11. Firasat buruk

1507 Words
Karena berharap begitu besar, ibu mertua Kani bahkan langsung pergi ke apotik demi membeli atas tes kehamilan untuk menantunya. Kani hanya bisa menerima apa yang ibu mertuanya lakukan untuknya. "Kamu tesnya besok pagi aja, biar lebih akurat hasilnya." Ibu mertua Kani menyodorkan kotak kecil berisi alat tes kehamilan, Kani menerimanya tanpa banyak kata. "Semoga aja kamu bener-bener hamil. Ibu jadi nggak sabar pengen gendong bayi lagi." Kali ini ibunda Kani yang juga berharap besar pada anak perempuannya itu. "Baik, Bu. Besok pagi Kani tes, semoga aja hasilnya memuaskan." Maksud ucapan Kani adalah ia tak ingin hamil terlebih dahulu. Ia hanya akan mau hamil lagi jika Kailin terbukti setia padanya. . Kani pulang ke rumahnya sebelum petang. Wanita itu ingin menyiapkan makan malam seperti biasa. Ketika baru saja masuk ke pekarangan rumahnya, Kani secara tidak sengaja menyandung batu kerikil sampai akhirnya ia terjatuh. "Ibu!" teriak Kaira ketika ibunya terjatuh di pekarangan rumahnya. Kani segera bangkit dan membersihkan tubuhnya dari debu dan beberapa butir pasir di tangannya. Kani menoleh pada batu kerikil yang berhasil membuat telapak tangannya lecet. "Kenapa aku bisa jatuh cuma karena kerikil itu aja? Kenapa aku? Apa ini semacam firasat? Ya Allah, semoga semuanya baik-baik aja," batin Kani. "Ibu nggak apa-apa, Sayang. Ayo masuk ke dalem," ucap Kani yang mencoba menenangkan sang anak. Kaira terlihat begitu khawatir, anak kecil itu melihat tangan ibunya yang terluka. "Ibu mau ke dokter? Tangan Ibu sakit," ucapnya saat Kani melepas sepatunya di depan teras. Kani terkekeh. "Nggak perlu, Sayang. Kalau luka seperti ini, diobati sendiri pake obat merah juga nanti sembuh." Kani yang berjongkok di depan anaknya, kini membelai lembut rambut anak perempuan itu sambil tersenyum. "Tangan Ibu sakit, sini Ira tiup." Kaira menarik tangan ibunya yang baru saja membelai rambutnya. Lalu dengan bibir mungilnya, ia meniup tangan sang ibu dan berharap luka di tangan ibunya segera sembuh. Melihat anaknya yang begitu perhatian, mata Kani mulai berkaca-kaca. Di dalam hatinya, ia sedang mengucapkan syukur hingga berkali-kali, karena sudah memiliki anak perempuan secantik dan sebaik Kaira. Wanita itu lalu mengecup kening anaknya. "Jadi anak yang sholehah, ya, Sayang." . Di toko. Kailin mengajak Bambang untuk berbicara empat mata di sebuah warung makan yang tak jauh dari tokonya. Kailin memang sengaja mengajak Bambang keluar dengan alasan untuk minum kopi bersama, akan tetapi pemilik toko itu sebenarnya ingin meminta tolong pada karyawan kepercayaannya itu. "Bambang," panggil Kailin lirih. "Iya, Pak?" "Aku mau minta tolong sama kamu. Aku cuma berani begini sama kamu karena aku udah anggep kamu sebagai sodara. Aku yakin kamu bisa menolongku." Kani mencoba berbasa-basi. Mendengar ucapan panjang dari Kailin, Bambang sudah merasa curiga. "Bapak mau minta tolong apa?" tanyanya penasaran. Kailin menatap Bambang dengan lekat. "Aku mau menikah lagi, Bang." Bambang menarik napas panjang, matanya melotot tepat pada bosnya. "Bapak selingkuh dari Bu Kani?!" Bambang menaikkan volume suaranya. "Aku nggak tahu sebutannya apa. Tapi, ... anggap saja begitu. Intinya, aku mau menikah lagi." "Bu Kani tahu, Pak?" tanya Bambang yang saat ini sudah dikuasai rasa penasaran yang begitu menggebu. Kailin menggeleng. "Itu sebabnya aku mau minta tolong sama aku." "Bapak mau saya tutup mulut? Biar Bu Kani nggak tahu kalau Bapak menikah lagi?" "Itu salah satunya." Kailin menjawab dengan santai. Sementara jantung Bambang seperti akan copot dari tempatnya. Bambang tercenung untuk beberapa saat. Ia merasa kasihan pada Kani karena harus mendapatkan takdir pahit itu. Pria berkulit sawo matang itu akhirnya menyadari kalau kecurigaannya mengenai perselingkuhan Kailin memang benar adanya. "Aku mau minta tolong. Yang pertama, tolong rahasiakan pernikahan keduaku. Nggak lama, paling lama satu bulan. Aku yang akan menceritakannya sendiri nanti sama Kani. Jadi, tolong kamu jaga rahasia ini." "Lalu? Bapak mau minta tolong apalagi?" "Yang kedua, ... tolong antar aku malam ini. Aku akan melangsungkan akad nikah dengan wanita yang akan jadi istri keduaku." Bambang semakin terkejut dengan permintaan Kailin. Tak hanya diminta untuk tutup mulut, tetapi pria itu juga diminta untuk menjadi saksi pernikahan kedua bosnya itu. "Tapi, Pak,-" Bambang merasa tak kuat hati membayangkan betapa sakit yang harus Kani tanggung. Pria itu tahu pasti bagaimana baiknya istri bosnya. Ia tak tahu kenapa bosnya sampai tega menikahi wanita lain walaupun memiliki istri yang sempurna. Kani cantik, baik, penurut dan tak pernah terlibat masalah apapun selama ini. "Aku bener-bener minta tolong sama kamu, Bang. Nggak ada yang tahu tentang pernikahanku ini, aku nggak tahu mau ajak siapa buat nemenin aku. Nggak mungkin aku dateng seorang diri." Kailin memasang wajah mengiba. Bambang masih diam. Ia masih memikirkan bagaimana ia akan menghadapi Kani nanti jika wanita itu tahu kalau ia ikut andil dalam pernikahan kedua Kailin. Selama ini Kani sudah baik padanya, ia tak ingin menjadi penghianat bagi ibunda Kaira itu. "Tolong, Bang. Aku nggak tahu lagi mau minta tolong sama siapa." Kailin benar-benar berharap Bambang mau menuruti keinginannya. Bambang menggaruk kepalanya dengan kasar. "Baiklah." Dengan terpaksa Bambang menyetujui permintaan Kailin. Pemilik toko tempatnya bekerja itu memang sudah baik padanya selama ini. Itu sebabnya ia kaget mengetahui fakta bahwa pria yang ia kenal baik hati itu nyatanya tega menyakiti hati istrinya-Kani. Kailin tersenyum senang setelah berterima kasih pada Bambang. Pria itu lalu menelepon Kani-istrinya untuk memberi tahu wanita itu bahwa ia akan pergi ke kampung halaman Bambang yang memang cukup jauh dari tempatnya sekarang berada. "Aku mau ke kampungnya Bambang. Dia bilang di sana ada tempat yang biasa menjual beras berkualitas bagus dengan harga miring." Kailin menelepon sang istri segera setelah ia kembali ke toko. Kani yang baru saja selesai memasak, kini hanya bisa duduk lemas di meja makan. Ia sudah menyiapkan makan malam untuk suaminya, tetapi sang suami tak bisa pulang untuk menikmatinya. "Kampungnya Bambang kan jauh, Mas. Mas mau pergi sama siapa? Mas menginap?" tanya Kani dengan degup jantung yang sangat cepat. Kani merasa suaminya sedang berbohong. Alasan yang dibuat Kailin benar-benar tak masuk akal. Jika memang ingin melihat kualitas beras, pria itu bisa meminta sampel pada penjual beras itu untuk dikirim ke toko. "Aku belum tahu, kalau memungkinkan, aku akan langsung pulang. Kalau tidak memungkinkan, aku minta maaf karena aku nggak bisa pulang malam ini. Kamu nggak apa-apa, kan?" Kailin merasa tak enak hati pada istrinya. Ia berniat pulang malam ini, tetapi ia juga tak enak hati pada Vero dan orang tua wanita itu jika ia tak menginap saat malam pertama pernikahan mereka. "Kalau aku bilang aku kenapa-napa, apa Mas nggak akan pergi?" Kani akhirnya memberanikan dirinya untuk mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Kailin terkejut. Ia pikir istrinya akan setuju begitu saja, seperti biasanya. Namun, nyatanya suara Kani terdengar begitu sedih di telepon. "Kalau aku minta Mas buat nggak pergi malam ini, apa Mas akan tetap pergi?" Kani kembali menyerang Kailin dengan suara gemetarnya. Kailin gugup tak karuan. Ia tak mungkin membatalkan rencana pernikahannya dengan Vero. Namun, ia tak tega mendengar Kani yang terdengar bersedih. Kailin tak langsung menjawab, Kani yang memiliki firasat buruk, kini mulai meneteskan air matanya pelan. Kaira sedang bermain di kamar, wanita itu bisa menangis tanpa takut dilihat anaknya. "Kani, maafin aku." Kailin berbicara lirih, air mata Kani semakin deras menetes. Namun, wanita itu tak ingin suaminya tahu kalau ia sedang menangis saat ini. "Aku udah janji. Janji adalah hutang. Maafin aku, aku harap kamu mengerti." Kailin berbicara dengan kalimat yang terdengar ambigu, tetapi Kani tahu pasti suaminya itu tak akan membatalkan rencananya. "Ya udah, aku mau pulang ke rumah Ibu sama Bapak." Kani beberapa kali menjauhkan ponselnya agar suaminya tak mendengarnya menangis. Di sudut ruangan, ada Kaira yang diam-diam memperhatikan ibunya. Gadis cilik itu menatap sang ibu dengan mata hang berkaca-kaca, ia tak tega melihat ibunya menangis. "Kamu nggak berani tidur di rumah sendiri?" tanya Kailin dengan suara lirih. "Aku nggak tahu, Mas. Aku cuma nggak mau terbiasa sendiri, ... kalau aku udah biasa sendiri, ada nggak ada Mas di rumah, aku nggak akan peduli. Dan ... aku nggak mau itu terjadi." Seperti mendapatkan pukulan keras di dadanya, Kailin merasa sakit yang luar biasa di dadanya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang Kani ucapkan. Semua yang wanita itu ucapkan seolah memberi tahu pria itu bahwa ia tahu segalanya. "Maafin aku, Kani. Aku sudah terlanjur membuat janji." Kailin menggigit bibirnya, merasakan sakit pilu yang seolah menggempur dinding hatinya. Ia menyesali apa yang sudah terjadi dalam hidupnya, tetapi ia tak ingin menyudahi apa yang sudah ia mulai. "Aku masih masak, Mas. Aku matiin dulu, assalamualaikum." Tangis Kani pecah sejadi-jadinya, wanita itu bahkan menangis dengan suara lantang. Isakan tangisnya menggema mengisi ruang dapur itu. Kaira berlari dari kamar dan segera memeluk sang ibu. Anak kecil itu ikut menangis karena ibunya tengah menangis hebat. "Ibu jangan nangis," ucap Kaira sambil menangis. Kani sama sekali tak bisa menjaga perasaannya saat ini. Terlalu sakit luka yang sedang ia rasakan, ia tak kuasa menahan tangis duka itu. Walaupun sebenarnya ia tak ingin menunjukkan kelemahannya pada sang anak. "Ya Allah, hamba nggak tahu apa yang suami hamba lakukan di luar sana. Tapi jagalah dia, selamatkan dia di manapun suami hamba berada. Dan kalau memang dia sedang bersama wanita lain, kuatkan hati hamba untuk menerima semuanya. Hanya Engkau-lah yang bisa membolak-balikkan hati manusia, Ya Allah." Kani berdoa di dalam hati, masih dengan isak tangis yang menggema di ruangan dapur. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD