"Aidan... bangun!" Marina, Mama Aidan mengguncang tubuh putra semata wayangnya itu. Semalam Aidan tidak pulang ke rumah. Ada acara pesta ulang tahun sekolahnya yang diadakan di hotel milik keluarga Blackstone. Aidan ijin untuk tidak pulang dan menginap di hotel.
Marina sudah menduga, putra semata wayangnya itu pasti molor sampai siang dan melupakan bahwa mereka sekeluarga harus berangkat ke Bogor untuk menghadiri resepsi pernikahan salah satu keponakan Marina. Sejak pagi ia sudah mencoba menghubungi ponsel Aidan, tapi tidak diangkat. Ternyata putranya masih bergelut dengan selimut tebalnya.
"Aidan...! Cepet bangun! Papa sudah nunggu di bawah." Marina meletakkan tas berisi keperluan Aidan di meja, "Mama sudah bawakan baju ganti, sarapan juga sudah siap di meja." Marina mengoceh sambil mengeluarkan pakaian dan sepatu Aidan dari tas yang ia bawa.
Hening. Tidak ada tanda-tanda Aidan akan bangun.
"Ini anak ya, susah sekali dibangunin..!" Marina mulai tidak sabar dan menggoyang-goyang tubuh Aidan. Putranya itu hanya mengerang tak jelas, sebelum lanjut lagi tidur sambil mendengkur serta mengeratkan selimutnya.
Marina menghirup napas panjang. Ia menarik selimut Aidan, lalu menyentakanya ke lantai. Sesaat Marina hanya bisa terpaku di tempat.
"Aaaarrrggghhhh.....!!" Marina refleks berteriak begitu pulih dari rasa terkejutnya.
"Apaan sih, berisik banget!" Aidan mengumpat sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Ada apa Honey ?" Julian, Papa Aidan tergopoh-gopoh memasuki kamar ketika mendengar suara teriakan istrinya.
Marina menutup mata dengan sebelah tangannya. Sebelah tangan yang lain menunjuk ke arah tempat tidur. "Itu..."
Julian melihat ke arah yang ditunjuk istrinya. Ia pun sama terkejutnya seperti sang istri, tapi ia tetap berusaha mengendalikan diri. Sembari duduk di tepi ranjang Aidan, Julian membangunkan putra semata wayangnya itu.
"Aidan, bangun sekarang! Papa hitung sampai lima, sampai hitungan kelima kamu masih tidur, Papa anggap kamu sudah tidak perlu bergantung pada Papa dan Mama lagi, satu... dua..."
"Fine. Aidan bangun..." Aidan duduk bersandar ke kepala ranjang dengan satu tangan mengucek mata.
"Kamu tidak merasa ada yang aneh?" Julian bertanya dengan nada pelan namun tegas.
"Maksud Papa ap..." belum sempat Aidan menyelesaikan pertanyaannya, Marina sudah melemparkan handuk kimono ke arah Aidan.
"Pake itu dulu baru bicara!"
Aidan menunduk, menatap dirinya. Ia tersentak dan menoleh sampingnya. Dia tidak ada.
"Kemana dia?" Aidan bertanya pada kedua orangtuanya.
"Pakai itu dulu, bersihkan dirimu, baru kita bicara!" Julian berkata tegas.
***
"Apa yang kamu lakukan semalam?" tanya Julian tanpa basa basi.
"Melakukan apa?" Aidan pura-pura tidak mengerti.
"Kamu tau maksud Papa, Aidan! Sejak kapan?"
Aidan menundukan wajahnya, tak berani menatap wajah kedua orangtuanya.
"Seberapa sering kamu melakukannya?
Aidan masih diam.
"Jika pergaulanmu terlalu bebas seperti ini, sepertinya Papa harus mengambil tindakan tegas!"
"Ini sama sekali tidak seperti yang Papa pikirkan," jawab Aidan.
"Jelaskan!"
"Ini pertama kalinya Aidan melakukan ini, dan sama sekali tidak ada kesengajaan," Aidan membela diri, "Aidan tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja semua terjadi."
"Ohh Aidan, kamu sungguh membuat Mama kecewa!" Marina bersedekap, menatap tajam sang putra.
"Maafin Aidan Ma... Pa..." Aidan menatap Papa Mamanya, "awalnya Aidan hanya ingin memberi gadis itu pelajaran."
"Maksud kamu?!"
Aidan menceritakan semua kepada kedua orangtuanya. Bagaimana dia tampil, dan secara tak sengaja melihat Carmila menjauhi panggung, sampai terjadi insiden semalam.
Marina terhenyak. "Hanya karena masalah sepele seperti itu? Ya Tuhan Aidan...!"
"Sepele gimana, Ma? Ini menyangkut harga diri!" Aidan tak terima.
"Aidan, pernah Papa mengajarimu untuk menjadi pengecut seperti itu? Apa kamu pernah memikirkan akibatnya?"
"Aidan khilaf, Pa..." jawab Aidan lirih.
"Siapa namanya? Tinggal dimana?" tanya Marina
"Aidan gak tau, Ma..."
Marina melotot mendengar jawaban putranya. "Kamu betul-betul keterlaluan Aidan!" Marina sekuat tenaga menahan kekesalannya. Ingin rasanya memukul dan mencakar Aidan, jika saja ia tidak ingat bahwa Aidan itu putranya.
Berbeda dengan sang istri, Julian lebih tenang dalam menyikapi permasalahan yang ada. Ia menatap Aidan dengan tatapan teduh seorang ayah tanpa berusaha mengintimidasi. Dirinya menyadari betul bahwa berhadapan dengan Aidan tidak bisa salah mengambil sikap atau semua akan menjadi lebih buruk. "Papa selalu mengajarimu bertanggung jawab dalam segala hal, sekarang Papa tanya, bagaimana caramu bertanggung jawab terhadap masalah ini?"
"Maksud Papa apa? Aidan akan meminta maaf padanya."
"Apa kamu pikir dengan meminta maaf itu cukup? Aidan, kamu telah menghancurkan masa depan seorang gadis."
"Apa maksud papa?! Aidan cuma nidurin dia sekali doang, hancurin masa depan gimana?" Aidan tak terima.
"Bagaimana jika dia hamil dan mengandung anakmu?"
Jleb!
Aidan shock mendengar ucapan sang Papa. Memang dirinya tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Hamil? Anak? Bayi? Aidan bergidik ngeri membayangkan dirinya sudah menjadi seorang bapak saat masih kelas 3 SMA. Usianya bahkan masih 18 tahun. Tidak! Itu tidak boleh terjadi!
"Ma... Pa... apa kita tidak bisa melakukan sesuatu? Bayi? Anak? Aidan belum siap..."
"Seharusnya kamu memikirkan itu sejak awal!" Julian berkata tegas.
"Kamu pikir gadis itu siap untuk hamil dan punya anak?" Marina menatap putranya jengkel.
"Trus Aidan harus gimana?"
"Tanggung jawab, nikahi gadis itu!"
Aidan menatap Marina dengan ekspresi ngeri. "Ma, Aidan masih sekolah...iya klo hamil, kalo ternyata enggak, rugi dong Aidan nikahin dia..."
Plethok!!!
Marina menjitak kepala Aidan dengan kesal. "Rugi gundulmu! Dia yang rugi. Kamu sudah merampas kehormatannya! Nikahi dia hamil atau pun tidak! Mama gak mau tau!" Marina berkata kethus.
***
"Lo kenapa dari tadi bengong aja?" Azka menepuk pundak Aidan yang sejak tadi hanya melamun saja. Saat ini mereka tengah berkumpul di markas mereka, tepatnya di gudang belakang sekolah.
"Kenapa sih Dan? Ceritalah,sama kita-kita," Bian ikut penasaran melihat kediaman sahabatnya yang tidak biasa itu.
"Bukan apa-apa, hanya saja cewek yang di pesta waktu itu..."
"Carmila maksud lo?" tanya Bian.
"Jadi namanya Carmila?" Aidan balik bertanya.
"Yup, Carmila anak kelas 11 Ipa1. Kenapa emang? Taruhan masih jalan nih untuk bikin dia minta ampun ma kita?" Azka bertanya was-was, dalam hati ia tidak tega, jika mereka masih melanjutkan rencana di pesta waktu itu.
Aidan diam mendengar jawaban Azka. Ia bingung bagaimana cara memulai bebicara dengan gadis bernama Carmila itu. Apa ia samperin saja di kelasnya? Terus mau ngomong apa?
"Hai Carmila, gue Aidan yang kemarin memperkosa lo... sekarang gue mau tanggung jawab, nikah yuk?"
Atau
"Carmila, gue minta maaf karena sudah merenggut keperawanan lo, mending kita nikah aja ya?"
"Carmila, pulang sekolah lo ikut ke rumah gue... kita nikah!"
"Carmila, gue Aidan, gue tau gue salah udah memperkosa lo, jadi sekarang kita nikah!"
Aidan mual sendiri dengan berbagai rencana di otaknya untuk memulai pembicaraan dengan Carmila. Sama sekali bukan gaya seorang Aidan Blackstone. Tapi sebetulnya bukan itu yang membuatnya bimbang, ya klo hamil, kalau gak?
"Arrrghhh..." Aidan berteriak frustasi seraya mengacak-acak rambutnya.
Keempat kawannya kebingungan melihat tingkahnya yang tidak biasa itu.
"Lo kenapa sih Dan? Cerita dong klo ada masalah," ujar Azka yang sejak tadi gemas lihat tingkah aneh Aidan.
"Iya nih, sama kita kita juga pake rahasia segala." Bian mendukung Azka.
"Gue gapapa. Kalian tunggu sini bentar ya..." Aidan bangkit berdiri dan berlari meninggalkan keempat sahabatnya. Dirinya berniat menemui Carmila di kelasnya. Ia merasa tak tenang jika belum menemui gadis itu. Apalagi pagi harinya setelah insiden malam itu, dirinya tidak mendapati Carmila di kamarnya. Gadis itu pergi begitu saja. Aidan tidak tahu apa yang ada dipikiran Carmila saat itu. Ia semakin merasa tidak enak hati, setelah mamanya menjelaskan bahwa gadis itu masih perawan dan ada kemungkinan hamil. Tapi kenapa saat itu Carmila pergi begitu saja? Apa dia tidak tahu apa saja yang bisa menimpanya? Apa dia tidak ingin meminta pertanggung jawabannya?
Aidan melongok di pintu kelas Carmila. Ia mengamati satu per satu murid yang ada di kelas Carmila, tapi tidak melihat gadis itu di sana. Entahlah, ia sendiri lupa-lupa ingat dengan wajahnya. Aidan mencegat salah satu siswa berkacamata yang hendak ke luar dari kelas Carmila.
"Lo temen sekelas Carmila?" tanya Aidan.
Siswa itu mengangguk, gugup. Bagaimana tidak gugup jika yang berdiri di hadapannya saat ini adalah seorang Aidan. Cowok paling ditakuti dan dihindari di sekolah.
"Bisa lo panggilin dia?"
"Eh, anu... Carmila hari ini ijin sakit," jawabnya gemetar.
"Sakit? Lo tau alamat rumahnya?"
"G-gak tauu.."
"Ok, thanks."
Tanpa berkata apapun lagi, Aidan berlalu dari sana dan kembali ke markas.
"Guys, kayaknya gue harus cabut duluan. Kalian gak masalah kan?" Aidan tersengal sehabis berlari dari kelas Carmila.
"Emang lo mau kemana?" tanya Damian.
"Gue ada perlu. Penting banget. Harus segera gue selesain, nyokap bokap menyita semua fasilitas gue...."
"Masalah apaan sih? Gak biasanya deh lo main rahasia ma kita," Tristan heran.
"Sory... gue belum bisa kasih tahu kalian, tapi pasti nanti gue bakal kasih tau semua." Aidan berusaha menjelaskan secepatnya, agar teman-temannya tidak salah faham dan menganggapnya sudah tidak percaya mereka lagi.
"Lo yakin gak butuh bantuan kita, Dan?" Azka kali ini yang bertanya.
"Hmm... kali ini beneran harus gue selesaiin sendiri," jawab Aidan sedikit lesu.
"Ok deh klo itu mau lo, hati-hati... hubungi kita klo lo butuh bantuan." Bian menepuk pundak Aidan, memberi support.
"Thank's... gue cabut."
Tanpa menunggu jawaban sahabat-sahabatnya, Aidan segera berlari menuju ruang Tata Usaha untuk mendapatkan data dan alamat lengkap Carmila.
***
Dari informasi yang didapat, Aidan mengetahui bahwa Carmila adalah gadis pendiam dan merupakan siswi teladan di sekolahnya. Dia masuk ke sekolah Biru berlian dengan beasiswa dari Yayasan Biru Berlian. Carmila pun sering mengharumkan nama sekolah dengan memenangkan berbagai lomba dan kejuaraan.
Mengetahui banyak fakta mengenai Carmila, membuat Aidan merasa semakin bersalah. Benar apa yang dikatakan orang tuanya, bahwa dirinya telah merusak masa depan Carmila. Bahkan menurut keterangan salah satu guru tata usaha tadi, saat ini Carmila telah mendapatkan banyak undangan untuk masuk ke perguruan tinggi tanpa tes masuk dan bebas memilih segala jurusan. Belum lagi deretan perusahaan yang bersedia memberikan beasiswa kepada Carmila dengan syarat setelah menyelesaikan pendidikan, Carmila bersedia mengabdi di perusahaan mereka. Carmila juga berhasil menguasai beberapa bahasa dengan belajar otodidak dari berbagai media dan bertanya kepada beberapa guru bahasa asing di sekolahnya.
Satu kenyataan lagi mengenai Carmila yang membuat Aidan semakin merasa bersalah, ternyata Carmila sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Dia hidup sebatang kara dan harus bekerja untuk bisa mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya juga untuk menyewa tempat tinggalnya saat ini. Carmila tidak pernah mau menerima bantuan dari siapapun secara cuma-cuma.
Aidan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya makin tidak tenang. Rasa bersalahnya pun semakin besar. Sungguh, seumur hidupnya belum pernah dirinya merasa bersalah seperti ini, kecuali kepada seseorang yang sudah tiada.
Aidan sampai disebuah kompleks apartement murah di pinggiran kota. Ini mah rumah susun, bukan apartement, batin Aidan.
***
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?"
Aidan kembali mengetuk pintu. Terdengar langkah mendekat ke arah pintu. Carmila kah itu? Menurut informasi, ia tinggal sendiri. Jantung Aidan berdetak cepat, campuran antara penarasan, senang dan juga takut. Aidan mengatur nafas berusaha menenangkan diri.
Ceklek!
Pintu terbuka. Di depan Aidan berdiri seorang gadis memakai seragam SMA sama dengannya, tapi Aidan yakin itu bukan Carmila. Gadis itu membelalak tak percaya melihat kedatangan Aidan.
"Ehh... Carmila ada?" tanya Aidan.
"Eh...oh... ada... ehh, masuk," jawab gadis itu gelagapan.
Aidan mengikuti gadis itu masuk ke dalam. Ada sesuatu yang menusuk di dadanya tatkala melihat tempat tinggal Carmila. Bersih memang, tapi mengapa sempit sekali? Satu ruangan berukuran tak lebih besar dari kamar mandinya di rumah bahkan sudah dilengkapi dapur mini dan kamar mandi, bisa dibayangkan sempitnya.
Setelah melewati dapur mini dan kamar mandi, Aidan sampai di ruang utama. Ruang utama hanya berisi sebuah ranjang berukuran single dengan rak buku di atasnya, almari pendek sepinggang serta sebuah meja dan kursi. Di tempat tidur itu Aidan melirik ke arah tempat tidur. Carmila tengah berbaring lemah di sana.
"Siapa Ra?"
"Eh... itu..."
Aidan mendekat ke arah ranjang, menghampiri Carmila. Seketika wajah Carmila yang sudah pucat terlihat semakin pucat. Aidan bisa melihat sisa air mata yang sudah mengering di pipi gadis itu.
"Carmila..." panggil Aidan.
Carmila menoleh. Ia terpaku sesaat, sebelum kemudian membelalak dan berteriak histeris.
"Kamu..." Carmila berkata dengan suara bergetar, "pergi...!"
"Tunggu... aku..." Aidan berusaha menjelaskan maksud dan tujuannya datang, tapi Carmila sama sekali tak mau memberinya kesempatan.
"Nara... usir dia, suruh dia pergi!" Carmila menjerit histeris, membuat Henara kebingungan.
"Mil, tenang dulu... ada apa?" Henara menenangkan Carmila.
"Nara... usir dia! Aku gak mau ketemu dia," Carmila memohon dengan badan gemetar dan wajah yang basah dengan air mata.
"Carmila... please, kasih gue kesempatan untuk..."
"Tidaakk....!" belum selesai Aidan bicara, Carmila sudah memotongnya dan menutup kedua telinganya.
"Mila, tenang dulu ya... ada aku, apa yang kamu takutin?" Henara duduk di sebelah ranjang dan memeluk Carmila yang menangis tak terkendali.
Menyaksikan kondisi Carmila, Aidan ikut merasakan sedih dan sakit di dalam dadanya. Aidan sendiri bingung dengan rasa baru yang muncul di hatinya ini. Rasa ingin melindungi dan menanggung semua penderitaan Carmila. Tapi bagaimana jika dirinya sendirilah penyebab semua penderitaan gadis itu?
Tiba-tiba Carmila melepaskan diri dari pelukan Henara dan berdiri menghampiri Aidan. Ia mendorong tubuh Aidan ke luar dari dalam kamarnya.
"Keluar!"
"Carmila, tolong kasih kesempatan..." Aidan berusaha berbicara.
"Pergi...pergi...!!"
Aidan tak mau menyerah. Ia menahan dorongan Carmila dan menatap tajam gadis itu. Dirinya cuma ingin segera menyelesaikan masalahnya saat ini juga . Ia sangat yakin, jika saat ini dirinya memilih pergi dan menundanya, maka untuk selanjutnya dirinya tidak akan pernah bisa memulainya lagi.
"Arrghh..." Carmila berhenti mendorong Aidan dan mengerang kesakitan.
"Kamu gapapa?" Aidan khawatir. Ia bermaksud membantu Carmila kembali berbaring, tapi matanya tak sengaja menangkap sesuatu berwarna merah merembes di kaki Carmila. Tubuh gadis itu tiba-tiba saja roboh ke samping dengan mata terpejam. Aidan dengan sigap menangkapnya agar tidak jatuh ke lantai. Diangkatnya tubuh itu lalu dibaringkannya di tempat tidur.
"Lo, temannya Carmila?" tanya Aidan pada Henara.
"I-iya kak, aku Henara teman sekelas Mila," jawab Henara gugup.
"Carmila sakit apa?"
"Mmm... enggak tahu kak. Terakhir aku ketemu pas di pesta ultah sekolah, dia masih baik."
"Udah ke dokter?"
"Eh belum kak, aku juga bingung gimana mau bawa dia ke dokter, dia bilang klo buat jalan sakit, gak tau yang mana yang sakit."
Aidan mengangguk mengerti. Ia menghubungi mamanya, menceritakan kondisi Carmila dan bertanya apa yang sebaiknya dilakukan. Mamanya memerintahkan untuk segera membawa Carmila ke rumah sakit.
"Gue bawa dia ke rumah sakit."
"Eh...Kak..." Henara bingung.
"Gue yang tanggung jawab." Aidan membungkus tubuh Carmila dengan selimut kemudian menggendongnya, "kunci pintunya! Gue bawa dia ke rumah sakit." Aidan berkata kepada Henara sebelum membopong Carmila ke luar meninggalkan Henara yang bertanya-tanya, ada hubungan apa antara sahabatnya dengan kakak kelasnya itu. Carmila sekalipun tak pernah cerita jika dirinya mengenal Aidan.
***
Sampai di parkiran gedung apartement Carmila, Aidan terlihat sedikit kesusahan mengambil kunci mobil dari saku celananya. Ia mengumpat pelan, mengutuki kebodohannya karena tidak mempersiapkan kontaknya terlebih dahulu.
"Butuh bantuan?"
Sebuah suara yang amat dikenalnya membuat Aidan sontak menoleh ke arah suara. Bian tengah bersedekap menatapnya begitu juga ketiga sahabatnya yang lain.
"Guys, kalian di sini?" Aidan bertanya heran.
"Sory, kita ngikutin lo...khawatir lo kenapa-napa," jawab Azka.
"Ok, sekarang gue lagi buru-buru banget, harus segera bawa dia ke rumah sakit, nanti gue certain." Aidan menjelaskan dengan cepat.
Mereka berempat diam saja tak menjawab, malah saling berpandangan. Damian yang akhirnya maju, merogoh saku celana Aidan dan mengeluarkan kunci mobil Aidan. Ia memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Aidan masih belum ngeh dengan apa yang terjadi, sampai kemudian sebuah tepukan di bahu menyadarkannya.
"Kita antar ke rumah sakit, lo naik aja biar Damian yang nyetir," ujar Tristan.
"Thank's Guys."
Aidan duduk di bangku belakang dengan Carmila di pangkuannya.
***
Di rumah sakit Aidan dibuat kaget karena Mama dan Papanya telah menunggunya di lobi.
"Mama...Papa.. kenapa di sini? Aidan bisa urus semua sendiri."
"Mama mau tau kondisi mantu Mama dong..." jawab Marina diikuti ekspresi kaget keempat sahabat Aidan yang ternyata masih mengikuti di belakang.
Carmila dibawa ke ruang UGD dan langsung ditangani oleh Dokter Marisa, adik kandung Marina, sementara semua menunggu di depan UGD dengan harap-harap cemas, ingin segera mengetahui kondisi Carmila.
Selang beberapa saat dokter Marisa keluar.
"Dia sudah sadar, kondisinya stabil dan sudah bisa dipindah ke ruang perawatan." Marisa menjelaskan, "tapi ada beberapa hal yang harus tante tanyakan dan jelaskan ke kamu Aidan! ikut ke ruangan tante sekarang!" tegas Marisa membuat Marina penasaran dan ikut mengekor di belakang mereka.
Aidan gugup. Apa kira-kira yang ingin tantenya sampaikan? Mengenai kondisi Carmila? Ada apa dengan Carmila? Jangan-jangan Carmila hamil?
***