Bab 1 : Labirin yang tidak pernah diam
Aku selalu tahu pikiranku berbeda dari orang lain. Saat orang lain bisa fokus membaca satu buku dalam sehari, aku butuh seminggu hanya untuk menyelesaikan satu bab—bukan karena sulit, tapi karena pikiranku seperti jalanan kota besar tanpa lampu lalu lintas. Aku memulai dengan satu ide, lalu tiba-tiba, "Oh! Bagaimana kalau aku belajar origami?", kemudian lima menit kemudian, "Eh, tadi aku buka YouTube buat apa, ya?"
Hari ini tidak jauh berbeda. Aku duduk di meja tulisku, mencoba menulis cerpen yang sudah lama ku tunda menyelesaikan nya. Tapi saat melihat tulisan tulisan di depanku, pikiranku malah membawa aku ke tempat lain. Tiba-tiba aku berada di dalam labirin yang penuh jalan bercabang.
"Serius, lagi?" Aku menghela napas.
Aku berdiri di persimpangan. Di sebelah kiri ada lorong yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tampak samar—seperti catatan pokok pikiran tulisan ku yang pernah kutulis tapi tak pernah kuingat. Di sebelah kanan ada tangga berputar ke atas, dengan tanda bertuliskan “Pikiran Baru”. Aku tahu kalau aku naik ke sana, aku akan memikirkan hal lain lagi dan melupakan PR-ku.
Tapi sebelum aku bisa memilih jalan, seseorang berbicara.
"Kamu tersesat lagi?"
Aku menoleh. Seorang gadis muda berdiri di sampingku, tangannya terselip di saku hoodie-nya. Wajahnya tidak asing, tapi aku tidak ingat siapa dia.
"Kamu siapa?" tanyaku waspada.
Dia tersenyum kecil. "Aku? Aku panduanmu di sini."
"Oke, itu tidak menjawab pertanyaanku," kataku, menyilangkan tangan.
Dia hanya mengangkat bahu. "Anggap saja aku seseorang yang tahu bagaimana pikiranmu bekerja."
Aku memandang sekeliling. Labirin ini sudah lama ada di dalam kepalaku, tapi aku tidak pernah menemukan siapa pun di sini sebelumnya.
"Kenapa baru sekarang muncul?" tanyaku curiga.
Dia menghela napas, seakan pertanyaanku terlalu biasa untuk dijawab. "Karena baru sekarang kamu mulai sadar kalau kamu butuh bantuan untuk menavigasi pikiranmu sendiri."
Aku diam. Jujur, dia ada benarnya.
"Ayo," katanya, berjalan ke depan. "Aku akan tunjukkan jalan keluar. Setidaknya sampai kamu bisa kembali ke tugas-mu."
Aku ragu sejenak, lalu mengikuti langkahnya.
Hari ini, untuk pertama kalinya, aku tidak tersesat sendirian.