Tiga Dua

1151 Words
Arra Bahtiar namanya. Perempuan keturunan minang dengan kulit putih sebersih s**u dan rambut hitam legam sebahu. Wajahnya cantik. Perpaduan khas milik Indonesia. Tingginya semampai dengan body goals yang di idamkan kalangan perempuan. Menjadi cantik yang berstandar di Indonesia memang sulit. Tapi Arra tak perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Karena semua yang menjadi kualifikasi, sudah terangkap rapi dalam dirinya. Dari segi keluarga pun, Arra tak perlu khawatir. Soal uang, Arra tidak kekurangan. Soal kasih sayang, Arra tak perlu harus bersaing karena dirinya adalah putri tunggal dari seorang Hima Hermawan yang kaya raya. Dan seluruh yang menjadi idaman semua perempuan, menjadi milik Arra. Tanpa bersusah payah untuk meraih, Arra tinggal terima beres. Tapi … tahukah kalian sepert apa karakter Arra yang sesungguhnya? Ada yang pernah mengatakan seperti ini: terlalu mudah mendapatkan, menjadikan sebuah kehidupan tidak memiliki tantangan. Maka, Arra benar-benar menerapkan kalimat ini. Di kucuri banyak kasih sayang. Di curahi banyak kemudahan, Arra mendidik dirinya sendiri untuk menghidupkan sosok lain dalam jiwanya. Arra yang kebanyakan orang tahu sosok cantik dan kalem, namun nyatanya tidak demikian. Arra yang kebanyakan di mata orang amatlah pendiam dan lemah lembut, faktanya juga tidak seperti itu. Arra … adalah sosok mengerikan. Monster yang sesungguhnya. Seperti sekarang misalnya. Arra bahagia mendengar ucapan Laraja Putra Anggoro—yang baru beberapa menit lalu dirinya temui. Menawarkan Langit untuk menjadi miliknya. Yang artinya, akan segera jauh dari seorang Laratu Putri Anggoro. Walau tahu Ratu adalah kakak Langit, Arra benci kenyataan itu. Fakta bahwa Ratu lebih berkuasa dalam mendominasi Langit, harga diri Arra terlukai. Arra yang selama ini selalu di kejar. Arra yang selama ini tidak pernah menerima penolakan. Arra yang selama hidupnya selalu bisa mendapatkan apa yang di mauinya. Tiba-tiba harus melihat miliknya di ambil paksa oleh orang lain. Patut jika kenekatannya menemui Raja. Dan hasilnya tidak sia-sia. “Lagian, siapa dia berani-beraninya ngambil punya gue?” Arra bukan ingin berlaku jahat. Namun ada obsesi yang telah tertanam dan tumbuh menjadi posesif yang tak berkesudahan. Menurutnya, wajar bila perempuan bersikap posesif. Karena memang benar adanya, Arra terlampau sayang terhadap Langit. Karena sudah ada Langit di hatinya yang mengisi ruang perasaannya selama ini. Sudah berapa tahun? Bahkan Arra tak bisa menghitung waktunya. Karena sudah merasa bahwa Langit adalah miliknya. Bukan berarti mengekang. Arra juga punya sisi lain dari sifatnya yang menyebalkan. Dan menjadi cerewet saat bertanya ini itu kepada Langit. Tentang banyak hal. Tentang kuliahnya. Tentang pekerjaannya. Itu adalah wujud perhatian Arra terhadap Langit. Bukan ingin curiga. Lebih wajar karena bagi Arra, Langit miliknya dan sikapnya yang berlebihan ini sebagai wujud perhatian terhadap pasangan. Array akin, di luar sana pun, banyak pasangan baik itu pihak lelaki mau pun perempuan yang melakukan hal demikian. Maklum, perempuan itu punya rasa penasaran yang tinggi pada apa pun yang dilakukan oleh pasangannya. Sehingga serba ingin tahu, serba ingin memahami. Tetapi bukan berarti itu menandakan tidak ada kepercayaan dalam hubungan tersebut. Terkadang, rasa sayang di hati Arra yang menuntutnya untuk bertanya sekali pun itu adalah hal yang sepele. Namun itu penting bagi Arra. Perasaan serba ingin ‘tahu’ ini yang telah berbisik di hatinya untuk terus memberikan perhatian kepada Langit. Itu semua juga memiliki risiko. Bertanya, Langit akan dengan mudah marah dan berakhir mendiamkannya. Menurut Langit, Arra terlalu berisik dan ingin tahu. Namun jika tidak bertanya, hati Arra yang gelisah. Makanya untuk mengelabui semua itu, Arra seringnya bersikap basa-basi. Padahal itu bukan gayanya. Arra juga selalu keluar jalur dari apa yang sebenarnya tidak ada dalam dirinya. Menjadi sosok cerewet dan bercerita panjang lebar walau tahu takkan di gubris apalagi dianggap penting oleh Langit. Arra embuskan napasnya. Sesak. Perih. Teriris. Posesif itu memang sifat perempuan. Karena dasarnya, perempuan selalu bertindak dengan hati. Lebih banyak berbuat dengan perasaannya. Sehingga amatlah sensitif, mudah tersentuh, gampang turun mood-nya. Kecuali yang benar-benar sudah stabil dan dewasa. Mungkin akan lebih mudah menyesuaikan. Dan itu tidak berlaku di diri Arra. Posesif itu tanda perempuan sudah sayang kepada pasangannya. Langit salah satunya. Tidak heran bila Arra lebih banyak membagikan cerita, ngomong apa pun yang Arra rasakan dan hadapi saat ini. Karena hanya Langit satu-satunya. Karena Langit adalah tempatnya bersandar. Dan Arra berharap, Langit mau menjadi tempatnya untuk bersandar. Bahkan, Arra sangatlah egois. Mudah cemburu, melarang Langit untuk tidak begini dan begitu. Karena Arra tak suka Langit berdekatan dengan orang lain dan siapa pun di luar sana. Baik teman kuliahnya, rekan kerjanya, atau bahkan saudaranya sendiri. Arra takut. Langit akan menjadi asik sendiri, lama-lama mesra lalu mendua. Sebab, semengerikan apa pun Arra, ada banyak ketakutan jika hubungan yang dirinya bangun dan jaga hancur. Arra tak mau kehilangan. Jadi, posesif memang sangat wajar. Terlebih bila sudah sayang. Dan bukan berarti perempuan posesif itu labil dan tidak dewasa. Karena itu berkaitan dengan rasa memiliki, rasa sayang dan mencintai. Dan perempuan mana pun yang sayang terhadap kekasihnya, pasti akan posesif. Pasti akan sangat menyayangi. Pasti selalu perhatian dan memperhatikan. Serba ingin tahu dan ingin ditemani selalu. *** Ratu bahagia. Sangat-sangat bahagia. Bisa kembali bersama dengan Langit meski dengan waktu yang terbatas. Setidaknya, semua rasa rindunya terbayarkan. “Yakin mau balik sekarang?” Itu adalah pertanyaan Langit yang sudah ribuan kali terlontar. Sejak semalam hingga pagi ini saat Ratu baru saja membuka kelopak matanya. “Kenapa?” Langit diam. Tidak bisa mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Lidahnya kelu. Kepalanya beku. “Aku maunya lebih lama, sih. Bareng terus sama kamu.” Hanya begitu. Padahal ada yang lebih ekstrem yang ingin Langit katakan. Ada banyak yang ingin Langit ungkapkan. Bukan tidak punya keberanian untuk mengatakan. Sebagian diantara kita memilih mencintai dalam diam. Karena memang waktunya belum pas. Ada banyak pertimbangan yang harus Langit lakukan terutama soal kesiapannya. Ini menyangkut banyak hal. Tidak tentang hatinya dan hati Ratu saja. Tidak soal perasaannya yang harus berbalas dan ikatan. Namun lebih daripada itu. Tenang, Langit tidak akan menjadi pengecut apalagi takut mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Ini adalah langkah penuh berani dan paling mendebarkan. Setidaknya saat Langit mencintai Ratu secara diam-diam, ada yang Langit khawatirkan yakni; menikahi orang lain. Langit sadar, mencintai adalah kata kerja untuk menjaga. Jadi, tidak ada yang lebih baik dari diam saat mencintai sebelum Langit bisa bertanggungjawab pada diri sendiri. Jalur ini memang tidak banyak yang melalui. Sunyi dan penuh tantangan. Dan Langit ingin melihat sampai sejauh mana perjuangannya. Karena baginya, tidak apa-apa untuk terus memendam. Ini lebih mulia dan penuh kejutan. Saat mengatakan tak tahu langkah selanjutnya. Atau bila telah mengatakan kita justru menghinakan diri menjalin cinta dalam ikatan penuh napsu dan kepalsuan. Tidak ada yang lebih baik selain mencintai dalam diam. Sekadar menyampaikan ‘aku mencintaimu’ untuk Ratu, sungguh, Langit bisa saja mengucapkannya setiap saat. Tapi untuk risikonya, apakah Langit sanggup? Mengatakannya artinya Langit memberikan harapan. Sedang segala sesuatu yang berhubungan untuk dirinya saja, Langit masih keteteran. Maka, untuk sementara, tetaplah mencintai dalam sunyi. Dari jarak yang tidak diketahui, sembari menguatkan dan mempersiapkan diri. Tuhan tidak akan ingkar pada janjinya. Langit peluk erat-erat Ratu. Perempuan ini, tidak seharusnya hadir sebagai kakak. Akan lebih baik jika Tuhan mereinkarnasinya sebagai kekasihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD