Beberapa orang memercayai akan kehidupan lampau. Yang katanya bisa terjadi—kita menyebutnya dejavu—di masa kini.
Maka, Raja pun demikian. Meski tidak sepenuhnya percaya pada hal-hal seperti itu, rasanya memang nyata adanya dengan yang saat ini dirinya alami.
Raja pusing. Tentu saja.
Raja pening. Itu pasti.
Alih-alih di sibukkan dengan rengekan sang istri yang mungkin saja dalam masa ngidam, justru harus dirinya yang menangani perkara kegilaan keluarga. Kelakuan Langit dan Ratu tak bisa sepenuhnya di salahkan.
Setelah di pikir-pikir lagi, siapa yang bisa menebak ke mana labuhnya hati akan jatuh?
Contohnya, mami dan papinya.
Raja ingat, umur mami dan papinya terpaut jauh. Namun tidak menjadi halangan untuk mereka bersama. Kebersamaan mereka pun cukup drama. Yang Raja ingat, maminya adalah salah satu murid tutor papinya dulu. Selama berkuliah, papinya memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru les.
Entah bagaimana ceritanya mereka bisa memutuskan untuk bersama. Yang pasti, tidak mudah untuk keduanya memulai segalanya dari nol. Masa-masa sulit yang mereka lalui jelas akan berbeda dengan yang saat ini Raja hadapi.
Oke, katakanlah dirinya penuh dengan trauma. Dengan masa lalu yang Raja miliki serta berjalan tidak sesuai aslinya. Melihat sebuah hubungan dalam ikatan adalah penyiksaan. Namun semuanya berangsur membaik kala Leora yang datang di hadapannya. Leora yang berdiri di sampingnya dan dengan teguh membuka kedua tangannya untuk meraih Raja.
Namun ini satu darah. Langit dan Ratu ada karena maminya. Mereka berasal dari rahim dan satu persusuan. Rasanya mustahil membuat semuanya secara jelas dan nyata. Tapi ... Raja juga tidak memiliki saran untuk keluar dari permasalahan ini.
“Gue pikir, yang aneh Cuma lo doang?” Adalah Rambu Sagara yang dengan setia serta kesabarannya mau menemani Raja yang sedang pusing. “Lo soal Leora yang katanya mau balas dendam, malah jadi lo yang bucinnya nggak ada obat. Lagian lo jadi orang gabut amat.”
Raja abaikan.
Sudah biasa mendengar Rambu yang suka meracau. Putra sulung om Krisna—sahabat papinya itu—memang tiada duanya. Ibarat kata: pohon jatuh tak jauh dari pohonnya. Itu benar adanya.
“Gue pikir, ini nggak serumit kelihatannya.”
“Kunyuk ini!” Rambu suka sekali mengumpat. Tabiatnya yang satu ini sudah terbentuk sebelum ada dalam kandungan mamanya. “Di mana-mana, yang namanya hubungan satu darah itu rumit. Lebih rumit dari sekadar kawin lari. Lebih mumet lagi dari buntingin anak orang. Lagian, adek-adek lo ini dapat turunan dari siapa bisa i***s gini?”
Jawabannya: tidak tahu. Karena begitu adanya.
Raja ... ingin kehidupan yang normal meski itu tidak mudah.
Raja ... ingin mengukir sejarah dalam hidupnya agar bisa dijadikan kenangan di masa tuanya nanti. Meski itu juga bukan hal yang mudah.
Raja tahu, ada banyak pengorbanan untuk di lewati ketika mengharapkan sesuatu. Tapi, setidaknya, jangan yang terlalu berat. Karena ketika sudah menyangkut keluarga, Raja tidak bisa berkutik.
Oke, dirinya memang berengsek. Tapi orang berengsek ini mau berubah demi satu perempuan. Si berengsek ini mau bertaubat untuk mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.
“Kalau tahu hidup bakal kayak gini rasanya, gue lebih milih buat nggak lahir. Atau jangan lahirin gue di keluarga yang punya masalah rumit kayak gini.”
Rambu tertawa. Lebih tepatnya menertawai apa yang sedang Raja keluhkan. Susah-susah orang di luar sana berdoa agar terlahir dari keluarga terpandang, Raja justru berbicara ngelantur. Manusia memang nggak ada rasa syukurnya.
“Kata gue ini sepele.” Raja menyeringai sinis. Rambu mengedikkan bahunya cuek. “Lo tinggal ngomong sama bokap dan—atau mending lo nikahin Ratu sama gue.”
Bertambah sinis saja tatapan Raja. Iya, tahu! Rambu memanh sudah naksir Ratu sejak lama. Sejak masih bocah dan ingusan malahan. Tapi bisa nggak jangan yang asal jeplak saja mulutnya!?
“Gue ngasih saran dan bantuin lo, anggap saja gitu.”
“Saran? Bantuan? Tahu apa Lo soal saran.”
Hebatnya lagi, Rambu bukan orang yang gampang meledakkan emosinya. Alih-alih tersinggung, Rambu justru mendudukkan bokongnya dengan santai dan bertopang dagu.
“Gue heran, kenapa lo nggak pernah mau nerima gue sebagai adek ipar.”
“Amit-amit! Najis nerima lo dan manggil lo adek. Yaelah, kagak bisa gue bayangin!”
“Ngapa mesti lo bayangin kalau mungut gue bikin amal ibadah lo bertambah?”
Rambu menggelengkan kepala. Sangat serius dirinya harapkan untuk bisa bersanding dengan Ratu. Sejak kecil, hanya Ratu perempuan yang mencuri hatinya secara menyeluruh. Bukan tidak mungkin bagi Rambut tertarik dengan perempuan lain. Kekakuan dalam sikapnya sudah menjalar hingga akar bahwa satu maka akan selamanya satu.
Seperti kata Buddha: cinta dan rindu tumbuh pada tiap pasangan. Namun, cinta dan rindu juga diikuti oleh derita. Ketahuilah bahwa cinta membawa kecemasan dan mengendalikan hidupmu secara signifikan.
Sayangnya Rambu dan Ratu bukanlah pasangan. Jadi tidak heran kalau hanya Rambu yang merasakan rindu serta derita. Karena begitulah arti cinta sepihak.
“Jangan berharap ke sesuatu yang nggak bisa lo raih. Jangan berharap Ratu mau membuka hati dan kesempatan di saat Langit mendominasi pikirannya. Yang rugi lo. Yang sakit sendiri juga lo. Masih banyak cewek di luar sana.”
Ucapan Raja terdengar seperti racauan. Sekali pun benar, Rambu tidak suka di dikte seperti itu. Hatinya adalah haknya. Sakit atau tidak juga haknya. Hanya Rambu yang bisa mengontrol dirinya sendiri untuk kapan maju dan harus berhenti.
“Belum tentu yang lo lihat memang aslinya begitu. Kita mesti cari tahu benar enggaknya. Mungkin, Ratu cuma sekadar penasaran.”
“Lo bikin gue jadi Abang yang benar-benar payah.” Walau ada benarnya soal yang Rambu sampaikan, tetap saja Raja sudah gagal menjadi panutan.
“Ya itu karena lo terlalu mematok harga diri. Lo cuma ngelihat dari versi lo tanpa mau nyari alasan yang jelas kenapa ini bisa terjadi. Ingat, lo nggak boleh lupa soal hukum alam. Lo juga sakit, nggak ada bedanya sama adek-adek lo. Cuma di bagian; lo doyan nyiksa partner lo di atas ranjang sedangkan mereka i***s. Bagi gue, itu sudah sama-sama nggak normal tapi terpaksa ngelakuin seolah tindakan mereka benar. Lagi pula kenapa ini bisa terjadi, sih? Orang, yang sudah tahu cinta, ini yang sedang mereka rasakan. Nggak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tahunya cuma, this is love; buta.”
Koreksi bagian mana yang salah. Diam-diam, Rambu sedang berusaha mempertahankan pendapatnya soal cinta dan hatinya.
“Bicara tentang cinta,” lanjut Rambu setelah menyesap kopinya yang mulai dingin. “Makin lama makin ngerti, kalau level tinggi dalam cinta adalah menerima dan memaklumi sifatnya. Bukan lagi tentang 'Kamu kapan sih mau berubah?’ tapi tentang 'oke, ya sudah, kamu memang begini orangnya'. Bukan juga tentang 'harus ngomong berapa kali lagi biar kamu ngerti?’ tapi tentang 'oke, kamu memang nggak ngerti. Biar aku yang ajarin'. Jadi soal pentingnya enggaknya perasaan gue atau seburuk apa pun kelakuan adek lo karena berbuat melanggar hukum dan norma, cinta nggak bisa lo masukin ke salah satu tuntutan berkas karena itu murni dari hati.”
“Pernah lo protes, kenapa hati gue selalu buat Leora? Sedangkan lo bisa milih cewek mana pun yang bisa lo jadiin bini. Sedangkan lo bisa dapatin yang lebih bagus dari Leora. Lo nggak bakalan bisa lakuin itu. Meskipun lo kesal dan ngganggap tindakan mereka kayak binatang, tapi cinta nggak bisa lo salahin. Sekeras apa pun lo berusaha.”