7. Berusaha tegar

2345 Words
Kani pergi ke dapur, ia berniat memasak untuk anak dan suaminya. Namun, yang jauh lebih penting saat ini adalah menjaga jarak dari sang suami. Semakin ia dekat dengan Kailin, air matanya seolah tak ingin berhenti. Rasa sesak di dadanya pun membuatnya menjauhi sang suami agar ia bisa bernapas lega. Kailin sendiri tengah bermain dengan anaknya-Kaira. Sesekali ia melirik sang istri yang sibuk di dapur. Ia tahu, sang istri tengah menjauhinya. "Apa Kani tahu kalau aku menemui Vero?" Pria itu hanya bisa menerka-nerka tentang apa yang dipikirkan istrinya. "Ayah, Ira mau boneka bebek." Kaira berbicara dengan suara cedal. "Oh, iya. Ayah lupa anak Ayah mau boneka. Nanti kita beli, ya, nunggu Ibu masak dulu." Kailin memang belum sempat membelikan Kaira boneka bebek seperti yang anak kecil itu inginkan. Ia memang sibuk dengan pekerjaannya dan sibuk dengan Vero, sampai ia lupa bahwa anaknya meminta mainan. "Horeee." Kaira bersorak senang. Kailin lalu melangkah meninggalkan Kaira dan menuju ke dapur. Kani terkejut karena sang suami tiba-tiba memegang lengannya dari belakang. "Kenapa, Mas? Mau kopi? Atau teh?" tanya Kani dengan sedikit gelagapan. Wanita itu memilih mengalihkan pikirannya dengan bersholawat, ia tak ingin terluka karena pikirannya sendiri. "Kamu masak apa?" tanya Kailin basa-basi. Yang sebenarnya ia inginkan adalah mengetes apakah sang istri masih mau menjawab pertanyaan dengan senyum atau masih berusaha menjauhinya. Kani mencoba melepas tangan Kailin yang masih memegangi lengannya. "Ini, mau masak udang sama brokoli. Ada kangkung, sih. Tapi tadi Kaira bilang mau udang, ya udah aku masakin udang." Kani menunjukkan udang yang masih ia bersihkan dan brokoli yang sudah ia potong-potong. Kani menjawab dengan suaranya yang merdu, Kailin tak menampik kalau istrinya memang pandai menyembunyikan luka. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih diam?" batin Kailin. Kailin mengangguk. "Malam ini, gimana kalau kita jalan-jalan? Kaira minta dibelikan boneka bebek, kita bisa jalan-jalan sambil cari boneka bebek yang dia mau. Gimana?" tanya Kailin dengan suara yang terdengar mesra. Kani mengangguk. "Ya udah, kita pergi habis mahgrib." "Ya udah, masak yang enak, aku laper banget ini." Kailin tiba-tiba mengecup pipi Kani. Wanita itu tersentak kaget, ia tak percaya kalau sang suami yang biasanya tak pernah romantis padanya, hari ini melakukan serangkaian hal yang tak pernah dilakukan. Mulai dari mengaku sayang, sampai mencium pipi di saat ia sedang memasak. Hal yang seharusnya membuatnya merasa bahagia, nyatanya malah membuatnya semakin merana. "Apa sikap manisnya hanya sebagai rasa penyesalannya karena dia udah berselingkuh? Apa Mas Kai bener-bener punya wanita lain?" batin Kani. Kani menunduk sambil mencuci udang. Air matanya tumpah. Mendapatkan ciuman mesra dari sang suami malah membuatnya merasa hancur. Firasatnya mengenai perselingkuhan sang suami semakin kuat karena sikap aneh yang dilakukan suami. Kani membiarkan air matanya jatuh, menetes tepat di samping udang yang tengah ia cuci. Ia tak berani menyedot ingusnya karena takut sang suami tahu kalau ia sedang menangis kali ini. "Kenapa rasanya sesakit ini Ya Allah," batin Kani. . Setelah kepulangan Kailin, Vero kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kedatangan orang tuanya. Wanita itu mulai mengedit videonya yang tengah mereview salah satu foundation yang tengah naik daun saat ini. Vero membanting menggebrak meja kerjanya. Ia kesal karena tak bisa fokus bekerja. "Argh! Aku nggak bisa konsen kalau begini caranya. Ibu sama Bapak tega banget sih sama anaknya sendiri. Pake ngancem nggak mau anggep anak lagi!" Vero merasa kesal pada keputusan orang tuanya. Wanita itu kini membanting tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia lalu memikirkan kembali betapa sayangnya kedua orang tuanya pada dirinya dan anaknya selama ini. "Aku tahu Ibu sama Bapak mau aku bahagia. Tapi aku bahagianya sama Kai, Pak, Buk. Tolong ngertiin Vero." Suara langkah kaki Disa membuat Vero menoleh ke arah pintu. "Ibu kenapa?" tanya Disa dengan suara lirih. Anak kecil itu tahu ibunya pasti sedang kesal karena ia mendengar sang ibu yang menggebrak meja. Vero bangun, ia lalu merentangkan kedua tangannya, berharap anaknya segera memeluknya. Gadis kecil itu pun segera berjalan mendekati ibunya, ia memeluk sang ibu seperti yang diinginkan sang ibu. "Ibu ngagetin kamu, ya? Maafin, Ibu, Sayang." Vero lalu melepas pelukan anaknya. "Ibu kenapa?" Disa masih bertanya. "Ibu cuma capek, maaf, ya. Ibu janji nggak akan buat Disa kaget atau takut lagi." Vero memang begitu menyayangi anaknya, ia rela melakukan apa saja agar anaknya bisa hidup berkecukupan. Setelah bercerai dari mantan suaminya, wanita itu memang tak pernah berhubungan lagi. Akibatnya, sang anak tak pernah mendapatkan kasih sayang atau nafkah dari ayah kandungnya. "Kalau capek, minta Mbak Sri pijitin Ibu." Vero tertawa mendengar permintaan polos anaknya. "Kenapa bukan Disa aja yang mijitin Ibu?" "Disa masih kecil, lihat, tangan Disa kecil. Nggak bisa kalau harus mijit, nanti tangan Disa patah." Vero tertawa semakin kencang. Ia senang karena Disa selalu menjadi pelipur laranya, anaknya adalah sumber semangatnya. "Ada-ada aja kamu ini," ucap Vero sambil mencolek hidung anaknya. "Bu, Om Kai nanti malam ke sini lagi, kan? Iya, kan?" Dengan sikap manjanya, Disa menanyakan tentang kedatangan Kailin. Vero antusias, wanita itu menatap sang anak dengan penuh lekat. "Disa," panggil Vero lirih. "Iya?" "Disa mau nggak punya ayah baru?" tanya Vero penuh penasaran. Disa tampak berpikir, anak kecil itu diam membisu. Melihat anaknya hanya diam saja, Vero mencoba merayu anaknya. "Disa suka nggak sama Om Kai?" Disa mengangguk. "Disa mau nggak kalau Om Kai dateng ke sini setiap hari? Gambarin Disa, jemput Disa pulang sekolah, mau nggak?" Disa mengangguk antusias. Vero tersenyum senang. "Nah, kalau Ibu menikah sama Om Kai, Om Kai akan jadi ayah baru buat Disa. Nanti Om Kai bisa ke sini setiap hari, Disa bisa main sama Om Kai setiap hari. Mau kan?" Disa mengedipkan matanya berkali-kali. "Terus, Disa panggilnya gimana? Ayah?" "Iya, dong. Nanti Disa bisa panggil Om Kai dengan sebutan ayah. Disa mau kan?" Disa mengangguk cepat. "Iya, Disa mau. Disa mau punya ayah baru." Vero memeluk Disa dengan suka cita. Ia tak perlu merayu anaknya berlebihan karena nyatanya anaknya menyukai Kailin. . . Malam ini Kailin menepati janjinya mengajak anak dan istrinya jalan-jalan. Ia mengendarai mobilnya agar anaknya bisa duduk dengan nyaman. "Kaira mau beli boneka bebek?" tanya Kailin sambil menyetir. Ia beberapa kali melirik spion demi melihat sang anak yang duduk di bangku belakang. "Iya!" Kaira memekik senang sambil mengangkat tangannya berkali-kali. . Kani tersenyum melihat tingkah lucu anaknya. "Kaira senang, ya?" tanya Kani dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. "Senang, Ira mau beli dua, hore!" Kailin melirik istrinya sekilas, ia ikut tersenyum ketika melihat istrinya yang tampak begitu cantik dengan senyuman itu. Sejak ia memutuskan untuk menikahi Vero, ia baru menyadari betapa cantik dan sempurnanya Kani sebagai wanita. Wanita itu bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik, seolah tanpa cela. Ketika Kani masih sibuk menoleh ke bangku belakang sambil tersenyum melihat tingkah sang anak, Kailin tiba-tiba menyentuh dagu istrinya. Kani membulatkan matanya, bibirnya setengah terbuka, tak percaya lagi pada apa yang suaminya lakukan. Kailin berbisik. "Kamu cantik malam ini." Sungguh hancur perasaan Kani. Andai ia bisa melihat isi hati suaminya, ia ingin sekali melihatnya saat itu juga. "Kalau kamu melakukan semua ini karena rasa bersalahmu, aku nggak akan maafin kamu, Mas," batin wanita itu. Kani mengalihkan wajahnya. Wanita itu lalu menurunkan kaca pintu mobil hingga angin malam itu menabrak wajah ayunya. "Kenapa? Kamu gerah?" tanya Kailin. Kani menggeleng. "Aku cuma pengen begini, Mas. Anginnya seger." Wanita itu ingin menangis, meluapkan rasa sakit yang menggebu di d**a. Namun, ia menahannya, berharap angin malam yang segar itu membawa pergi rasa sakit yang ada di dadanya. "Sebisa mungkin aku akan bertahan. Jika tak bisa, maka akan aku lepaskan," batin Kani sambil memandangi cincin silver yang melingkar indah di jari manisnya. Ia sadar, pernikahannya dengan Kailin hanyalah pernikahan yang diatur oleh orang tuanya. Wajar saja jika Kailin tak menyukainya, pernikahan mereka bukan karena saling cinta. Kani merasa sakit karena nyatanya kini ia sudah jatuh cinta pada pria yang sudah 3 tahun ini resmi menjadi suaminya. Namun, yang lebih menyakitkan bagi Kani adalah melihat anaknya yang harus terkena imbas dari perbuatan ayahnya. Kailin akhirnya memarkirkan mobilnya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. Ia berencana mengajak buah hatinya untuk bermain di pusat permainan untuk anak-anak dan membelikan apa yang Kaira mau. Kaira begitu senang, anak kecil itu kini tengah menikmati es krim dengan wajah yang belepotan. "Kaira mau main apa? Mau yang itu?" Kailin menunjuk ke salah satu wahana permainan anak. Kaira mengangguk, Kani dan Kailin tersenyum bersamaan. Kaira baru saja memasuki arena permainannya. Ponsel Kailin tiba-tiba berdering, sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Vero. Wanita itu menagih janji Kailin untuk datang ke rumah, pasalnya Disa terus merengek agar bisa bertemu pria itu. Kailin melirik Kani, begitupun dengan wanita itu. Kani melihat sekilas panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal. Ia melihat nomor yang sama seperti nomor yang menelepon Kailin tadi siang. Ia tahu betul itu karena ia ingat 2 digit terakhir nomor ponsel milik Vero. Kailin menjauhi Kani lalu mengangkat telepon dari Vero. "Ada apa, Ve?" tanpa mengucapkan salam, pria itu langsung menanyakan alasan Vero meneleponnya. "Disa tanyain kamu ini, Kai. Katanya kamu mau dateng ke sini, dia nangis ini." Vero berbicara dengan suara manja. Kailin melirik istrinya yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan nanar. Ya, Kani memang tengah menahan air matanya agar tak jatuh. Wanita itu tahu bahwa orang yang sedang berbicara di telepon dengan suaminya adalah wanita lain-wanita yang tentunya ingin disembunyikan darinya. Kailin bingung. "Aku nggak bisa, Ve. Besok aja, ya. Anak aku masih sakit." Kailin sedikit berbisik, berharap istrinya tak mendengar ucapannya. "Jadi Disa emang nggak penting, ya, buat kamu?" Vero menaikkan suaranya. "Bukan begitu, Ve. Anakku bener-bener lagi butuh aku." "Kamu udah seharian sama anak dan istri kamu, aku sama Disa cuma minta sedikit waktu kamu. Apa sesulit itu? Sebenernya kamu serius nggak sih mau nikahin aku?" "Kamu bahas itu lagi? Aku kan udah bilang keputusan aku udah bulat. Besok malam, kita ke rumah orang tua kamu. Aku janji." Kani memanggil Kaira, anaknya yang tengah bermain itu berhenti bermain dan menatapnya. "Ibu mau ke toilet, Kaira sama Ayah dulu, ya?" Kaira mengangguk. Kani pergi begitu saja setelah pamit pada anaknya, ia bahkan tak menoleh pada sang suami. Air matanya hampir tumpah, ia hanya ingin lari dari situ dan bersembunyi. Kailin melihat istrinya pergi begitu saja tanpa pamit padanya. "Aku bener-bener nggak bisa malam ini, coba aku yang jelasin ke Disa." "Halo, Ayah. Ibu bilang Disa boleh panggil Om Kai 'Ayah'. Ayah kapan ke sini?" Kailin tercenung. Ia tak menduga kalau Disa akan memanggilnya dengan sebutan ayah, sebutan yang hanya biasa ia dengar dari bibir mungil Kaira. "Ayah?" panggil Disa lagi. "Eh, iya. A-Ayah sibuk, Disa. Ayah akan ke situ besok." "Nggak mau, Disa pengen ketemu Ayah sekarang. Pokoknya sekarang, Disa nggak mau makan kalau Ayah nggak ke sini." Kailin menggigit bibirnya. "Disa makan, ya, sekarang. Om janji, anu, maksudnya Ayah, Ayah janji akan ke situ. Kalau Ayah sampe situ, Disa belum makan, Ayah nggak akan mau main sama Disa lagi." "Tapi Ayah janji mau ke sini? Bener, kan?" "Iya. Ayah janji, kasih teleponnya ke Ibu." "Halo, Kai." "Aku ke situ, suapin Disa, jangan sampe dia nggak makan. Aku akan ke situ secepatnya." Kailin lalu mematikan ponselnya. Pria itu kemudian menghampiri Kaira dan merayu anaknya itu untuk pulang. "Maafin Ayah ya, Sayang. Ayah harus ke toko lagi. Ada pekerjaan penting. Kita beli boneka bebek, terus pulang, ya? Mainnya, besok-besok lagi." Dengan berat hati Kailin merayu putri kecilnya. Kaira memajukan bibirnya, ia terpaksa mengangguk, menyetujui permintaan ayahnya. Belum puas ia bermain, tetapi ia harus menyudahinya dan segera pulang. Kani masuk ke toilet, ia lalu membasuh wajahnya menggunakan air, berulang kali. Wanita itu lalu memandang bayangannya di cermin. "Kamu pasti bisa, Kani. Kamu pasti bisa! Semua demi Kaira. Ingat, dia butuh kasih sayang ayahnya." Kani berbicara pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya agar bertahan pada rumah tangganya yang sudah mulai goyah itu. Kani menengadah berkali-kali, menahan air matanya agar tak jatuh. "Jangan nangis, jangan nangis. Kamu pasti bisa!" Kani mengeringkan wajahnya menggunakan tisu, ia lalu mengeluarkan bedak padat dari dalam tasnya dan memoleskan bedak itu di wajahnya, tipis saja. Ia tak ingin mempercantik wajahnya, ia hanya ingin menutupi wajahnya yang memerah karena menahan tangis. Kani kembali menghampiri anaknya-Kaira yang kini sudah berada di pangkuan sang ayah. "Dari mana?" tanya Kailin penasaran. "Dari toilet, Mas. Kebelet tadi." Kani berbohong, tak lupa ia memamerkan senyum palsunya. Kailin mengangguk. "Kita beli boneka bebek, terus pulang, ya. Aku mau ke toko, Bambang tadi telepon, toko rame jadi dia nggak bisa cek laporan penjualan." Pria itu berbohong, istrinya hanya mengangguk mengiyakan, sebuah anggukan yang penuh misteri bagi Kailin. Ia jelas-jelas sedang berbohong, tetapi kenapa istrinya hanya diam saja. Kailin mengantar Kani dan Kaira pulang, ia lalu pergi ke rumah Vero. Kani menatap mobil suaminya pergi dengan tatapan buram, air matanya sudah memenuhi kelopak matanya. "Aku tahu poligami itu halal. Tapi, kalau sesakit ini, apa itu diperbolehkan? Ya Allah, angkat rasa sakit ini," batin wanita itu. Kani menggendong anaknya yang juga hanya diam menatap kepergian sang ayah. Tangisan wanita itu semakin menjadi karena ia tahu anaknya juga bersedih saat ini. Kaira memeluk boneka bebek dan memeluk ibunya dengan bibir yang tertutup rapat, tak ada rengekan, tapi tatapan matanya begitu sendu. "Kaira masih mau main lagi? Besok, mainnya sama Ibu aja, ya?" Kani mencoba merayu anaknya, walaupun ia sendiri sedang terluka. "Kaira mau sama Ayah." Kani menangis sejadi-jadinya. "Maafin Ibu, Sayang. Maaf, seandainya Ibu bisa menjadi istri yang baik buat Ayah kamu, Ayah kamu nggak akan cari istri lagi." Berkat rasa sakitnya yang luar biasa, Kani berbicara sesukanya. Mana mungkin Kaira paham atau mengerti tentang apa yang ia katakan. Kani tahu itu, hanya saja ia tetap mengatakannya karena ingin, setidaknya agar hatinya merasa lega. Bersambung... Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. PhiKey
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD