Rea terus mengingat pertemuannya dengan Raja. Yang saat itu dengan sombongnya Rea siniskan kalau Raja masih menyimpan luka dan trauma yang dirinya tinggalkan. Tapi ternyata tidak demikian yang terjadi.
Raja hidup dengan sangat normal.
Raja hidup dengan sangat tenang bahkan mendekati damai.
Bagaimana tidak?
Lelaki objek obsesinya itu hidup dengan baik dan memiliki pasangan. Terikat sebuah hubungan suami istri yang mana si perempuan—entah siapa yang tak ingin Rea kenal—sedang mengandung benih Raja. Rea ... sungguh tidak terima. Harga dirinya merasa jatuh dan terinjak-injak oleh Raja.
Lebih tidak terima lagi dengan cara pikirnya sendiri. Kenapa Rea sangat tergila-gila dengan Raja?
Kenapa Rea begitu puas andai pasangannya itu Raja?
Karena cinta itu sederhana. Jawaban paling lugu yang Rea punya.
Kenapa Rea harus memiliki obsesi yang sebenarnya tidak bisa dirinya raih?
Seperti saat kamu membawakan payung ketika hujan datang. Banyak yang bilang masa muda dan cinta adalah pembodohan paling apik yang sering terjadi.
Kenapa Rea sampai gelap mata dan merusak kehidupan seseorang?
Dan termangu sembari menatapi payung tersebut. Saat ucapan keluar dari bibir, ayo kita pulang. Bagi Rea yang haus akan cinta Raja, perkataan tersebut amatlah menyerap dalam kalbunya. Padahal cuma angannnya tapi mampu membuat Rea kehebohan.
Kenapa?
Rea tidak tahu.
Apa alasannya?
Rea tidak tahu.
Kenapa?
Rea sungguh tidak tahu.
Dulu—ingatan Rea melayang pada zaman sekolahnya—melihat wajah Raja yang tersiksa menjadi kesenangan tersendiri bagi dirinya. Sensasi kenikmatan yang tak pernah Rea dapatkan dari siapa pun terbayar kontan hanya dengan bersama Raja.
Kesempurnaan yang Raja miliki benar-benar membuat Rea buta dan bertindak brutal. Rea senang sudah menancapkan kenangan buruk dan merusak mental Raja. Sayangnya ... kenapa itu tidak berlaku lama?
Kenapa—sekali lagi—Raja harus sembuh dan hidup normal sedangkan Rea masih mendamba Raja.
Itu nggak adil, kan?
Harusnya Raja menderita karena sudah Rea berikan kesakitan yang mendalam.
Harusnya Raja hancur dan tak pernah bangkit untuk bisa merasakan hidup normal terlebih dengan statusnya yang menikah bahkan akan menjadi seorang Ayah.
Rea tidak terima tapi juga tidak tahu harus berbuat apa.
Rea tidak suka kenyataan bahwa dirinya tidak bahagia sedangkan orang lain bahagia.
Embusan napas Rea terhela. Malam ini, udara malam sedikit dingin dari biasanya. Meski baju tidur yang Rea kenakan tidak terbilang tipis, belaian angin malam dengan mudah menerpanya. Rea legut cokelat panasnya. Pikirannya melayang jauh. Ingatannya terus berkelana pada masa-masa perkenalannya dengan Raja.
Semuanya berjalan lancar. Tidak ada yang aneh. Dalam satu kali sapaan, Raja langsung merespon Rea. Di pertemuan selanjutnya, Raja menerima sekotak roti yang Rea berikan. Walau ada perkataan Raja yang menyinggung perasaannya dan berujung pada pembalasan.
Ini murni Rea yang bermasalah. Tapi tetap menginginkan sesuatu yang normal agar kewarasan Rea terjaga.
Dari sini, Rea teringat akan perkataan BJ Habibie dalam sebuah quotes; Saya bilang ke Ainun, jadikan says suamimu yang kau idam-idamkan dan saya akan berusaha. Berilah kesempatan kepada saya menjadikan kamu istri yang saya idam-idamkan, untuk itu antara kamu dan saya tidak ada rahasia, masa lalu milikmu, masa depan milik kita bersama.
Senyum Rea terkesan mengejek. Karena bahkan sebelum berpikiran untuk memulai, mendapat kesempatan saja tidak. Rea naif, ia akui. Terlalu serakah dengan meminta ini dan itu. Terlebih bukan haknya.
Yang katanya cinta itu sederhana. Tidak sekadar menerima dan memaklumi. Tapi bagi Rea, cinta sama halnya dengan kebohongan. Mendapatkannya saja butuh waktu dan kenekatan lebih.
Yang katanya juga, cinta adalah kesetiaan.
Rea semakin tidak percaya dengan cinta.
Dan dunia, tidak perlu tahu selemah apa Rea di malam hari.
Dunia tidak perlu melihat sebetapa rapuhnya Rea tanpa seseorang di sisinya.
Sudah cukup hatinya di tekan dengan kesemrawutan ujian. Cobaan yang tak pernah ada habisnya atau memang begitu cara Tuhan menghukum dirinya yang penuh dosa?
Sedang di siang hari, Rea menjadi sosok lain yang tak bisa di sentuh oleh siapa pun. Bahkan orang terdekatnya sekali pun.
Siapa yang sudah menorehkan luka sedalam ini?
Siapa yang sudah membuat Rea merasakan trauma tak berkesudahan sehingga ingin terus-menerus merusak orang lain demi kebahagiaannya sendiri?
Rea tersenyum—sekali lagi—dan masih dengan ekspresi yang sama; datar.
Kembali, ingatan Rea terbuka pada percakapan orang asing yang kala itu duduk di belakang kursi kereta cepatnya. Musim saat itu adalah musim dingin. Dan bepergian menggunakan kereta adalah agenda yang selalu Rea tunggu-tunggu.
“Tahu nggak?” Rea mendengarkan dan dua perempuan di belakangnya terus bercerita. “Aku membaca sebuah kaliah bahwa, sebagian orang-orang pernah berkata; hati yang baik akan selalu bahagia. Percaya tidak?”
“Tidak!” jawaban secepat kilat dari si perempuan satunya cukup membuat Rea terkejut. Alih-alih percaya dan menjawab ‘ya’ perempuan itu justru berkata lain. “Karena tidak semuanya hati yang baik mendapati bahagia. Acap kali dan setahuku banyak luka yang menancap.”
Benar juga, batin Rea.
Pikirannya mencerna jawaban si perempuan itu. Bukankah manusia juga punya cacat dalam jiwanya sehingga sering kali mengharapkan hal-hal baik dari orang lain. Bukan tidak mungkin mereka menggali lubang kesakitannya sendiri.
Lagian, kenapa, sih seringkali kita suka dengan seseorang yang enggak bisa dimiliki?
Rea memang bodohnya nggak ada obat.
Sudah tahu kalau beberapa hal lebih menarik dan menyenangkan ketika masih ada di etalase, bukan ketika dimiliki.
Bodohnya nggak ada aturan.
***
Senang sekali rasanya mengenang masa-masa kebersamaannya dengan Senja dulu. Sesaat setelah berjuang untuk bisa mendapatkan restu dari kedua belah pihak—meskipun masih abu-abu hingga sekarang karena orangtua Radit yang kaku. Padahal kalau harus berbicara soal kesalahan, Radit paling di nomor satukan untuk mengorek kesalahannya.
Senja memang menggodanya. Namun sebagai lelaki, harusnya Radit bisa menepiskan godaan yang menyerbunya. Bukan malah menerima dan terbuka untuk kemudian menjadikannya dosa penuh kenikmatan.
Oke, kita kesampingkan itu semua.
Radit sesap cokelat panasnya. Kembali ke Ungaran dengan udara yang sejuk dan temaram lampu jalanan yang senyap. Sungguh perpaduan keindahan yang tidak pernah Radit bayangkan selama ini. Perjalanan hidupnya yang panjang, tidak sekadar tentang perjuangan cinta, keluarga dan kesuksesan. Ada banyak jalanan terjal yang Radit lalui untuk bisa berada di fase ini.
Kenyamanan yang Radit butuhkan setelah semuanya di lalui dari nol, adalah bayaran paling tepat untuk berleha-leha di masa tua. Barangkali ini yang Radit artikan sebagai hidup damai di masa tua.
“Mikirin apa?”
Dan Senja selalu secantik sama seperti saat mereka bertemu dulu. Kala pertama kali Radit injakkan kaki di kediaman orangtua Senja. Dan pertama kali Radit menjatuhkan hatinya tanpa tahu sebabnya.
“Sini.”
Senja menurut. Duduk di atas pangkuan Radit yang kalau di lihat-lihat amatlah menjijikkan. Mereka tidak lagi muda namun terus menebar kemesraan di mana pun. Tanpa tahu malu apalagi canggung.
Iya lah!
Wong mereka cuma tinggal berdua saja kok.
“Mas ingat waktu Senja hamil Langit.”
Dahi Senja berkerut tak paham. Melingkarkan kedua tangannya di leher Radit dan berpikir seraya memandangi wajah sang suami.
Di perhatikan dari dekat, tidak banyak perubahan yang Radit alami. Kecuali untuk kerutan-kerutan kecil di sekitar matanya. Secara keseluruhan, Radit tetaplah tampan dan gagah. Seperti dulu saat Senja melihatnya pertama kali.
“Kenapa?” tanya Senja setelah puas memandangi Radit. “Jangan bilang nyuruh Senja hamil lagi!? Enggak ya, mas!” Mata Senja melotot dan hendak hengkang dari atas pangkuan Radit. Yang di tahan dengan paksa.
“Kamu lucu.” Tawa Radit membahana. “Bisa-bisa kita saingan sama Ora. Kamu hamil anak keempat dan Ora ngasih kita cucu.”
“Mas lupa? Dulu waktu Raja sama Ratu belum genap dua tahun, bikin Langit ada di perut aku. Nah sekarang, ujug-ujug mikir kayak gitu. Kan aku jadi parno.” Senja bersungut-sungut kesal.
“Keingat bukan artinya mau menambah ya, Sayang. Mas senang saja waktu keingat masa-masa itu. Raja yang lucu dan belajar ngomong. Ratu yang manjanya nggak ada obat. Dan sekarang … Mereka sudah sebesar itu. Padahal, kayak baru kemarin mas gendong mereka. Masih bobok sama mereka.”
Embusan napas Senja menerpa leher Radit. Yang membuat si empunya menoleh dengan penuh tanya.
“Kamu sengaja godain mas?”
“Apa?” balas Senja tidak terima.
“Itu. Kamu seenak jidat embusin napas di leher mas.”
“Mana Senja tahu.”
“Dasar!”
Begitulah kehidupan Radit dan Senja yang jauh dari ketiga anak-anaknya. Tanpa mereka ketahui dan tanpa mereka sadari. Ada banyak perjalanan kelam yang membuat ketiga anaknya memiliki kepribadian yang lain.
Raja yang penuh dengan traumanya dan berusaha untuk sembuh.
Ratu dengan perilaku menyimpangnya perihal seks.
Dan Langit yang posesif terhadap kakaknya sendiri.
Serapat apa pun di simpan, akan segera terbongkar rahasia itu suatu saat nanti.