Mungkin memang sudah begitu caramu menyebut namaku. Kalimat itu terus tengiang di kepala Leora. Mimpi yang dialaminya membekas diingatannya namun Leo tidak tahu tentang apa itu. Saat kedua matanya terbuka, perasaan sedih menyelimuti.
Sebelum subuh, Leora sudah tidak bisa memejamkan matanya. Melihat ke sisi kanannya, ada Raja yang masih terlelap dengan dengkuran halus. Senyumnya merekah dan Leora senang sekali menyambut pagi harinya. Raja memberikan semangat lain yang tidak bisa Leora jabarkan secara jelas.
Mungkin memang sudah begitu caramu mempermainkanku.
Walau awalnya, hubungan yang mereka ciptakan tidak seindah apalagi terkesan layaknya pasangan lainnya. Leora tetap menikmati peran sebagai istri seorang Laraja Putra Anggoro dengan baik. Leora tidak banyak tahu tentang Raja namun mau belajar dan memahami sisi lain suaminya.
Leora harus berterima kasih untuk mami dan papinya serta bersyukur kepada Tuhan. Karena setidaknya, sudah mengirimkan seorang suami seperti Raja. Yang meski sangat emosional, namun mampu menjaga Leora dengan sangat baik. Yang meski, selalu meledakkan api amarahnya. Raja mau menjaganya selayaknya barang berharga yang bernilai.
Bukankah dicintai dengan cara seperti itu sudah sangat sederhana?
Leora beranjak bangun. Mengelusi perutnya dan bersenandung pelan untuk menyambut sang bayi. Leora selalu merasa baik dan segar saat terbangun sepagi ini. Kedua kakinya segera melangkah ke kamar mandi. Mengikat rambutnya, mencuci mukanya, dan menggosok giginya.
Dan kudengar-dengar cinta sejati hanya datang sekali seumur hidup.
Pantulan wajahnya di cermin berbinar-binar. Tidak di tampik bahwa bahagia terpancar dari auranya. Terberkati untuk seluruh hidupnya karena mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga.
Cinta, keluarga, dan kasih sayang.
Dan aku sangat yakin bahwa kau adalah cintaku. Nggak apa-apa kalau Leora dikatai b***k cinta toh memang begitu adanya.
Leora keluar dari kamar setelah memandangi Raja sejenak. Menuju dapur dan melihat isi kulkas. Ada banyak bahan yang ada dan Leora ingin mengolahnya. Random saja untuk menu sarapan pagi ini. Leora ingin omelette dan roti panggang alpukat. Dengan orange juice sebagai penyegar.
Lucu, ya. Sepagi ini untuk menu sarapan yang sederhana.
Leora keluarkan semua bahan yang hendak di olahnya. Tidak lupa mengambil satu s**u kaleng untuk dirinya minum. Atas rekomendasi dokter kandungannya, baik bagi dirinya mengonsumsi di pagi hari. Dan rasanya memang menyegarkan saat melewati kerongkongan Leora.
Berkata kepada semua orang bahwa kau akan menjadi milikku. Meski begitu Leora cuma bisa ngomong dalam hati saja, hehe. Tapi serius!
Raja adalah miliknya.
Sepenuhnya milik Leora meski masa lalu Raja tidaklah semulus kelihatannya. Namun masa lalunya tetaplah milik Raja. Sedang masa depan Raja, adalah milik Leora.
Leora jatuhnya hatinya tepat di genggaman Leora. Kecewa atau tidaknya, di masa mendatang, Leora takkan menyesali keputusannya hari ini.
Apa pun yang terjadi, sudah menjadi garis Tuhan.
Tak lupa Leora terus berdoa. Agar bahagia selalu menyertainya.
Tuhan sudah mengabulkannya.
Selalu Leora panjatkan doa-doa dalam sujudnya. Sederhana namun begitu adanya yang dirinya pinta kepada Tuhan.
Leora ingat. Tidak mudah bagi dirinya untuk menyukai lawan jenisnya. Bila hanya sekadar berteman dan mengenal orang-orang baru dalam lingkupnya, Leora memiliki darah papinya—Sagitarius Yudantha—yang periang dan penuh semangat.
Bila untuk cinta, Leora akan sangat persis seperti maminya—Barella Yudantha—yang kaku dan egois. Dan untuk beberapa alasan, mempunyai sifat seperti maminya, Leora mensyukuri hal tersebut.
Ada yang tahu tidak kalau Leora pernah merasakan kehampaan. Pada suatu kehilangan yang tidak Leora ketahui apa penyebabnya. Leora merasa sesak dan kesulitan bernapas. Di tempat terbuka dan luas. Dalam perkumpulan banyaknya manusia. Leora merasa sendiri. Leora merasa sendiri.
Saat kau menatapku.
Namun, saat pertama kali di pertemukan kembali dengan Raja … Leora merasa sejuk. Ada gugup dan gelisah kala mata cokelat Raja menatapnya.
Selesai.
Tidak lebih dari satu jam semua hidangan yang Leora masak sudah tersaji dengan rapi. Asisten rumah tangga yang baru bangun langsung canggung. Dan Leora hanya tersenyum membuat si asisten tersenyum canggung.
Karena Raja membuat dirinya serasa di miliki. Leora tidak merasakan sakit seperti dulu.
“Sini mbak. Duduk,” pinta Leora. Satu tangannya mengambil gelas berisi orange juice dan satunya lagi mencomot roti tawar untuk di olesi selai. “Temani aku sarapan. Raja belum bangun.”
“Tapi mbak—“
“Aku nggak nerima penolakan. Dan nggak suka di tolak.” Leora sangat jelas menekankan kalimatnya
Semakin tidak enak saja Marni—asisten rumah tangga yang di berikan oleh Senja.
“Sebanyak ini nggak mungkin habis mbak. Timbang mbak masak sendiri, kan makan bareng aku nggak ada salahnya.”
Dan Marni tahu, Leora tidak seperti kebanyakan anak orang kaya yang sombong dan suka menindas pembantu. Lebih dari itu, Marni merasakan dijadikan saudara di rumah ini.
“Mau di bikinin apa buat makan siangnya mbak?” Marni mengikuti apa yang Leora suruhkan. Menolak pun percuma. Leora punya sejuta cara untuk membuat Marni mau bergabung.
“Ayam pedas enak kayaknya mbak.”
“Pakai resep dari Mami Senja ya mbak. Aku kangen mami, tapi nggak bisa pulang ke Ungaran.”
Bahwa Leora melihat betapa mesra kedua mertuanya. Sampai di umurnya yang sudah tua, keduanya masih menjaga dengan harmonis hubungannya. Leora iri, jujur saja. Pada mereka yang saling melengkapi.
Alih-alih menyelipkan doa agar hubungannya langgeng seperti mami Senja dan papi Radit. Leora senang karena Raja perlahan mulai berubah.
“Kamu nggak bangunin aku?”
Yang Leora tengok sisi kirinya. Sudah tidak ada Marni di sisinya. Berganti dengan Raja. Wajah mengantuknya masih kentara terlihat. Rambut hitamnya awut-awutan dan Leora membayangkan sensasi lain sedang menggelitik pusatnya.
Raja seksi di jam bangun tidur seperti ini.
“Ini kopi Bapak.” Marni sigap menyuguhkan kopi untuk Raja tanpa Leora pinta. Memang asli, pilihan mami Senja nggak pernah mengecewakan.
“Aku nggak bisa bobok kalau kamu nggak ada.”
“Halah manja!”
“Sama istri sendiri wajib dong.”
“Sudah mau jadi bapak-bapak juga.”
“Tapi tetap ganteng, kan?” Raja naik turunkan kedua alisnya. Menggoda Leora yang berpura-pura muntah.
“Pede gila. Papi kamu, Ya Allah nak.” Leora mengelus perutnya. “Jangan sampai kamu narsis kayak papi.”
“Tetap bakal narsis. Dia keturunan aku.”
“Terus aku?” Leora melotot tidak terima.
“Cuma numpang doing.”
Eta mulut!
Sejeplak saja enak banget. Tidak sadar kalau sereceh itu bisa membuat mood Leora anjlok. Terjun bebas dan nyangkut di rawa-rawa—tenggelam.
“Besok-besok lagi, sama perut aku saja.”
“Mana bisa!”
“Katanya aku cuma numpang doang. Mending sama perut aku saja, kan!”
Ya Tuhan!
Raja menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan Leora yang berpikiran seenak jidat. Perempuan benar-benar menyusahkan. Tapi membutakan mata Raja yang sudah kepalang bucin ke Leora.
Bersama Leora … Raja bisa merasakan bahagia walau rasa bersalah terus mendominasi.
Dengan Leora … Raja ketahui bahwa rasa di hatinya tidak pernah sedikit pun berubah.
Dendam yang Raja bawa—itu konyol—karena sebenarnya dengan kepergian kekasihnya dulu, Raja bisa membersamai arti cinta dengan Leora. Menjalani hari-hari yang indah hanya dengan Leora. Oh, jangan lupakan ada yang akan hadir di antara keduanya sebentar lagi.
“Kamu mandi, aku siapin air hangatnya. Hari ini ada jadwal rapat, kan?”
“Hm, sama Papi Sagi.”
“Serius?” Raja mengangguk. “Aku mau ke kafe. Gabut di rumah terus.”
“Aku ajak papi makan siang di sana nanti.”
“Oke.” Leora kecup pipi Raja dan beranjak dari dapur.
Menyiapkan segala keperluan Raja.