Tiga Enam

1065 Words
Semakin bertambahnya usia, semakin sadar bahwa berdamai dengan diri sendiri perlu di pelajari benar caranya bagaimana. Raja sedang menyesuaikan diri dengan apa yang baru saja di dengarnya. Langit adalah jiplakannya yang tidak diketahui dari mana asal keras kepalanya. Mengingat mami papinya yang kalem. Tapi … entahlah. Rasanya sulit. Jika harus meredam segala amarah yang ada. Sedangkan meluapkan juga bukan jalan yang aman untuk di ambil. Belajar untuk menghadapi dan menerima, karena semua keinginan tidak harus di miliki dalam waktu yang bersamaan. Setidaknya jangan hubungan darah yang membuat kepala Raja hampir pecah. Belajar untuk lebih lapang d**a, karena bumi berputar bukan cuma untuk kita, ada manusia lain yang perlu merasa senang juga. Berbekal pengalaman kecewa yang bukan cuma satu kali, sekarang makin bisa untuk ‘ya sudah, mau gimana lagi’. Berbekal doa yang tidak selalu langsung ada jawabannya, sekarang jadi bisa untuk ‘ya sudah, belum rezekinya’. Semesta bukan jahat, kita yang harus lebih kuat. Semesta bukan pilih kasih, kita yang harus lebih banyak mengerti. Itu adalah tulisan tangan Leora yang terselip di dalam bekal kotak makan siang ini. Sembari membaca, Raja sesekali meresapi isinya. Dan memang Leora adalah perempuan yang mau mengerti kondisi tanpa memberikan paksaan. Raja salut, karena Leora tidak berusaha bertanya ‘You oke?’ Leora cukup diam dan memberi kejutan ketenangan untuk Raja. Tidak heran dan Raja tidak ingin bertanya tentang bagaimana Leora tahu kondisi keluarganya. Langit datang, sudah tentu Leora mendengarnya sendiri. Dan aja, kalau boleh mengakui, rasanya tidak hanya malu. Namun juga di kuliti secara habis-habisan. Manusia, terkadang menjadi manusia paling bodoh. Terutama jika itu perempuan. Mereka akan cenderung melakukan apa saja demi orang yang di sayanginya. Hanya bedanya, yang terjadi kali ini adalah lelaki sebagai pelakunya. Yang bahkan tidak Raja mengerti kenapa bisa seperti itu. Seharusnya, sebelum mati-matian berkorban, lihat dulu kenyataan yang ada di lapangan. Karena tidak semua hubungan bisa berhasil dengan jalan yang mulus. Sumpah, sekonyol itu perasaan sayang yang berdampak pada cara pikir seseorang. Raja sudah tidak tahu lagi harus dengan cara apa untuk membuat Langit mengerti. Cinta memang buta dan membagongkan. Masalah miliknya saja belum bisa Raja selesaikan. Kini hadir masalah baru yang juga sama ribetnya. Pikiran Raja tak bisa fokus barang sedetik pun. Masalah ini cukup menguras staminanya. Sampai di jam pulang dan raja di sambut oleh pelukan hangat dari Leora. “Jangan ngambil keputusan yang bikin diri sendiri rugi.” Terbengong Raja mendengarnya. Masalah yang tadi pagi masih membekas di Leora. “Kamu nggak berhak atas hidup mereka. Sekali pun mereka adik-adik kamu tapi—“ “Pilihan? Aku tahu.” Raja mendengus. “Tapi nggak harus segila ini.” “Bisa saja, kan mereka cuma senang-senang. Mereka baru penjajakan dan—“ “Harus dengan yang satu darah?” Bagusnya Raja menahan mati-matian emosinya. Bisa fatal kalau sampai lepas kendali. “Aku sudah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Ratu pun sudah saatnya nikah. Dia punya kehidupan yang nggak harus selalu di gerecoki sama keluarga.” Leora tersenyum. Emosi Raja memuncak. “Kamu mandi. Aku sudah siapin air hangatnya.” Dan kecupan di pipi Raja menjadi penutup obrolan keduanya di sore hari. *** Pada akhirnya, diam-diam cinta yang Langit lakukan mulai menumbuhkan hasil. Raja diam meski tidak tahu arti diamnya itu karena apa. Entah untuk tindakannya yang keterlaluan atau malah sedang menyiapkan rencana. Yang pasti, Langit sudah satu langkah lebih baik ketimbang sebelumnya. “Abang nggak biasanya kayak gitu.” Ratu bersandar di d**a Langit. Membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang membangkitkan gairah di diri Langit. “Dia ada rencana jodohin kamu. Nggak mungkin lupa.” “Arra?” Jujur saja, Langit lupa tentang perempuan keturunan Minang itu. Kalau di ingat-ingat, Arra memanglah cantik. Dia juga berasal dari keluarga yang sama setaranya dengan Anggoro. Tapi Langit tidak menaruh hati sedikit pun. Entahlah. “Abang lumayan ngebet kamu sama dia.” “Aku nggak peduli.” Yang Langit kecup pelipis Ratu lama. “Aku cintanya sama kamu. Coba aku bisa minta.” “Apa?” “Nggak mau lahir dari rahim yang sama.” “Ngaco! Kalau mami dengar, jadi babi guling kamu!” “Aku berusaha jujur.” Seandainya bisa, Ratu juga ingin meminta hal yang demikian. Namun akan berbeda ceritanya. Takkan bisa seperti ini misal kita berbeda tempat. “Kadang aku mikir. Kita bisa bareng kayak gini karena terbiasa bareng,” kata Ratu. “Aku yang nggak bisa kalau nggak ada kamu dan begitu sebaliknya. Jadi … missal kita nggak bareng, bukan mustahil bakal terjadi kayak gini.” Semakin Langit rapatkan pelukan pada tubuh Ratu. Bintang di langit Surabaya bertaburan. Dan terlihat lebih indah dari biasanya. Sesuatu yang biasa saja nyatanya bisa lebih konyol bila dilakukan bersama dengan orang yang kita cinta. “Aku mau ketemu papi. Ngomongin soal kita.” Langit … sudah sangat matang untuk semua ini. Ratu membeku dalam pelukan hangat Langit. Semuanya harus tahu tapi entah kenapa muncul perasaan bimbang. “Yakin?” Ratu lontarkan karena tidak adanya kesiapan dalam pernyataan Langit. Ratu belum bisa meraba sepenuhnya arti perasaan yang dirinya miliki untuk Langit. Entah itu perasaan cinta hingga ingin memiliki atau sekadar pelampiasan napsu semata. “Sudah seharusnya mereka tahu. Abang cuma diam artinya setuju, kan?” Justru karena Raja diam. Ratu hafal betul tabiat Raja. Diam menyetujui dengan penuh tindakan adalah kebiasaan Raja ketika suatu masalah tidak bisa di tangani dengan mulut. “Nggak terlalu buru-buru banget? Maksud aku, kita bisa ngambil waktu lebih buat ngerti perasaan masing-masing—” “Perasaan?” Langit mengulang kata perasaan yang samar-samar takut Ratu ucapkan. “Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Aku lebih dari yakin buat memulai semuanya. Aku nggak takut dan apa pun yang terjadi, kita bakalan tetap bareng.” Salah Ratu karena membuka hati dengan mudahnya. Yang dirinya pikir ini sekadar permainan, nyatanya Langit mengartikannya terlalu dalam. Ratu tidak pernah berpikir bahwa b******a harus selalu dengan kebersamaan terlebih berakhir dengan sebuah ikatan. Ratu … tidak pernah menyukai keterikatan hubungan selain milik mami dan papinya. Cinta itu rumit. Hubungan pun rumit. Menikah juga sama rumitnya. Menikah, mengurus suami, mengandung, dan menambah daftar pekerjaan. Ratu benar-benar tidak ingin berakhir demikian. Dirinya adalah wanita karir yang sejati. Cinta hanya akan menghalangi segala kehidupannya. Dan ini memang salahnya karena melemparkan diri ke dalam pelukan Langit. Pohon hijau di dekat aliran air yang tenang. Mengamati dari aliran air itu. Matahari bersinar dari ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Kupikir, semua ini tidak ada yang murni. Tapi kemurnian nyatanya memang ada. Begitulah perasaan Langit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD