Chapter 10 : Christmas Dinner

1580 Words
Semua orang menyukai natal. Siapa yang tidak? Begitupula dengan Aram. Ia menyukai momen tersebut karena baginya natal bukan hanya sekedar musim libur di bulan Desember. Namun lebih seperti musim penuh kebahagiaan. Dan kebahagian yang dimaksud disini bukanlah kebahagiaan karena berkumpul bersama keluarga atau berlibur bersama kekasih. Jauh dari kata itu. Aram nyaris tidak pernah berkumpul bersama keluarganya. Ia juga menghindari ajakan teman-teman atau setiap wanita yang sedang dekat dengannya- sadar atau tanpa ia sadari. Seperti saat ini. "Ayolah Aram...", wanita berambut pirang dengan tubuh indah bagaikan gitar spanyol itu merengek sambil menghentakkan kakinya diatas karpet bulu ruangannya. Aram mendongak menatap wanita itu dan menghela napas. "Aku tidak bisa.", "Tahun lalu kau tidak bisa. Tahun ini juga. Lalu kapan?", "Aku tidak tahu, Harper.", jawab Aram cepat. "Aku tidak pernah merayakan natal jauh sebelum mengenalmu.", Wanita bernama Harper itu mengerjap. "Apa?", "Kau dengar aku.", Aram kembali menyibukkan dirinya dengan dokumen keuangan diatas meja dihadapannya. Tangannya mulai memilah-milah dan mengurutkan laporan tersebut. "Kenapa?", Harper bertanya. Ia butuh alasan jelas kenapa pria itu menolak ajakannya untuk mengikuti pesta perayaan natal. "Semua orang merayakan natal.", tambahnya. "Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu, Harper.", Aram tahu kalimat yang baru saja ia ucapkan terdengar jahat. Tapi ia sengaja melakukan itu agar Harper segera pergi dari ruangannya. Ia masih memiliki banyak pekerjaan. Lagipula ada alasan lain kenapa Aram menolak ajakan Harper. Harper Sutton- wanita yang berprofesi sebagai super model itu pertama kali Aram kenal saat di pesta dansa penggalangan dana yang digelar oleh keluarga kerajaan inggris di Kensington Palace tahun lalu. Sejak saat itu mereka berteman dan tidak lebih. Namun sepertinya Harper memiliki pendapat yang berbeda. Untuk itu Aram menolak agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara mereka. Pasti orang-orang akan berpikir jika Aram dan Harper memiliki hubungan spesial jika mereka mendatangi acara perayaan natal terbesar yang diadakan tahun ini bersama-sama. Karena seperti yang sudah ia katakan pada Harper tadi- ia tidak pernah merayakan natal. "Setidaknya kau menjawab pertanyaanku yang satu itu kalau kau menolak ajakanku.", Aram menghentikan aktivitasnya dan menyandarkan punggungnya. Ia menatap Harper bergantian dengan meja kerjanya yang berantakan. "Kau lihat semua ini.", matanya mengedar keseluruh dokumen-dokumen dihadapannya. "Aku sibuk. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Kau juga tahu jika ayahku sudah pensiun. Jadi katakan padaku- siapa yang akan mengurusi semuanya kalau bukan aku?", "Tapi-". "Tidak ada tapi Harper. Ini berlaku untuk semua orang. Kalau kau tidak percaya kau bisa tanya pada Antonio. Ia yang mengadakan acara itu dan aku sudah menolaknya terlebih dahulu. Kalau masih belum cukup. Kau bisa juga bertanya pada ayahku. Atau mungkin mantan kekasihku. Kau berteman dengannya.", Harper terdiam sejenak untuk berpikir. Ia masih ingin berusaha mengajak Aram datang. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara membujuk pria itu. Sedangkan Aram, ia menunggu Harper untuk menyerah. Sejujurnya... Masih bisa dikatakan jika Aram merayakan natal. Hanya saja ia memiliki cara tersendiri untuk merayakannya. Tanpa orang lain. Hanya ada dirinya dan hotel yang dimilikinya. Lalu dimana kebahagiannya? Inilah yang dimaksud Aram. Seluruh hotel yang dimilikinya dapat meraup keuntungan yang sangat besar di bulan Desember karena rata-rata harga kamar yang tinggi. Selain itu juga tamu yang datang ke restoran di dalam hotel seperti tidak pernah berhenti. Setiap hari dan setiap jamnya semua meja sudah dipesan dari beberapa bulan sebelumnya. Jangan lupakan juga dengan ballroom, kolam renang, taman, dan rooftop yang juga dipesan untuk dijadikan venue perayaan natal. "Baiklah kalau kau tidak bisa...", Aram mengangkat sudut bibirnya. "Jangan senang dulu. Ada tapinya...", "Apa?", Harper bangkit berdiri dari sofa, berjalan menuju meja kerja Aram dan menumpukan kedua tangannya di tepian meja. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya. "Acara tahun baru. Kau harus datang.", "Tidak ada tapi.", sergah Harper sebelum Aram sempat menolak. Aram mendesah pelan. "Aku tidak bisa janji.", "Akan kupastikan kau datang.", Dan akan kupastikan aku tidak akan datang. Setelah membatin. Aram mengulas senyum terpaksa. ... "Kau dimana?", Aram mengernyitkan kening ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan ayahnya ketika ia baru mengangkat panggilan. Ia menjepit ponselnya dengan telinga dan bahu agar tangannya dapat kembali menulis sesuatu di kertas. "Di kantor. Dimana lagi memangnya?", jawab Aram. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pulang setelah makan siang?", "Aku belum makan siang. Jadi jangan salahkan aku jika aku belum pulang.", Terdengar decakan lidah di sebrang panggilan. Aram yakin jika jawabannya yang serius itu dianggap ayahnya sebagai jawaban bercanda. "Aram...", peringat Adrian. Aram berhenti bekerja. Ia mengambil ponsel, menegakkan kepala dan memindahkan benda kecil berharga fantastis itu ke telinganya yang lain sambil menyandarkan diri. "Sudah kukatakan aku sibuk. Dan, aku yakin kau tahu itu, pa.", "Tidak untuk tahun ini.". Koreksi Adrian. Ia tahu jika ada alasan lain dibalik penolakan Aram. Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas itu. "Sepertinya kau tidak mendengarkan pembicaraan kita pagi ini.", "Aku mendengarmu.", bantah Aram. "Kau menyuruhku pulang setelah jam makan siang. Lalu menyuruhku beristirahat sejenak sebelum acara nanti malam.", "Kalau kau mendengarku, kenapa kau masih di kantor?". "Aku akan pulang sebentar lagi.", "Kutunggu paling lambat pukul setengah empat sore.", Aram hanya berdehem sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Ia meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar diatas meja. Aram memijit pangkal hidungnya sebelum melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah dua. Sejenak ia berpikir untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun pada akhirnya Aram memilih untuk meninggalkan pekerjaan itu dan pergi. ... Pukul enam sore, Aram akhirnya tiba di kediaman keluarga Heywood sendirian karena Adrian sudah berangkat terlebih dahulu satu jam yang lalu. Setelah keluar dari kantor siang tadi, Aram tidak langsung pulang karena teringat jika tidak sepantasnya ia datang tanpa membawa apapun. Untuk itu ia mampir ke ke suatu tempat untuk membeli beberapa hadiah. ] "Terima kasih.", Aram tersenyum ramah kepada pelayan yang membantu melepaskan mantel hangat yang dikenakannya ketika baru menginjakkan kaki di lobi. Setelah itu ia masuk kedalam tanpa perlu di kawal karena Aram tahu dimana letak ruang makan. Mansion yang tempo hari ia datangi saat mengantar Emily sudah di dekorasi dengan indah. Namun sekarang keindahan itu berkali lipat karena semua lampu hias yang terpasang sudah menyala dan juga ada musik bertema natal terdengar. Dari kejauhan- Aram bisa mendengar canda dan tawa semua orang yang ada. "Selamat datang!", suara Natalie menyambut Aram. Wanita itu tampak memukau malam ini dengan balutan gaun berwarna hijau emerald. Tidak terkejut kenapa ayahnya bisa jatuh cinta pada Natalie. Aram mengangkat sudut bibirnya dan menerima pelukan dari wanita itu. "Selamat natal, Aram.", tambahnya. "Selamat natal juga.", balas Aram sambil mengusap punggung Natalie sebelum melepaskannya. Adrian yang sejak tadi berdiri di belakang Natalie kini melangkah mendekat dan gilir memeluk Aram. "Selamat natal, nak. Senang melihatmu ada disini.". Kalau dipikir lagi. Selain malam perayaan natal pertamanya. Ini juga merupakan makan malam pertamanya dengan keluarga Heywood secara utuh. Meskipun ada beberapa tamu undangan lainnya. "Selamat natal juga untukmu, pa.", Mereka saling melepaskan pelukan. Adrian langsung melingkarkan tangannya disekitar pinggang Natalie. "Apa yang kau bawa?", Aram mengangkat sedikit tas kertas yang sejak tadi dibawanya. Tas kertas itu berukuran besar dan berisi kado-kado yang sudah dibelinya tadi. "Hadiah.", Natalie tersenyum lebar. Ia mengambil alih tas kertas itu tiba-tiba. "Biar aku membantumu meletakkan dibawah pohon natal. Kau duduk saja.". "Terima kasih.", Aram ikut tersenyum. Ia menatap Natalie yang berlalu sebelum melihat Adrian. Ayahnya itu tampak terkejut dan menatapnya dengan penuh pertanyaan. "Kenapa papa melihatku seperti itu?", Adrian mengangkat bahunya samar. "Papa hanya terkejut sekaligus senang. Kau tidak hanya datang tapi juga membawa hadiah.", Aram tidak menjawab. Ia tersenyum lagi. "Papa akan membantu Natalie menata kado yang kau bawa. Sekarang duduk dan mengobrol-lah dengan yang lain.", Adrian menepuk bahu Aram sambil lalu. Aram mengangguk kecil. Ia mengikuti perkataan ayahnya. Ia berjalan mengintari setengah meja makan besar berisi sekitar dua puluh orang itu sambil mengamati sesaat orang-orang yang hadir. Namun ketika matanya menemukan sosok Emily yang duduk tidak jauh dari posisinya saat ini. Aram tahu ia harus duduk dimana. "Apa kursi ini kosong?", tanya Aram sambil menyentuh sandaran kursi di sisi kiri Emily yang tingginya nyaris sebatas dadanya. Emily yang tadinya sedang mengobriol bersama Maureen mendongak menatap Aram. Ia melebarkan matanya sambil bangkit berdiri. "Oh kau sudah datang.", Aram mengangkat sudut bibirnya. "Jadi apa boleh aku duduk disini?", "Boleh!", jawab Maureen cepat sambil tersenyum lebar. Emily menoleh dan melototi wanita itu. Seharusnya ia yang menjawab pertanyaan Aram. Bukan Maureen. Sedangkan Aram melirik Emily untuk menunggu jawaban. Ia tidak peduli dengan jawaban dari wanita yang duduk di sisi Emily. Emily kembali menatap Aram. Ia tersenyum sungkan. "Hmm maafkan aku. Kursi ini kusiapkan untuk seseorang.", karena mereka duduk di ujung meja makan. Jadi tidak ada lagi kursi kosong di sisi dan sebaris dengannya. Kalau saja bukan Steven yang hadir maka Emily akan membiarkan Aram mengambilnya. "Tidak masalah. Kalau begitu aku duduk dengan Nathaniel.", "Ide yang bagus.", balas Emily membuat Maureen menarik tangannya. Untung Aram tidak melihat. "Kalau begitu aku duluan.", Aram melepaskan tangannya dari sandaran kursi tadi. "Ngomong-ngomong... selamat natal untuk kalian berdua.", Emily tersenyum simpul namun masih tersirat sungkan pada Aram. "Selamat natal juga untukmu.". Aram berlalu dan Maureen langsung mengulurkan sebelah tangannya seolah ingin meraih pria itu. Ia memasang raut wajah sedih. "Pangeran tampanku...", serunya. "Kenapa kau membiarkannya pergi?", Emily kembali duduk. Ia bersedekap. "Aku mengundang Steven untuk datang. Tidak lucu jika aku membiarkannya duduk berjauhan denganku.", Maureen dengan terpaksa membenarkan Emily dalam hati. Ia menoleh menatap Aram yang sudah duduk di sisi Nathaniel dan teman perempuannya yang cukup jauh. Berseberangan dan hampir ujung ke ujung. Mengobrol saja tidak memungkinkan. Alhasil semua misi yang sudah dipersiapkannya dengan matang gagal. Maureen mendesah kasar. ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD