para tetua. Jika begitu—sebelum Leora berbetuk zigot—bisakah protes di layangkan? Setelah dirinya terlahir ke dunia, hanya bisa menyetujui tanpa bisa di tolak. Itu mutlak. “Kamu cantik, kaya dan pintar.” Woyajelas. Papi gue pendiri perusahaan dan gue penerusnya—masih saja batin Leora menggebu untuk berpamer ria. “Kamu juga ahli waris kondang tapi kenapa harga diri saja serendah itu?” Well, karena cukup diam dengan wajah super datar—ayo puja mami Barella yang menurunkan sebagian gennya ke darah Leora. Kini pemahaman tentang pentingnya sebuah Pendidikan agar perilaku yang hendak di perbuat bisa di pertimbangkan secara matang. Apakah hal ini memberinya keuntungan atau malah membuat citra namanya kian buruk? “Mentang-mentang kamu kaya dan punya segalanya kamu membeli seseorang lewat perjanjian hitam di atas putih.” Tahukah kalian ketika kalimat itu meluncur, pasang mata yang lewat langsung menoleh? Ada yang melempar tanya lewat tautan mata, ada yang merasa penasaran, bahkan tidak segan langsung berbisik-bisik ria asik sekali. Keterdiaman Leora lama-lama berubah menjadi kegerahan. Yakin serratus persen, AC di dalam ruangan suhunya cukup aman. Perempuan bernama Era yang Leora simpulkan sedang terpanggung amarah baru saja melintasi jalur wajarnya. Kesabaran Leora tergerus. “Kamu di sini?” Mulut Leora yang terbuka, tertutup kembali. Menoleh pada sumber suara, tidak hanya Leora yang membeliakkan mata, Era lebih-lebih memberikan respon yang lebay. “Aku nunggu kamu dari tadi di kafe. Pegawai kamu juga nunggu.” Raja di antara dua perempuan yang sedang bersiteru tarik urat terlihat mengagumkan di mata pengunjung mall. Postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang ganteng, menyimpan sejuta decak untuk di elukan. “Ayo. Aku lapar.” Begitu saja Era direndahkan harga dirinya. Tidak sekali maupun dua kali. Terlampau sering Raja menginjaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD