15. Sandiwara

1828 Words
Kani menghentikan aksi cengengnya, ia menyeka air matanya dan mengambil napas dalam-dalam. "Aku nggak boleh lemah, sesakit apapun itu, aku nggak boleh lemah." Kani pergi ke toilet, ia membasuh wajahnya agar merasa lebih segar sekalipun dunianya sedang berbalik saat ini. Ia berusaha kuat menghadapi apapun yang tengah ia hadapi. "Jodoh, maut, rejeki, itu semua di tangan Allah, Kani. Dan kamu harus ingat kalau semua itu hanya titipan." Kani mengingatkan dirinya sendiri bahwa segala sesuatu yang ia miliki saat ini adalah dari Allah dan semua akan kembali pada-Nya. Di ruangan Kailin, Santoso akhirnya melunak dan memberi kesempatan kedua bagi Kailin. "Baiklah, aku akan kasih kamu kesempatan buat membuktikan keseriusan kamu. Nikahi Vero segera setelah kamu pulih!" Vero tersenyum senang, sementara Kailin hanya mengangguk lemah. "Terima kasih, Pak, atas kesempatan yang Bapak berikan." "Karena luka kamu tidak parah, aku akan ajak Vero pulang sekarang juga." Santoso ingin mengajak Vero pulang bersamanya, anaknya itu menggeleng hebat. "Vero mau di sini dulu, Pak. Kailin luka, dia kecelakaan saat mau ke rumah kita. Vero nggak tega biarin Kailin sendirian." Vero menolak keinginan ayahnya. "Ve, aku nggak sendiri. Lihat, ada Bambang di sebelah," ucap Kailin sambil melirik ke arah Bambang yang masih pura-pura tidur. "Kamu harus pulang, istrinya bisa ke sini dan Bapak nggak mau kamu ketemu sama dia sementara Kai belum menjelaskan semuanya. Masalah akan jadi runyam, jadi ayo kita pulang aja." "Bapak bener, Ve. Lebih baik kamu pulang, toh aku juga nggak apa-apa." Vero akhirnya menurut, ia pulang bersama Santoso. Ketika ayah dan anak itu menuju ke pintu keluar, Kani secara tak sengaja melihatnya. Ia yang baru saja keluar dari toilet, menatap lekat pada wanita cantik yang mengenakan baju kebaya putih itu. Kani mengakui kecantikan Vero. "Pantas saja Mas Kai mau menikah lagi, dia memang cantik." Kani tak kembali ke kamar Kailin, ia memilih pulang setelah memastikan apakah firasat buruknya memang benar. Sesampainya di rumah orangtuanya, Kani langsung masuk ke kamar yang ternyata sudah kosong. Wanita itu mengira kalau Kaira sudah dipindahkan ke kamar orangtuanya. Kini, ia membanting tubuhnya itu di kasur. Matanya terpejam dengan bibir yang selalu beristighfar, air mata mulai mengalir di pelipisnya. Air mata Kani semakin kencang, ia lalu tengkurap dan menenggelamkan wajahnya di kasur. Ia menangis tertahan, sekalipun air matanya sangat deras, sebisa mungkin ia tak ingin bersuara. "Ya Allah, jika ada yang tanya bagaimana perasaanku saat ini, maka aku akan menjawabnya sakit. Ya, aku memang merasa sakit hati, sakit yang tak pernah kurasakan dan tak pernah kubayangkan akan menghampiri hidupku. Aku sudah berusaha keras menjadi istri yang baik dan aku selalu menjaga kehormatan aku sebagai istri selama ini. Aku sama sekali tak menyangka kalau perasaan yang begitu menyiksaku saat ini hadir dalam hidupku. Andai saja aku bisa memilih, aku ingin mengakhirinya sekarang juga. Tapi ... apa bisa?" Kani menangis tertahan dengan pikiran yang menginginkannya untuk berpisah dari sang suami. Namun, Kani adalah wanita yang tangguh. Kelemahan wanita itu adalah kelebihannya, menyendiri dan pandai menyembunyikan luka. Berkat kebiasaannya yang satu itu, ia mampu menutupi segala rasa sakit dengan sebuah senyuman. Pagi tiba. Kani keluar dari kamar dan berniat membantu ibunya di dapur setelah solat subuh. "Kenapa kamu pulang? Kapan kamu pulang? Apa Kai baik-baik saja?" tanya ibunda Kani yang kini baru saja masuk ke dapur dan memergoki Kani sedang mencuci beras. "Mas Kai baik-baik aja, Bu. Nanti Kani ke sana buat jemput Mas Kai." Wanita itu sungguh pandai menyembunyikan perasaannya. Ibunda Kani itu percaya begitu saja. "Kamu pulang jam berapa?" tanyanya lagi, ia memang kelelahan karena bermain dengan Kaira kemarin siang. "Kani nggak lama kok, Bu, di rumah sakitnya. Habis lihat kondisi Mas Kai yang baik-baik aja, Kani langsung pulang." "Ya sudah kalo begitu. Syukurlah kalo suamimu baik-baik aja." . Kani izin tak masuk kerja hari ini. Ia berencana menjemput suaminya di rumah sakit. Ia sendiri sama sekali tak menghubungi pria itu dan melakukan semuanya seorang diri. Kani menitipkan Kaira ke kedua orangtuanya, ia masih meminta orangtuanya untuk merahasiakan kecelakaan Kailin sampai pria itu pulang. Kailin tengah mengepak barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. "Kamu udah pesen taksi online, Bang?" tanya Kailin. "Belum, Pak. Saya pesen dulu, ya," sahut Bambang. "Nggak usah, biar aku anter, Bang. Aku bawa mobil, kok." Kani masuk tiba-tiba, membuat Kailin membuka matanya lebar-lebar. "Kani!" Kailin terkejut, ia bingung bagaimana bisa Kani tahu di mana ia dirawat. Tak hanya Kani, Bambang pun ikut terkejut dan kini ia duduk di ranjang pasien karena kakinya terasa lemas. "Assalamualaikum, Mas." Kani tersenyum getir, senyuman yang mengisyaratkan kesedihan tiada tara. "Waalaikumsalam. Kamu gimana bisa tahu aku di sini? Aku bisa pulang sendiri." Kailin masih tak percaya kalau Kani bisa tahu di mana ia berada. "Aku nyari kamu, semalem, Mas. Kalian udah siap? Ayo, pulang. Aku udah bayar semua biaya perawatan kalian." Kani berbicara dengan santai seolah tak terjadi apa-apa, walaupun ada gemuruh petir di dadanya yang menyambar-nyambar tanpa henti, terasa begitu sakit tetapi ia tetap menutupinya. Tanpa banyak basa-basi, Kani lalu keluar dari kamar. Ia bahkan tak membantu suaminya membawa barang-barang pria itu. Kailin dan Bambang masuk ke dalam mobil dengan mulut yang masih membisu. Kani masih saja memasang wajah santai dan bersikap acuh pada suaminya, itulah caranya agar air matanya tak menetes keluar. "Kita anter Bambang dulu, ya, Mas?" tanya Kani sambil membawa pergi mobilnya menjauh dari pekarangan rumah sakit. "Iya," jawab Kailin singkat. Kailin tahu kalau Kani sudah tahu semuanya. Itu yang paling membuatnya sakit saat ini, melihat istrinya yang hanya diam saat wanita itu tahu segalanya. "Kamu semalem cari aku?" tanya Kailin penasaran setelah Bambang turun dari mobil mereka. "Iya, maafin aku karena aku nggak nurut sama kamu. Aku nekat keluar nyari kamu meski kamu udah larang aku, maafin aku." Masih bersikap santai, Kani berhasil membuat Kailin merasa terpuruk. "Kenapa kamu nggak masuk kalau kamu dateng ke rumah sakit?" Kailin penasaran, apa Kani melihat Vero dan Santoso datang. Degup jantungnya benar-benar tak terkendali, ia ingin menghentikan mobil dan berbicara dengan Kani secara serius. Namun, sikap Kani masih saja santai sehingga membuatnya merasa frustrasi. "Aku nggak mau ganggu Mas." Jawaban Kani benar-benar ambigu, Kailin semakin dibuat pusing olehnya. Kailin terdiam cukup lama. Ia lalu menoleh dan menatap istrinya yang masih bersikap santai. "Kenapa kamu nggak tanya kenapa aku bisa kecelakaan dan di mana lokasinya? Biasanya kamu peduli sama aku." Kailin terdengar putus asa. "Aku masih peduli sama Mas. Aku udah tahu Mas kecelakaan di Jalan Pahlawan, kecelakaan tunggal. Mobilnya udah ada di bengkel, aku tadi mampir ke bengkel sebelum ke rumah sakit." "Kamu tahu? Kamu ke bengkel lihat mobilnya?" tanya Kailin dengan menaikkan volume suaranya. Ia takut Kani melihat apa yang ada di dalam mobil itu. Sayangnya, apa yang ia takutkan sudah menjadi kenyataan. Sebelum Kani ke rumah sakit untuk menjemputnya, Kani mendatangi lokasi kecelakaan seperti yang perawat katakan. Wanita itu lalu bertanya pada warga sekitar di mana mobil suaminya itu sekarang. "Untung aja warga gercep, jadi mobil Mas langsung dibawa ke bengkel sebelum polisi dateng. Makanya aku tadi cek mobil dulu sebelum ke rumah sakit." Masih dengan sikapnya yang dingin, Kani membawa suaminya pulang ke rumah orang tua pria itu. Kailin masih diam, ia tak peduli ke mana Kani membawanya sekarang. Ia hanya memikirkan apakah istrinya itu tahu semuanya tengang dia dan rencananya yang akan menikahi Vero atau tidak. Jika iya, bagaimana bisa istrinya itu sama sekali tak membahasnya? Jika tidak, kenapa sikap Kani sangat berbeda kali ini. Kani mematikan mesin mobilnya. "Kita di sini dulu aja, Ibu sama Bapak pasti khawatir sama kamu." Kani berbicara lirih. Wanita itu lalu memegang handle pintu dan berniat membukanya, tetapi dengan cepat Kailin mencekal lengan istrinya. "Apa nggak ada yang ingin kamu tanyain?" tanya Kailin pelan. Kani mengendikkan bahunya. "Nggak ada, aku udah tahu semuanya." Lagi-lagi Kani mengucapkan kalimat ambigu yang berhasil membuat Kailin semakin takut dan gugup. Sementara Kani, ia merasa puas melihat reaksi sang suami yang seperti maling kepergok itu. Wanita itu menyingkirkan tangan sang suami dan kemudian turun dari mobil. Kani masuk ke dalam rumah mertuanya yang tepat berada di samping rumah orangtuanya. Wanita itu mengucapkan salam seperti biasa, kedua mertuanya yang baru saja selesai sarapan terkejut melihatnya datang. Kailin masuk dengan langkah santai, penampilannya saat itu berhasil membuat orang tuanya menjerit kaget. "KAILIN?!" Kailin menjelaskan apa yang terjadi pada orangtuanya, tentu saja sama seperti apa yang ia katakan pada Kani. "Kamu kecelakaan seperti ini cuma karena lihat kualitas beras?! Kamu kan bisa aja minta dikirimin sampel berasnya, kenapa harus ke sana?" Ibu dan ayah Kailin merasa ada yang aneh dengan kejadian yang menimpa anaknya. "Kai sih niatnya mau cek langsung, biar puas." Kailin masih berbohong. Matanya terus memperhatikan sang istri yang masih sibuk di dapur. Wanita itu menyiapkan teh untuk suaminya dan kedua mertuanya. Kani kembali dari dapur dan menghampiri suami dan kedua mertuanya, ia meletakkan secangkir teh di depan masing-masing orang. "Diminum, Pak, Bu." Kailin tak henti menatap istrinya. "Kalo kamu tahu semuanya, jangan siksa aku dengan senyuman palsu itu, Kani," batin Kailin. "Kok tehnya cuma tiga, kamu nggak minum teh?" tanya ibu mertua Kani. "Enggak, Bu. Kani mau beres-beres kamar dulu biar Mas Kai bisa langsung istirahat. Mas jangan ketemu Kaira dulu, istirahat aja dulu. Nanti siang baru Kaira aku ajak ke sini." Kani menatap ibu mertua dan suaminya secara bergantian. Ibu mertua Kani mengangguk menyetujui. "Iya, kamu istirahat dulu aja. Nanti siang baru ketemu Kaira." Kani masuk ke kamar Kailin yang juga sudah menjadi kamarnya semenjak ia menikah dengan pria itu. Wanita itu merapikan kamar agar suaminya bisa istirahat. Beberapa kali ia mengambil napas dalam-dalam karena rasa sakitnya yang benar-benar ia tanggung sendiri. Kailin masuk ke kamar, menyusul istrinya demi mencari tahu apa yang sudah diketahui wanita itu. "Mas mau istirahat sekarang?" tanya Kani dengan santai saat melihat suaminya masuk ke kamar. Kailin menutup pintu kamarnya dan langsung memeluk sang istri. Selain karena rasa bersalahnya, ia ingin tahu apakah sang istri akan menolaknya atau tidak. Nyatanya, tidak. Kani berdiam diri saat suaminya memeluknya dari belakang. "Kamu nggak marah?" tanya Kailin lirih, ia mencium kepala istrinya dan menikmati aroma shampo yang samar-samae tercium di rambut istrinya. Kani membeku sesaat, tetapi ia masih bisa bersandiwara kalau semuanya baik-baik saja. "Untuk apa aku marah, Mas? Lakukanlah apa yang kamu ingin lakukan, dan aku juga akan melakukan apa yang ingin aku lakukan." Ucapan Kani kembali ambigu, tetapi tersirat makna bahwa wanita itu sudah merelakan segalanya. "Apa kamu akan meminta perpisahan dariku? Ngomong, Kani. Aku mana tahu apa yang kamu pikirkan kalau kamu cuma diam aja begini," batin Kailin dengan d**a yang terasa sesak. Bersambung... Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. PhiKey
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD