Wanita paruh baya itu mengamati Emily sejenak. Memperhatikan gerak-geriknya yang duduk dengan tenang namun matanya bergerak kesana-kemari mengecek ruangan.
"Kau terlalu tenang.",
Emily menoleh menatap wanita itu, lalu engerutkan keningnya. "Maksudnya?",
"Kau begitu tenang dan tidak gelisah.",
"Ini bukan pertama kalinya aku ke tempat seperti ini.", balas Emily cepat.
Wanita itu mencatat sesuatu. "Lalu apakah membuahkan hasil?",
Emily tidak menjawab. Ia menunduk dan memainkan ujung kemejanya.
"Tidak perlu merasa terpaksa menjawab semua pertanyaanku. Kalau kau tidak mau kau bisa diam.",
"Ya.",
"Apakah kau masih melihat kilatan kilas balik kejadian malam itu?",
"Masih. Tapi jarang muncul ketika aku sadar. Hanya saat aku memejamkan mata.", karena itu terkadang Emily sampai merasa paranoid dan dihantui baik di alam sadar maupun mimpi. Rasanya tidak ada tempat yang aman untuknya.
Sambil melepaskan kacamata bacanya. Ia bertanya lagi. "Jadi kau masih insomnia?",
Ia mengaitkan kacamata itu di kancing kemejanya. Lalu melipat tangan diatas meja dan menyipktkan mata.
Emily mengangguk kecil. "Iya. Aku masih mengalami insomnia.",
"Baiklah aku akan meresepkan obat agar mempermudah tidurmu. Tapi selain itu kau harus menjalani terapi dan konseling.",
Emily tersenyum miris. Ia pikir selama ini dirinya berhasil pulih. Hanya saja masalah insomnianya yang belum juga sembuh membuatnya harus datang kemari. Ternyata ia salah. Mungkin karena ia mendianogsa dirinya sendiri dan hanya mengkonsumsi obat tanpa mengikuti terapi dan konseling. Untuk kali ini? Sepertinya ide yang bagus. Dirinya memang harus menjalani ini semua. Lagipula masalah Steven juga mengganggunya. "Apapun yang terbaik.",
Wanita itu tersenyum seolah memberi Emily semangat. "Tenang saja. Kau pasti bisa melewati ini semua.", katanya optimis.
Emily membuang pandangannya keluar jendela. "Aku harap...", gumamnya tidak terdengar.
"Kalau begitu akan kubuatkan jadwal untukmu. Kau bisa menunggu di depan sekaligus menunggu obatmu.",
"Sudah selesai?", tanya Emily bingung. Bahkan hanya dua puluh menit ia berada di sini. Ia pikir- psikiater terbaik di London akan membutuhkan waktu lebih lama.
Wanita itu mengangguk. "Untuk hari ini sampai disini saja.", ia mengulas senyum tipis dan mencatat sesuatu. Kemudian ia menyodorkan kertas itu pada Emily. "Sampai jumpa di sesi berikutnya.",
Emily tersenyum dan bangkit berdiri. Ia mengambil kertas itu. "Terima kasih.",
"Sama-sama.",
Emily mengambil jaketnya yang tergantung di tiang kayu di dekat pintu sambil lalu. Di luar ruangan. Ia duduk di bangku tunggu di lorong utama untuk menunggu jadwal dan obat miliknya sambil memainkan ponsel.
"Masih satu jam setengah sebelum Aram menjemputku.", gumam Emily ketika melihat jam di layar ponselnya. Ia mencoba berpikir kemana ia harus menghabiskan waktu.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya untuk mampir ke ruko miliknya yang kebetulan tidak jauh dari sini. Berjalan kali hanya memakan kurang lebih sepuluh menit.
Selama ia mendapat hadiah itu. Emily belum sempat melihat secara langsung ruko pemberian Eaton lima tahun lalu. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat.
"Emily Heywood!",
Emily mengangkat tangannya. "Ya.", ia buru-buru memasukkan ponselnya kembali kedalam tas, memakai jaketnya sebelum mengambil obat dan jadwal untuknya di meja administrasi sekaligus apotek kecil.
Setelah selesai. Emily memasukkan semuanya ke dalam tas. Dengan antusias ia berjalan keluar dari gedung. Tanpa disadari- bibirnya terukir senyuman lebar hingga membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum.
Namun tidak bertahan lama. Senyuman itu perlahan pudar tak kala melihat seorang pria berdiri bersandar pada pilar kanopi di depan pintu gedung. Pria itu menunduk dan sibuk memainkan ponselnya.
"Aram? Apa yang kau lakukan disini?",
Aram mendongak menatap Emily. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku jaket kulitnya. "Menjemputmu. Apa lagi?",
"Ini belum pukul satu siang.",
"Aku tahu. Tapi sesimu selesai lebih cepat bukan?",
Emily mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau tahu?",
Aram meneggakkan tubuhnya. "Apapun bisa kucari tahu.", jawabnya. "Kenapa kau tidak menghubungiku jika sudah selesai?",
Emily mengangkat bahunya samar. "Aku pikir kau bekerja. Jadi aku tidak ingin mengganggumu.", ia tidak berbohong untuk itu. Memang benar itu alasannya. Kemudian Emily memanfaatkan kesempatan itu namun gagal.
"Kau lupa aku pemilik Langford International Group? Aku tidak bekerjapun pundi-pundi uangku tetap terisi.", katanya sambil melipat tangan di depan d**a.
Baiklah. Satu hal lagi yang Emily ketahui tentang Aram. Selain diktator, pria itu terlalu percaya diri! Emily hanya memutar matanya.
"Ayo.", Aram sedikit menyeret Emily dengan menarik jaket wanita itu.
Mereka berdua menyebrang menuju ke sebuah ducatti yang terparkir di tepi jalan. Emily mengerutkan keningnya samar. "Apa ini?",
Aram yang sudah duduk diatas motornya mendongak menatap Emily. "Motor.",
"Anak kecil juga tahu kalau ini motor.", gerutu Emily.
"Ducatti Superlegerra V4.", timpalnya sambil memakai helm. Kemudian ia sibuk melepaskan pengait helm lainnya.
"Jadi kau pecinta motor?",
Aram menggeleng. "Tidak juga.", lalu ia membuat gerakkan memanggil pada Emily.
Emily mengambil selangkah lebih dekat dan Aram langsung memasangkan helm dikepalanya. "Sekarang naiklah.", katanya sambil membuka kaca helm Emily.
Emily ragu. Ia tidak pernah naik sepeda motor sebelumnya. "Bagaimana caraku naik? Motornya terlalu tinggi.",
Tiba-tiba Aram mengulurkan tangannya. Tubuhnya sedikit diputar miring agar dapat menghadap Emily. "Pegang tangan dan bahuku.",
"Seperti ini?", tanya Emily memastikan ketika ia menuruti perkataan Aram. Tangan kirinya ada di genggaman Aram dan tangan kanannya ada di bahu kanan pria itu.
"Kau lihat pijakan itu?", Aram menunjuk dengan matanya. Ia melirik besi di dekat roda yang menjulur keluar.
Emily menunduk mengikuti arah pandang Aram. "Iya.",
"Injak dengan kaki kirimu dan dorong tubuhmu naik. Aku akan menahanmu.",
"Sepertinya mudah.",
"Coba saja.",
Sebelah kaki Emily mulai dipijakkan diatas besi itu. Ia mendorong tubuhnya keatas dan Aram dengan cepat menarik tubuh Emily hingga wanita itu berhasil duduk.
"Pegangan yang erat.",
"Hmm?", Emily mengerjap sebelum menyadari apa yang dikatakan Aram. "Oh baiklah.", katanya sambil menyentuh kedua bahu lebar Aram.
Mesin menyala. Seketika suara menggelegar mesin dari motor itu terdengar. Bisa dipastikan semua orang disekitar mereka langsung menoleh. "Kita berangkat.", Aram menutup kaca helemnya, menginjak memasukkam gear, dan melaju.
...
Mereka berdua sampai sejak lima menit yang lalu. Tapi Emily masih duduk diatas motor, memeluk Aram erat, dan memejamkan matanya.
"Kau mau ikut aku pulang?", tanyanya sambil melepas helm, lalu sebelah tangannya membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia sedikit menelengkan kepalanya untuk melihat Emily yang tidak bergerak sedikitpun.
Emily membuka matanya dan meneggakkan kepalanya. "Kita sudah sampai?",
"Ya kita sudah sampai.",
Emily melepaskan pelukannya. Ia turun dari atas motor dengan jantung berdebar. Pandangannya juga menggelap sesaat karena kepalanya terasa berputar.
"Sekali saja. Aku tidak ingin naik motor lagi.", katanya sambil melepaskan helm.
"Apa karena aku terlalu cepat?", tanya Aram saat menyadari wajah Emily yang tampak shock dan pucat.
Emily meneguk salivanya susah payah sebelum mengangguk kaku. "Iya.", jawabnya singkat
Aram akui ini salahnya. Seharusnya ia tidak melaju cepat dan membuat Emily takut. Ia turun dari atas motor. Kemudian mengambil alih helm di pelukan Emily dan meletakkannya diatas motor.
"Aku akan membuatkanmu teh.", Aram harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Jadi ia berpikir untuk mampir untuk membuatkan teh hangat agar Emily merasa lebih baik.
Namun Emily menolak. "Aku tidak apa.",
Aram mendesah pelan. "Maafkan aku.", sejujurnya dua kata itu nyaris tidak pernah diucapakannya. Tapi saat ini rasanya adalah saat yang tepat untuk meminta maaf.
"Tidak perlu minta maaf.",
"Tetap saja aku harus minta maaf. Aku tidak akan me-",
Ucapan Aram terpotong karena Emily tiba-tiba berlari menuju taman di tepian drive way dan membungkukkan tubuhnya untuk muntah. Aram langsung membantu Emily dengan menarik rambut panjang wanita itu dan menahannya. Sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung Emily kemudian mengusapnya perlahan.
"Jangan melihatku.", kata Emily sambil menoleh kearah berlawanan dari Aram. Ia mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengusap bibirnya.
"Aku akan membuatkanmu teh.", nada bicara Aram lebih seperti perintah ketimbang permintaan.
Emily meneggakkan tubuhnya. "Aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkanku teh. Aku tidak ingin merepotkanmu.",
Aram melipat tangannya di depan d**a dan menatap Emily dengan sebelah alis terangkat. "Aku tidak menerima penolakan.",
"Baiklah kalau begitu.", Emily pasrah. Ia tidak ingin memulai pertengkaran dengan Aram. Terlalu dini memulai permusuhan dengan calon kakaknya ini. "Dengan satu syarat.",
"Apa?",
"Lain kali jangan menjemputku dengan motor. Bawa mobil saja.",
...
Setelah menghabiskan secangkir teh hangat, Aram tidak langsung pulang dan bersikap sopan dengan menerima tawaran Emily. Wanita itu mengajaknya berkeliling ke sekitar mansion untuk melihat-lihat sekaligus berbincang mungkin beberapa hal. Lagipula, Aram sendiri tidak memiliki pekerjaan yang penting setelah ini. Untuk itu ia memutuskan mengikuti apa yang Emily rencanakan. Sekaligus mendekatkan diri pada Emily yang akan menjadi adiknya.
"Tentang mobil.", kata Aram membuka pembicaraan ketika mereka berjalan pada batuan setapak yang mengarah menuju rumah kaca.
Emily menoleh. "Ya?",
"Itulah alasan kenapa aku membawa motor hari ini.",
Emily berhenti melangkah dan menatap Aram dengan mata menyipit.
"Apa?", tanya Aram.
"Tidak apa. Hanya saja aku tidak mengira kau cukup tahu banyak.", kata Emily. Dalam hati ia menyesali perkataan bodohnya. Tentu saja Aram tahu tentang kecelakaan itu. Bahkan seluruh penduduk London tahu.
Aram menggeleng pelan sebelum mereka berdua kembali berjalan. "Sebenarnya aku tidak tahu apa-apa.", sahutnya. "Aku hanya tahu jika kau tidak bisa menaiki mobil. Mungkin itulah alasan kenapa kau juga ada janji temu dengan Dokter Willsburgh. Sebatas itu.", untuk kalimat ini bisa dipastikan adalah dusta.
Pada awalnya Aram memang tidak tahu sampai ayahnya yang menyebut. Dan akhirnya ia mencari tahu semuanya sampai membayar mahal seorang detektif swasta untuk menyelidiki cerita itu. Lagipula di internet tidak terlalu banyak berita yang disajikan karena beberapa tahun lalu- Natalie Heywood meminta semua berita yang menyangkut kecelakaan itu dihapus agar Emily tidak dapat membacanya.
"Oh.", Emily mengusap tengkuknya.
"Tenang saja. Lain kali aku akan membawa mobil. Jadi kau tidak perlu khawatir jika muntah setiap saat.",
"Ya itu ide yang lebih bagus."
Aram menggeleng sambil terkekeh pelan. "Kau tahu? Ayahku bahkan sempat menyuruhku menjemputmu dengan helikopter.",
"Benarkah?", Emily mendengus geli.
"Iya. Kami pikir kau sampai saat ini masih- kau paham maksudku?",
"Aku paham.", jawab Emily cepat. Kemudian ia membuka pintu rumah kaca dan mempersilahkan Aram masuk. "Silahkan.",
Aram mengedarkan pandangan ke seluruh rumah kaca yang tampak begitu indah dipenuhi banyak sekali tanaman hias. Ia berdehem sebelum bertanya, "Kau atau ibumu yang suka bercocok tanam?", ia menelengkan kepalanya seolah menunggu Emily berdiri di sisinya.
"Ibuku.", jawabnya ketika sudah berdiri di sisi Aram.
"Kalau kau?",
"Aku?",
"Apa yang kau suka?",
"Hmmm.", Emily berdehem dan berpikir sejenak. "Sejujurnya aku tidak memiliki hobi yang jelas. Banyak sekali kegiatan yang kusuka.",
"Sebutkan satu.", Aram menghadap Emily sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Menembak?",
"Menembak?", Aram terkejut. Ia sampai mengulangi pertanyaan Emily.
Emily mengangkat bahunya. "Dulu aku sempat bercita-cita ingin menjadi FBI. Jadi aku mengikuti kelas menembak dan bela diri.",
"Dengan badan sekecil ini kau ingin menjadi FBI?", Aram meneliti tubuh Emily dari atas kebawah.
Mungkin jika orang lain yang mendengar perkataan Aram akan tersinggung. Namun tidak dengan Emily. Ia malah tertawa.
"Jangan salah! Dulu aku gendut dan besar. Jadi aku sangat percaya diri jika aku bisa memukul penjahat.",
Aram mendengus geli. "Seberapa gendut?", tanyanya.
"Sangat gendut.", jawab Emily cepat.
"Aku jadi penasaran apakah Emily kecil yang gendut masih terlihat sama menggemaskannya dengan sekarang?",
"Hmm? Kau bilang apa?",
"Memangnya apa?", Aram balik bertanya untuk menghindari mengulang jawabannya tadi. Ia melipat tangannya di depan d**a. "Apa yang kau dengar?",
Emily berdecak lidah. Ia benar-benat tidak mendengar apa yang Aram katakan.
"Lupakan.", Aram mengibaskan tangannya. "Kapan-kapan tunjukkan padaku foto kecilmu.", tambahnya kemudian.
"Hmmm tunggu aku ada waktu untuk mencari album foto di perpustakaan.",
Aram mengangkat sudut bibirnya. "Nanti aku juga akan menunjukkan padamu foto kecilku."
"Apa kau juga gendut dulunya?",
"Tidak.",
Emily mendengus geli. "Lalu untuk apa aku melihat foto kecilmu jika tidak ada yang berubah?",
"Siapa tahu kau ingin melihat ketampanan murni sejak lahir.", jawab Aram penuh percaya diri. Ia berjalan kearah air mancur batu berukuran sedang yang ada di tengah rumah kaca. Emily mengikutinya dari belakang sambil memutar mata.
"Kau benar-benar orang yang percaya diri.", komentarnya.
Aram hanya melirik Emily sekilas. "Karena semua yang kukatakan itu fakta.",
Benar juga.
Semua yang pria itu katakan memang benar. Aram Langford merupakan salah satu bujangan paling diidamkan di London. Ia juga termasuk kedalam tiga puluh besar pria pembisnis sukses di bawah usia tiga puluh tahun menurut majalah Forbes UK. Selain itu, ia juga memiliki sederet penghargaan lain mengenai semua kekuasaan, kekayaan, dan ketampanan yang benar-benar mendukung reputasinya. Jadi jika ia menyombongkan diri, Emily yakin orang lain-pun tidak mungkin mencercanya. Termasuk Emily. Ya, mungkin ia bisa mencerca Aram mengingat mereka akan menjadi keluarga nantinya. Lagipula, hubungan persaudaraan tanpa ada perdebatan rasanya kurang masuk akal.
"Salju turun lebih cepat.",
Lamunan Emily terbuyar mendengar Aram. Ia mendongak menatap kearah atap rumah kaca yang mulai dihujani bintik-bintik salju. Detik itu juga jantungnya tiba-tiba berdebar. Sekilas ada kilatan yang menunjukkam gambar jalanan cotswold yang dihujani salju sebelum kejadian itu terjadi. Saat itu juga sama- salju turun lebih cepat dibandingkan prediksi semestinya di bulan Januari. Dan ini pertama kalinya ia kembali melihat salju turun.
"Hei. You okay?", Aram bertanya sembari menyentuh bahu Emily karena ia melihat wajah wanita itu mulai menegang.
Emily meneguk salivanya dan menggeleng kaku. "Bisakah kita kembali kedalam?", tanyanya
Aram merangkul membawa Emily keluar dari rumah kaca dan segera membawanya masuk kedalam mansion sebelum sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.
...