Hazal beranjak ke dalam kamar yang rupanya telah gelap gulita. Sinar purnama dari jendela menuntun langkahnya yang menyeret menggapai sisi tempat tidur. Wajahnya kuyu, pucat, dan letih. Ia duduk di samping pembaringan Cambria dan menatapnya tengah pulas dalam tidur. Disentuhnya rambut gelap perempuan itu perlahan-lahan dengan tangan gemetaran dan napas pendek yang saling memburu begitu cepat. Perempuan itu bergidik, tapi tak terjaga. Mata abu-abu Hazal mengerjap waspada, raut mukanya berubah merah dan tangannya makin gemetaran. Ia berusaha menegakkan tubuh, tapi ia terhentak tiba-tiba memegang ulu hatinya seolah ada cambukan begitu keras megenai tubuhnya. Ia gopoh, goyah, pandangannya berputar, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tangannya meraba meja berusaha meraih sandaran tanpa bisa men

