Chapter 9 : A Little Gift For Someone

1940 Words
"Bagaimana menurutmu?", tanya Maureen sambil mengangkat dua tas yang berbeda. Tas di tangan kanan wanita itu memiliki model yang simpel dan elegan dengan warna hitam berbahan kulit buaya. Jadi terlihat tekstur sisik yang sangat bagus. Sedangkan tas di tangan kiri lebih feminin dengan warn putih tulang. Dibagian tutup tas model amplop itu terdapat bordiran bunga-bunga. Emily mencoba berpikir beberapa detik sebelum mengatakan. "Aku lebih menyukai yang hitam.", jawabnya sambil menunjuk. "Aku juga. Hanya saja hitam bukanlah warna yang disukai ibuku.", Maureen menyodorkan tas yang berwarna putih kepada sales girl di sisinya. Lalu memperhatikan tas yang hitam lebih detail. Siang ini Emily dan Maureen menuju kesalah satu distrik perbelanjaan untuk mencari kado untuk natal. Dan saat ini mereka berdua berada di toko tas bermerk perancis dengan logo pria bersama kuda yang menarik kereta. "Kalau begitu yang putih.", kata Emily singkat. Ia berdiri karena mulai pegal sedari tadi duduk selama Maureen memilih hadiah untuk ibunya. Maureen berdehem pelan. "Aku beli dua-duanya.", ia menyodorkan tas hitam itu kepada sales girl tadi. "Yang hitam ini dan yang putih tadi.", Mendengarnya membuat Emily memutar matanya. "Kalau kau beli dua-duanya untuk apa bertanya pendapatku.", gerutunya. Maureen meringis. Ia menaikkan tas tentengnya yang sejak tadi tersampir di lipatan sikunya keatas bahu. "Maafkan aku.", katanya. "Ngomong-ngomong... apa tidak ada yang ingin kau beli disini?", "Tidak ada.", "Baiklah, aku akan membayar belanjaanku. Kau tunggu disini?", "Oh aku akan ke toko sebrang. Kau bisa menyusulku.", Maureen memiringkan kepalanya agar pandangannya tidak terhalang tubuh Emily. Ia melihat keluar jendela. Kearah toko yang dimaksud Emily. Toko itu merupakan toko pakaian untuk pria. "Bukankah kau sudah membeli hadiah untuk Nate?", tanyanya bingung. Ia melihat kearah salah satu kantung belanjaan yang dibawa Emily. "Bukan untuk Nate.", jawab Emily sanbil menggeleng. "Steven?", Emily mengangguk kecil. Ia sudah memikirkan semuanya selama seminggu belakangan. Ia memutuskan untuk mengundang Steven ke makan malam natal di rumahnya. Anggap saja sebagai awalan untuk memperbaiki hubungan mereka. Tentu sebagai teman. "Jadi kau akan kembali menjalin hubungan dengannya?", Emily mendesah panjang. "Kenapa semua orang berpikir aku akan kembali padanya?", "Mungkin saja.", Maureen mengangkat bahunya santai. Emily mengibaskan tangannya. "Sudahlah. Aku pergi dulu.", katanya sambil lalu. Maureen terkekeh geli sambil menggeleng pelan sebelum ia beranjak menuju kasir. Sedangkan Emily kini menyebrangi jalan dan masuk ke toko. Di dalam toko. Emily disambut ramah dengan seorang laki-laki yang tampak seumuran dengan adiknya. Ia tersenyum lebar sambil memberi salam. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?", Emily membalas senyuman itu. Kemudian matanya mengedar keseluruh toko untuk mencari sesuatu yang menarik sebagai kado natal. Karena membeli kado untuk seorang pria tidaklah mudah. Tidak banyak pilihan yang tersedia seperti wanita yang memang memiliki kebutuhah lebih banyak. Hanya terbatas pada pakaian, sepatu, jam, dan parfum. "Aku ingin mencari jaket.", putusnya. Laki-laki itu mempersilahkan Emily melangkah terlebih dahulu. "Mari ikut saya. Akan saya tunjukkan beberapa koleksi terbaru.", Ketika sudah pada bagian pakaian. Emily mulai memilih jaket yang menurutnya cocok untuk Steven. Pada akhirnya, pilihan Emily jatuh pada jaket berwarna cokelat dari bahan bludru tebal. Ia yakin jika warna tersebut akan cocok dengan Steven. "Bisakah aku meminta ukuran setingkat lebih besar?", tanya Emily sambil menunjukkan jaket yang diinginkannya. "Mohon ditunggu. Akan saya ambilkan didalam.". Emily mengangguk kecil. Setelah laki-laki itu berlalu. Ia menunggu sambil melihat-lihat barang lainnya. Tidak lama kemudian Maureen datang menghampirinya. Namun ditangan wanita itu tidak ada satupun barang belanjaan membuat Emily mengerutkan keningnya. "Dimana semua barang yang kau beli?", Maureen menunjuk dengan jempolnya kebelakang. "Sudah kumasukan kedalam mobil agar aku bisa membantumu.", Emily tersenyum simpul. "Kau memang teman yang baik.", katanya sambil menyodorkan beberapa kantungan kertas kepada Maureen. Maureen menerimanya. "Jadi kau membeli apa?", "Jaket.", "Jaket?", "Memangnya apalagi?", Maureen mengangkat bahunya. "Aku pikir kau akan membeli sepatu atau jam.", Emily paham dengan maksud perkataan Maureen. "Maksudmu sesuatu yang lebih mahal?", "Yap.", Emily memutar matanya. "Kau lupa jika Steven tidak menyukai hadiah yang mahal? Aku yakin dia juga tidak akan menyukai jaket yang kubeli kali ini kalau tahu harganya.", Steven mungkin tidak memiliki kekayaan yang sebanding dengan keluarga Emily. Meskipun pria itu masih dapat dikategorikan sebagai orang yang sangat mampu mengingat kedua orang tuanya berprofesi sebagai pengacara ternama. Semua kasus yang mereka tangani tidak main-main, bahkan sebagian besar biliyuner London dan orang-orang berpengaruh lainnya memakai jasa kedua orang tuanya. Sama halnya dengan Steven, pria itu mengikuti jejak kedua orang tuanya dan dari sanalah ia belajar jika ingin menghasilkan banyak uang akan butuh pengorbanan yang besar. Ittulah alasan mengapa Steven dapat menghargai uang lebih baik dibandingkan dirinya, sehingga terkadang pria itu marah pada Emily jika dirinya membeli barang mahal dengan manfaat yang sama dengan barang yang lebih murah. "Benar juga.", gumam Maureen. Mereka tidak lagi melanjutkan pembicaraan karena laki-laki tadi kembali sambil membawakan jaket dengan ukuran yang diinginkan Emily. Setelah memastikan tidak ada yang cacat, Emily menyuruh laki-laki itu untuk membungkusnya. "Setelah ini kita kemana?", tanya Maureen. "Supermarket. Aku mau membeli beberapa bahan untuk membuat pastry", jawab Emily sambil lalu menuju kasir. Maureen mengikuti Emily. Ia bertepuk tangan karena senang dapat menikmati kue buatan Emily pada saat natal pertama mereka setelah sekian lama. "Bisakah kau membuat cinnamon roll?", Emily tidak menjawab membuat Maureen mengerutkan keningnya. Wanita itu kini berhenti pada sebuah etalase berisi jam tangan. "Katamu Steven tidak menyukai barang mahal.", sindirnya setelah berdiri di sisi Emily. Wanita itu tampak serius melihat jam-jam di balik kaca itu. "Aku akan membelinya untuk Aram.", "Siapa?", Maureen mengerjap. Emily memalingkan wajahnya dan menjawab dengan santai, "Aram Langford.", "Dia juga datang?", Maureen terkejut mendengarnya. "Tentu saja. Kenapa tidak?", Maureen tersenyum lebar. "Saat makan malam untuk menyambutmu kembali. Ia tidak datang. Jadi kupikir....", ia menggantung kalimatnya. "Kali ini ia datang.", Maureen melompat kegirangan seperti anak kecil yang dibelikan lolipop oleh kakaknya. Emily menatap sahabatnya itu dengan pandangan horor. "Kenapa kau sangat senang?", "Aku rela melepaskan pria manapun demi Aram.", Emily mengeluarkan suara. Lebih seperti mendengus. "Lalu kau menjadi kakak iparku? Tidak terima kasih. Cari saja pria lain.", Maureen berdecak kesal. "Tidak bisakah kau membiarkanku bahagia barang hanya semenit?", gerutunya. Emily mengerang dalam hati. "Tidak bisa.", jawabnya dan melambaikan tangan kesalah satu sales boy yang sedang tidak melayani pelanggan lain. "Lihat saja lusa nanti! Kalau sampai Aram menyukaiku kau harus merestuinya.", katanya penuh percaya diri. "Kau serius?", "Tentu saja.", Emily tidak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi Emily serius mengatakan ucapannya tadi. Maureen menjadi kakak iparnya? Bukan ide yang bagus. Maureen begitu mudah teralihkan dengan pria tampan. Tidak lucu bukan- jika nantinya Maureen dan Aram menikah lalu setelah itu Maureen meminta cerai karena menemukan pria yang lebih baik daripada Aram. Lebih baik ia kembali fokus pada jam yang hendak dibelinya. "Aku ingin yang itu.", ia menunjuk kearah jam berwarna silver dengan tali biru donker. Selain menjadi hadiah natal. Jam itu juga sebagai tanda terima kasih karena Aram membantunya tempo hari. Membantu Emily mengalihkan perhatiannya dari hujam salju di rumah kaca. Sejujurnya ia tidak tahu bagaimana selera Aram. Tapi sepertinya jam itu akan bagus dipakainya. Sales boy kemudian menunjukkan jam itu pada Emily. Ia tersenyum simpul. "Jadikan pembayarannya satu dengan jaket berwarna cokelat tadi.", katanya. Ia menoleh pada Maureen. "Kau tidak sekalian membeli hadiah untuk ayahmu?", "Nanti saja setelah ke supermarket dan mengantarmu pulang.", "Kenapa tidak sekalian? Selagi kita disini.", Maureen mengibaskan rambutnya. "Aku juga akan membelikan Aram hadiah. Jadi sebaiknya aku pergi sendiri atau kau akan mencakarku.", katanya sambil lalu. ... Emily membawa kotak-kotak berisi kado yang kemarin ia beli bersama Maureen setelah selesai membungkusnya dengan bantuan Lily. Dengan rapi ia menata dan meletakkan semua kado itu di bawah pohon natal yang ada di ruang keluarga agar tampak lebih ramai. Sambil melangkah mundur, mengusap tangannya dan tersenyum simpul. Emily bergumam, "Tugasku selesai untuk hari ini.",  Lily yang berdiri di belakang Emily terkekeh pelan. "Belum.", koreksinya. Emily memutar tubuhnya. Sebelah alisnya terangkat menatap Lily. "Belum?", "Jangan lupakan memasukkan permen ke dalam kaus kaki flanel di sepanjang perapian.", "Benar juga...", Emily langsung menoleh kearah perapian di sisi kanannya. Ia menatap kaus kaki flanel yang menggantung di dinding perapian. "Tapi aku tidak membeli permen kemarin.", Emily hanya membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan roti untuk besok. Ia tidak mengira jika harus mengisi permen karena dulu selalu Natalie yang melakukannya. Lalu sebuah ide melintas di benaknya. "Bagaimana kalau kita membuat biskuit saja? Mudah dan cepat.", "Boleh saja. Akan kubantu.", Emily melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang lewat sedikit. "Sekalian menyiapkan bahan untuk makan malam nanti.", Dokter Willsburgh dan Aram- mereka berdua sama-sama menyarankan Emily untuk menyibukkan diri. Ia harus berusaha menghindari waktu luang terutama pada momen-momen yang bisa memicu ingatan kejadian malam itu. Contohnya seperti musim salju, malam sebelum natal, dan juga beberapa hal lainnya. Selama di Amerika tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk menyibukkan diri. Hanya ada tugas kuliah yang ia kerjakan. Jadi untuk saat ini, Emily harus menggunakan waktu sebaik mungkin. Kembali ke topik awal. Saat ini, Emily dan Lily sudah berada di dapur bersih setelah selesai membereskan kado-kado sebelumnya. Mereka mulai menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk membuat biskuit terlebih dahulu agar dapat dimasukkan kedalam kaus kaki. Dan, tidak ada ide yang lain yang dapat dipikirkannya selain membuat biskuit cokelat dengan hiasan natal dan buttermilk fluffy pudding sebagai ciri khas hidangan penutup makan malam sebelum natal bagi keluarganya.  "Oh ternyata kau disini.", Natalie melangkah masuk kedalam dapur. Ia menarik bangku tinggi kitchen island di sebrang Emily. "Hei mom, how's your brunch with Adrian?", Natalie sejak pagi sudah meninggalkan mansion untuk minum teh dan juga sarapan siang bersama Adrian. Pria itu dan juga Aram tidak akan hadir nanti malam karena tradisi keluarga yang memang merayakan malam sebelum natal hanya untuk keluarga inti. Bukan berarti Adrian dan putranya bukan keluarga ini. Belum. Dan, setidaknya untuk tahun ini, Natalie ingin menikmati malkan malam bersama kedua anaknya saja. Jadi hanya akan ada Natalie, Nathaniel, Emily, begitupula dengan Lily. Tentu wanita itu akan ikut makan malam bersama mereka. Terkadang juga beberapa pelayan yang tidak kembali ke kampung halaman mereka juga ikut makan malam.  "It was fun and romantic?", Natalie balik bertanya. Ia menelengkan kepala sambil mengangkat sebelah bahunya samar. Emily mengernyit. Ia yang masih sibuk memasang mesin pengaduk melirik Natalie sekilas. "Kenapa kau terdengar ragu?", tanyanya kemudian. "Ada Aram disana.", jawabnya cepat. "Dan ini pertama kalinya kami pergi hanya bertiga. Jadi mom tidak ingin merusak suasana dan membuat Aram merasa tidak nyaman dengan bermesraan bersama Adrian. Kau paham maksud mom?", Emily mengangguk. "Aku paham.", Natalie menarik dan melipat tangannya. "Seharusnya mom juga mengajakmu tadi.", "Kenapa aku? Kenapa tidak Nathaniel?", entah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari bibir Emily. "Pertama, kau tahu Nathaniel sibuk dengan dirinya sendiri dan Annelise. Kedua, kau dan Aram- umur kalian tidak terlalu jauh. Jadi mom yakin pembicaraan kalian masih bisa menyambung. Lagipula kalian berdua sudah kenal cukup dekat dibandingkan Nathaniel. Bocah itu hanya sekali dan sebentar bertemu Aram.", Natalie berhenti sejenak ketika Emily menghentikan aktifitasnya. Emily menatap Natalie meminta penjelasan lebih lanjut. "Dan ketiga. Aram mencarimu.", Emily menunjuk dirinya sendiri. "Mencariku?", "Iya dia mencarimu. Ia mungkin mengira jika kau juga ikut sarapan siang tadi.", Emily tidak ikut bersama Natalie karena ia tidak ingin menjadi obat nyamuk. Rasanya sedikit aneh bila melihat ibunya bermesraan dengan Adrian. Pada saat makan malam perkenalan tempo hari saja- Emily hanya diam dan duduk menikmati hidangannya. Berpura-pura tidak mendengar obrolan Natalie dan Adrian terkecuali jika mereka bertanya pada Emily. Lagipula ia harus membungkus kado tadi pagi. Jadi bukan salahnya-kan? "Dia juga bertanya bagaimana keadaanmu.", "Aku baik-baik saja.", "Kau muntah. Tandanya kau tidak baik-baik saja.", Emily meringis. Ia pikir Aram bercerita mengenai masalah traumanya yang tiba-tiba datang pada saat mereka di rumah kaca. Namun ternyata mengenai masalah sepeda motor. Meskipun memalukan tapi setidaknya cerita itu lebih baik untuk di dengar Natalie. Emily tidak ingin ibunya itu khawatir dan berdampak pada hubungan dengan Adrian. Beruntung Aram sepaham dan sepemikiran dengannya. ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD