9. Mendapatkan restu

2009 Words
Kani berjalan mendekat ke Kailin dengan langkah pelan. Wanita itu merasa enggan untuk menemui suaminya, ia takut semakin sering ia bertemu suaminya maka semakin banyak rasa sakit yang harus ia terima. Tanpa menunggu lama, Kailin menyambar ponselnya di atas meja dan segera mengirim pesan kepada Vero. [Kamu ngapain ke sini? Ada istri dan anakku, tolong pulang. Aku pasti akan ke rumahmu nanti malam. Kalau kamu buat masalah di sini, aku akan batalin rencana pernikahan kita.] Kani melihat gelagat aneh sang suami yang tak menyapanya walau sudah melihatnya. Pria itu malah sibuk dengan ponselnya sendiri. Benar saja, Kani kembali merasa kecewa pada sang suami. Vero membuka pesan dari Kailin setelah ponselnya bergetar. Ia menyeringai, tak percaya pada apa yang baru saja ia baca. Bambang masih memperhatikan janda cantik itu dengan seksama. Bukan karena ia suka, tapi ia menaruh curiga pada wanita di depannya itu. "Apa wanita ini selingkuhannya Pak Kai?" batin pria berkulit sawo matang itu. Vero menekuk wajahnya, kesal bercampur sakit hati, ia lalu pergi begitu saja tanpa menyapa Bambang. Wanita itu memilih pergi dengan rasa kecewanya. Ia takut pada ancaman Kailin, ia begitu mengharapkan pernikahan dari pria itu. "Lihat aja, kalau kita udah menikah, aku akan buat kamu ceraiin istri kamu!" Vero menendang ban mobilnya sendiri. Wanita itu merasa sakit hati bukan main. Ia sudah berdandan cantik demi menemui calon suaminya, tetapi yang ia dapatkan hanyalah kekecawaan-ia diusir. Kani masih memperhatikan sang suami, ia tak tahu kalau wanita yang akan menjadi madunya ternyata ada di toko itu. Ketika Vero sudah keluar dari toko, Kailin akhirnya bisa bernapas lega. Kailin akhirnya menatap sang istri. "Tumben ke sini masih pake baju seragam?" tanya Kailin dengan sedikit gagap. Ia masih merasa gugup karena perasaan takut yang ia ciptakan sendiri. Kani tersenyum lagi, tentu saja senyum palsu. "Kaira maunya cepet-cepet ke sini, Mas." Kailin mengangguk. "Kita pulang aja, ya. Aku mau makan siang di rumah aja. Lagian kamu pasti nggak nyaman kan kalau pake baju itu lama-lama." Kailin mencari-cari alasan agar ia bisa pergi dari toko itu segera. Sesekali matanya melirik ke luar toko, memastikan kalau Vero sudah masuk ke dalam mobil. Kani menatap Kaira sesaat lalu mengangguk. "Ya udah, ayo pulang." Dengan menggunakan sepeda motornya, Kailin mengajak istri dan anaknya pulang. Sesampainya di rumah, Kani berganti pakaian dan menyiapkan makan siang untuk suaminya. Sementara Kailin, pria itu tampak bercanda dengan sang anak di dalam kamar. Kailin mencuri waktu untuk bisa mengirim pesan ke Vero. Ia takut wanita itu marah, tapi yang lebih ia takutkan saat ini adalah kemarahan sang istri-Kani. Memiliki istri yang pendiam nyatanya berhasil membuat Kailin merasa segan pada wanitanya. [Kamu di mana?] Vero yang sudah sampai di rumahnya, hanya membaca pesan dari Kailin tanpa ada niat membalasnya. Ia masih sakit hati karena diusir, ia juga sakit hati karena Kailin lebih memilih Kani dari pada dirinya. Janda cantik itu ingin marah, tetapi kemarahannya hanya akan merugikannya. Kini, ia memilih mengabaikan pesan dari calon suaminya itu. Kailin bolak-balik mengecek ponselnya, berharap Vero segera membalas pesan darinya. Namun, sampai Kani selesai menyiapkan makanan untuknya, tidak ada pesan masuk dari Vero. "Udah siap, Mas, makanannya. Mau makan dulu apa solat dulu?" tanya Kani dengan suara khasnya, lembut dan menentramkan. Kailin yang masih bermain dengan sang anak, lalu melihat jam di tangannya. "Kita solat dulu aja, ya. Ayo," sahutnya lirih. "Kaira ayo ikut solat," ajak Kailin pada putri kecilnya. "Iya, Ayah." Kaira menjawab penuh antusias, suaranya yang terdengar cedal itu membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Kailin dan Kani akhirnya menunaikan solat berjamaah. Selesai itu, keduanya makan siang bersama sang buah hati mereka-Kaira. "Biar Ayah suapin lagi." Kani tulus menyayangi anaknya. Selama ini ia memang begitu sayang dan perhatian pada sang anak. Semuanya perlahan mulai berubah ketika Vero hadir, ia akhirnya mulai membagi waktunya dan akhir-akhir ini sikapnya sering membuat Kaira merasa diabaikan. Kani kembali memperhatikan sang suami yang begitu perhatian pada anaknya. "Kalau saja kamu selalu perhatian sama Kaira seperti ini, aku akan menahan semua rasa sakit yang aku alami ini, Mas. Tapi, aku akan benar-benar pergi kalau kamu udah nggak sayang dan perhatian lagi sama anak yang merupakan darah dagingmu sendiri," batin Kani. "Makanlah, kenapa kamu sering melamun?" Kailin membuyarkan lamunan Kani. Wanita itu mengangkat kedua bahunya sambil menarik napas panjang. "Siapa yang melamun?" ucap Kani pelan. "Kamu," sahut Kailin cepat. Kali ini Kailin sedikit menaikkan volume suaranya. Ia ingin memancing istrinya, ia berharap istrinya menjadi lebih terbuka. Jika marah, ia ingin istrinya itu mengatakannya, buka memendamnya sendiri. Itu akan jauh lebih mudah bagi Kailin karena ia tahu apa yang istrinya rasakan. Tidak seperti sekarang ini, mau senang atau bersedih, istrinya memasang wajah yang sama setiap saat. Kani membulatkan matanya ketika Kailin sedikit menaikkan volume suaranya. Ia tak benar-benar melamun, tetapi pria itu sampe menaikkan volume suara karena hal yang sepele. "Aku nggak melamun, Mas. Maaf kalau aku buat kamu marah," ucap Kani lirih. Tatapan matanya menuju ke piring di depannya yang masih kosong, ia menunduk lesu. Kailin malah tersenyum melihat istrinya. "Cium dulu baru aku maafin," ucap Kailin yang memanfaatkan situasi. Kani mengangkat wajahnya lagi dan menatap Kailin dengan mata yang membulat sempurna. "Ha?" tanyanya tak percaya. Kailin menunjuk pipi kanannya berkali-kali, meminta sang istri memberinya kecupan di tempat yang ditunjuk. Kani masih membatu, Kailin mengembuskan napas panjang. "Jadi kamu nggak mau aku maafin, nih?" tanyanya dengan nada kesal. "Ada Kaira," ucap Kani berbisik. Kailin lalu mendekatkan pipinya ke Kaira. "Cium Ayah, Sayang." Kaira tanpa ragu mengecup pipi ayahnya, lalu keduanya tersenyum senang. Kailin kemudian mendekatkan pipi kanannya ke Kani, jari telunjuknya masih menunjuk di pipi kanannya. Kani terpaksa menuruti suaminya, bagaimanapun ia tak ingin suaminya marah. Wanita itu mendekat ke sang suami dan berniat meninggalkan kecupan ringan di pipi pria yang tak berkumis atau berjenggot itu. Ketika jarak semakin menipis, Kailin dengan sengaja mengarahkan bibirnya, sampai istrinya itu mengecup bibirnya. Kani membulatkan matanya, lagi. Ia menatap Kaira seketika karena merasa malu pada apa yang barusan terjadi. Kailin malah tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai sang istri. "Yeee, tos dulu kita." Kailin mengangkat tangan kanannya dan Kaira menyambutnya dengan suka cita, anak kecil itu melakukan apa yang ayahnya minta. Terdengar suara tepukan dari tangan Kailin dan Kaira yang terdengar cukup kuat. Kani tiba-tiba tersenyum walau ia merasa kesal pada suaminya. Ia senang melihat anak dan suaminya yang tertawa lepas seperti sekarang ini. "Ya Allah, sesakit apapun hati ini, jangan biarkan hamba menjadi istri yang berdosa karena membuat suami hamba marah," batin Kani. "Aku akan berusaha buat kamu sama Kaira bahagia, sekalipun aku menikahi Vero. Aku akan berusaha seadil mungkin agar kalian bisa sama-sama bahagia," batin Kailin sambil menatap wajah ayu istrinya. . Malam tiba. Selepas maghrib Kailin pamit kembali ke toko kepada sang istri. Namun, sang istri sudah merasa suaminya berbohong kali ini. Tak biasanya Kailin berpakaian serapi seperti sekarang, tetapi Kani hanya diam dan pura-pura tak mencurigai suaminya. "Kamu mau ke mana dengan baju serapi itu, Mas?" batin Kani sambil melihat suaminya yang pergi menggunakan sepeda motornya. Kani memutuskan untuk diam di rumah sekalipun hatinya menjerit agar ia mengikuti ke mana sang suami pergi. "Poligami itu halal, Kani. Cobalah untuk ikhlas, maka kamu akan mendapatkan jalan menuju surga." Kani berusaha menasehati dirinya sendiri. Malam ini wanita itu memilih bermain berdua bersama anaknya-Kaira. Kailin akhirnya tiba di rumah Vero. Walaupun sejak kejadian tadi siang ia tidak menghubungi Kailin, kini ia sudah bersiap dengan sempurna. Ia dandan begitu cantik sampai membuat calon suaminya itu terpana. "Kamu cantik banget, Ve," ucap Kailin ketika melihat Vero menemuinya di teras. Vero masih mengerucutkan bibirnya. "Dari dulu," jawabnya dengan nada ketus. Kailin terkekeh pelan, membuat wanita itu merasa kesal. "Kamu ketawa? Aku kesel sama kamu, Kai. Bisa-bisanya kamu usir aku dan kamu malah abaiin aku dari tadi." "Kan aku udah kirim pesan ke kamu, kamu yang nggak bales." "Ya kamu rayu aku, kek. Apa, kek, jangan acuh gitu, dong. Aku kan juga pengen dapet perhatian dari kamu." Kailin tersenyum. "Iya, besok kalau kamu jadi istri aku, aku akan perhatiin kamu dari melek sampe merem lagi." Vero mengerutkan keningnya. "Ah, entahlah. Ayo kita ke rumah orang tuaku, aku panggil Disa dulu." . Kailin dan Vero pergi menggunakan mobil milik Vero. Keduanya kini sudah di rumah orang tua wanita itu. Dengan mendapatkan perlakuan dingin dari Susi dan Santoso, Kailin dipersilakan duduk di ruang tamu. "Jadi, kamu yang mau jadiin anak saya sebagai madu?" tanya Santoso dengan wajah garangnya. "Iya, Pak." Kailin menjawab tanpa ragu. Pria itu memang sudah membulatkan tekadnya untuk menikahi Vero dan menghadapi apapun yang terjadi, ia tak merasa takut atau gugup ketika dihadapkan dengan sikap orang tua Vero yang sangat dingin dan menakutkan itu. "Saya nggak akan kasih izin anak saya untuk menikah dengan pria yang masih beristri! Ceraikan istri kamu! Baru kami izinkan kamu menikahi Vero!" Santoso memekik dengan sempurna. "Bapak?!" Vero ikut berteriak. Kailin menatap wanita itu lalu menggeleng pelan. "Saya mengerti apa yang Bapak rasakan saat ini. Tapi, saya dan Vero sudah membulatkan tekad kami untuk menikah segera mungkin. Bapak tahu pasti, syarat menikah itu tidak harus mendapatkan izin dari istri pertama. Saya bisa menikahi Vero, asalkan Bapak dan Ibu mau merestui kami." Kailin masih percaya diri. Santoso naik pitam. Pria tua itu menggebrak meja dan memandang Kailin dengan gigi yang menggertak keras. Matanya melotot, tetapi ada air mata yang menggenang di sana. "Apa kamu tahu, aku dan istriku mati-matian berusaha agar anak kami-Vero bisa hidup bahagia?! Bagaimana bisa kamu datang-datang ingin merusak kebahagiaan yang jungkir balik kami usahakan itu?! Orang tua mana yang mau melihat anaknya menderita?! Saya nggak akan izinin kalian sampe kamu ceraikan istri kamu yang sekarang!" Teriakan Santoso membuat Susi dan Vero merasa ketakutan setengah mati. Akan tetapi, tidak dengan Kailin, pria itu masih bisa menghadapi situasi itu dengan kepala dingin. Kailin tak langsung menjawab ucapan Santoso. Ia mengambil waktu sejenak agar emosi ayah Vero itu menurun. "Siapa yang bisa menjamin kebahagiaan orang? Tidak ada, Pak. Terbukti dari kondisi Vero saat ini yang harus menjanda, mencari nafkah sendiri dan mengurus anaknya sendiri walau Bapak sama Ibu sudah menjodohkannya dengan pria yang Ibu dan Bapak anggap sebagai pria terbaik." Santoso dan Susi terkejut bukan main. "Saya sendiri juga nggak bisa menjamin apakah hari esok dan hari-hari seterusnya saya bisa membahagiakan Vero. Tapi, ... coba kalian tanya sama Vero," Kailin menengok dan menatap Vero. "Apa yang bisa membuatnya bahagia saat ini?" lanjut Kailin, masih dengan menatap Vero. Vero meneteskan air matanya. "Aku cinta sama Kailin, Pak, Bu. Aku mau hidup bahagia, dan aku bahagia jika aku bersama orang yang aku cintai." Mendengar penjelasan Kailin dan pengakuan Vero, hati Susi dan Santoso seakan diketuk. Keduanya mengalihkan pandangan mereka dan sama-sama mengembuskan napas panjang. "Saya mohon, berikan restu untuk pernikahan kami. Saya memang tak bisa menjamin Vero akan selalu bahagia jika menjadi istri saya. Tapi, saya berjanji akan berusaha membahagiakannya, juga dengan Disa. Saya akan berusaha bertanggung jawab pada mereka sepenuh hati." Kailin masih berusaha meyakinkan kedua orang tua Vero. Susi dan Santoso memilih diam, membisu seketika. Kailin dan Vero saling bertatapan, Kailin lalu tersenyum, kemudian memejamkan matanya sesaat, memberi tahu wanita itu kalau semuanya akan baik-baik saja. "Apa kamu akan menikahi Vero secara siri?" tanya Susi. "Ya, saya akan menikahi Vero secara siri. Untuk sementara, saya memang akan menyembunyikan hubungan kami dari istri dan keluarga saya. Tapi, suatu saat saya akan memberi tahu mereka. Saya akan berusaha bersikap adil untuk istri-istri saya." "Apa artinya kamu akan tinggal dengan Vero, bergantian dengan istri kamu sekarang? Aku nggak mau kalau kamu ketemu Vero di siang hari saja. Aku nggak mau kamu jadiin Vero sebagai yang kedua. Kalau memang mau adil, kamu harus membagi waktumu secara adil. Jangan prioritaskan istri pertamamu nanti." Susi berbicara dengan suara serak, air matanya perlahan menetes di pipinya. Santoso masih diam membisu. "Bapak ... tolong restui pernikahan kami." Vero merayu sang ayah, pria tua itu luluh melihat tatapan sendu sang anak. "Kalau dengan menjadi madu kamu bisa bahagia, Bapak nggak bisa berbuat apa-apa selain mendukung keputusanmu, Nak. Kamu anak Bapak, Bapak mau yang terbaik buat kamu." Vero beranjak dari duduknya dan memeluk sang ayah dengan haru. "Terima kasih, Pak. Vero sayang sama Bapak, Vero sayang sama Ibu." Kailin tersenyum senang karena akhirnya ia mendapatkan restu dari orang tua Vero. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD