15. Kejutan

3071 Words
Kailin merasa frustrasi. Ia lalu melepas pelukannya pada sang istri, perlahan. Kani sedikit terkejut dengan apa yang suaminya lakukan, melepas pelukan setelah apa yang ia ucapkan. Ketika Kani membalik badannya dan berniat menatap sang suami, Kailin dengan perasaan hancurnya mendorong sang istri sampai sang istri tergeletak di kasur. Pria itu ingin membuktikan bahwa Kani adalah miliknya, ia bisa melakukan apapun pada wanita yang kini tergeletak di bawah tubuhnya. Kani terkejut. Ia membulatkan matanya ketika kini suaminya sudah menindih tubuhnya dengan kondisi tubuh yang masih penuh luka itu. Tapi, ibunda Kaira itu masih saja pandai menyembunyikan perasaannya. Dengan sikapnya yang masih tenang dan tatapan nya yang terlihat santai, Kani menatap sang suami yang kini sudah memandangnya dengan tatapan tajam. Kailin memegang kedua tangan Kani dan lalu mengarahkan kedua tangan itu agar berada di atas kepala sang istri. Ia segera mengunci tangan istrinya itu agar sang istri tak bisa mendorongnya. Alih-alih melawan, Kani malah diam saja dan mengabaikan apa yang suaminya lakukan. "Aku akan buat kamu menyesal, Mas. Apapun alasan kamu menikahi wanita itu, aku akan buktiin ke kamu kalau aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan," batin Kani sambil menatap lurus pada sang suami. Wanita itu tak berkedip sama sekali, tatapan nya begitu datar dan mengisyaratkan kemenangan. Melihat sang istri yang masih diam seribu bahasa, Kailin mencium istrinya secara kasar. Seperti harimau yang sedang kelaparan, Kailin sudah dikuasai hawa nafsunya. Kani diam tak berkutik. Tetapi apa yang ia lakukan itu berhasil membuat suaminya menghentikan aksinya. Kailin kesal bukan main, ia mengangkat tubuhnya setelah melepas tangan istrinya. Pria itu duduk di bibir ranjang sambil menatap kosong pada lantai di depannya. Ia benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana agar sang istri mau membuka mulut. Ia merasa percuma saja jika apa yang ia miliki hanya raga sang istri, tetapi hati istrinya bukan lagi untuknya. Tujuan utamanya mempertahankan ibunda Kaira itu adalah agar ia tetap bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari wanita itu. Namun, sikap Kani sama sekali tak menggambarkan kalau ia masih memiliki hati untuknya. "Kalau kamu mau marah, marah lah, Kani. Jangan kamu pendam sendiri. Aku akan menerima kemarahanmu itu, asal kamu tidak tersiksa karena memendamnya seorang diri. Dan asal aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan." Kailin berbicara lirih. Kani ikut duduk. Wanita itu tersenyum kecut, matanya menatap sang suami yang terlihat begitu menyedihkan di hadapannya. "Aku kan udah bilang kalo aku nggak marah. Aku juga nggak tersiksa, aku menikmati apa yang sedang kita lakukan, Mas." Kani beranjak dari tempat tidur yang menggunakan sprai berwarna silver itu. Kailin semakin kebingungan dan tersiksa oleh sikap Kani yang begitu tenang setelah semua yang ia lakukan. Kani berdiri di depan sang suami. "Terima kasih. Berkat Mas, aku bisa bersenang-senang." Kani lalu pergi meninggalkan Kailin seorang diri di dalam kamar. Bukannya istirahat, Kailin malah menderita karena perasaannya pada sang istri. "Akan lebih mudah buat aku kalo kamu marah atau bahkan memukuliku, menyumpahiku. Aku akan menunggu sampe marahmu reda dan meyakinkan kamu kalo aku akan berusaha bersikap adil sama kalian. Tapi ... kalo kamu diam begini, apa yang harus aku lakuin, Kani?" Kailin menjambak rambutnya dan menggertakkan giginya keras-keras. Kani sendiri langsung pamit pada mertunya bahwa ia akan ke toko dan melihat apakah toko bisa berjalan lancar tanpa ada Kailin dan Bambang di sana. Orang tua Kailin tak tahu apa yang sudah terjadi pada rumah tangga anaknya. Tanpa merasa curiga, keduanya langsung memberi izin dan berkata kalau mereka siap menjaga Kaira selama Kani pergi. Kani memang pergi ke toko. Ia datang ke sana hanya sesaat yaitu untuk mencari tahu apakah Vero sering datang ke sana atau tidak. Ia mengecek kamera pengawas yang memang terpasang di toko suaminya yang sangat besar itu. Matanya membulat sempurna saat melihat wajah wanita yang sama dengan wanita yang ia lihat di rumah sakit semalam. Kani akhirnya tahu bahwa ternyata Vero datang ke toko 2 hari yang lalu. "Jadi dia ke sini waktu aku sama Kaira juga ke sini? Semua firasat burukku terbukti benar," batin Kani yang langsung menyalin video di mana Vero sedang berdiri di depan Bambang sambil menatap ke arah Kailin. Karena melihat hal itu, Kani sekarang curiga kalau Bambang ikut andil dalam perselingkuhan sang suami. "Tapi kenapa Bambang telepon aku terakhir kali waktu Mas Kai pergi? Ah, iya. Itu hari di mana Kaira sakit, artinya ... di video ini Bambang baru bertemu dengan wanita itu," batin Kani lagi. Kani lalu pergi dari toko setelah berpesan pada karyawan yang tersisa untuk menutup toko sebelum maghrib saja. Setelah itu ibunda Kaira itu meminta salah satu di antara mereka untuk mengirimkan laporan penjualan kepadanya melalui aplikasi w******p. Setelah keluar dari toko, Kani pergi ke bengkel mobil. Ia ingin melihat sejauh mana pengerjaan mobil suaminya, sekaligus melihat apa saja yang Kailin bawa untuk menikahi wanita lain itu. Kani menatap mahar yang Kailin simpan di dalam mobil, mahar yang kini sudah acak-acakan karena kecelakaan. Wanita itu meneteskan air matanya begitu saja, tanpa suara. "Kini aku tahu kenapa ada kalimat surga yang tak dirindukan. Rela menerima hati yang dibagi-bagi tidak semudah itu. Tidak sampe kita merasakan sendiri betapa sakitnya itu. Rasa sakit itu, hanya akan bisa dirasakan sampe kamu benar-benar merasakannya." Kani mengingat semua kenangan indah yang ia lakukan bersama Kailin dan Kaira di dalam mobil itu, mobil yang ia pikir hanya dia lah wanita yang menjadi penumpangnya. "Sakit, Mas. Sakit! Kalo kamu pernah merasa sakit karena jarimu teriris pisau, itu yang aku rasakan saat ini. Tapi bukan hanya satu, melainkan seribu luka yang aku rasakan bersama." Kani berlari pergi meninggalkan bengkel dengan keadaan menangis terisak. Wanitu masuk ke dalam mobil dan menangis semakin kencang di sana. "Diam, Kani! DIAM!!!" Kani meneriaki dirinya sendiri karena terus menangis. Ada sebagian dari dirinya yang menginginkannya untuk tetap teguh dan kuat menghadapi semuanya dengan tetap tenang. Sayangnya, ia hanyalah wanita biasa yang tetap merasa sakit hati ketika melihat suaminya membagi cinta. "Jika menjadi istrimu akan sesakit ini, aku ingin menyudahinya saja, Mas." . Vero merenung di kamar sembari menunggu Kailin menghubunginya. Ia tak bisa menghubungi pria itu lebih dulu karena ponsel Kailin yang rusak. "Makan dulu, Ve." Susi meminta anaknya makan, sejak tadi pagi janda cantik itu hanya merenung di kamar. "Disa mana, Bu?" tanya Vero lirih. "Sama Bapakmu. Ayo, makan, jangan sampe perutmu kosong, nanti malah sakit." Susi duduk di samping anak perempuannya. "Vero nggak mau makan, males. Vero pengen ketemu Kai, pengen lihat apa dia baik-baik aja." "Jangan males makan. Ibu percaya Kailin pasti nggak mau kamu sakit. Lagian dia kan nggak sendiri, Ve. Ingat, dia udah beristri. Ada wanita lain yang sudah mengurusnya selama ini. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Susi dengan pilu. Wanita itu masih belum sepenuhnya rela jika anaknya harus menjadi madu untuk wanita lain. "Justru itu yang Vero nggak mau, Bu. Vero maunya Vero yang ngurusin Kai, ngejaga Kai dan tetep di samping Kai sampai dia sembuh. Vero bener-bener kangen dan pengen di samping dia terus, Bu." Susi menggeleng. "Ingat, Ve. Calon suamimu itu punya istri, kamu sendiri yang sudah memutuskan untuk menerima kondisi itu. Jangan sampe kehadiran kamu malah menyakiti wanita itu. Ibu nggak mau kamu menyakiti wanita lain. Kamu harusnya ingat bagaimana sakitnya kamu waktu Rudi mengaku sudah menghamili wanita lain." Vero menatap mata ibunya dengan tatapan nanar. "Vero tahu, Bu, sakitnya luar biasa. Nggak perlu Ibu bahas begini, Vero masih ingat betul itu. Tapi Vero bener-bener cinta sama Kai dan Vero nggak bisa bohongin hati Vero kalo Vero cemburu melihat Kai sama wanita lain." Air mata Vero mulai menetes. Jika mengingat kembali apa yang sudah membuat rumah tangganya hancur, Vero memang merasa sakit hati. Suaminya memilih meninggalkannya dan pergi dengan wanita lain. Namun, kini ia sendiri yang menjadi duri dalam rumah tangga wanita lain. Ia ingin menolak, tetapi tak mampu melakukannya. Perasaannya pada Kailin membuatnya menjadi buta hati. "Itu sebabnya dari awal Bapak sama Ibu mau Kai menceraikan istrinya itu. Maksud Bapak sama Ibu, agar wanita itu nggak terluka sama seperti kamu dulu. Tapi Ibu sama Bapak menyerah karena kamu sama Kai begitu keukeuh menginginkan pernikahan. Nggak ada orang tua yang akan menang melawan anaknya." Susi ikut menangis. Beberapa menit berlalu, Susi masih saja menangis. Vero lalu menyeka air matanya, ia tak ingin mengingat kembali rasa sakitnya yang dulu. Ia juga tak ingin mengakui bahwa ia sama jahatnya dengan wanita yang sudah merebut mantan suaminya darinya. Vero berdiri. "Aku mau keluar sebentar." Wanita itu lalu pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang masih menangis tanpa menunggu jawaban. Vero pergi menggunakan mobilnya, tanpa tujuan. Di sepanjang jalan, ia terus memikirkan Kailin. Hingga akhirnya wanita itu tiba di rumah Kailin dan Kani yang tertutup rapat. Ya, wanita itu tahu di mana tempat tinggal calon suaminya itu dari pengakuan Kailin beberapa hari lalu. "Kenapa rumahmu sepi banget? Apa kamu masih di rumah sakit?" Melihat kondisi rumah Kailin yang tampak sepi, Vero malah turun dari mobilnya dan celingukan tak jelas di depan gerbang. Ia penasaran apakah pria yang ia cintai itu ada di rumah atau tidak. Tepat saja, Kani tiba di depan rumahnya, ia bahkan memarkirkan mobilnya di depan mobil Vero. Kani berniat membersihkan rumah karena ia, anak dan suaminya berada di rumah mertuanya. Siapa sangka, ia harus bertemu dengan wanita yang membuatnya menderita sekarang. Kani turun dari mobilnya, ia melirik tajam ke arah Vero. Melihat Kani yang turun dan berjalan mendekat ke arahnya, Vero tampak gelagapan, panik tak karuan. Wanita itu ingin menanyakan bagaimana keadaan Kailin, tetapi ia juga bingung harus mengaku sebagai siapa pada istri Kailin itu. Sementara ia sudah berjanji pada ayah Kaira itu bahwa ia akan menyembunyikan hubungan mereka sampai Kailin sendiri yang menjelaskannya pada Kani. Kalau tidak, Kailin mengancam akan membatalkan pernikahan mereka. Kani berjalan, semakin dekat dan semakin dekat ke arah Vero. Sakit? Tentu saja. Ingin menangis? Tentu saja. Ingin marah? Tentu saja. Tapi, alih-alih menangis dan marah pada Vero, Kani memilih menahan semuanya saat ini. Wanita itu memperhatikan dengan seksama pada wanita di hadapannya. "Wajahnya mulus, putih, matanya bagus seperti bulan sabit, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan dagunya yang lancip. Dia juga pandai merias wajah, belum lagi tubuhnya yang bagus seperti artis ibukota saja. Pantas saja kalo Mas Kai ingin menikahinya," batin Kailin sambil menilai penampilan Vero. "Maaf, cari siapa, ya?" Dengan suaranya yang terdengar merdu, Kani menyapa Vero. Tak lupa ia memamerkan senyum palsunya. Bukan karena Kani tak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Ia tahu betul wajah wanita yang berhasil membalik dunianya itu. Ia sengaja bersikap baik karena ia pikir itulah cara yang tepat untuk melawan wanita yang tak punya hati seperti Vero. Vero kaget setengah mati. Mendengar sapaan Kani yang begitu lembut, dengan senyum manis yang tampak meneduhkan, ia tak heran jika Kailin bersikeras mempertahankan wanita itu. "A-aku mau ... mau nengokin Kailin." Karena gugup menghadapi Kani yang bersikap tenang dan manis, Vero malah salah tingkah. "Kalau boleh tahu, Mbak ini siapa, ya?" Masih dengan sikap tenangnya, Kani menyerang lawannya itu dengan begitu santai. Ia berpura-pura tak mengenal wanita itu. "Aku - ...." Vero kebingungan. Melihat Vero yang kebingungan, Kani tersenyum lagi. Wanita itu merasa lega karena kenyataannya Vero hanya wanita yang bermental lemah. "Aku Vero, temen sekolah Kai dulu." Vero akhirnya mengakui namanya, tetapi ia tidak mengakui statusnya yang sebenarnya. "Mbak cari Mas Kai?" tanya Kani, Vero mengangguk. Ibunda Disa itu benar-benar terlihat ketakutan seperti maling yang kepergok. Kani mengulurkan tangannya pada wanita cantik yang merupakan calon madunya itu. "Kenalin, aku Kani, aku istrinya Mas Kai." Dengan penuh percaya diri, Kani sengaja memamerkan pada Vero mengenai statusnya. Vero ragu-ragu menjabat tangan itu. Namun, Kani pantang menyerah dan tetap menggantung tangannya sampai akhirnya Vero menjabatnya. "Veronika, panggil aja Vero." Kani kembali tersenyum. "Wajah kamu cantik, rambut kamu bagus, tanganmu juga mulus, sayang ... hatimu tak secantik wajahmu, tak sebagus rambutmu dan tak semulus tanganmu," batin Kani. Vero buru-buru melepas jabatan tangannya. Melihat Kani tersenyum membuatnya begitu mengerikan, bagi janda cantik itu lebih mengerikan ekspresi Kani saat ini dari pada melihat hantu. "Mas Kai sakit, semalem kecelakaan. Sekarang Mas Kai ada di rumah orang tuanya." Kani masih saja bersikap santai. Namun, sebenarnya hatinya sedang berduka sedalam-dalamnya. "Iya, aku tahu. Makanya aku ke sini buat jenguk dia." Vero masih saja gugup dan berbicara sedikit terbata. "Oh, ya? Setahu aku ponsel Mas Kai mati karena rusak dalam kecelakaan semalem. Gimana bisa kamu tahu kalo Mas Kai kecelakaan?" Lagi-lagi Kani menyerang Vero seolah dirinya tak tahu apa-apa, hanya untuk melihat reaksi wanita itu dan apa yang akan ia katakan. Benar saja, Vero kembali gelagapan dan panik mendengar pertanyaan Kani. Ia tak menyangka kalau Kani akan memberinya pertanyaan seperti itu dengan ekspresi santai seolah Kani tak mencurigainya. "E ... Aku tahu dari temen aku." Vero membuat kesalahan. Ia menjawab dengan gugup dan tak sadar malah membuatnya semakin malu di hadapan Kani. Kani tersenyum. "Temen? Siapa?" Tangan Vero basah, penuh keringat karena ia begitu gugup menghadapi Kani. Ibunda Kaira itu berhasil membuat lawannya terlihat lemah. Vero tak bisa menjawab dan hanya memainkan tangannya. Kani tersenyum penuh kemenangan. "Aku akan buktiin sama kalian kalau aku berbeda dengan wanita-wanita di luar sana," batin Kani. "Kamu mau ikut aku? Aku akan bawa kamu ke rumah mertuaku, Mas Kai ada di sana." Dengan penuh percaya diri, Kani malah ingin membawa wanita yang akan menjadi madunya itu untuk ke rumah mertuanya. Ia berniat mempertemukan Vero dengan mertuanya, ia ingin melihat apa pendapat mertuanya jika melihat Kailin memiliki teman dekat dan yang ternyata adalah seorang wanita. Vero bengong. Ia begitu khawatir pada Kailin hingga ia mendatangi rumah pria itu. Namun, mengiyakan ajakan Kani hanya akan membuatnya dibenci Kailin. Kailin jelas-jelas tak ingin dirinya menemui sang istri. Namun, kali ini Kani malah mengajaknya menemui Kailin di rumah orang tua pria itu. Melihat Vero kebingungan, Kani malah semakin tertantang untuk mengajak wanita itu. "Ayolah, bukannya kamu ingin menjenguk Mas Kai. Dia pasti seneng banget karena ada temennya yang mau menjenguknya." Kani langsung pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Vero akhirnya setuju untuk mengikuti Kani, wanita itu juga masuk ke dalam mobilnya. Kani melupakan urusan pekerjaan rumahnya hanya untuk melihat bagaimana reaksi Kailin melihat Vero datang ke rumah orang tuanya, serta bagaimana reaksi mertuanya melihat sang anak yang ternyata memiliki hubungan spesial dengan wanita lain. Di sepanjang perjalanan, Vero masih ragu untuk tetap mengikuti mobil yang dikendarai Kani atau tidak. "Gimana kalau Kai marah?" Vero terus-menerus memainkan bibirnya. "Bodo amatlah, aku bener-bener khawatir sama dia, aku cuma mau lihat kondisi dia. Toh istrinya nggak tahu aku siapa." Ketika mobil yang dikendarai Kani masuk ke pekarangan rumah mertuanya, ada Kaira yang sedang bermain sepeda dengan kakek dan neneknya. Kani turun dari mobil, disambut hangat oleh buah hatinya. Kaira berlari dan meminta gendong sang ibu setelah ibunya turun dari mobil. "Ibu," ucap Kaira manja. "Anak Ibu pinter banget, sih. Tadi nangis, enggak?" tanya Kani sambil tersenyum pada sang anak. Ibu dan anak itu lalu mengobrol sesaat demi melepas rindu. Ya, Kani memang jarang meninggalkan anaknya, sementara hari ini ia sibuk sendiri mengurus urusannya dengan sang suami dan malah menitipkan anaknya pada orang tuanya. Vero mematikan mesin mobilnya. Ia melihat ada orang tua Kani dan orang tua Kailin yang tengah berkumpul di pekarangan rumah itu. Ia ragu untuk turun. "Itu siapa, Kan?" tanya ibu mertua Kani. Wanita itu menoleh dan lalu tersenyum kecut. "Itu temennya Mas Kai, dia mau ketemu sama Mas Kai," jawab Kani santai. Tentu saja itu semua hanya sandiwara karena perasaannya tidak sedang bersantai saat ini. "Temen? Siapa?" tanya ayah Kailin yang penasaran. Kani lalu berjalan menghampiri Vero yang masih membatu di dalam mobil. Ibunda Kaira itu mengetuk pintu mobil, masih dengan tangan yang menggendong sang anak. Vero akhirnya turun dari mobilnya dan menatap semua orang secara bergiliran. Kani kembali tersenyum. "Aku akan lihat bagaimana sandiwara kalian di depan kami. Di depan aku, anakku dan orang tua kami," batin Kani. "Ayo masuk," ajak Kani yang masih memamerkan senyum palsunya. Kani dan Vero berhenti melangkah, tepat di depan orang tua Kani dan mertuanya. "Kenalin, ini Vero, temen Mas Kai." Kani dengan sengaja memperkenalkan Vero, sebagai teman. Wajah calon madu Kani itu pucat pasi, ia begitu gugup dan ketakutan karena merasa masuk ke dalam kandang macan. Orang tua Kani dan orang tua Kailin hanya memasang wajah datar, tak ada yang suka dengan kedatangan Vero. "Teman? Teman apa?" tanya ayah Kailin dengan nada sinis. "Teman tidur anakmu, Pak," batin Kani sambil tersenyum kecut. "Teman sekolah dulu, Pak." Kani menjawab pertanyaan ayah tirinya dengan santai. "Ayo masuk, Mas Kai lagi istirahat di kamar." Kani mengajak Vero masuk ke dalam rumah, diikuti oleh semua orang. "Kita ke kamar aja, ya. Mas Kai mungkin masih tidur," ucap Kani ketika mereka sudah sampai di ruang tamu. "Kani!" teriak ayah dan ibunya bersamaan. Wanita itu menoleh dengan santai, ia tahu sikapnya sudah keterlaluan. "Kai kan masih sehat, dia bisa keluar dari kamarnya." Ayah Kani tak ingin Kani membawa wanita lain masuk ke kamar Kailin. Bukannya merasa bersalah, Kani malah tersenyum senang melihat ekspresi semua orang yang tampak tegang. "Baiklah, aku panggil Mas Kai aja." Masih dengan menggendong Kaira, Kani masuk ke dalam kamar. Ia mendapati sang suami yang kini rebahan di ranjang sambil menatap kosong ke arah jendela. Melihat istri dan anaknya datang, Kailin beranjak bangun dan tersenyum senang. "Kaira? Sini, sama Ayah." Kani membatu di depan pintu, sekalipun anaknya sudah merindukan ayahnya. "Gendong Kairanya nanti aja." "Kenapa?" tanya Kailin dengan wajah yang sudah ditekuk. Ia pikir Kani akan melarangnya menyentuh buah hatinya itu. "Ada tamu." Kani masih bersikap santai. "Siapa?" Kailin sendiri sudah tak bisa mengontrol raut wajahnya. "Temen Mas, Mas pasti seneng karena temen Mas ke sini." "Temen? Siapa?" "Keluar aja, Mas. Lihat aja sendiri." Kailin membisu sesaat. Ia curiga melihat Kani yang sedari tadi tersenyum tanpa henti, senyuman yang berbisa bagi Kailin. "Berhenti menyiksaku dengan senyuman itu, Kani," batin Kailin. "Teman siapa?" tanya Kailin lagi. "Lihat aja sendiri, Mas. Tadi aku mau ajak dia ke sini, biar Mas makin seneng karena ada temen Mas yang perhatian banget. Tapi, Bapak nggak ngebolehin." Kailin semakin curiga setelah mendengar ucapan Kani barusan. Kaira hanya diam saja menatap ayah dan ibunya secara bergantian. Kailin langsung beranjak dari tempat tidurnya dan dengan langkah gontai keluar dari kamar. "Aku mau lihat apa kamu suka dengan kejutan dariku, Mas?" batin Kani sambil mengikuti langkah Kailin. Bersambung... Gimana? Puas nggak? Bab ini isinya panjang banget loh. Kalau kalian mau aku double up, bantu promo dong. Caranya, buat postingan di grup sss yang isinya tentang apa sih yang membuat cerita Poligami? ini menarik. Kalau ada lebih dari 5 postingan dari orang yang berbeda, aku bakal double up. Jangan lupa tag sss aku biar aku tahu kalian buat postingan. Sebelumnya, terima kasih, ya karena udah baca dan mengikuti cerita terbaru dari aku ini. Aku sayang kalian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD