Tiga Satu

1098 Words
Setiap orang, punya kadar patah hatinya masing-masing. Begitu juga dengan Raja. Yang pernah begitu jatuh sampai enggan untuk mencintai siapa pun lagi. Entah karena sudah malas berurusan dengan dunia ‘hubungan’ atau mungkin karena luka lamanya yang belum sepenuhnya pulih. Atau malah diri Raja yang bermasalah terlalu takut untuk memilih. Di hidup Raja, banyak sekali yang datang menawarkan hati. Tapi pintu hatinya seolah telah berubah menjadi baja, sudah tertutup rapat-rapat. Tangan yang dulu pernah begitu lapang menerima masih menggenggam erat sama lalunya atau karena traumanya yang lain. Sampai akhirnya Raja temukan Leora dalam wujud yang berbeda. Dan dalam pandangan yang berbeda, Raja menjadi sangat bengis untuk Leora Yudantha. Yang sangat Raja puja-puja dulu mendadak sirna tak berbekas. Dalam penglihatan Raja, Leora adalah sama kejamnya dengan seseorang di masa lalu yang menumpahkan lelehan besi panas di tangannya. Leora adalah peradaban balas dendam tak berujung Raja. Tapi Raja juga lupa. Sekejam apa pun dirinya, tetaplah memiliki hati sebagai sisi lembut yang mudah tersentuh. Leora merubah segala ‘patah hati’ yang bersarang di hatinya. Leora menjanjikan bermilyar-milyar kesembuhan tanpa ucapan lewat bibir. Leora menyembuhkan sakit tak kasat mata secara nyata. Memberikan janji yang paling Raja harapkan. Membuat kepercayaan diri Raja kembali bermunculan dan menemukan bahagia yang sesungguhnya. Setelah se-semoga itu Leora dalam doa-doanya. Setelah seyakin itu Leora dalam Aminnya. Semesta tak lagi sebercanda dulu dan Raja miliki Leora seutuhnya dalam genggaman. Rasanya … sungguh tak bisa di jabarkan. Karena kehidupan kelam yang Raja dapati, terjalani dengan lebih baik akan sosok kehadiran Leora. “Aja mau?” Nah, ini momen di mana Raja bisa mengeksperesikan diri di hadapan Leora. Dalam manja mode on yang Leora tunjukkan, Raja benar-benar beralih sifat. Seolah wajib menjadi bayi besar agar Leora mau bersikap lebih. “Ora masak sendiri?” Meski tahu itu hasil karya tangan Leora, Raja wajib menanyakan hal yang sudah sangat dirinya tahu. Alasannya, untuk menghargai hasil karyanya. “He’em. Aku coba-coba. Jadi ini aku mix saja. Enak nggak?” Tidak ada yang salah dengan olahan yang Leora buat. Setiap masakannya selalu menghadirkan rasa yang berbeda-beda dan cepat memperbaiki mood. Walau bukan seorang chef, keterampilan Leora dalam memasak memang luar biasa. “Boleh aku kasih saran?” Leora mengangguk dengan semangat. Raja telan puddingnya. “Kurangi manisnya. Ini cocok banget di makan pas sore hari sambal nge-teh atau ngopi. Jadi, rasanya nggak tabrakan.” “Gitu, ya?” Leora letakkan sendoknya sembari memutar-mutar bola matanya—tanda berpikir. “Aku masukin ke menu baru di café gimana?” “Oke. Nggak masalah. Jadi ada dessert tambahan yang lebih ringan nggak melulu itu-itu saja.” *** Pagi itu Arra datang. Menyambangi kantor Raja yang jelas membuat calon Ayah itu kebingungan. Pasalnya, belum pernah ada seorang perempuan yang mendatangi adik bungsunya meski banyak yang mengejarnya. Raja hanya tahu bahwa Arra adalah putri salah satu rekan bisnis papinya. Namun pastinya dan punya hubungan apa dengan Langit, Raja jelas tidak tahu apa-apa. “Arra pikir masih di sini.” Begitu kata Arra yang memperlihatkan raut kekecewaan secara terang-terangan. Raja jadi serba salah. Ingin memberikan jawaban lebih, namun tahu ada batasan privasi yang tidak boleh dirinya lewati. Sedang melihat betapa kagumnya perempuan bernama Arra terhadap Langit, Raja pikir memang ada sesuatu yang terjadi. “Ada sesuatu yang mendesak?” Raja raih ponselnya. Sudah siap ingin menghubungi Langit. “Kangen.” Mendadak urung saja. Jempol Raja kaku mendadak. Tubuhnya sedikit merinding mendengar kata kangen yang terucap. “Arra sudah lama banget nggak ketemu Langit.” Wadidaw. Antara harus senang dan jingkrak-jingkrak bahagia. Raja lebih ingin mengumpat. Tidak tahu apa alasannya. Namun Raja rasa, yang selalu membawa-bawa perasaan, hasilnya kurang gereget. “Sudah lama sama Langit?” Sudah Raja kirimkan pesan kepada istrinya. Aneh, sih. Karena tiba-tiba Raja ingin menghubungi Leora yang isinya berderet kalimat: Langit punya pacar. Kalau Leora ada di tempat, sepertinya kepala Raja akan kena sasaran getokan. “Dari zaman kuliah di Singapura.” Daebak! Selama itu dan Langit hanya diam saja. Memendam hubungan yang sebaiknya diketahui oleh keluarga. “Mami Senja tahu.” Edan lagi—ralat—lebih edan lagi karena sudah sedekat itu dengan maminya. Raja speechless. Rahangnya kaku. Matanya melotot lebar bak burung hantu. Pemirsa, tolong beri tahu Raja apa yang sedang terjadi di atas panggung. Kenapa hanya dirinya saja yang macam sapi ompong nggak tahu apa-apa. Sedang maminya dengan santai menyimpan rahasia sebesar ini. “Papi Radit yang jodohin kita,” lanjut Arra. “”Arra suka Langit dan mau. Nggak bisa nolak. Soalnya Langit itu ganteng dan perfect banget deh.” Tunggu! Ada yang Raja lewatkan. Banyak pertanyaan yang mulai menyambangi otaknya—hampir meledak. Dan butuh jawaban segera. Apa alasan Langit menyembunyikan hubungannya dengan Arra? Dan sejak kapan Ratu dan Langit menjalin hubungan terlarang sedang ada Arra di sini? Raja benar-benar menjadi bodoh. “Kamu …” Arra tersenyum atas ucapan Raja. “Sudah sedekat itu dengan mami dan Papi?” Dan anggukan kepala Arra, sudah cukup memberikan jawaban untuk pertanyaan yang siap meledak dari kepala Raja. “Langit sibuk kerja. Arra—“ “Kamu mau nikah sama Langit?” *** “Tapi Papi.” Rayuan Leora sungguh mematikan. Dan amarah yang membumbung di d**a Raja surut secara perlahan. Elusan kecil disertai tepukan pelan di d**a Raja yang bidang sangat membantu. Leora sangat tahu caranya membuat mood Raja membaik. “Nggak gitu caranya.” Leora melanjutkan. Kali ini dengan kepala yang bersandar. Kedua tangannya melingkari perut Raja. Kakinya membelit kaki Raja bak ular. “Langit, sekali pun bungsu di keluarga ini dan selalu kamu anggap masih anak kecil. Dia tetap sudah dewasa. Dia punya hak untuk memilih. Dia punya suara untuk menentukan. Papi nggak bisa asal memutuskan. Coba Ora tanya ke papi. Misal papi ada di posisi Langit dan di paksa untuk mau ‘menerima’ apa yang nggak papi suka, papi bahagia?” Mata Raja berkedip sekali. Seakan sadar dari tidurnya yang panjang. Pertanyaan Leora benar-benar mengusik sisi lain di hatinya. Memang benar. Jika Raja di posisi Langit, takkan ada bahagia yang bisa dirinya raih seperti saat bersama Leora. Karena jauh sebelum menikahi Leora, Raja pun menolak semua perempuan yang mami dan papinya tawarkan. Bahkan sebelum menerima Leora, Raja pun sempat menentang keras hubungan ini. “Aku cuma mau yang terbaik buat Langit.” Vokal Raja mencicit. Teredam dengan semerbak wangi vanilla dari rambut Leora. “Nggak lebih.” “Yakin itu yang terbaik buat Langit?” Leora ulangi. Tangannya kembali menepuki d**a Raja. “Baik buat papi—menurut papi. Tapi Langit punya standar untuk baik yang menurutnya.” Tidak bisa di bantah. Apa yang Leora katakan benar adanya begitu. Raja diam. Hendak membantah, namun lebih baik mempertimbangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD