6. Senyum palsu

2323 Words
Tepat ketika Kani dan Kailin saling bertatapan, suara dering ponsel milik ayah Kaira itu berbunyi. Segera pria itu melihatnya, istrinya pun ikut melihat. Sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal. Nomor yang nyatanya milik wanita yang akan ia nikahi. Nomor Vero memang belum disimpan oleh Kailin. Pria itu dengan sengaja tak menyimpan nomor itu agar istrinya tak curiga. Selain itu, ia sudah hapal nomor ponsel janda cantik yang akan ia nikahi itu sehingga tak perlu repot-repot menyimpannya. Senyuman tampak surut dari wajah Kailin, ia terlihat salah tingkah di depan istrinya. Melihat gelagat aneh sang suami, Kani tentu saja merasa curiga. "Siapa, Mas?" tanya Kani penasaran. Kailin buru-buru menolak panggilan dari Vero itu. Hal itu malah semakin membuat Kani curiga padanya. "Entahlah, mungkin sales mau nawarin barang." "Kenapa nggak diangkat?" Kailin memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Nanti ganggu Kaira. Aku ke toko dulu, ya. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Kailin pergi setelah mengecup kening istrinya. Kecupan itu adalah kecupan atas rasa bersalahnya karena ia sudah berbohong. Dengan berat hati Kani membiarkan sang suami pergi. Baru saja ia merasa senang karena mendapat pengakuan sayang dari pria yang selama 3 tahun ini menjadi suaminya. Namun, perasaan senang itu tak berlangsung lama karena rasa curiga itu kembali menghantuinya. Kepergian Kailin kemarin malam, kesibukan yang tak biasa dan bahkan panggilan telepon yang ditolak, membuat wanita itu merasa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. "Kalau benar suamiku punya wanita lain, jangan biarkan anak hamba tahu, Ya Allah. Jangan biarkan anak hamba yang kena imbasnya." Wanita itu menangis dalam diam, ia tak ingin anaknya terbangun karena suara tangisannya. Dengan air mata yang masih terus menetes, Kani menatap lurus ke kamar, memperhatikan wajah polos anaknya. Ia tak ingin kekhawatirannya itu menjadi kenyataan. Ia ingin anaknya hidup bahagia dengan kasih sayang yang cukup dari ayah dan ibunya, sama seperti dirinya yang selalu mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya, hingga kini. Kailin tiba di toko. Vero masih saja meneleponnya. Sesampainya di toko, Kailin akhirnya menjawab panggilan telepon dari calon istri keduanya itu. "Assalamualaikum," ucapnya memberi salam. "Waalaikumsalam. Kai, bisa ketemu, enggak?" tanya Vero dari seberang sana. Kailin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko. Tokonya masih ramai, pekerjaannya belum selesai. Sementara ia harus pulang cepat karena Kaira sakit. "Ada apa, Ve?" tanyanya memastikan, jika bukan hal yang mendesak, ia akan menolak permintaan Vero. Janda muda yang cantik itu menangis. Suara tangisannya membuat Kailin merasa gusar. "Kamu kenapa?" tanya Kailin dengan nada tinggi. "Aku mau ketemu, kamu ke sini, ya." Vero meminta Kailin datang dengan suara mengiba. Pria itu mengalah, ia merasa tak tega mengabaikan Vero dengan keadaan seperti itu. "Baiklah, kita ketemu di mana?" tanya Kailin. "Di rumahku, aku tunggu sekarang juga." Vero segera mematikan panggilannya. Kailin memanggil Bambang. "Bang, tolong lanjutin cek nota barang masuk. Aku belum selesai tadi." "Bapak mau pergi lagi?" Bambang memekik penasaran. Baru saja Kailin pergi, kedatangannya malah hanya untuk pamit. "Apa anak Bapak sakit?" Bambang memang melihat Kani yang menggendong Kaira sambil menangis tadi ketika meninggalkan toko. Ia curiga kalau Kaira sakit, itu sebabnya Kailin pergi begitu saja sebelumnya. Kailin mengangguk dengan ragu. "Ya udah, Pak. Bapak rawat anak Bapak dulu aja, biar saya yang urus toko. Nanti kalau ada apa-apa, saya hubungi Bapak." "Baiklah, aku tinggal dulu." Kailin akhirnya pergi walau dengan perasaan bersalahnya. Ia memanfaatkan kondisi Kaira yang sedang sakit untuk menemui Vero, ia hanya bisa tertawa dengan kebod0han yang ia ciptakan sendiri. Kini Kailin sudah tiba di rumah Vero. Wanita itu masih saja menangis di ruang tamu. Kailin masuk dengan langkah pelan, langkahnya berhenti ketika melihat ada 3 gelas berisi teh yang masih penuh di meja. Kailin lalu duduk di sofa yang berbeda dengan Vero. "Kenapa? Apa yang buat kamu nangis begini?" tanya Kailin dengan suara lirih. Vero masih menangis sesenggukan. "Aku cinta sama kamu, Kai." Kailin bingung bukan main. "Iya, aku tahu. Aku pun cinta sama kamu, Ve." "Aku mau nikah sama kamu." Vero menatap Kailin dengan derai air matanya. "Iya, aku akan nikahin kamu." Kailin masih bingung. "Kamu jangan nangis terus, dong. Cerita, biar aku tahu masalahnya di mana. Biar kita cari solusinya sama-sama." Kailin menaikkan volume suaranya. Perasannya sedang kacau, Kaira sakit, Kani sempat marah padanya, dan kini ia melihat wanita yang ia cintai menangis sesenggukan di depannya. "Aku bohong tentang orang tua aku yang kasih restu sama pernikahan kita." Vero akhirnya mulai berbicara jujur. Kailin kaget, kini ia diam dan mendengarkan apa yang ingin wanita di depannya itu katakan. "Mereka nggak setuju, mereka maunya kamu ceraiin istri kamu. Kalau enggak-" "Kalau enggak, kenapa, Ve?" "Mereka nggak mau anggep aku sebagai anak. Aku nggak mau begini, Kai. Aku mau nikah sama kamu, tapi aku juga nggak mau jadi anak durhaka." Vero menangis semakin kencang. Perasaan Kailin semakin tak karuan. Hari ini adalah hari yang sangat buruk untuknya. Ia memijat pelipis kepalanya yang mulai terasa pusing dan penat. Ia tak tega melihat Vero menangis, tetapi ia tak bisa berbuat banyak saat ini. "Rasanya aku ingin mati aja kalau begini." "Jaga mulut kamu, Ve! Nggak baik ngomong begitu!" Kailin membentak Vero. "Pokoknya aku mau kamu nikahin aku!" Wanita itu tak mau kalah, ia ikut menaikkan volume suaranya. "Iya, aku akan nikahin kamu apapun yang terjadi. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh. Ada Disa yang butuh perhatian dan kasih sayang dari kamu. Aku juga masih cinta sama kamu, Ve." Vero menatap Kailin tajam. "Janji?" tanyanya. "Iya." Setelah emosinya mereda, Vero masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya yang tampak berantakan. Ia menangis cukup lama dan make-up di wajahnya belum sempat ia hapus sebelumnya. Vero kembali ke ruang tamu, mendapati Kailin yang rebahan di sofa. "Kamu capek?" tanyanya sambil duduk di sofa sebelumnya. "Kamu mau minum apa?" tanya Vero lagi. Kailin bangun, ia duduk dan melihat Vero yang kini tampil dengan wajah polos tanpa make-up. Wajah itu masih saja cantik, Kailin malah kembali mengingat kenangan mereka ketika masih berpacaran dulu. "Kamu cantik," ucap Kailin memuji janda beranak satu itu. "Dari dulu," jawab Vero yang ingin menyombongkan diri. Kailin tersenyum kecil. "Kamu mau minum apa? Teh? Kopi?" tanya Vero lagi. "Kopi aja." "Mbak Sri," panggil Vero, asisten rumah tangganya itu segera datang. "Iya, Mbak." "Tolong buatin kopi, ini juga tolong dibawa ke belakang aja." "Iya, Mbak." Sri membawa 3 cangkir berisi teh itu ke dapur dan lalu membuatkan kopi untuk Kailin. "Itu teh buat orang tua kamu?" tanya Kailin, Vero mengangguk. "Maaf," ucap Vero lirih. "Buat apa?" "Karena aku udah bohong. Harusnya aku jujur dari awal kalau aku belum minta izin dari orang tuaku." "Baguslah kalau kamu tahu kamu salah. Lain kali jangan diulangi." Kailin tersenyum pada Vero, janda cantik itu benar-benar merasa bahagia. "Kita ke rumah orang tuamu besok. Kalau malam ini, mereka pasti masih kaget dengan keputusan kamu." Kailin berbicara dengan pelan. Sri datang, meletakkan secangkir kopi di meja. "Ini kopinya, Mas." "Terima kasih, Mbak." Vero mendengus kesal. "Tapi kamu janji ya, kalau kamu tetep nikahin aku apapun yang terjadi." "Iya, Cantik. Aku pasti nikahin kamu, apapun yang terjadi." Sikap manja Vero memang menjadi kelemahan Kailin. Pria itu bisa melakukan segalanya karena perasaanya pada mantan kekasihnya itu. "Ya udah," ucap Vero sambil tersenyum malu, Kailin ikut tersenyum. Segala yang wanita itu lakukan, membuat ayah Kaira itu jatuh hati. "Ikut aku jemput Disa, yuk? Bentar lagi waktunya dia pulang." Vero memanfaatkan kesempatan agar semakin dekat dengan Kailin. Kailin tampak berpikir. Ia menimbang keputusan apa yang akan ia ambil. Pergi dengan Vero berarti pekerjaannya akan terbengkalai lagi, sementara Kaira sedang sakit di rumah dan butuh perhatiannya. Pria itu kembali mengingat wajah polos anaknya ketika minta ia gendong. Kailin meraup wajahnya dengan kasar. "Aku nggak bisa, toko lagi rame. Hari ini barang masuk banyak banget. Maaf, ya." Kailin memilih menolak ajakan Vero. Vero mengerucutkan bibirnya. "Apa aku sama Disa, nggak penting buat kamu? Aku masih kangen sama kamu, pengen sama kamu terus." "Bukan begitu, Ve. Aku serius, toko lagi rame. Lagian, kita belum resmi menikah. Kalau kita berdua terlalu lama, aku takut aku nggak bisa jaga kamu." "Makanya buruan nikahin aku." "Kalau nikahin kamu gampang kayak beli kacang di pasar, pasti udah aku lakuin dari kemarin-kemarin. Aku masih sibuk ngurus toko, kita juga belum dapet restu orang tua kamu." Kailin masih berbicara dengan volume suara rendah. Vero masih menekuk wajahnya, tapi ia tetap cantik di mata Kailin. "Jangan cemberut begitu, dong. Nanti cantiknya luntur, loh." "Bod0." Kailin tertawa. "Kamu nggak ngerti banget sih, aku tuh kesel. Aku maunya sama kamu terus." Vero masih bersikap manja, membuat Kailin merasa gemas. Seketika saja perasaan kacau di dadanya luntur, tergantikan dengan perasaan senang karena melihat tingkah Vero. Ia tak bisa menampik betapa ia menyukai wanita di depannya itu. "Ya udah, ayo jemput Disa. Tapi, habis jemput Disa, aku langsung balik ke toko, ya." Kailin menyerah. Vero tersenyum puas. "Ya udah, pake mobil aku aja, ya." Kedua manusia itu lalu pergi menjemput Disa pulang sekolah menggunakan mobil Vero. . Bambang sedang kebingungan. Ada beberapa barang yang ternyata tidak ada di toko, namun ada di nota. Ia kemudian menelepon Kailin untuk melaporkan hal tersebut agar bosnya segera komplain ke agen yang bersangkutan. Sayangnya, ponsel Kailin habis baterai. Pria itu tak sadar karena sibuk mengurus toko sejak tadi pagi. Setelah panggilan dari Vero, ponselnya mati karena habis baterai. Bambang semakin bingung karena tak bisa menghubungi Kailin. "Kalau nggak buru-buru komplain, takutnya sana malah nggak percaya," ucapnya lirih. "Ah, aku telepon Bu Kani aja." Bambang akhirnya menelepon Kani yang kala itu masih melipat pakaian. Ibu muda itu memang rajin, sambil menjaga anaknya yang masih tertidur, ia membereskan pekerjaan rumahnya pelan-pelan. Ketika ponselnya berdering, Kani segera menjauh dari sang anak agar anaknya bisa tidur nyenyak. "Halo, assalamualaikum, Bang. Ada apa?" tanya Kani lirih, wanita itu beberapa kali melirik Kaira dari luar kamar, memastikan anaknya tak terganggu suaranya. "Waalaikumsalam. Begini Bu, ada barang yang nyelip. Saya mau bilang sama Bapak biar Bapak bisa komplain secepatnya. Tapi nomor Bapak nggak bisa dihubungi, makanya saya telepon Ibu." Bambang menjelaskan panjang lebar. Kani terkejut. Yang ia tahu, suaminya pamit ke toko, nyatanya sang suami tidak ada di toko. Hatinya terasa sakit, firasat buruknya semakin menyiksa batinnya. "Bapak nggak di toko?" tanyanya memastikan. "Loh, Bapak bilang Kaira sakit, makanya nggak bisa di toko." Bambang mengaku jujur. Air mata Kani menetes pelan. Wanita itu susah payah menelan ludahnya, menahan sakit yang teramat dalam. Anaknya sakit dan membutuhkan perhatian ayahnya, tetapi demi pekerjaan ia rela anaknya ditinggal. Namun, kenyataannya, sang suami malah sibuk sendiri dan tak tahu apa yang dilakukan. Kani menggenggam tangan kirinya, sangat erat. Andai bisa marah, ia ingin marah saat ini juga. "Bu?" panggil Bambang karena Kani tak kunjung menyahut. "Bapak nggak ada di rumah, Bang. Apa kamu nggak bisa telepon nomornya?" Suara Kani terdengar gemetar, Bambang merasa curiga kalau istri bosnya sedang menangis. "Nggak bisa, Bu. HP-nya mati." "Ditunggu aja, ya, Bang. Mungkin sebentar lagi Bapak ke situ." Kani tak mampu lagi menahan tangisnya, ia buru-buru memutus panggilan telepon dari Bambang, tanpa salam. Bambang semakin bingung. Ia merasa bersalah pada Kani, ia curiga kalau Kailin melakukan hal yang tak seharusnya. "Apa Pak Kailin selingkuh?" celetuknya dengan suara lemah. Kani masuk ke dalam kamar mandi, ia menangis tersedu-sedu. Beberapa kali ia mengucapkan istighfar, tetapi ia terus menangis. "Apa bener kalau Mas Kai selingkuh? Apa bener kalau Mas Kai punya istri lagi? Ya Allah, kenapa sesakit ini." . Kailin segera kembali ke toko setelah menjemput Disa di sekolahnya. Pria itu menyadari kalau ponselnya mati setelah ia sampai di rumah Vero. "Aku langsung ke toko, ya." Vero mengangguk. "d**a Disa," ucap Kailin, Disa melambaikan tangannya. "Nanti malam ke sini lagi ya, Om." Disa sangat menyukai Kailin karena sejak perceraian orang tuanya, ia tak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Kailin mengangguk mengiyakan.  Sesampainya di toko, Kailin segera menghampiri Bambang. Karyawannya itu lalu melaporkan barang yang tak ada serta menceritakan kecurigaannya pada Kani. "Jadi, kamu telepon istriku?" tanya Kailin. "Bapak bilang Kaira sakit, saya kira Bapak di rumah. Tapi Ibu bilang, Bapak nggak ada." Kailin menjambak rambutnya. "Kamu bilang kalau aku nggak di toko?" tanyanya, Bambang mengangguk. Kailin mendesis kesal. "Sepertinya Ibu menangis. Maaf, Pak, saya nggak seharusnya telepon Ibu." Bambang merasa bersalah, ia takut dipecat. Kailin pergi begitu saja, ia takut Kani akan marah lagi padanya. Bambang berlari mengejar bosnya. "Gimana sama barang yang nyelip ini, Pak?" teriaknya. "Kamu telepon langsung ke agennya. Nomornya ada di buku besar, deket meja kasir. Aku pulang dulu." Kailin segera memacu sepeda motornya meninggalkan halaman parkir toko miliknya. Pria itu tak sabar ingin segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah, Kailin melihat Kani yang sedang menyuapi Kaira dengan jus alpukat di ruang keluarga. "Sudah pulang, Mas?" tanya Kani sambil tersenyum. Ya, wanita itu memutuskan untuk menelan rasa sakit hatinya seorang diri. Ia memilih diam walaupun hatinya terasa sakit, walaupun jauh di dalam sanubarinya, ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya. Namun, firasat buruknya membuatnya tersiksa. Kini, ia memilih diam dan pura-pura tidak tahu dari pada harus merasa sakit karena kenyataan yang ada. Kailin terkejut. Ia pikir Kani akan marah padanya, ia masih ingat kalau Bambang bilang Kani menangis. Bagaimana mungkin Kani tersenyum padanya saat ini, setelah apa yang terjadi. "Aku tadi nggak ke toko. Aku nemuin agen beras yang baru, yang tadi telepon aku." Kailin berbohong, suaranya terdengar gemetar. "Ow," sahut Kani singkat. Wanita itu sedang susah payah menelan ludah, menelan rasa sakit yang menggebu di dadanya. "Ayah," panggil Kaira dengan suara cedalnya. Kani tersenyum, lagi-lagi itu adalah senyum palsu demi menutupi rasa sakitnya. Kailin mendekat dan lalu menggendong Kaira. "Anak Ayah udah sembuh?" tanyanya, Kaira mengangguk sambil tersenyum senang. Melihat Kaira bahagia di gendongan Kailin, membuat wanita itu sadar bahwa kebahagiaan Kaira lebih penting dari pada perasaannya. "Aku akan diam, asal Kaira bahagia, asal Kaira bisa mendapatkan kasih sayang ayahnya," batin Kani. Kailin menatap istrinya. "Kenapa kamu diam? Kenapa kamu nggak tanya aku ke mana? Jangan diam, Kani. Aku takut." Kailin juga membatin. Ada banyak pertanyaan di benaknya, tetapi pria itu menahannya karena istrinya hanya diam saja. Ia terlalu takut membuka mulutnya, ia takut kalau ternyata istrinya tahu apa yang sudah ia lakukan. Ia takut istrinya meminta perpisahan. Bersambung... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD