Setelah pulang dari TK, Kani mengajak Kaira ke toko sang suami. Selain karena ingin membantu, wanita itu juga ingin memastikan sendiri kalau suaminya tak ada waktu untuk mencari wanita lain.
"Udah makan siang, Mas?" tanya Kani yang melihat Kailin sibuk mengecek barang. Karena semalam ia pergi ke rumah Vero, sejak tadi pagi ia sibuk mengecek laporan penjualan hari kemarin yang sudah seharusnya selesai dari kemarin.
Kailin menoleh, menyadari kalau Kani datang ke tokonya. "Belum, bentar lagi, sekalian sama solat. Nanti solat bareng, ya." Kailin tersenyum sesaat pada istrinya sebelum akhirnya kembali menatap barang-barang yang menumpuk di depannya.
Walaupun senang karena mendapat senyuman dari sang suami, Kani merasa sedih karena suaminya tak menyapa anaknya-Kaira. "Apa Mas Kai sesibuk itu sampai nggak nyapa Kaira?" batin Kani. Wanita itu menatap anaknya yang ternyata menatap sang ayah dengan tatapan polos.
Hati wanita mana yang tak curiga ketika perhatian sang suami mulai berkurang. Kani mungkin tak akan mempermasalahkannya jika ia yang mendapatkan perlakuan itu. Namun, ia merasa sakit hati karena melihat tatapan polos sang anak yang hanya sekedar ingin disapa oleh ayahnya.
"Ayah masih sibuk, kita bantuin Om Bambang aja yuk, Sayang." Kani akhirnya menggandeng Kaira dan mengajak buah hatinya itu menuju ke rak s**u. Di sana ada Bambang yang sedang menata s**u yang baru saja masuk ke toko hari ini.
"Siang, Bu. Siang, Kaira," sapa Bambang dengan senyum semringah.
Kani semakin merasa sakit hati. Ia tersenyum walau hatinya sedang terluka. Ketika Bambang yang bukan siapa-siapa Kaira malah menyapa anak kecil itu, sang ayah malah sok sibuk dan tak menyapanya.
"Rame banget, ya, Bang? Kok jam segini Bapak belum istirahat." Kani mencoba mencari tahu.
"Oh, Bapak dari tadi pagi sibuk cek laporan, Bu. Makanya baru bisa cek barang sekarang." Bambang yang tak tahu apa-apa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada istri bosnya.
"Loh, biasanya Bapak cek laporan kalau malem? Emang semalem rame banget? Sampe nggak bisa cek laporan?" Kani semakin merasa curiga. Ia ingat betul kalau semalam suaminya pulang lebih dari jam 9 malam. Itu artinya toko sedang ramai. Bahkan ketika Kaira demam, ia sengaja tak menghubungi sang suami agar tak mengganggu suaminya bekerja.
Tanpa rasa curiga, Bambang menceritakan kejadian sebenarnya. "Bapak semalem nggak di sini, Bu. Katanya ada urusan, laporannya saya kirim ke WA-nya Bapak."
Bagaikan mendapatkan pukulan keras di dadanya. Sakit! Kaki Kani melemah, tangannya gemetar dan degup jantungnya semakin cepat. Tangan kanannya yang masih menggandeng Kaira, semakin erat memegang tangan mungil itu. Sampai Kaira menjerit. "Ibu, sakit."
Kani segera melepas genggaman tangannya, menyadari kalau ia sudah melukai anaknya karena perasaannya yang sedang terluka itu. Ia ingin menangis, tetapi ia masih saja tersenyum demi menutupi perasaannya yang sedang tak karuan itu.
Kani berjongkok, lalu membelai lembut pipi anaknya. "Maafin Ibu, ya, Sayang. Ibu nggak sengaja."
Kaira mengangguk, Kani tersenyum lagi sebelum akhirnya ia berdiri.
"Kenapa, Bu?" tanya Bambang yang akhirnya menaruh curiga ketika melihat istri bosnya gugup.
"Ah, enggak. Aku nggak tahu kalau Bapak pergi semalem. Soalnya pas Bapak pulang, aku udah tidur." Kani berbohong. Ia masih saja menyembunyikan perasaannya di balik senyum manisnya. Bambang mengangguk mengiyakan, pria itu lalu kembali bekerja.
Setelah selesai mengecek barang, Kailin menghampiri Kani dan Kiara. "Ayo solat dulu," ucapnya pada Kani. Pria itu masih tak menyapa putri kecilnya, lagi-lagi Kani melihat sang putri yang sangat berharap diperhatikan sang ayah.
Kaira hanya diam, menatap polos pada sang ayah. Sementara Kailin langsung pergi begitu saja menuju ke belakang, ada ruang khusus yang memang ia sediakan untuk istirahat, solat dan makan.
Kani menuruti suaminya tanpa banyak kata. Sampai akhirnya ketika ia menemani sang suami makan siang, pria itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Kailin menatap nota-nota barang yang masuk, ia memang harus mengecek apakah ada barang yang harganya naik atau turun.
"Kaira mau makan lagi?" tanya Kani dengan suara lirih. Sesekali ia melirik sang suami, berharap suaminya mau membagi sedikit perhatiannya pada sang anak.
Kaira menggeleng. "Ira mau digendong Ayah." Suara gadis kecil itu terdengar lirih.
Kailin masih saja tak peduli. Mulutnya sibuk mengunyah makanan, sementara mata dan tangannya masih fokus dengan pekerjaannya. Baru kali ini Kani melihat suaminya yang sangat acuh pada anaknya, hatinya seolah teriris, begitu sakit sampai ia ingin menangis seketika.
"Ayah masih kerja. Nanti kalau Ayah udah istirahat, Kaira boleh minta gendong." Dengan suaranya yang lembut, Kani memberi tahu sang anak. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin marah pada sang suami.
Kaira menunduk lesu. Anak perempuan yang masih berusia 2 tahun itu sedang tak enak badan, ia kembali demam. Namun, Kani belum menyadarinya.
Kani mengembuskan napas panjang. "Mas," panggilnya lirih pada sang suami.
"Hm," sahut Kailin malas, pria itu masih melakukan apa yang ia lakukan tadi. Tanpa menoleh ke Kani, ia masih sibuk mengecek nota-nota barang masuk.
"Apa Mas sesibuk itu? Kaira minta gendong kamu itu." Kani akhirnya memberanikan diri.
Kailin akhirnya menoleh. Ia baru menyadari kalau sedari tadi ia tak memperhatikan anak dan istrinya dan hanya sibuk bekerja. Segera ia meletakkan nota yang sedari tadi ia pegang. Ia lalu menyapa Kaira dengan perasaan menyesal. "Maafin Ayah ya, Sayang. Maaf."
Kailin mencium kening sang anak setelah menangkup wajah anaknya dengan kedua telapak tangannya. Saat itu, ia baru sadar kalau anaknya demam.
Kailin membulatkan matanya. "Kaira sakit?!" Kailin memekik sempurna, ia terkejut karena suhu tubuh anaknya tinggi.
Kaira mengangguk. "Ira mau gendong Ayah." Dengan suaranya yang terdengar cadel, Kaira meminta perhatian dari ayahnya.
Kani yang terkejut mendengar suaminya memekik, segera ikut mengecek suhu tubuh anaknya. Ia mendengus kesal, merasa kesal pada dirinya sendiri karena tak sadar kalau anaknya sakit. Air matanya menetes begitu saja, tangannya menyerobot, menggendong Kaira dengan paksa.
Kailin terkejut. Tangannya baru saja akan terulur ketika anaknya meminta gendong. Namun, usahanya sia-sia karena saat ini Kani sudah lebih dulu menggendong buah hati mereka.
"Kaira mau aku gendong," ucapnya lirih.
"Kaira demam, biar aku bawa pulang aja. Toh Mas juga sibuk, Mas selesaiin dulu pekerjaan Mas."
Karena rasa kecewanya yang sudah menggunung, Kani pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sang suami. Ia pulang dengan menggunakan jasa ojek. Sepanjang jalan ia menangis sambil menggendong dan menciumi Kaira.
"Maafin Ibu, Sayang."
Setibanya di rumah, Kani segera mengambilkan obat untuk anaknya. Anak kecil itu hanya menurut apa yang ibunya katakan, meminum obat tanpa rentetan drama menangis atau lari-lari layaknya anak kecil pada umumnya.
Setelah meminum obat, Kani meminta Kaira rebahan di kasur. Wanita itu menyiapkan air untuk mengompres sang anak.
Saat itu, Kailin datang dan melihat istrinya yang sibuk mengurus sang anak sambil menangis. Tak ada suara rintihan, hanya sesekali suara Kani yang menyedot ingusnya.
Kailin merasa terpukul, perasaan nestapa menghampirinya. Ia tahu ia salah, melihat istrinya marah seperti itu adalah yang pertama baginya. Kali ini ia sadar kalau kesalahannya sudah fatal, karena ia tahu Kani adalah sosok wanita yang penyabar dan pemaaf. Jika wanita itu sudah marah, artinya ia benar-benar kecewa.
"Biar aku aja," ucap Kailin yang kini membungkuk, tangannya memegang handuk kecil yang masih Kani pegang. Wanita itu tak kuasa menahan tangisnya, ia lalu menyerahkan handuk kecil itu pada sang suami dan berlari meninggalkan kamar.
Kani berlari ke ruang tamu. Ia menangis tersedu, menyadari kalau ia tak seharusnya marah pada sang suami.
Kailin tersenyum pada Kaira. "Maafin Ayah, ya, Sayang. Ayah sibuk kerja sampe nggak tahu anak kesayangan Ayah sakit." Dengan suaranya yang gemetar, Kailin mencoba meminta maaf pada anaknya.
Kaira mengangkat kedua tangannya. "Gendong."
Kailin menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang menghantam dadanya. Ia tak kuat hati melihat anaknya yang masih berumur 2 tahun harus terkena imbas karena kesibukannya. Ia sadar kalau semua itu karena ia tak bisa membagi waktu dengan adil.
Kailin menggendong Kaira, anak perempuannya lalu bergelayut manja di pundaknya. Kaira tersenyum, ia senang karena akhirnya mendapatkan perhatian dari ayahnya.
"Belum juga aku menikahi Vero, tapi aku udah buat anak dan istriku menangis. Apa ke depannya aku bisa berbuat adil? Ya Allah, aku takut berbuat zalim kepada salah satunya nanti. Apa yang harus aku lakukan?" batin Kailin sambil mengelus punggung putrinya.
Janji adalah hutang. Hutang wajib dibayar. Kailin sudah berjanji akan menikahi Vero walaupun harus bersembunyi dari Kani-istri pertamanya. Namun, bukan berarti ia akan mengesampingkan kebahagiaan Kani dan Kaira. Yang ia inginkan adalah hidup bahagia dengan kedua istrinya. Akan tetapi, belum memulai pun, ia sudah dihadapkan dengan rasa sakit yang sulit dihindari.
Kailin menggendong Kaira sampai anaknya itu tertidur.
Setelah menidurkan anaknya, Kailin menemui istrinya yang masih duduk di ruang tamu.
Kani duduk melamun, ia sudah berhenti menangis.
Kailin duduk tepat di samping istrinya. Keduanya tampak canggung, sama-sama merasa bersalah.
"Maafin aku," ucap Kailin lirih. Sebagai kepala keluarga, ia memang pandai memenangkan hati istrinya. Ia memilih meminta maaf terlebih dahulu pada sang istri.
Kani menatap suaminya dengan tatapan sendu. "Aku yang seharusnya minta maaf, Mas. Nggak seharusnya aku pergi begitu aja dari toko tanpa izin kamu. Dan nggak seharusnya aku lebih mentingin emosiku dari pada keinginan Kaira buat kamu gendong. Aku yang salah, Mas. Aku udah kalah melawan hawa nafsuku."
Kani menunduk malu. Kailin lalu memeluk istrinya, matanya terpejam beriringan dengan perasaannya yang semakin tak karuan. "Aku paham kamu kecewa karena aku nggak perhatian sama anak kita. Aku yang salah, aku harusnya bisa membagi waktu aku dengan adil."
Kani menangis, ia terlalu malu pada suaminya yang ia anggap tak bersalah.
Setelah beberapa saat, Kani melepas pelukan sang suami dan menyeka air matanya. Beberapa kali wanita itu menyedot ingusnya agar tak keluar dari lubang hidungnya. Kailin tersenyum lalu membelai rambut sang istri.
"Udah nangisnya, aku nggak bawa permen ini." Kailin bercanda, walaupun garing nyatanya mampu membuat Kani tertawa.
"Mas balik lagi aja ke toko. Aku tahu Mas sibuk, biar Kaira aku yang jaga. Kalau ada apa-apa, nanti aku telepon."
Kailin menoleh menatap ruang kamar yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Ia melihat putrinya yang masih terlelap tidur. Ia ingin sekali menemani putrinya, tetapi pekerjaannya memang sangat banyak.
Melihat suaminya yang terlihat ragu-ragu, Kani meraih tangan suaminya dan menepuk punggung tangan pria itu pelan. "Nggak apa-apa. Nanti usahain pulang cepet, ya. Biar aku yang jaga." Kani tersenyum. Wajah ayunya yang terlihat sederhana tanpa make-up berlebih itu terasa meneduhkan.
Mengingat kembali di saat awal-awal mereka dijodohkan, Kailin sama sekali tak memiliki perasaan untuk Kani. Ia hanya ingin menuruti keinginan orang tuanya, berbakti pada kedua orang yang sudah membesarkannya selama ini. Siapa sangka, wanita yang terkenal pendiam dan lemah lembut itu kini sudah menempati sebagian ruang di hatinya. Bagaimana bisa ia mengabaikan fakta itu, melepas Kani adalah hal yang tak akan bisa ia lakukan.
"Aku sayang sama kamu."
Sebuah kalimat mesra yang baru pertama kali Kailin ucapkan untuk istrinya. Kani membulatkan matanya, ia tercenung beberapa saat karena ia terkejut sekaligus bahagia. Bagaimana tidak, ia mendapatkan pengakuan yang membuat degup jantungnya semakin cepat. Selama pernikahannya berlangsung, baru kali ini Kailin mengaku sayang padanya.
Keinginan Kani untuk menanyakan ke mana perginya Kailin kemarin malam ia urungkan. Wanita itu sedang berbahagia, ia yakin sang suami tak akan menyakitinya seperti apa yang ia takutkan. "Terima kasih, Mas."
Kailin memajukan bibirnya. "Kok terima kasih?"
"Lalu?"
"Orang tuh kalau dapet pengakuan sayang, cinta, ya dijawab dong."
Kani mengerutkan kening. "Kan udah aku jawab."
"Maksud aku, kamu jawab, aku juga sayang sama kamu, atau aku cinta kamu. Masak terima kasih? Emang kamu nggak sayang sama aku?" Tiba-tiba saja Kailin bersikap manja pada istrinya. Kani sampai heran melihat tingkahnya.
"Memang harus ya aku jawab seperti itu. Aku jawab terima kasih itu tulus. Aku tahu kita menikah karena dijodohkan, dan sekarang Mas bilang sayang sama aku, tentu saja aku bersyukur."
"Terus? Kamu nggak sayang sama aku?!" Kailin menaikkan volume suaranya.
"Sssttt!" Kani meminta suaminya untuk diam.
"Kaira tidur." Kani melotot.
Kailin kesal. Pria itu lalu mencium sang istri, mengecup wajah sang istri berkali-kali di tempat yang berbeda-beda.
Kani merasa geli. "Ampun, Mas," ucapnya sambil menggeleng ke sana dan ke mari untuk menghindari kecupan dari sang suami.
"Aku akan cium kamu terus sampe kamu bilang sayang sama aku." Kailin memegang kepala istrinya dan kembali menghujani wanita itu dengan kecupannya.
"Ampun. Iya, aku sayang sama kamu." Kani akhirnya menyerah dan menuruti keinginan sang suami. Keduanya sama-sama tertawa karena bahagia.
"Andai saja aku nggak buru-buru janji sama Vero. Aku nggak akan tersiksa seperti ini," batin Kailin.
"Mas Kailin sayang sama aku. Aku yakin dia suami yang setia," batin Kani.
Bersambung...