BAB 9

1429 Words
"Apa yang kalian bicarain? Kok pada tegang gitu muka-mukanya?" Tanya Saga yang tiba-tiba masuk ke dalam percakapan mereka, Ocha dan Arven. Seolah tersadar dari lamunannya, Ocha mengerjap, ia tersenyum lantas menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lain halnya dengan Ocha, Arven memilih mengedikkan bahu seolah tak mengerti apa-apa. Hubungan Saga dan Arven memang tidak begitu baik. Mereka berdua jarang sekali akur. Bahkan, biarpun sudah satu kelas hampir selama tiga tahun, perbincangan yang mereka lakukan bisa dihitung dengan jari. Arven yang kelewat berandal, sehingga Saga yang notabene-nya memiliki predikat sebagai good boy, sedikit malas berdekatan dengan cowok itu. Arven sendiri menyadari hal tersebut dan Arven pun juga merasa malas jika harus berhadapan dengan orang sombong seperti―setidaknya begitu pendapat cowok itu mengenai Sagara Rivano―sahabat Aerosha itu. Saga tak serta merta percaya. Entah mengapa ia merasa tidak suka ada makhluk berjenis kelamin laki-laki mendekati sahabatnya ini. Ia tidak tahu kenapa, namun ia jelas merasakan perasaan tak rela itu. Merasa mendapat tatapan tak mengenakan dari Sagara, Arven segera melangkahkan kakinya menjauhi bangku Ocha untuk kembali bangkunya, tanpa mengucap sepatah kata pun. Mata Ocha masih tertuju pada cowok itu, bukan karena suka atau apa, tapi karena di kepala Ocha masih tersimpan berbagai tanda tanya. Ocha sama sekali tidak berpura-pura bodoh, tapi ia memang tidak mengerti. Ia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Daniel. Melihat wajah polos Ocha yang tampak bingung, membuat Arven merasa gemas. Padahal, dia tadi sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya pada cewek itu, bahwa Daniel tengah koma karena baru kecelakaan satu bulan yang lalu. Dan dengan polosnya, cewek itu bertanya siapa yang mengajaknya bicara. Kalau saja Saga tidak muncul tiba-tiba, Arven sudah berencana menjawab pertanyaan Ocha itu dengan teriakan lantangnya tepat di depan wajah cewek itu, bahwa yang ia temui itu bukan Daniel yang sebenarnya, tetapi roh Daniel yang barangkali saja tengah berkelana menikmati keindahan dunia selama dirinya, Daniel, belum bisa kembali ke tubuhnya. Arven bukan manusia yang bisa bersabar menghadapi orang seperti Ocha. Bisa mati muda dirinya jika terus-terusan berhadapan dengan manusia sejenis Ocha itu. Ia sendiri tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang seperti Ocha hidup di bumi. Kalau pun di planet lain, Arven barangkali tidak akan sekaget ini. Jujur saja. Tadi itu kali pertama Arven berbincang dengan Ocha. Dan hal pertama yang muncul di kepalanya adalah, jangan pernah coba-coba dekat dengan makhluk bodoh itu. Untuk beberapa saat, mata Arven dan Ocha saling kunci. Ocha masih mencari-cari jawaban dari perkataan Arven. Sementara Arven sendiri ... entah mengapa, baru pertama kali ini, Arven menyukai mata seseorang. Tatapan teduh mata Ocha membuatnya tenang. Arven tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas, ia begitu menyukai mata Ocha dan merasa kehilangan ketika mata itu tak lagi mengarah padanya. "Cha!" Ocha tersentak mendengar suara Saga yang terdengar kencang. Saga tidak berusaha menutupi ketidak sukaannya ketika sahabatnya itu berinteraksi dengan Arven. Bahkan melakukan kontak mata lebih dari sepuluh detik. Cowok pecinta basket itu justru memperlihatkannya dengan jelas. "Eh iya, Kak? Apa?" Ocha terlihat bodoh dengan responnya itu. Saga menghela napas, lantas mendudukkan dirinya di sisi Ocha. Ocha masih setia dengan kerutan-kerutan di dahinya. Matanya yang sudah beralih menatap Saga pun, masih memancarkan binar kebingungannya. Tangan Saga perlahan terangkat, cowok itu mengelus dahi Ocha yang berkerut. Membuat Ocha merasakan desiran aneh, perutnya seolah-olah dirayapi oleh ribuan kupu-kupu. "Enggak. Gue nggak suka aja perhatian lo kebagi, dan lo nggak merhatiin gue," jawabnya jujur seraya menarik tangannya. Ocha kembali mengerutkan keningnya, lantas menganggukkan kepalanya disertai tawa. "Kak Saga lucu." Saga mendengkus. "Oh iya, kakak mau bekal Ocha?" Ocha bertanya seraya menunjuk ke arah tupper warenya, di mana di sana, bekal yang ia bawa sama sekali tidak berkurang. "Nggak Cha. Gue udah kenyang. Habis makan bakso di kantin. Ngomong-ngomong, pulangnya nanti, lo bareng gue ya?" Ocha tampak berpikir. Kepalanya menoleh pada Arven yang terlihat menyibukkan diri dengan memainkan ponsel pintarnya. "Kak Marsya gimana nanti?" "Lo nggak perlu khawatir lagi. Nggak ada yang bakal marah ke lo sekarang." Saga menjawab dengan senyum di bibir. *** Ocha menghela napas. Semenjak Arven mengatakan bahwa Daniel koma dan dirawat di rumah sakit, Daniel yang ia kenal tidak pernah menemuinya lagi. Terhitung sudah satu minggu ini. Ocha benar-benar merasa kesepian. Terlebih lagi, Saga juga sedang disibukkan dengan turnamen basket antar SMA se-Jakarta. Ocha tidak heran kenapa Saga bisa seantusias dan sesemangat itu dengan turnamennya, ya wajar saja, karena turnamen tersebut bakal menjadi turnamen basket terakhir yang bisa Saga ikuti, sebelum memasuki semester dua dan untuk mempersiapkan UNBK serta lainnya. Sebut saja, itu sebagai turnamen terakhir Saga. "Hei, ngelamun aja si Eneng." Ocha mengerjap mendengar ucapan Saga. Kata itu. Kalimat itu. Nyaris sama dengan yang sering Daniel ucapkan. Ocha segera menarik kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyum. Senyum yang jelas terlihat dipaksakan. Ia mengerjapkan matanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang mengganggunya. Matanya mengedar ke penjuru lapangan, di mana beberapa anak masih sibuk dengan permainan basketnya. "Mikirin gue ya, Cha? Kok gue makin hari makin ganteng, gitu kan?" Tanya Saga penuh percaya diri. Ocha mengalihkan tatapannya pada Saga, memandang cowok itu dengan tatapan polosnya, satu detik berlalu tawa Ocha melarikan diri dari mulut yang tadinya terbungkam rapat itu. Berlari, mengisi sela-sela kosong di sisi mereka. Cewek berkuncir kuda itu memukul pelan bahu sahabatnya, "Sejak kapan Kak Saga senarsis ini?" Tanya Ocha di sela-sela tawanya. "Sejak kapan Ocha suka ngelamun?" Tanya Saga balik dengan nada suara yang disamakan dengan ucapan Ocha yang terdengar mengejek. Ocha masih tertawa, memilih tidak menjawab. "Lagian nih ya, gue kan emang ganteng. Bukannya narsis ya, udah kenyataan," kata Saga sambil mendudukkan diri di sebelah Ocha. Cowok itu mengambil sapu tangan berwarna putih yang tersampir di senderan kursi, lantas mengelap keringat yang menempel di dahi dan juga lehernya. "Au ah gelap. Kakak mah gitu." "Ya tinggal lo hidupin lampunya, biar terang, gimana sih?" Saga mencubit gemas pipi tembam Ocha, membuat cewek itu meringis. "Ih, apaan sih Kakak? Sakit tahu," kesal Ocha seraya mengelus pipinya yang memerah. Bibir gadis itu sudah mengerucut kesal. Ekspresi lucu yang membuat Saga terbahak. "Jangan ngambek dong, kayak anak kecil tahu." "Ocha kan masih kecil, nih, sama badan Kak Saga aja cuma setengahnya. Tangannya gedean tangan Kak Saga." Ocha meraih tangan Saga, dan menyejajarkan tangan mereka, cewek itu membuat perbandingan seberapa besar tangan sahabatnya dengan tangannya sendiri. "Ya ampun Cha. Bukan itu maksud gue. Jangan bikin gue gemes deh, lama-lama gue khilaf tahu nggak!" Saga mengacak rambut Ocha. Membuat bibir Ocha semakin mengerucut. "Ish! Udah jangan diacak, nanti Ocha nggak cantik lagi." "Kan gue udah pernah bilang, mau kayak apa pun lo, lo tetep cantik di mata gue. Lupa lo ya?" Pipi Ocha bersemu. Ocha tidak mungkin lupa dengan kata-kata itu. Dia pernah tidak bisa tidur hanya karena Saga menyebutnya cantik. Dan hal itu berdampak pada keesokan harinya, di mana ia malah tertidur di kelas, hingga guru yang mengajar waktu itu memberinya hukuman. "Eh pipi Ocha merah? Merah kenapa nih? Jangan-jangan..." Ocha menggelengkan kepalanya. Tangannya mengibas-ibas di depan Saga. Menolak tuduhan cowok itu yang belum pasti seperti apa tersebut. "Jangan-jangan karena lo kepanasan ya Cha? Mataharinya panas gini," kata cowok itu dengan mata yang mengedar ke arah langit. Si Putih yang terkadang berwarna abu-abu itu tidak terlalu terlihat, Si Biru yang malah mendominasi langit. Ocha kok kesal ya, dengan ucapan Saga? "Lo mending neduh aja Cha. Gue masih lama latihannya. Atau kalau lo mau balik ke kelas, boleh kok. Udah kayak babu lo kalau gue suruh jagain barang-barang gue di sini. Atau lo ke perpus aja," kata Saga. Cowok itu meletakkan sapu tangannya, kemudian meraih botol minuman di sisi Ocha dan meminumnya. Ia benar-benar haus. "Kadang ya, gue kesel deh, habis UAS guru-guru kan nggak ngajar. Seharusnya kan diliburin aja murid-muridnya, apalagi murid-murid yang free. Daripada lontang-lantung gini?" Lanjutnya seraya meletakkan botol minuman tersebut ke tempat semula. Ulangan Akhir Semester berakhir minggu lalu. Dan entah kenapa, sekolah tidak pernah meliburkan muridnya, padahal banyak juga siswa yang tidak memiliki kegiatan di sekolah. Class meeting juga akan digelar setelah libur nanti, atau awal semester dua lebih tepatnya. Kalau seperti Saga ini wajar masuk, karena cowok itu harus berlatih basket untuk turnamennya. "Kan disuruh nunggu pengumuman pembagian raportnya Kak Saga." "Iya juga sih. Udah gih, lo neduh aja. Gue nggak tega lihat pipi lo yang merah-merah gitu." Saga mengusap pipi Ocha, membuat bagian tubuh cewek itu semakin memerah. "Ehm ... ya udah, Ocha pergi dulu. Kak Saga yang semangat latihannya biar menang." Ocha buru-buru berdiri dari duduknya. "Bye Kak!" Cewek itu langsung berlari menuju koridor sekolah, meninggalkan Saga yang terdiam karena bingung. "Ini perasaan gue aja atau Ocha kayak salah tingkah gitu?" Tanyanya dengan satu alis terangkat. Dan hanya hembusan anginlah yang menjawabnya. Cowok dengan ketidak pekaannya memang sulit terpisahkan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD