Kani mengajak Kaira masuk ke dalam rumah. Wanita itu menghapus air matanya segera mungkin karena ia tak ingin anaknya ikut bersedih. Demi melihat anaknya tersenyum, Kani mengambil buku dongeng dan mulai membaca dongeng untuk anaknya. Sambil memegangi boneka bebeknya yang baru, Kaira perlahan tidur di dalam dekapan sang ibu.
Kani mengecup kepala sang anak berkali-kali. "Alkhamdulillah, Allah udah kasih titipan makhluk secantik dan sebaik Kaira. Ibu janji akan melakukan apapun demi kebahagiaan Kaira."
Setelah menidurkan anaknya, Kani mengambil air wudhu dan menunaikan solat isya. Ia menumpahkan segala keluh kesahnya pada sang Pencipta. "Ya Allah, beri hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan-Mu. Kalau memang Mas Kai bukan jodoh hamba, biarkan Kaira mendapatkan kasih sayang ayahnya."
Wanita itu menangis lirih, ia menumpahkan segala keluh dan kesahnya pada sang Ilahi. Ia memang pendiam, selama ini ia memilih menyimpan semua perasaannya sendiri dari pada harus membaginya dengan orang lain.
.
Kailin tiba di rumah Disa tepat pukul 8 malam. Selama di jalan, ia sudah menelepon Bambang dan menyampaikan pada karyawannya itu agar mengirim laporan penjualan hari ini ke w******p-nya. Tak lupa ia memberi peringatan pada pria berkulit sawo matang itu agar tak memberi tahu Kani kalau ia tak ke toko malam ini.
Vero dan Disa begitu senang melihat Kailin datang. Mereka bahkan sudah menyiapkan makan malam agar mereka bisa makan malam bersama.
"Kita makan bareng, yuk," ajak Vero setelah Kailin masuk ke dalam rumah.
"Kamu belum jadi nyuapin Disa?" tanya Kailin dengan sedikit memekik.
"Disa maunya makan sama Ayah," ucap anak perempuan berusia 7 tahun itu dengan manja.
Kailin yang sebenarnya masih merasa kenyang, terpaksa ikut makan malam bersama Vero dan Disa demi menyenangkan kedua wanita itu. Pria itu begitu perhatian pada calon anak tirinya, ia bahkan menyuapi gadis kecil itu sambil menceritakan kisah lucu.
Waktu berlalu, Disa sudah terlelap tidur setelah lelah bermain bersama Kailin. Pria itu melihat jam tangannya, sudah jam 11 malam lewat.
"Aku pulang dulu, ya." Perasaannya mulai kacau, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya di rumah. Sesibuk apapun ia di toko, ia tak pernah pulang selarut itu.
"Besok ... jadi ke rumah Ibu sama Bapak?" tanya Vero ketika mengantar Kailin ke teras depan.
"Jadi, selepas maghrib, nanti aku ke sini."
Vero mengangguk.
"Tapi, siangnya aku nggak bisa ke sini. Dari siang aku nggak urus toko, aku sibuk kerja besok," ucap Kailin lirih.
"Masak nggak bisa ke sini buat jemput Disa sekolah? Bentar aja, ya?" Vero merayu dengan mimik wajah memelas.
Kailin menggeleng. "Nggak bisa, Ve. Toko bener-bener nggak keurus. Aku juga nggak mungkin ninggalin toko terus-terusan. Kalau tokonya bangkrut, aku yang kalang kabut. Apalagi sebentar lagi aku juga harus nafkahin kamu sama Disa."
Mendengar ucapan Kailin barusan, membuat Vero tersenyum senang. Ia tahu pria yang ia cintai itu memang pria yang bertanggung jawab. Ia sudah mengenalnya dengan baik sejak sekolah dulu. "Ya udah, tapi janji ya, habis maghrib langsung ke sini. Jangan telat."
"Iya, aku janji. Besok kita minta restu sama orang tua kamu. Jangan lupa solat tahajud malam ini, biar urusan kita dipermudah." Kailin tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menginjak pedal gas mobilnya dengan kasar, ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia segera sampai di rumah.
Kailin tiba di rumah dengan selamat walau ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu menemukan sang istri yang sudah terlelap tidur di samping putrinya-Kaira. Ia memang membawa kunci rumah agar ia bisa pulang ke rumah tanpa harus menunggu dibukakan pintu oleh Kani.
Kani sendiri hanya pura-pura tidur. Wanita itu tak bisa tidur sedari tadi. Ia memikirkan apa yang sedang suaminya lakukan sampai larut malam. Ketika telinganya menangkap suara mobil sang suami yang memasuki pekarangan rumah, ia segera pura-pura tidur sambil memeluk Kaira.
Kailin melepas jam tangan, mengeluarkan dompet dan meletakkan kedua barangnya itu di atas nakas, secara perlahan. Ia lalu mengambil air wudhu dan menunaikan solat isya sendirian.
Selesai solat, ia berganti pakaian. Pria itu kini sudah mengenakan celana kolor dan kaos putih polos. Perlahan ia merangkak ke atas ranjang. Posisi Kani memang memunggunginya, pria itu perlahan meletakkan tangannya di pinggang sang istri dan menelusuri perut wanita itu dengan gerakan lembut.
Kani tersentak kaget. Ia sedang susah payah memejamkan matanya agar terlelap tidur. Namun, suaminya malah menyentuhnya, mengisyaratkan bahwa pria itu minta dilayani.
Tepat saja, Kailin berbisik di samping telinga sang istri. "Ayo kita ke kamar sebelah," ucapnya berbisik. Kani bergidik geli, ia menggeliat pelan lalu pura-pura terbangun dan menoleh ke suaminya.
Kailin tersenyum. Ia menatap bibir istrinya dengan penuh hasrat. Sementara Kani, ia hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali, menahan sakit yang luar biasa. "Kalau kamu punya istri lagi, kenapa kamu masih minta aku buat layani kamu? Kenapa kamu pulang selarut ini tapi masih minta aku buat layani kamu? Kenapa?" batin Kani sambil memejamkan matanya beberapa saat.
"Ayo," ajak sang suami lagi. Kani hanya bisa menurut, ia beranjak pelan, meninggalkan sang buah hati sendirian demi mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri. Keduanya memang sering melakukan hubungan intim di kamar satunya, berjaga-jaga agar Kaira tak melihat apa yang mereka lakukan.
Kani kembali ke kamar utama setelah suaminya terlelap tidur, setelah malam panjang mereka. Wanita itu diam seribu bahasa, bahkan ketika sedang berhubungan badan dengan sang suami, wanita itu sama sekali tak bersuara.
Kailin yang sudah dikuasai hasratnya, tak begitu memperhatikan perubahan sikap sang istri. Pria itu terlelap tidur tanpa meminta maaf atau menjelaskan alasannya pulang larut malam ini. Sementara sang istri, kini menangis sambil memeluk anaknya yang masih terlelap tidur.
Pagi tiba.
Kani sudah menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Tak lupa ia menyiapkan bekal makan siang untuk Kaira. Ia masih menjadi wanita yang pandai menyembunyikan luka. Senyumnya tak ia biarkan surut, terus menghiasi wajah ayunya.
Kailin yang sejak tadi menggendong dan bermain dengan Kaira, sesekali melirik sang istri demi melihat istrinya tersenyum. Hanya dengan melihat istrinya tersenyum, ia yakin kalau semuanya baik-baik saja.
"Mas, Kaira, makannya udah siap. Ayo sarapan dulu." Kani berteriak dari dapur, sambil menyiapkan piring dan sendok di meja makan.
Kailin mengajak Kaira untuk ke meja makan. Pria itu mendudukkan putri kecilnya tepat di sampingnya. Ia tak langsung makan, ia memilih menyuapi anaknya terlebih dahulu. Ketika menyuapi Disa semalam, ia merasa bersalah pada anak kandungnya yang kini duduk di sampingnya itu.
"Kaira makan yang banyak, biar cepet tinggi kayak Ibu sama Ayah." Kailin dengan semangat menggebu menyuapi buah hatinya.
Lagi-lagi Kani terenyuh, ia tersentuh melihat betapa bahagianya anaknya saat ini karena mendapatkan perhatian dari ayahnya.
Kailin menatap istrinya. "Makanlah, aku akan makan kalau udah nyuapin Kaira."
Mendapatkan perhatian kecil dari sang suami, Kani kembali merasa sakit hati. Ia seperti mendapatkan firasat bahwa sikap baik sang suami hanya untuk mengganti rasa bersalahnya. Kani tersenyum pahit. "Aku lebih suka kamu yang acuh sama aku, selama ini. Dari pada kamu yang perhatian, tapi ... semua itu palsu," batin Kani.
Kani mengambil nasi dan lauk pauk dengan bibir yang tertutup rapat. Kailin melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak datar. "Kenapa? Kamu sakit? Atau capek?" tanya pria itu penuh perhatian.
Kani menggeleng sambil membulatkan matanya. "Enggak, Mas. Emang aku kenapa?" Wanita itu pura-pura tak terjadi apa-apa.
Kailin mengangguk sesaat lalu kembali menyuapi Kaira.
.
Kailin pergi ke toko dan mulai sibuk mengerjakan pekerjaannya yang terbengkalai karena kesibukannya dengan Vero. Dengan dibantu Bambang dan karyawannya yang lain, Kailin mengerjakan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya.
Di tempat lain, ada Kani yang masih sibuk dengan profesinya sebagai guru TK. Ia dengan sabar mengajari anak didiknya untuk belajar menulis. Wanita itu beberapa kali melihat anaknya yang tampak murung sambil memegangi boneka bebek yang dibelinya semalam. Ia merasa kasihan pada anaknya yang masih belia itu.
"Apa keputusanku untuk bertahan dengan Mas Kai adalah keputusan yang salah? Haruskah aku meminta cerai agar aku bisa cari ayah yang baru untuk Kaira? Tapi aku nggak yakin Kaira bisa bahagia jika itu bukan Mas Kai." Kani kembali melamun. Wanita itu lalu menghampiri sang anak yang duduk di dekat jendela.
"Kaira sakit?" tanyanya lirih, anaknya menggeleng.
"Kok diem aja dari tadi?" tanya Kani lagi.
"Bu, nanti ke toko Ayah atau enggak?" tanya anak kecil itu dengan suaranya yang terdengar cedal.
"Kenapa? Kaira mau ke toko Ayah?"
Kaira mengangguk. Kani lalu tersenyum sambil membelai rambut anaknya itu. "Ya udah, nanti pulang sekolah, kita ke toko Ayah, ya."
Kaira tersenyum lebar, ia merasa senang karena sang ibu berjanji akan mengajaknya ke tempat kerja sang ayah.
Berbeda dengan Kani yang sibuk dengan pekerjaannya, Vero memilih libur hari ini. Ia sama sekali tak masuk ke dalam ruang kerjanya dan hanya memikirkan apa yang akan ia lakukan demi merayu orang tuanya agar merestui hubungannya dengan Kailin.
Setelah mengantar Disa ke sekolah, wanita itu mondar-mandir ke sana ke mari tanpa ada tujuan pasti. "Mbak Vero kenapa? Sakit perut? Kok dari tadi mondar-mandir?" tanya Sri ketika melihat Vero hanya berjalan ke sana ke mari.
Vero menggigit salah satu kuku jarinya. "Mbak," panggilnya pada sang asisten rumah tangga.
"Mbak tahu kan, Ibu sama Bapak lagi marah sama aku. Buat ngerayu mereka, aku sebaiknya ngapain, ya?" tanya Vero meminta saran.
Sri tampak berpikir beberapa saat.
"Bawain makanan kesukaan Ibu sama Bapak aja, Mbak," jawab Sri dengan polos. Ia memang tahu kalau Vero sedang bersitegang dengan kedua orang tuanya. Namun, ia tak tahu duduk permasalahannya, ia hanya menjawab apa yang terlintas di benaknya.
Vero mendesah kesal. "Percuma, Mbak. Ibu sama Bapak marahnya pake banget."
"Kalau gitu ya nggak usah bawa apa-apa, Mbak. Orang tua itu hanya mau anaknya bahagia. Kalau orang tua ada masalah sama anaknya, yang mereka mau cuma melihat anaknya baik-baik aja. Jadi, Mbak Vero datang aja ke rumah Ibu sama Bapak, lalu Mbak Vero minta maaf," ucap Sri memberi saran.
Vero mengangguk paham. "Bener juga, gimanapun aku ini anak Ibu sama Bapak. Semarah apapun mereka, mereka tetep orang tua aku dan aku adalah anak mereka."
Vero merasa sedikit lega. Ia lalu masuk ke kamar dan istirahat sambil menyiapkan baju apa yang akan ia kenakan nanti malam.
Vero mulai bosan ketika ia tak melakukan apapun di dalam rumah. Mau bekerja pun, ia merasa malas. Karena Kailin sudah memberi tahunya bahwa pria itu sibuk bekerja, Vero memutuskan untuk datang dan menemui calon suaminya itu. "Dia kan cuma bilang nggak bisa ke sini. Artinya, aku boleh ke sana," ucapnya dengan girang.
Vero akhirnya datang ke toko Kailin. Semalam ia mengobrol banyak dengan pria itu, termasuk membahas alamat dan sejarah toko itu sejak awal dibangun. Itu sebabnya janda cantik itu tahu di mana toko Kailin berada.
"Besar juga tokonya, pantes aja dia percaya diri mau punya dua istri," celetuk Vero setelah turun dari mobilnya. Ia masuk ke dalam toko dan melihat-lihat kondisi toko. "Ternyata emang kerjaan dia banyak," ucap Vero ketika melihat Kailin duduk di meja kasir sambil menatap nota-nota.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Bambang ketika melihat Vero tak kunjung membeli barang dan malah sibuk menyapu pandangannya ke seluruh penjuru toko.
"Ah, aku mau ketemu sama Kai. Tapi dia sibuk, ya?" tanya Vero. Bambang memperhatikan betapa cantiknya Vero dengan make up tebal dan penampilan yang sangat modis.
"Bapak cuma ngecek ulang aja, Mbak. Udah nggak sibuk, kok. Mau saya panggilin?"
Tepat ketika Vero akan menjawab, teriakan Kaira yang baru saja turun dari ojek membuat janda cantik itu menengok.
"Ayah...." Kaira berteriak dengan senyum lebar di wajahnya. Sambil berlari, Kaira merentangkan kedua tangannya dan mendekat ke Kailin. Pria itu menyambut kedatangan sang anak dengan hangat, ia segera menggendong Kaira dan mencium gadis kecil itu.
Vero merasa sakit hati pada apa yang ia lihat saat ini. Ia lalu menoleh pada wanita yang baru masuk ke dalam toko, wanita dengan penampilan sederhana tetapi tetap terlihat cantik. "Jadi itu istri Kailin?"
Bambang terkejut. "Ha? Apa, Mbak? Bu Kani maksudnya?"
"Namanya Kani?" tanya Vero lagi, Bambang semakin kebingungan.
Setelah menciumi Kaira, Kailin menoleh pada Kani yang berjalan pelan mendekat ke arahnya. Tepat ketika itu, ia melihat Vero yang berdiri di depan Bambang. Senyuman lebar di wajah pria itu luntur seketika. Ia terkejut melihat Vero datang tanpa memberi tahunya. Yang lebih mengejutkan, Vero datang berbarengan dengan kedatangan Kani.
"Vero?" batin Kailin.
"Mau apa kamu ke sini?" batin pria itu lagi.
Kailin menatap Vero dan Kani secara bergantian, berharap kedua wanita itu tak bertatap muka saat ini. Degup jantungnya semakin cepat, bahkan ia menurunkan Kaira dari gendongannya karena tangannya melemas tiba-tiba. Perasaannya kacau, berantakan, ia tak ingin melukai dua wanita yang ia cintai, sama besarnya.
Bersambung...