Chapter 11 : Christmas Spirit Not For Everyone

1877 Words
Hidangan penutup baru saja dibagikan ketika Aram bertanya pada Nathaniel sambil memotong puding dihadapannya. Sesekali matanya melirik kearah Emily yang tampak asyik berbincang bersama seorang pria sejak yang duduk disisinya sejak tadi. "Siapa dia?", Nathaniel menoleh menatap Aram. "Dia?", ia balik bertanya karena tidak mengerti siapa yang sedang mereka bicarakan. Aram menunjuk cepat kearah Emily dengan garpu di tangan kirinya. Sementara Nathaniel mengikuti kemana arah ujung itu. "Oh aku paham.", jawabnya. Aram mengangkat sebelah alisnya dan berdehem. Ia tidak mengerti maksud perkataan Nathaniel. "Hmm?", tanyanya bingung. Nathaniel meletakkan garpu dan pisau di tangannya seperti segitiga di atas piring. Tanda yang diajarkan oleh ayahnya -dulu- ketika berhenti menikmati hidangan sejenak. Kemudian ia menyesap sedikit wine-nya sebelum berkata. "Tenang saja. Dia bersih. Tidak ada catatan kriminal. Tidak pernah berulah. Dia benar-benar pria yang baik.", "Sebentar...", Aram memberi jeda. "Aku masih tidak mengerti.", sergahnya. Nathaniel meletakkan kedua tangannya di atas paha seolah sedang berkacak pinggang. "Steven dan Emily berpacaran sejak mereka berusia empat belas tahun. Jadi kau tidak perlu khawatir jika pria itu akan menyakitinya. Aku sudah mengenalnya lama. Percaya padaku.", Aram mendesah pelan. Ternyata Nathaniel mengira jika ia akan bersikap protektif, meskipun ssudah tugasnya, namun untuk permulaan ia tidak akan melakukan apapun. Terlebih jika pria itu berulah. Dan, sejujurnya, alasan ia bertanya karena ia merasa pernah melihat wajah pria itu. Tidak tahu dimana, Aram tidak mengingatnya. "Siapa nama belakangnya?", "Arckeley.", "Arckeley? Seperti pengacara Liam Arckeley itu?", Nathaniel mengangguk. "Benar. Steven Arckeley adalah putra Liam Arckeley.", "Pantas aku seperti mengenalnya.", Beberapa bulan yang lalu, Aram membayar jasa pengacara untuk mengurus masalah di perusahaannya. Mungkin karena itulah ia merasa tidak asing dengan wajah Steven. Nathaniel hanya mengangguk kecil sebelum melanjutkan menikmati hidangan. Sedangkan Aram- Ia kembali melihat Emily dan Steven. Entah kenapa matanya tidak bisa teralihkan. Sampai beberapa saat kemudian seorang pelayan menawarinya untuk kembali mengisi wine. Aram menoleh. Ia menarik gelasnya yang kosong agar pelayan tersebut lebih mudah menuangkan wine. Setelah gelasnya terisi. Aram mengulas senyum tipis dan berterima kasih. Aram mulai membuat gerakan mengaduk pada gelasnya. Kemudian mengangkat gelas itu untuk mencium aroma wine yang terkumpul. Perlahan ia menyesap wine itu. "Aram!", Suara itu datang bersamaan dengan seseorang menepuk bahunya. Aram berhenti minum, meletakkan kembali gelasnya di atas meja sebelum memutar sedikit tubuhnya kebelakamg dan mendongak menatap wanita itu. "Ya?", tanyanya sambil mengusap bibirnya menggunakan napkins yang sejak tadi ada di atas pahanya. "Hmm setelah makan malam akan ada acara santai sambil membagi kado. Dan semua kado milikku masih berada di dalam mobil. Aku tidak bisa membawa sendiri. Apakah kau mau membantuku?", Sebelum Aram sempat mengiyakan. Nathaniel yang juga mendengar permintaan itu kemudian menoleh dan menginterupsi. "Kita punya banyak pelayan Maureen. Kau bisa minta tolong pada mereka.", Maureen melototi Nathaniel dan dengan cepat merubah raut wajahnya pada Aram. Ia tersenyum sedih sambil menggigit bibir bawahnya. "Benar juga.", katanya pelan. "Maaf aku mengganggumu.", tambahnya. "Aku akan membantumu.", kata Aram cepat sebelum Maureen hendak berlalu. Maureen mengerjap. "Benarkah?", "Iya aku akan membantumu.", "Kau tidak keberatan?", Aram langsung bangkit berdiri untuk menunjukkan jika ia tidak keberatan. "Aku akan mengikutimu.", Maureen mengangguk cepat. Kemudian ia memutar tubuhnya dan mulai berjalan membuat Nathaniel mendengus geli. Ketika melewati ujung meja makan. Maureen menjulurkan lidahnya sambil tersenyum mengejek kepada Emily. Ia berhasil membuat Aram ikut bersamanya. ... Dentingan sendok dan gelas yang beradu berhasil membuat semua orang yang hadir di makan malam ini menoleh. Mereka melihat kearah titik yang sama dimana Natalie Heywood berdiri di ujung meja makan. Ujung yang berbeda dengan Emily duduk. Wanita itu membelakangi perapian sehingga cahaya yang dipantulkan dari api yang membara membuat Natalie tampak berwibawa. "Sebelum kita masuk ke acara yang lebih santai lagi- yaitu minum teh sambil bertukar kado. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih pada kalian semua yang hadir malam ini.", Natalie mengedarkan pandangannya melihat wajah tamu yang hadir. Tidak lebih dan tidak kurang keluarganya sendiri, Adrian dan Aram, Maureen dan keluarganya, Annellise dan keluarganya, Steven. Lalu juga ada Lily beserta pelayan yang malam ini rela mengorbankan waktu untuk bekerja. "Aku harap semua doa dan keinginan kalian selama satu tahun ini dapat terkabul. Dan sekali lagi kuucapkan selamat natal!", Semua bertepuk tangan. Tanpa terkecuali Emily. Dalam hati ia mengamini perkataan Natalie tadi. Ia tersenyum melihat ibunya bersama Adrian. Selama pria itu ada disisi Natalie. Emily tidak perlu khawatir. "Ayo kita ke ruang keluarga. Aku ingin memberimu hadiah.", Emily menoleh menatap Steven. Ia tersenyum. "Aku juga membeli hadiah untukmu.", "Benarkah?", "Aku yakin kau akan menyukainya.", Satu persatu tamu yang ada di ruang makan kini bangkit berdiri dan menuju ke ruang keluarga. Ruangan yang sudah di siapkan untuk bersantai dan mengobrol sambil menikmati kopi atau teh. Lagu natal yang dinyanyikan Kelly Clarkson diputar ketika Steven menarik Emily mendekat menuju pohon natal. Ia mengambil hadiah yang sudah disiapkan untuk Emily. Begitupula dengan sebaliknya. Mereka saling bertukar hadiah. "Apa isinya?", tanya Emily sambil menggoyangkan hadiah dari Steven di dekat telinganya. Ia ingin mendengarkan suara yang memungkinkan menjadi kata kunci. "Rahasia.", Emily mencebikkan bibirnya. "Kalau kau memberi hadiah yang buruk. Pertemanan kita berakhir.", "Bahkan pertemanan kita baru dimulai, Em!", seru Steven tidak terima. Emily tersenyum. "Aku bercanda!", Steven terkekeh pelan. "Aku tahu.", katanya. "Senang rasanya kita tidak lagi bertengkar.", meskipun tidak sesuai dengan harapannya. Namun Steven bersyukur Emily mau memulai kembali membangun hubungan dengan berteman. Setidaknya bisa menjadi batu loncatan agar ia dapat kembali merebut hati Emily. "Aku juga.", Emily memeluk hadiah pemberian Steven. "Kau sudah menemaniku sejak tadi. Sekarang pergilah berburu hadiah. Aku yakin semua orang disini akan memberimu.", "Kau juga. Carilah Nate. Dia ingin memberimu sesuatu.", Steven mengangguk kecil. "Sampai bertemu lagi.", katanya sambil lalu. Emily menatap Steven yang kini menghampiri Nathaniel. Mereka tampak heboh saling menyapa. Lalu memperkenalkan Annellise sebelum ketiganya masuk kedalam pembicaraan yang seru. Setelah itu Emily mengedarkan pandangan sejenak melihat semua orang yang hadir. Mereka tampak bahagia mengobrol bersama dan bertukar hadiah. Namun saat matanya tidak sengaja menangkap kearah jendela besar dari atap hingga lantai yang menghubungkan dengan taman belakang. Disana- Aram berdiri di depan jendela sambil memainkan ponselnya membuat Emily menggeleng kecil. Emily meletakkan hadiahnya di atas sofa yang tidak jauh dari ia berdiri. Ia menitipkan hadiah itu kepada adik Maureen yang paling kecil karena tampaknya bocah laki-laki itu tidak akan berpindah tempat dan sibuk bermain nintendo switch. Kemudian Emily memutuskan untuk menghampiri Aram. Emily berdehem sedikit lebih keras sebelum bertanya. "Apa kau tidak membelikanku hadiah?", tanyanya ketika sudah berdiri di sisi Aram. Aram menoleh menatap Emily. Ia mengernyit sesaat sebelum mengangkat sudut bibirnya. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Bagaimana denganmu? Apa kau membelikanku hadiah?", Emily mengangguk sambil tersenyum senang. "Akan kuberikan jika kau juga memberikan hadiah untukku. Lebih menyenangkan jika bertukar.", "Bisakah nanti saja kita bertukar hadiah?", "Apakah kau ingin menyendiri?", Emily balik bertanya dengan mencoba menebak dari raut wajah Aram yang tampak tidak bersemangat. Aram mendesah pelan dan tidak menjawab. Itu artinya apa yang terbesit dalam benak Emily benar. "Sepertinya aku bisa mengerti apa yang kau rasakan.", "Memangnya apa yang kurasakan?", Emily mengangkat bahunya samar. "Christmas spirit not for everyone, right?", Aram membuka bibirnya hendak mengeluarkan kata. Namun ia mengurungkan dan membungkam bibirnya sebelum melemparkan pemandangan kearah taman yang nyaris tertutup salju. "What?", tanya Emily lagi. Aram menghela napas. "Bukannya tidak bersemangat. Hanya saja aku berusaha menyesuaikan diri.", Emily tidak mengerti. Ia masih menatap Aram menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak pernah merayakan natal.", Fakta yang cukup mengejutkan. Emily langsung menunduk. "Ibuku meninggal saat aku berusia dua tahun. Sejak saat itu hanya ada aku dan ayahku. Dia bekerja keras membesarkanku, mendidikku, mengurus rumah tangga, mengurus pekerjaan. Bisa kau bayangkan sesibuk apa dia?", Emily mengangguk kecil. "Dan ketika dia pensiun. Kau meneruskan pekerjannya. Akhirnya kau terjebak di tempat yang sama. Seperti roda berputar.", "Hmm benar.", "Lalu apa yang membuatmu hari ini merayakannya? Apa karena kau akhirnya sadar jika pundi-pundi uangmu tidak mungkin berhenti terisi meski kau meninggalkannya untuk perayaan natal?", goda Emily. Aram melirik Emily sekilas sebelum mendengus geli ketika mendengar pertanyaan kedua yang di lontarkan wanita itu. Terdengar menyebalkan karena nada bicaranya terdengar mencoba meniru Aram tempo hari. "Bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu hari ini merayakannya?", ia sengaja balik bertanya. "Kau.", Aram mengerutkan keningnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Emily. "Aku?", tanyanya sambil sedikit memundurkan kepala. "Secara teknis kau dan dokter Willsburgh.", Aram kembali mendengus geli. "Aku hampir tersanjumg karena merasa berhasil membantumu.", Emily ikut memposisikan tubuhnya menghadap Aram. Ia melipat tangannya di depan d**a. "Jangan senang dulu. Belum sepenuhnya kau membantuku.", balasnya. "Dan jangan merubah topik pembicaraan!", "Aku tidak merubah topik.", bantah Aram. "Kau merubah topik.", balas Emily tidak mau kalah. Aram mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Emily serius. "Kalau kau tidak merubah topik. Jawab pertanyaanku.", Aram memejamkan matanya sesaat sebelum mendesah pelan. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukannya tidak bisa. Aram tidak tahu apa jawabannya. Yang jelas bukan karena paksaan ayahnya. Sejak tahun lalu ayahnya berkesempatan merayakan natal bersama Natalie dan Nathaniel. Pria itu sudah memaksanya untuk ikut. Tapi tidak berhasil. "Baiklah kau benar. Aku memang merubah topik.", Emily tersenyum puas karena Aram berhasil mengaku. Namun ia tidak akan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama karena Emily paham. Ia sendiri juga tidak akan nyaman jika dalam posisi Aram. "Aku juga akan merubah topik kalau begitu.", Aram belum sempat membalas. Emily langsung mengaitkan lengannya dan menarik Aram menuju pohon natal. "Kita bertukar hadiah saja.", Aram menggelengkan kepalanya. Aram pikir Emily merubah topik pembicaraan. Ternyata tidak hanya pembicaraan namun seluruh momen. "Baiklah kalau itu maumu.", Emily dengan bersemangat mengambil hadiah yang sudah dibungkusnya untuk Aram. Begitupula dengan Aram. Ia menunduk mengambil hadiah yang dibelinya siang tadi. Kotak hadiah yang mereka miliki sama-sama berukuran kecil. Tidak melebihi kepalan tangan membuat Emily terkekeh pelan. "Sepertinya hadiah kita sama.", "Aku yakin berbeda.", Mereka saling bertukar kado pada akhirnya. Emily mendesah kecewa ketika perkataan Aram ada benarnya. Hadiah yang ia berikan pada Aram terasa berat. Sedangkan yang ia terima tidak terasa berat. "Jangan sedih dahulu. Meski terasa ringan tapi harganya fantastis. Itulah kenapa aku berkata hadiah kita berbeda.", Emily memutar mata mendengarnya. Tingkat kepercaya dirian Aram yang menyebalkan kembali. Aram menunjuk kotak digenggaman Emily dengan dagunya. "Aku yakin kau akan menyukainya. Pada saat makan siang kemarin- ibumu merekomendasikan hadiah itu.", "Oh ya tentang makan siang kemarin... bagaimana bisa kau ikut mereka?", "Aku sedang mengunjungi restoran temanku. Dan kami tidak sengaja bertemu.", jawab Aram. "Bukalah hadiahmu.", "Sekarang?", "Tahun depan.", Emily mendengus geli. Namun ia mengikuti perkataan Aram dan membuka kotak itu. Ketika melihat isinya- Emily melebarkan matanya. Ia mengerjap beberapa saat memastikan jika ia tidak salah melihat hadiah yang diterimanya. "Bagaimana? Kau menyukainya?", Emily mengangguk kaku. Ia menatap Aram dan gelang di dalam kotak itu secara bergantian. Gelang yang simpel namun tidak meninggalkan kesan elegan dari batu berlian yang bertabur di setiap incinya. "Pantas saja kau menyombongkan diri.", "Hmm tentu aku harus menyombongkan diri.", Aram menahan senyum diwajahnya melihat Emily yang terkejut. Emily mengambil gelang itu dan meletakkan kotaknya di atas perapian dibelakangnya. Ia terpukau oleh kilauan indah yang dipancarkan gelang itu. "Kemarilah. Biar aku memakaikannya untukmu.", Aram ikut meletakkan kotak hadiahnya di atas perapian. Kemudian ia mengambil alih gelang itu dan memasangkannya di pergelangan tangan kiri Emily. "Terima kasih.", Aram berdehem. "Hmm sama-sama.", Emily mendongak menatap Aram. "Kalau begitu bukalah juga hadiahmu. Aku akan memasangkannya untukmu.", "Kau juga memberiku gelang?", Emily menggelengkan kepalanya. "Lihat saja sendiri. Aku yakin kau juga akan menyukai hadiahnya.", ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD