"Aku akan izinin kamu menikahi Vero, tapi ada syaratnya," ucap Santoso setelah ia melepas pelukan Vero.
"Apa syaratnya, Pak?" tanya Kailin dengan berani.
"Seperti yang ibunya Vero bilang, kamu harus adil sama Vero. Kamu harus segera kasih tahu istri kamu dan keluarga kamu, aku kasih waktu selama sebulan. Jika dalam waktu sebulan kamu masih belum memberi tahu istri dan keluargamu, aku akan minta kalian bercerai lagi."
Kailin tampak berpikir sejenak, tapi permintaan Santoso bukan permintaan yang sulit. Bagaimanapun, ia tetap akan menceritakan pernikahannya dengan Vero pada Kani dan keluarganya. Kailin mengangguk, menyanggupi syarat yang diberikan Santoso untuknya. "Baik, Pak. Saya berjanji akan menceritakan semuanya pada istri dan keluarga saya."
"Baguslah. Kalau kamu memang siap, besok juga aku akan menikahkan kalian. Karena ini hanya pernikahan siri, aku hanya akan mengundang sodara dan tetangga dekat saja."
Kailin, Vero dan juga Susi kaget, mereka tak menyangka kalau Santoso akan meminta Kailin dan Vero menikah besok.
"Besok? Tapi kami belum siapin apapun, Pak." Vero menyela.
"Apa yang perlu kalian siapkan? Pernikahan kalian hanya pernikahan siri, Bapak akan datang ke rumah Pak RT malam ini juga. Jadi, kalian pulang saja sekarang." Santoso kembali memasang wajah garang.
"Baiklah, saya akan siapkan mahar buat pernikahan kami besok. Besok malam, selepas maghrib, saya akan ke sini untuk menikahi Vero. Terima kasih atas restu Bapak dan Ibu, saya pamit dulu." Kailin beranjak dari tempat duduknya. Pria itu lalu mengulurkan tangannya pada Santoso dan Susi.
Vero beranjak, Kailin menoleh ke arahnya. "Kamu di sini aja, biar aku pulang naik ojek." Kailin tersenyum, Vero mengangguk menyetujui.
"Saya pamit dulu, Pak, Bu, assalamualaikum."
Kailin pulang dengan menggunakan jasa ojek. Ia tak menuju ke rumahnya, ia mampir ke toko dan mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelah pekerjaannya selesai, ia meminta Bambang untuk mengantarnya pulang.
"Terima kasih, Bang." Kailin masuk ke dalam rumah seperti biasa, ia membawa kunci sendiri dari pada harus meminta istrinya membukakan pintu.
Ketika Kailin masuk ke dalam rumah, ada Kani yang masih sibuk menyetrika pakaian. Pria itu menatap jam tangannya, masih jam 9 lewat 20 menit, memang belum larut.
"Assalamualaikum," sapa Kailin dengan suara lirih, ia tak ingin mengganggu tidur sang anak. Ia mengintip Kaira yang sudah terlelap tidur di kamar. Kani sendiri masih di dekat dapur, di tempat biasa ia menyetrika pakaian.
"Waalaikumsalam," sahut Kani lirih. Tak lupa wanita itu tersenyum pada suaminya. Sementara hatinya sedang berteriak penasaran.
"Mau aku bikinin kopi, Mas?" tanya Kani dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Kailin menggeleng pelan, pria itu lalu memeluk sang istri dari belakang.
"Aku mau itu," bisik Kailin tepat di samping telinga istrinya.
Merasa bersalah karena ia akan menikahi Vero, Kailin ingin terus bermesraan dengan Kani di setiap kesempatan. Kani membuka mulutnya ketika tangan kokoh Kailin sudah melingkar di perutnya. "Mas mau apa?" tanya Kani yang masih tak tahu apa yang Kailin harapkan.
Kailin mencabut kepala kabel setrika, lalu memegang setrika yang masih dipegang Kani itu dan meletakkannya di tempatnya.
Kani mendekatkan bibirnya ke telinga Kani. "Aku mau kamu," bisik pria itu lagi.
Kini Kani sadar apa yang Kailin minta. Sebagai seorang istri, ia tak pernah menolak ajakan suaminya. Namun, kali ini ia benar-benar ingin mengatakan tidak. Sayangnya, ia tak memiliki nyali untuk menolak ajakan sang suami. Wanita itu akhirnya menuruti keinginan sang suami. Keduanya lalu masuk ke kamar yang biasa mereka gunakan untuk melakukan hubungan suami istri.
Waktu terus berjalan, Kani melihat sudah jam 12 malam. Ia ketiduran setelah melayani suaminya di ranjang, sampai ia lupa kembali ke kamar untuk menemani sang anak tidur. Ketika Kani hendak turun dari ranjang, Kailin ikut membuka mata karena goncangan pada kasur yang Kani sebabkan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Kailin dengan suaranya yang terdengar serak, pria itu kini tengah melakukan peregangan otot.
"Balik ke kamar, Mas. Nemenin Kaira, kasihan dari tadi tidur sendiri."
"Ambilin air minum, yang dingin."
"Iya."
Kani mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai.
"Jangan dipake dulu bajunya, pake handuk aja."
Kani mengerutkan keningnya.
"Aku masih ingin, aku mau lagi." Kailin menatap Kani yang kini kebingungan.
Lagi? Belum pernah Kailin meminta untuk dilayani sampai 2 kali. Kani sedikit terkejut, tetapi ia tak mungkin menolak permintaan suaminya, sekalipun ia sakit hati dan juga lelah.
"Kenapa? Kamu nggak mau?"
"Emangnya boleh aku bilang nggak mau?" tanya Kani dengan wajah yang cemberut.
"Nggak." Kailin menjawab singkat, membuat Kani merasa kesal. Wanita itu sedang merasa bingung, jika suaminya benar memiliki istri lagi, kenapa pria itu seperti sedang kelaparan?
Kani lalu menyambar handuk dan mengenakannya untuk menutupi sebagian tubuhnya. Wanita itu ke dapur untuk mengambilkan air minum sesuai yang suaminya inginkan.
Kani mampir menengok anaknya yang masih terlelap tidur. Ia kemudian masuk ke kamar sebelah dan menyodorkan segelas air dingin ke suaminya.
"Biarin Kaira tidur sendiri malam ini, toh dia nggak nangis, kan?" ucap Kailin sambil menyodorkan gelas kosong ke Kani. Istrinya itu menerimanya dan meletakkan gelas kosong itu di atas nakas.
"Mas nggak capek? Tumben banget minta dua kali." Kani masih berdiri, pikirannya memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Apa Mas Kailin minum obat kuat?" tanyanya dalam hati.
"Emangnya kenapa? Nggak boleh aku minta lagi?" Kailin menggoda sang istri. Pria itu merangkak di atas kasur, lalu menarik tangan istrinya agar istrinya kembali naik ke atas ranjang.
Kailin mulai melepas handuk sang istri dan mulai mencumbunya. Kani mendorong d**a sang suami. "Mas beneran mau lagi? Serius?"
"Dua rius." Kailin kembali melancarkan aksinya. Sepasang suami istri itu akhirnya bermalam di kamar itu sampai subuh tiba.
.
Kailin menguap berkali-kali ketika ia duduk di meja makan.
"Bikinin kopi, ya." Pria itu ingin mengganjal rasa kantuknya dengan meminum kopi.
Bukan hanya Kailin yang mengantuk pagi ini, Kani pun merasa kantuk luar biasa. Wanita itu bahkan merasa tubuhnya seperti habis digebuki, sakit semua. Walaupun begitu, ia tetap melayani sang suami dan anak seperti biasanya.
Kani meletakkan secangkir kopi di depan Kailin. Ia lalu menghampiri sang anak yang masih bermain boneka di kamar. "Kaira, Sayang. Ayo sarapan dulu, nanti telat loh berangkat sekolahnya."
Kaira langsung menuruti sang ibu. Anak perempuan dari pasangan Kailin dan Kani itu memang sangat penurut.
Selesai sarapan, Kani menyapu dan membersihkan rumah seperti biasa. Wanita itu memang memilih mengerjakan pekerjaan rumah sendiri dari pada harus menggunakan jasa asisten rumah tangga. Baginya, mengerjakan pekerjaan rumah adalah salah satu cara agar tubuhnya tetap fit dan menganggapnya sebagai pengganti olahraga. Ketika sampai di teras depan, wanita itu celingukan ke sana ke mari. Ia tak melihat sepeda motor sang suami yang biasanya diparkir rapi di samping mobil.
Kani masuk ke dalam rumah, menghampiri sang suami yang masih bercanda dengan sang anak.
"Motor kamu kok nggak ada, Mas?" tanya Kani dengan tergesa.
"Oh, motornya aku tarok bengkel karena remnya putus. Semalem Bambang yang anterin pulang." Kailin berbohong dengan santai, ia memang sudah menyiapkan jawaban itu jika Kani menanyakan keberadaan sepeda motornya.
Kani mengangguk. "Ya udah, aku kira hilang."
Setelah membersihkan rumah, Kani mengajak Kaira ke sekolah-tempatnya bekerja. Keduanya berjalan kaki seperti biasa karena jarak rumah dan jarak sekolah cukup dekat. Selain itu, Kani memang senang berjalan kaki walaupun ia bisa menggunakan motor ataupun mobil.
Kailin pergi menggunakan mobilnya. Pria itu tak langsung pergi ke toko karena ia perlu menyiapkan mahar untuk pernikahannya dengan Vero nanti malam.
Kailin pergi ke toko emas terlebih dahulu, pria itu memilih membeli kalung dari pada cincin. Ia tak tahu pasti ukuran jemari Vero, dari pada salah ukuran, ia memilih membeli kalung.
Setelah dari toko emas, Kailin pergi mencari toko yang menjual seperangkat alat solat. Pria itu bahkan meminta penjualnya membungkus secantik mungkin, ia mengaku kalau itu untuk pernikahannya.
Kailin menghabiskan banyak waktunya di toko tersebut, pasalnya ia harus menunggu penjualnya selesai mengemas pesanannya. Selesai itu, Kailin pergi ke tokonya dan menyimpan segala yang akan menjadi mahar pernikahannya itu di dalam mobil, tak terkecuali kalung.
Vero sendiri masih di rumah orang tuanya. Di rumah kedua orang tuanya itu sedang ramai orang, mulai dari saudara hingga tetangga, mereka tengah menyiapkan acara pernikahan janda cantik itu.
"Wah, nggak nyangka Mbak Vero mau menikah. Kok buru-buru, sih, Mbak?" tanya salah satu tetangga.
"Kami sebenernya ketemunya belum lama. Tapi kami memutuskan untuk cepet menikah, dari pada diduluin dosa." Vero menjawab penuh percaya diri.
"Oh, iya. Lebih baik cepet menikah biar nggak menumpuk dosa."
Vero begitu senang, ia menanti baju kebaya yang ia pesan secara online di salah satu toko ternama di kotanya. Ia juga menghubungi perias terkenal agar ia bisa tampil cantik maksimal malam ini.
"Apa kamu sesenang itu? Dari tadi senyum terus," tanya Susi ketika melihat Vero sedari tadi tersenyum.
"Ibu?" Vero yang awalnya berdiri di teras sambil menunggu pesanan kebayanya datang, kini memeluk sang ibu dengan erat.
"Iya, Vero seneng banget. Vero akhirnya bisa menikah dengan Kailin. Kami saling cinta, Bu, tapi kami terpaksa berpisah karena Vero dijodohin sama Mas Rudi." Vero berbicara setelah melepas pelukannya.
"Maafin Ibu sama Bapak karena udah maksa kamu buat menikah dengan Rudi. Ibu nggak seharusnya maksa kamu menikah dengan orang yang nggak kamu cintai." Susi mulai menangis.
Vero menyeka air mata ibunya. "Nggak apa-apa, semua itu bagian dari perjalanan hidup Vero. Yang penting, sekarang Vero seneng karena Vero akhirnya menikah dengan orang yang Vero cinta."
.
Setelah pulang sekolah, Kani mengajak Kaira ke rumah orang tuanya. Ibu wanita itu menelepon tadi pagi dan meminta anak dan cucunya dateng karena kangen.
"Kita ke rumah Kakek sama Nenek, ya, Sayang?" tanya Kani pada anaknya, Kaira mengangguk. Selain karena penurut, Kaira memang merindukan kakek dan neneknya, baik orang tua Kani ataupun orang tua Kailin. Karena bertetangga, Kaira bisa berkumpul dengan semua kakek dan neneknya sekaligus.
Kaira begitu senang bertemu dengan kakek dan neneknya. Anak perempuan berusia 2 tahun itu berlarian ke sana ke mari di jalanan depan rumah orang tua Kani. Ditemani ayah Kani dan ayah Kailin, Kaira berlarian sambil memainkan layangan.
Kani sendiri duduk di teras rumah orang tuanya, bersama sang ibu dan ibu mertuanya.
"Kaira udah gede, udah mau tiga tahun. Kapan mau nambah lagi, Nak?" tanya ibu mertua Kani yang memang sudah mendambakan cucu lagi.
Kani sedikit terkejut dengan pertanyaan ibu mertuanya. Ia masih memikirkan kecurigaannya pada sang suami yang memiliki wanita lain. Jika memang firasatnya itu benar, ia tak ingin menambah anak lagi karena takut anaknya tak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayahnya.
"Iya, Kan. Kaira udah besar, udah waktunya loh buat dibuatin adek." Ibu Kani menimpali.
Lagi-lagi Kani tersenyum, ia pandai menutupi perasaannya yang sedang gundah dibalik senyum palsunya itu.
"Kani nurut sama Mas Kai aja, Bu. Kalau Mas Kai pengen punya anak lagi, Kani akan berhenti minum pil penunda kehamilan." Kani berbohong. Sebenarnya ia tak ingin menambah anak sampai ia yakin kalau suaminya tak memiliki wanita lain.
"Nanti biar Ibu yang bilang sama Kai. Ibu pengen gendong cucu lagi, pasti rame kalau nambah cucu lagi. Iya, kan, Jeng?" tanya ibunda Kailin pada besannya.
"Iya, Jeng. Saya juga pengen gendong jagoan," sahut ibunda Kani.
"Iya, saya juga mau anak kedua Kai sama Kani nanti laki-laki, biar lengkap. Tapi kalau perempuan lagi, ya nggak masalah, biar mereka bikin lagi nanti, bikin cucu yang banyak buat kita."
Kedua wanita itu saling tertawa membayangkan Kailin dan Kani yang memiliki banyak anak. Kani ikut tertawa, namun itu hanya tawa palsu yang ia lakukan demi menyenangkan kedua wanita hebat di depannya.
"Andai Ibu tahu kalau Mas Kai punya istri lagi, apa Ibu akan minta aku cerai? Atau minta aku bertahan dalam biduk rumah tangga berpoligami?" batin Kani sambil mengamati ibunya dan ibu mertuanya.
Ibu mertua Kani melihat Kani yang tampak lesu. "Kamu kok lesu begitu? Kamu sakit, Sayang?"
Ya, Kani memang pendiam, tetapi wanita itu lebih diam dari biasanya. Wajahnya tampak lesu dengan kedua mata Kani yang terlihat mencekung.
"Ah, nggak, Bu. Kani capek aja, mau pijet tapi males," sahut Kani yang mencari-cari alasan. Wanita itu tak ingin mengaku kalau ia mengantuk dan lelah karena malam yang panjang akibat ulah Kailin semalam.
"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya ibu mertua Kani dengan antusias.
"Kamu hamil, Kan?" tanya ibunya yang juga terlihat begitu antusias.
"Nggak, Bu, Kani masih rutin minum pil penunda kehamilan." Kani menggeleng hebat.
"Siapa tahu kamu lupa minum," ucap ibunda Kani.
"Iya, coba tes, dulu kamu pas hamil Kaira juga bawaannya lesu begitu." Ibu mertua Kani begitu berharap anak mantunya hamil.
Kani menggeleng berulang kali. Namun, tiba-tiba saja wanita itu ragu. "Apa aku hamil?" tanyanya dalam hati.
Bersambung...
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
PhiKey