Langit kembali memulai semua aktivitasnya di Malang dengan penuh semangat. Setelah mengantar kepulangan Ratu ke Sumba, sejumlah berkas mulai menumpuk di meja kantornya.
Ada banyak berkas kontrak kerja yang minta segera Langit belai untuk kemudian membubuhkan tanda tangannya.
Pagi ini, langit Malang terlibat cerah. Meskipun udara dingin terus melingkupi, hawa sejuk dari angin yang berembus membuat wajah Langit terasa lebih segar dari biasanya.
Dan suasana yang sepert ini, membawa kedamaian tersendiri untuk jiwa Langit. Langit terus terbayang akan fantasi yang ada di dalam pikirannya. Tentang; bagaimana kehidupan rumah tangganya bersama Ratu atau kisah cinta keduanya ke depan nanti.
Saat membuka kedua matanya, Langit tidak pernah sedetik pun melewatkan tanpa memikirkan Langit. Memang konyol tapi itu faktanya. Langit akan menjadi gila dan sangat gila jika sudah seperti ini.
Ada banyak harapan yang Langit harapkan.
Ada beribu doa yang Langit panjatkan.
Walaupun banyak dosa yang banyak hidupnya, Langit meminta untuk Tuhan mau mengabulkan semua keinginannya satu per satu.
Tidak ada yang tidak mungkin dalam kuasa Tuhan. Bila Tuhan sudah menggariskan, maka apa pun bisa terjadi dalam sekedip mata. Yang tidak mungkin, akan menjadi mungkin. Semuanya sudah Tuhan tuliskan. Dan—mungkin—ini pun salah satu jalan yang Tuhan berikan untuk Langit.
Langit dan Ratu tumbuh bersama. Dan itu yang memicu Langit untuk tidak pernah menyadari bahwa harus ada kehidupan lain yang akan dirinya jalani di kemudian hari.
Yang Langit tahu hanyalah, Ratu yang paling penting untuk hidupnya dan Langit menggantungkan segala kehidupannya di sana.
Langit salah tidak, sih berbuat seperti ini?
Langit jatuhkan pilihan hatinya untuk Ratu tanpa memberi kesempatan bagi perempuan mana pun. Menjadikan dirinya pribadi tak tersentuh dan dingin.
“Kopi atau teh?”
Sekretaris Langit—Dinda—menawari. Seperti yang selalu perempuan itu lakukan. Bukan bagian dari tugasnya. Langit pun sudah mencegahnya. Tapi entah karena apa, Dinda tetap melakukannya.
“Kopi.”
“Oke.”
Kalau di lihat-lihat, Dinda adalah perempuan yang cantik dan anggun. Terlepas dari sifatnya yang cuek—bukan—melainkan ngomong seperlunya. Perempuan seumuran Langit itu cukup cakap dan lugas dalam segala hal.
Itu mengapa Langit sangat tidak merasa terbebani dengan Dinda. Biasanya, Langit selalu pilih-pilih jika sudah berurusan dengan pekerjaan. Dan seringnya, tidak memakai sekretaris mau pun asisten.
“Tanpa gula.” Dinda letakkan kopi dalam cangkir dengan asap yang masih mengepul. Sudah paling hapal dengan kesukaan Langit. Tapi tidak dijadikan berjodoh oleh Tuhan. Saat ini maksudnya. Entah kalau besok, lusa, dan tahun depan. “Ada jadwal temu siang ini. Sama manajer keuangan buat bahas kenaikan gaji.”
“Kamu ikut?” Langit baui aroma kopi hitam pekatnya dengan mata terpejam.
Tanpa sadar, Dinda terhenyak dengan mata berkedip sekali. Ternyata benar dan Dinda baru sadar sekarang. Bahwa Langit setampan itu. Tampan tapi Dinda sadar diri untuk nggak naksir atasannya ini. Gila saja!
“Kalau lumayan ribet kayaknya ikut—“
“Kok kayaknya?” Langit memotong tanpa memberi izin untuk Dinda melanjutkan. Dan hanya keburukan ini yang Dinda ketahui. Makanya, di luar sana, saat berkumpul dengan staff lainnya, Dinda selalu tutup telinga.
“Soalnya ada bazar buka di salah satu toko. Ketemu juga sama penulisnya langsung buat meet up sama fansnya.” Jelas Dinda.
Ah, ingatkah kalian dengan perusahaan penerbit yang dulu Radit Anggoro rintis?
Jadi, selain dunia properti yang Radit tekuni, pertama kali dalam sejarah pernikahannya, Radit membangun sebuah percetakan kecil-kecilan yang awalnya merekrut sebuah karya novel dari aplikasi online. Untuk kemudian bisa berkembang sampai sebesar ini.
“Oh.” Respons Langit membuat Dinda mendengus sebal. “Di mana? Nanti bisa saya susul.”
“Biasa.”
Langit paham dan mengangguk. Dinda hengkang dari sana dengan sumpah serapah paling ampuh sedunia.
Dinda menutup pintu dan berdiri cukup lama di depan pintu ruangan Langit. Ada yang secara mendadak hadir di kepalanya. Terngiang-ngiang ingatannya sampai di gelengkan ke kanan dan ke kiri pun hasilnya tetap sama. Tidak mau pergi dari sana.
Desas-desus yang berembus tak bisa membuat Dinda berhenti berpikir.
Mana mungkin?
Masa iya?
Persetan!
Dinda benci dengan cara pikirnya yang seperti ini. Dinda kesusahan sendiri setelah mendengar gosip tentang Langit yang … begitu lah.
Sedang di dalam sana, Langit terus mengembangkan senyumnya. Perasaan bahagia menyelubungi tiap persendian di tubuhnya.
Lain halnya dengan Dinda yang terus meratapi kekagumannya secara diam-diam terhadap Langit. Tadi, saat Langit menutup kelopak matanya dan bibir merahnya tersenyum menciumi aroma kopi, diam-diam Dinda berharap.
Ada sejuta keinginan Dinda untuk bisa tertuang.
Dinda menjadi sangat berharap setelah melihat sendiri sesempurna apa Langit yang sesungguhnya.
“Lo kenapa, Din?”
Dinda terperanjat dan hampir limbung ke belakang kalau tidak segera memegang gagang pintu.
“Ini bocah ngadi-ngadi. Bengong depan pintu. Kesambet setan ompong tahu rasa lo.”
“Kalian mau ke mana?”
Alih-alih menjawab apa yang temannya tanyakan, Dinda lebih penasaran dengan mereka yang hendak pergi bergerombol.
“Kan, biasaan nih orang. Kalau di tanya suka nggak jelas!” Misuh satu di antaranya.
“Mau pesan makan. Mau sekalian list nggak?”
“Boleh. Mie gacoan ya. Level iblis, pangsitnya dua.”
“Gila! Patah hati apa mau bunuh diri.”
“Cocok sama suasananya. Gue jadi pengen.”
“Yaelah bangke!”
Dinda tersenyum dan beranjak menuju kubikelnya. Mengambil ponsel yang tadi di tinggalkan dan membuka salah satu room chat dengan kenalannya.
Dinda jika sudah sangat gabut dan tidak punya ide untuk mengerjakan apa, maka mendownload situs internet untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Tidak sering, sih. Setelah berkenalan dengan salah satu cowok yang Dinda rasa cocok dengan dirinya, maka semua aplikasi itu hilang dari daftar ponselnya.
Dalam beberapa kali obrolan—di awal—yang Dinda ketahui, kenalannya ini berasal dari Indonesia. Hanya saja, sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Dan belum ada keinginan untuk keduanya merencanakan temu meski tahu sang kenalan online Dinda sudah kembali ke tanah air.
“Jangan bilang bosan.”
Dinda tersenyum. Belum apa-apa, hanya dengan emoticon senyum, sang kenalan tahu. Di hari kerja seperti ini, pastilah amat sibuk menyita waktu.
“Banget.”
Balasan Dinda memang tiada duanya.
“Mau telepon?”
Tawaran bagus. Namun dengan keberadaannya di kantor, Dinda malas jika ada yang kepo.
Dinda tidak pernah membicarakan urusan pribadinya di depan semua teman-temannya.