Empat Satu

1063 Words
Dalam sebuah coretan pena kecil yang melayangkan ingatan Raja. Dalam guyuran air shower yang dingin, sensasi menyegarkan membuat isi kepalanya terasa lebih ringan. Raja usapi seluruh tubuhnya dengan busa sabun. Wangi maskulin yang menguar—pilihan Leora—memang tiada duanya. Harumnya menenangkan dan serasa ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Tapi tidak bisa karena waktu terus berjalan. Dan Leora dengan bibir manisnya terus menyerocos di luar pintu. “Kamu bakal telat kalau mandinya sekalian bangun tembok kamar mandi!” Ya Tuhan! Dulu, izinkan Raja mengeluh untuk pagi ini, tidak pernah terbayangkan dalam benak Raja akan memiliki Leora sedalam ini. Seorang diri dan untuk dirinya sendiri. Raja adalah orang egois. Yang artinya; tidak bisa intropeksi diri sendiri, tidak nisa mengamati dirinya sendiri, tidak bisa menilai dirinya sendiri. Dan orang yang egois, hanyalah ingin menjadi yang pertama dan yang paling benar. Itulah Raja yang sesungguhnya. Tapi sejak bertemu kembali dengan Leora dalam kondisi yang berbeda. Leora cantik sekali di mata Raja. Dan sadar akan hal itu. Namun Raja yang menyimpan luka tidak pernah sadar sebegitu kerasnya Leora harus dirinya miliki. Untuk dirinya sendiri. Karena Raja egois. Jangan lupa itu. Intinya, Raja bersyukur saja. Punya Leora. Memiliki Leora. Mendapatkan Leora untuk hidupnya dan segala sesuatu yang menunjukkan bahwa Raja memanglah egois. “Astaga!” Raja mendengar gerutuan Leora dari luar pintu dan masih asik dengan kegiatan mandinya. “Air tuh mahal Papi.” Teriakan Leora nyaring sekali. Raja terkekeh. Senang saat Leora memanggilnya Papi. Ada desiran lain di hatinya yang bersensasi. “Kamu ribut banget.” Keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di pinggang. Mulut Leora terbuka dan tertutup secara bergantian. “Kenapa?” Goda Raja dengan senatural mungkin sikapnya. “Baju aku mana.” Dan Leora masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Memperhatikan gerak-gerik Raja yang berjalan biasa saja namun di mata Leora amatlah sensasional. “Ora, aku telat.” Leora gelagapan di buatnya. Matanya mengerjap gugup dan kakinya serasa kaku saat bergerak menghampiri Raja. “Lihat tuh jam berapa sekarang?!” lanjut Leora mengomel. Namun alih-alih menutupi sikap groginya, Leora lebih enggan menatap mata Raja yang menatapnya penuh godaan. “Aku yang punya kantor kok.” “Nggak bisa dong seenak itu walaupun punya kamu.” “Ya biarin dong, Sayang. Kan nggak ada masalah juga.” “Masalah dong!” Gas Leora seraya mengambilkan kemeja untuk Raja kenakan. “Apa masalahnya.” “Kamu ngajarin karyawan jadi nggak disiplin waktu.” “Kan aku bos!” Raja tidak mau mengalah. “Aku yang buat peraturan.” “Dan jangan lupa kalau peraturan di buat untuk di langgar. Jadi, jangan heran kalau aturan yang kamu buat justru di buat sesuka hati sama karyawan.” Leora tidak sepenuhnya salah. Tapi memang dasarnya Raja saja yang tidak mau di kalahkan. “Harusnya ...” Leora pasangkan dasi di leher Raja. “Masa calon papi kayak gini. Kalau anaknya lihat, kan nggak banget.” Sekarang Raja percaya, bahwa sekali dalam seumur hidupnya, dirinya akan bertemu dengan seseorang yang memberikan dampak begitu besar untuk hidupnya. Yang seterusnya tidak akan pernah Raja lupakan seberapa lama waktu berlalu. Leora adalah contoh nyata salah satunya. Ada banyak perubahan dalam diri Raja setelah bertemu dengan Leora. Menikahi Leora hingga membuat perempuan itu hamil pun ada kisahnya tersendiri di dalamnya. “Gomawo,” kata Raja berbisik. Seraya mencium pipi Leora dalam. “Kamu nggak ada duanya. Nggak ada yang kayak kamu.” “Yakin?” Raja angguki dengan semangat. Leora embuskan napasnya. “Di depan aku ngomong kayak gitu. Tahunya di belakang kamu main perempuan.” Untuk saat ini tidak. Tidak tahu kalau ke depannya. Tapi Raja tidak punya niatan untuk bermain dengan perempuan lain. Raja tidak ada untuk berselingkuh dan lain sebagainya. “Kan dulu.” “Tetap saja penyakit.” Dari sini, Raja sadar. Ada banyak kata-kata yang membenarkan bahwa menikah harus dilakukan dengan orang yang sangat baik. Menikahlah bukan karena ingin menikah. Tapi saat tak bisa berpisah atau tak bisa hidup tanpa orang itu. Dan Raja bersyukur karena dirinya menikah di usia matang dan bukan sekadar keinginannya belaka untuk membina rumah tangga. Namun karena memang sudah waktunya yang tepat dan tak bisa berpisah lagi dari Leora. “Aku serius. Nggak ada yang kayak kamu di luar sana.” Raja takkan pernah mencari lagi. Setidaknya, itu adalah janjinya saat ini. Juga janji pernikahan yang sudah Raja ucapkan. Pernikahan adalah sakral. Terjadi satu kali dalam seumur hidup. Raja tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti masa lalunya. Takkan pernah. Leora tersenyum. Menatapi wajah Raja lekat-lekat. Entah hal baik apa yang sudah dirinya lakukan atau doa manjur apa yang sudah maminya panjatkan. Sekali dalam seumur hidupnya, Leora ingin mengucap syukur sebanyak yang dirinya bisa. Dan berbisik, bahwa memiliki Raja adalah anugerah untuk hidupnya. Dan bayi yang ada dalam perutnya, Leora inginkan sebagai suatu kenangan yang takkan habis oleh waktu. “Aku juga bangga punya kamu.” Kecupan Leora di kulit pipi Raja, entah mengapa terasa sangat hangat. Atau barangkali udara pagi yang sejuk. Bisa jadi. “Aku juga.” Bagi Raja, sekali pun Leora sangat menyebalkan di pertemuan awal keduanya. Nyatanya, Leora bukan tipe perempuan yang serakah. Dalam artian, terlalu memaksakan kehendak untuk bisa memiliki Raja. Alih-alih menerima, Leora justru terlihat pasrah saja. Leora tidak pernah meminta Raja ini dan itu. Apalagi itu seintens komunikasi yang biasanya sering dilakukan oleh pasangan di luar sana. Leora cukup peka. Mengerti akan kesibukan Raja dan tahu betul caranya menyenangkan hatinya. “Masa?” Nah kambuh lagi. Raja mendengkus. Meski begitu, tetap menerima jasa yang Leora angsurkan. “Mau makan apa?” Sesi paling menyenangkan bagi Raja. Tidak tahu kenapa. Pertanyaan sekecil itu bisa membuat hati Raja berbunga-bunga. Padahal itu sudah wajar terjadi. “Kamu yang masakin.” “Memangnya kamu ada istri lain?!” Salah terus. Raja hanya menggoda. Dan hormon kehamilan Leora memprovokasi. “Aduh anak Papi. Kamu suka banget bikin Mami negatif.” Yang Raja elusi perut Leora. “Tumis sawi ya, Sayang. Tempe goreng yang di tepungin. Antar ke kantor, oke.” Akan ada saatnya kamu menemukan seseorang. Ia yang tidak hanya akan menjadi teman hidup, tetapi juga menjadi teman tumbuh yang baik. Akan datang seseorang yang menerima seluruh apa adanya kamu. Tetapi ia berhasil membuatmu meluarbiasakan diri. Apabila kamu sudah menemukan satu, dan saat itu juga kamu merasa sejiwa—jaga dengan baik. Karena ia tidak akan lagi datang untuk kali kedua. Selamat menunggu. Selamat bersabar merawat waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD