Chapter 13 : Big Brother on Duty

1905 Words
"Guys!", Panggilan Nathaniel membuat Aram dan Emily yang baru saja turun dari dalam mobil menoleh ke sumber suara. Laki-laki itu juga baru datang. Ia berlari mendekat kearah mereka. "Apa kalian juga dihubungi?", Emily mengangguk kecil. Sedangkan Aram berdehem pelan ketika Nathaniel beralih padanya. "Ada apa?", Mereka bertiga berjalan dari drive way memasuki mansion. "Aku tidak tahu. Mungkin akhirnya mereka menentukan tanggal pertunangan?", tanya Aram tidak yakin. "Benar juga.", timpal Nathaniel. Emily yang berjalan dibelakang keduanya hanya diam dan mendengarkan keduanya. Mereka mulai membahas masalah malam tahun baru karena besok sudah memasuki hari terakhir di bulan Desember. "Akhirnya kalian datang.", Natalie menyambut mereka bertiga sambil tersenyum. "Duduklah.", timpal Adrian. Aram, Emily, dan Nathaniel duduk berurutan di sebuah sofa. Mereka memandang Adrian dan Natalie dengan bingung. "Ada apa?", tanya Emily. Ia dapat melihat senyuman hangat di wajah Natalie kini berubah menjadi senyuman yang ditunjukkan karena rasa bersalah. Adrian dan Natalie yang berdiri berdampingan di sebrang ketiganya saling melirik. Beberapa saat mereka tampak berdebat kecil untuk menentukan siapa yang harus mengatakan. Aram mengangkat sebelas alisnya. Ia menoleh pada Emily dan Nathaniel yang tampak serius memperhatikan dua orang itu. Sampai pada akhirnya Aram berdehem sedikit lebih keras. Dua orang itu akhirnya berhenti. Adrian maju satu langkah. "Kami berdua akan berangkat ke Paris malam ini.", "Paris? Perancis?", tanya Nathaniel terkejut. Emily memutar matanya mendengar pertanyaan Nathaniel. "Tentu, Nate! Dimana lagi?", Nathaniel meringis. "Maaf aku terkejut tadi.", Emily menatap Natalie dan Adrian bergantian. "Kenapa kalian harus berangkat malam ini? Apa ada masalah di perusahaan yang ada disana?", pertanyaan kedua itu lebih mengarah untuk Natalie ketimbang Adrian. Sejujurnya Emily tidak tahu apakah pertanyaan itu juga berlaku dengan Adrian. Setahu Emily, Langford International memiliki banyak hotel di seluruh daratan Eropa dan Amerika. Natalie menggeleng pelan. Ia menggigit bibir bawahnya sambil memilin ujung kemeja yang dikenakannya. "Tidak. Tidak ada masalah disana. Hanya saja...", "Ini hadiah natalku untuk Natalie. Aku ingin mengajaknya menghabiskan malam tahun di Paris.", Nathaniel melongo. "Jadi aku akan punya adik?!", "Nate!", tegur Emily. Sedangkan Aram menggelengkan kepalanya. Kemudian Emily menghela napasnya. "Jangan dengarkan dia.", "Jadi?", tanya Aram. "Jadi kita tidak bisa merayakan malam tahun baru bersama.", jawab Adrian cepat. "Berapa lama kalian di Paris?", kini gilir Emily bertanya. "Sebulan?", Natalie menjawab dengan nada ragu. Adrian tidak memberitahunya kapan mereka akan pulang. Nathaniel tersedak salivanya. "Sebulan?", mendadak kepalanya terasa pening. "Sudah dipastikan aku akan memiliki adik.", gerutunya. Aram yang sejak tadi duduk menyandarkan diri kini meneggakkan tubuhnya. Ia menumpukan kedua lengan bawahnya diatas lutut. "Kalau aku tidak masalah.", putusnya. Adrian dan Natalie pergi atau tidak. Rasanya tidak akan merubah apapun. Ya mungkin untuk tahun ini terasa berbeda karena mereka sudah merayakan Natal bersama. Sangat disayangkan. Untuk Emily. Emily terdiam mencoba berpikir sejenak. Hal yang paling diinginkannya adalah natal bersama. Sedangkan malam tahun baru adalah bonus. Ia tidak begitu mempermasalahkannya karena merasa kali ini ia harus mengutamakan kebahagiaan Natalie. "Aku juga tidak masalah.", kata Emily mantap. "Oh tuhan! Percuma saja aku tidak setuju. Dua lawan satu!", seru Nathaniel semakin mendramatisir keadaan. Natalie meringis melihat Nathaniel. Ia merasa bersalah karena tahu jika putranya itu ingin sekali menghabiskan malam tahun baru bersama. Apalagi tahun ini ada Emily di tengah-tengah mereka semua. Tapi disatu sisi ia juga menginginkan liburan itu bersama Adrian. "Fine! Aku juga setuju.", Perlahan senyuman di wajah Natalie dan Adrian mengembang. Adrian merangkul bahu Natalie. "Terima kasih.", Aram mengangkat sudut bibirnya. Emily mengangguk kecil. Sedangkan Nathaniel mengibaskan tangannya sebelum membuang pandangan kearah jendela dan mencebikkan bibirnya. Natalie berdehem pelan. "Kalau begitu, apakah kalian mau mengantar kami ke bandara pukul tujuh malam nanti?", ... "Selamat bersenang-senang dengan Adrian, mom.", kata Emily tulus. Ia memeluk Natalie erat dan membenamkan wajahnya. Natalie mengecup puncak kepala Emily. "Terima kasih sayang. Maafkan mom harus pergi.", "Tidak apa, mom. Ada Nate dan Aram yang akan menemaniku.", balasnya. Mereka saling melepaskan diri. "Apapun yang kau butuhkan. Kau katakan pada mereka. Mengerti?", "Aku mengerti.", "Bagus.", balas Natalie. Ia menyisipkan rambut Emily ke belakang telinga dan tersenyum. Kemudian ia menoleh pada Nathaniel yang baru saja menghampiri. Laki-laki itu melipat tangannya di depan d**a. "Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh!", peringat Nathaniel. Natalie terkekeh pelan. Ia mengacak-acak rambut Nathaniel membuat laki-laki itu mengeluh. "Mom! Kebiasaan...", Natalie menahan senyum di bibirnya. Ia menarik putranya kedalam pelukan. "Jaga kakakmu baik-baik. Kau mengerti?", "Aku mengerti, mom. Kau tenang saja.", jawab Nathaniel setengah berbisik. Mereka berdua saling melepaskan diri dan mulai membicarakan hal-hal tentang peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh Nathaniel. Natalie tahu jika putranya yang masih muda itu pasti akan melakukan hal-hal baru. Sedangkan Emily. Ia hanya tersenyum geli melihatnya. Lalu mengedarkan pandangan ke beberapa pramugari yang mengambil koper di dalam mobil dibantu supir Aram. "Emily!" Emily menoleh menatap Adrian yang memanggilnya. "Kemarilah!", Emily menghampiri pria itu dan tersenyum. Sesaat ia melirik Aram yang berdiri di sisi Adrian. "Ya?", "Tolong jaga Aram untukku.", "Pa...", Aram mendesah pelan. Adrian tidak menggubris putranya itu. Ia menepuk bahu Aram dan sedikit mengoyak tubuh pria itu. "Dia selalu sering lupa makan karena alasan bekerja.", "Benarkah?", "Benar. Jadi mohon bantuannya. Kalau bisa kau ikat dan suapi dia seperti bayi.", Emily tertawa pelan. "Baiklah. Akan kulakukan.", Aram mendesah. Ia melepaskan tangan Adrian dari bahunya. "Kau puas melihatku ditertawakan Emily?", "Lumayan.", jawab Adrian santai membuat Aram mendengus. "Sudah lebih baik kau masuk kedalam jet, pa. Pilotmu menunggu.", kata Aram dengan terang-terangan mengusir Adrian. Ia tahu mungkin terlihat tidak sopan dimata Emily. Namun begitulah hubungan keduanya. Malah perdebatan kecil mereka yang membuat Adrian dan Aram sangat dekat. "Aku sudah diusir.", gumam Adrian sambil menggelengkan kepala. "Baiklah... aku pamit.", ia merentangkan tangannya pada Emily. Emily maju selangkah dan menerima pelukan itu. "Aku juga minta tolong jaga ibuku.", "Tenang saja. Kalau itu sudah pasti akan kulakukan. Kau tidak perlu khawatir.", balas Adrian sambil melepaskan diri. Ia menatap Emily dan Adrian bergantian. Lalu menggandeng tangan Natalie ketika wanita itu sudah berada disisinya. "Kami berangkat dulu.", kata Natalie. "Bye mom dan uncle Adrian.", balas Nathaniel. Ia melambaikan tangannya. Adrian dan Natalie tersenyum. Mereka berdua menaiki tangga dan masuk kedalam jet diikuti dua orang pramugari yang telah selesai memasukan semua bagasi. Aram perlahan menarik Emily dan Nathaniel mundur menuju depan mobil yang terparkir cukup jauh. Ia berdiri di belakang keduanya sambil setengah bersandar pada kap mobil. Bersamaan dengan itu pintu jet menutup. Beberapa saat kemudian, jet menyala, melaju pelan menuju landasan sebelum akhirnya lepas landas dan menghilang di balik awan. "So...", Emily menggantung kalimatnya. Ia membalik tubuhnya menghadap pada Aram. "Ibuku berkata jika kami berdua harus menurut padamu karena kau yang paling besar.", Nathaniel mengangguk kecil mengiyakan sambil ikut membalik tubuhnya. Ia melirik Emily sekilas sebelum menatap Aram. Ia melipat tangannya di depan d**a. "What are we gonna do?", tanyanya. "And please tell me that we're gonna have fun." ... "Hanya itu barang yang ingin kau bawa?", tanya Aram pada Emily ketika wanita itu menggeret koper berukuran sedang ke ruang tamu dibantu Lily. Aram mengerutkan keningnya. "Kau yakin?", tanyanya lagi. Kini pandangannya beralih pada Nathaniel yang sudah duduk di sofa sejak tadi. Di sisi sofa terdapat tiga koper besar. Sangat jauh berbeda dengan yang dibawa Emily. Emily berdehem. "Hmmm iya.", "Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang. Sudah semakin larut.", Perkataan Aram membuat Lily langsung memberi kode kepada dua orang pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat meja laci ambang antara ruang tamu dan koridor. Mereka dengan sigap mengambil koper-koper itu dan menggeretnya keluar untuk dimasukkan kedalam mobil. "Sampai jumpa, Lily.", pamit Nathaniel. Ia bangkit berdiri dan berlalu bersama Aram. Sedangkan Emily. Ia memeluk wanita tua itu sesaat. "Selama kami pergi istirahatlah.", "Tentu saja aku akan istirahat. Tidak ada Nate itu artinya tidak ada perusuh.", jawabnya sambil terkekeh pelan. Emily tersenyum. Ia menepuk-nepuk bahu Lily. "Sampai jumpa.", "Kalau butuh apa-apa hubungi saja aku. Aku akan menyuruh Jhonson mengantarnya padamu.", Emily hanya mengangguk sambil lalu. Ia berjalan keluar, mengintari mobil yang sudah menyala dan masuk. Beberapa saat menunggu semua koper sudah selesai dimasukkan kedalam bagasi. Aram menurunkan jendelanya. Ia tersenyum simpul dan menunduk sebagai tanda pamit pada Lily yang berdiri di tangga halaman pintu masuk. "Kami duluan.", "Hati-hati dijalan!", seru Lily. Jendela tertutup. Mobil langsung melaju keluar dari drive way menuju pekarangan, kemudian keluar dari gerbang. Nathaniel yang duduk di depan- disisi supir. Ia sedikit memiringkan tubuhnya agar dapat menghadap Emily dan Aram yang duduk di belakang. "Kemana kau akan membawa kami? Apakah ke Brasil? Atau menyusul ibuku dan ayahmu?", Aram menoleh menatap Nathaniel. Ia menggeleng. "Kita tetap di London.", "Oh aku pikir kita juga akan liburan.", "Mungkin nanti aku akan mengajak kalian liburan. Ada hal yang lebih penting. Aku dalam masalah.", "Masalah apa?", tanya Nathaniel dan Emily bersamaan. Mereka berdua menatap Aram meminta penjelasan lebih lanjut. Aram menghela napas pelan. Sebelum bercerita lebih lanjut ia mencari posisi duduk bersandar yang nyaman. "Well...", Aram berhenti berkata beberapa saat. "Apa kalian tahu Harper Sutton?", "Supermodel itu?", tanya Nathaniel. Sedangkan Emily hanya mengernyit samar karena tidak tahu apapun. Ia cukup banyak tertinggal berita. "Ya supermodel itu.", jawab Aram membenarkan. "Bagaimana menjelaskannya ya...", "Jangan bilang kalian berpacaran?", tanya Nathaniel lagi. Emily melirik Aram. Pria itu menggeleng lagi. "Tidak aku tidak berpacaran dengannya. Hanya saja bisa dikatakan kami cukup dekat sebagai teman.", Emily kini mengerti. Ia mengangguk kecil. "Dan dia tidak menganggapmu teman.", timpalnya. "Ya benar sekali.", Nathaniel melongo. Ia mengerjap beberapa kali. "Jadi kau menolak Harper Sutton?", tanyanya sambil kembali menghadap lurus kedepan. "Bisa dikatakan seperti itu.", jawab Aram santai. Dan mendengarnya membuat Nathaniel merasa pening seketika. Bagaimana bisa Aram menolak wanita sesempurna Harper Sutton. Jika saja umurnya sudah lebih besar dan belum mengenal Annellise. Dengan senang hati Nathaniel membuka tangan dan hatinya umtuk Harper. "Pada intinya Harper mengajakku- setengah memaksaku untuk ikut ke perayaan malam tahun baru. Karena aku sudah menolak ajakannya di malam natal. Jadi aku mempertimbangkannya.", "Kalau begitu tidak masalah. Kami berdua bisa ikut ke acara itu. Benarkan, Em?", Emily meringis pelan. "Kalian berdua saja. Aku bisa pergi bersama Maureen dan Steven.", ia masih merasa kurang nyaman jika harus mendatangi acara pesta yang besar dengan lautan manusia. "Guys ini bukan demokrasi. Aku tidak bertanya apakah kalian mau ikut atau tidak. Maksudku, aku ingin menjadikan kalian berdua sebagai alasan untuk tidak datang ke acara itu.", "What?!", seru Nathaniel tidak terima. Ia nyaris bahagia karena bisa mengunjungi pesta malam tahun baru bersama Aram dan Emily tanpa khawatir Natalie marah. Ibunya itu telah memperingati Nathaniel untuk tidak mendatangi pesta-pesta untuk orang dewasa. Dewasa disini yang dimaksudkan adalah dengan pesta minuman alkohol. "Tenang saja. Meski kita tidak pergi ke acara malam tahun baru itu. Kita akan membuat acara tersendiri. Bagaimana?", "Hmmm", deheman Emily membuat Aram menoleh menatap wanita itu. "Aku terserah padamu dan Nate. Asalkan jangan terlalu banyak orang yang datang.", "Nate?", tanya Aram. "Ada syaratnya.", "Apa?", Nathaniel menyeringai. "Ijinkan aku mencoba minuman alkhol. Selain wine tentunya.", ia masih diperbolehkan minum wine karena menurut Natalie- minuman fermentasi anggur itu masih tergolong rendah. Bisa dinikmati dengan hidangan makan malam. "No.", "No!", Aram dan Emily menolak bersamaan dengan nada yang berbeda. Aram menolak dengan santai sedangkan Emily sedikit berteriak. Nathaniel mencebikkan bibirnya. "Ayolah... kalian bisa mengawasiku.", katanya setengah merengek. Aram dan Emily saling bertatapan dalam diam. Mencoba berpikir keputusan apa yang harus mereka ambil. "Fine!", putus Emily tiba-tiba. Aram mengangkat sebelas alisnya. "Kau yakin?", "Siapkan saja seperlunya. Wine, lalu scotch atau bourbon.", jawab Emily pelan. "Yes!", Mendengar seruan Nathaniel membuat Aram mendengus geli. "Jangan senang dulu. Kuperbolehkan karena aku percaya padamu. Sampai kau mabuk. Akan kupastikan ibumu tahu itu dan kau bisa habiskan seumur hidupmu tidak dapat menyentuh minuman beralkhol.", Nathaniel sedikit menelengkan kepalanya. "Deal! Aku tidak akan mabuk. You have my words.",
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD