Kriing!!!
Bel istirahat berbunyi. Seluruh murid di SMA Biru Berlian menghambur ke luar kelas. Begitu pula dengan murid di kelas 11 Ipa1, mereka berdesakan di pintu kelas, kecuali dua cewek cantik yang terlihat cuek saja di bangkunya. Carmila dan teman sebangku sekaligus sahabatnya, Henara.
Carmila merupakan siswi beruntung yang mendapatkan beasiswa di SMA Biru Berlian, sekolah elite yang terkenal akan kemegahan bangunan sekolahnya dan juga kualitas murid-muridnya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hampir keseluruhan murid yang bersekolah di sini pun merupakan anak pejabat, pengusaha atau bahkan para artis ternama.
"Semua siswa wajib datang, Mil."
"Nggak bisa, Ra." Carmila menatap sahabatnya itu dengan tatapan meminta maaf, "kamu tau sendiri kan, aku harus kerja."
"Ijin nggak kerja sehari, masak nggak boleh?" Henara belum mau menyerah.
"Aku dapetin pekerjaan ini dengan susah payah, Ra."
Sejujurnya, Carmila memang enggan untuk menghadiri perayaan ulang tahun sekolahnya. Selain harus bekerja, ia juga merasa tidak pantas untuk hadir di acara itu. Apalagi diadakan di hotel bintang lima yang terkenal mewah dan mahal. Siapalah dirinya? Hanya siswi miskin, yatim piatu yang kebetulan saja mendapat beasiswa sehingga bisa masuk ke sekolah elit ini. Bermimpi bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang SMA saja ia tidak pernah. Jangankan untuk bersekolah, untuk memenuhi segala kebutuhannya sendiri saja, ia harus bekerja keras mencari uang. Setiap sepulang sekolah, dirinya harus bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu restoran mewah di kotanya.
"Carmila.... plis deh, acara ini kan nggak diadakan setiap hari. Sekali-kali kamu seneng-seneng dikit nggak masalah dong?" Henara tetap memaksa.
Carmila menatap sahabatnya itu dengan pandangan meminta maaf. Henara adalah satu-satunya orang yang mau dekat dan bersahabat dengannya di sekolah ini. Meski dia putri seorang pengacara dan jaksa terkenal, tapi Henara tetap rendah hati dan bersahaja.
"Sorry banget, Ra. Lagipula aku juga nggak punya baju yang pantas. Aku nggak akan bisa tampil selayaknya kalian semua."
"Mil, kamu anggap aku apa sih?" Henara mulai jengkel. Ia mendelik menatap Carmila.
"Hmm, kamu sahabat terbaikku." Carmila tersenyum manis.
"Oke, klo kamu masih anggap aku sahabat, plis kali ini kamu nurut sama aku, gimana?"
"Kamu mau ngapain?"
"Udah, ikut aja... nggak boleh nolak atau persahabatan kita putus!" ancam Henara.
Carmila menoleh. Henara tersenyum misterius ke arahnya. "Baiklah, terserah kamu saja." Carmila pasrah.
"Yes... horeee!!" Henara bersorak seraya memeluk sahabatnya.
***
Pesta perayaan ulang tahun sekolah yang diadakan SMA Biru Berlian sungguh meriah. Sangat sesuai dengan image sekolahnya. Dekorasi mewah dengan rangkaian bunga ditata apik mulai dari lobi hotel sampai di sepanjang jalan menuju tempat pesta, yang berada di halaman belakang hotel. Panggung hiburan yang cukup megah, berdiri di tengah kolam renang, dengan dekorasi minimalis tapi elegan. Beberapa bintang tamu dari artis dan musisi ternama akan turut memeriahkan acara pesta kali ini. Selain itu, panitia juga telah menyediakan bar serta mendatangkan DJ untuk menambah kemeriahan acara di malam ini.
"Henara, aku gak nyaman kayak gini." Carmila menghentikan Henara yang berjalan dengan percaya diri memasuki lobi hotel.
"Kamu cantik banget kok, beneran!" sekali lagi Henara meyakinkan sahabatnya itu yang memang selalu merasa rendah diri. Ia menggandeng tangan Carmila dan setengah memaksa, menarik sahabatnya itu menuju area pesta.
Carmila melangkah tersaruk mengikuti tarikan Henara. Wajahnya menunduk menatap lantai yang ia lewati tanpa berani mendongak, sekalipun hanya untuk melihat suasana di sekitarnya. Ia menyesal sekali menyetujui ajakan sahabatnya itu. Dirinya benar-benar merasa tidak nyaman dengan dandanannya yang menurutnya terlalu berlebihan. Semua ini karena Henara yang begitu antusias karena dirinya akhirnya bersedia datang ke pesta. Pasalnya sejak pulang sekolah, Henara langsung menyeretnya pergi ke salon untuk melakukan perawatan seluruh tubuh. Tidak cukup sampai di situ saja, Henara juga memaksanya untuk memilih gaun di butik langganan Mamanya. Tentu saja ia menolak. Harganya terlalu mahal. Akhirnya, ia lebih memilih memakai gaun bekas Henara saja.
"Nara... aku pulang aja ya?"
"Sudah sampai sini juga, masa mau pulang?" Henara sewot. Tangannya menggandeng erat lengan Carmila.
Mereka berdua sampai di tempat pesta, saat sambutan dari Kepala Sekolah berakhir. Acara inti dimulai. Sebelum bintang tamu utama yaitu Band Nidji tampil, acara hiburan diawali dengan penampilan dari siswa-siswi SMA Biru Berlian. Masing-masing ekstrakurikuler menampilkan kebolehan mereka di atas panggung. Mulai dari tari, teater, balet, paduan suara, dan musik.
Setelah rentetan acara hiburan pembuka, MC mulai memanggil Band pembuka yang berasal dari sekolah mereka sendiri. Meski band sekolah, tapi band ini memiliki ketenaran sekelas artis karena para personilnya yang merupakan sekumpulan cowok most wanted di sekolah. Siapa mereka? Aidan, Azka, Bian, Damian dan Tristan. Aidan menjadi personil paling digandrungi kaum hawa baik di sekolah mereka maupun dari luar skolah. Siapa yang tak kenal Aidan? Bahkan di kalangan guru pun nama Aidan sangat tersohor. Selain karena keluarganya yang kaya raya, juga karena kebrutalan Aidan yang melampaui batas. Aidan tak segan untuk menyingkirkan siapapun yang menganggu ketenangannya.
Carmila menutup kedua telinga, mendengar kehebohan dan jerit histeris cewek-cewek di sekelilingnya saat personel Band dari sekolahnya naik ke atas panggung. Teriakan histeris cewek-cewek itu semakin keras, ketika Band itu mulai membawakan lagu mereka.
"Ra, agak jauhan yuk, kenceng banget nih, dekat sound." Carmila yang memang tidak begitu suka dengan kebisingan, menarik lengan baju sahabatnya itu.
"Lagi seru nih Mil, Aidan keren banget kan Mil?" Nara dan semua yang berada di sekitarnya jingkrak-jingkrak, mengikuti irama lagu yang sedang dimainkan.
Sepanjang Band di atas panggung itu memainkan musik mereka, para cewek menjeritkan nama Aidan, Azka, Bian, Damian dan juga Tristan. Berharap sang idola menoleh dan tersenyum pada mereka. Aidan, sang vokalis, sekalipun memiliki lebih banyak fans dibanding keempat kawannya, tapi Aidan dikenal sebagai sosok yang dingin terhadap perempuan.
"Aidaannnn.... I Love U...!"
"Azkaa... muach.."
"Biaaan.... liat sini dong."
"Ohh Damiann... gue rela banget jadi simpenan lo."
"Tristaaann... mau senyumnya doooong..."
Tak tahan dengan kebisingan yang ada, Carmila menutup kedua telinganya sembari berjalan mundur menjauh dari panggung.
Tanpa sengaja, pandangan Aidan jatuh ke arah Carmila. Egonya tersentil, melihat ada seorang cewek yang dengan sengaja menghina permainan Band-nya. Sambil tetap bernyanyi, Aidan terus mengamati gadis yang sudah berani menantangnya. Ia bersumpah akan mencari tahu siapa gadis itu dan memberinya pelajaran. Ya, Aidan memang tak pernah pandang bulu dalam mencari lawan. Ia pun tetap memperhatikan Carmila menjauh dari depan panggung dengan tatapan tajam menusuk.
***
Carmila duduk di sudut taman yang sepi, agak jauh dari kebisingan pesta. Ia menyesali kebodohannya datang ke pesta ini, toh dirinya sama sekali tidak menikmati pestanya. Kalau bukan karena Henara, ia lebih memilih bekerja daripada membuang-buang waktunya di tempat seperti ini. Carmila memijat betisnya yang terasa kaku karena mengenakan sepatu Henara yang memiliki tinggi 7cm ini. Ia sama sekali tak menyadari ada lima pasang mata yang sedang mengintainya.
"Siapa tuh cewek? Kurang ajar dia..." Aidan bertanya kepada keempat sahabatnya dengan ekspresi siap membunuh.
"Gak pernah liat gue," jawab Bian.
"Lo tertarik sama dia, tumben banget?" Damian ikut nimbrung.
"Ck! g****k! Lo gak liat dia tutup telinga sambil menjauh dari panggung waktu kita tampil tadi?" Aidan balik tanya.
"Wah... penghinaan, musti diberi pelajaran tu cewek."
"Bener banget, dia berani ngerendahin kita!" Tristan menimpali.
"Ya, tapi gimana caranya kasih pelajaran tuh cewek biar gak belagu?" tanya Azka
Mereka berlima saling mendekatkan kepala dan berbisik-bisik hingga tak ada orang lain yang bisa mendengar. Senyum misterius terkembang di bibir mereka. Waktunya eksekusi.
Kali ini Azka yang kendapat giliran lebih dulu untuk mendekati Carmila dan memberi pelajaran gadis itu. Azka sudah memiliki rencana untuk mempermalukan Carmila di depan umum. Tapi, pertama-tama ia harus mendekati Carmila dan mengajaknya berkenalan lebih dulu.
"Hi, sendirian aja?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Carmila. Ia menoleh. Seorang cowok tiba-tiba duduk di sebelahnya sambil menyesap soft drink yang ia bawa. Carmila menggeser duduknya, menjauhi cowok itu.
"Ya." Carmila menjawab singkat.
"Santai aja kali, gue gak gigit kok," Azka terkekeh. "Kenalin, gue Azka kelas 12 Ipa1." Azka mengulurkan tangannya.
"Eh, Carmila 11 ipa1," jawab Carmila gugup, tanpa menerima uluran tangan Azka.
Azka mendengus pelan. Sok jual mahal! Ia menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. "Lo datang sendiri?"
"Eh... sama temen."
Carmila gelisah, ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Azka. Lebih baik dirinya mencari Henara saja. "Maaf, aku ke sana dulu." Carmila meninggalkan Azka yang melongo, heran. Baru kali ini ada cewek yang menolak berkenalan dengannya. Azka tersenyum simpul, gadis lugu yang menarik.
Azka kembali ke kerumunan teman-temannya sambil mengangkat tangan, tanda menyerah. Mereka semua menatap Azka dengan ekspresi heran. Seorang Azka tidak berhasil!?
"Gila banget tu cewek. Gue ditinggal pergi," ucap Azka sambil menggelengkan kepala, masih tak habis pikir.
"Kenapa?lo gak bisa naklukin dia?" Bian mencemooh.
Azka mengedikan bahu. "Namanya Carmila."
"Ya udah deh Bi, lo aja yang maju, kayaknya pesona Azka sudah luntur hahhaa...!" Damian mengejek Azka.
"Ok, klo sampai 5 menit gue gak bisa bikin dia kewer-kewer sama gue, gue bakal tobat jadi playboy... serius!"
***
Dengan percaya diri Bian mendekati Carmila yang sedang ngobrol dengan Henara di tepi kolam. Dirinya berencana memakai taktik lama, pura-pura tak sengaja menyenggol Carmila dan menumpahkan minuman ke gaun gadis itu.
"Sorry...sory, gue gak sengaja." Bian berakting meminta maaf.
"Tak apa," jawab Carmila singkat. Ia sama sekali tak menoleh ke arah Bian yang sedang memperhatikannya. Carmila sibuk melap gaunnya yang basah dengan tisu.
"Baju lo jadi basah dan kotor," Bian pura-pura menyesal. "Gue ganti baju lo, kebetulan di hotel ini ada butik dan toko baju. Lo bisa pilih sendiri." Bian melemparkan umpan.
Carmila mendongak menatap Bian sekilas, ia menggeleng singkat. "Gak usah, makasih. Nara, antar ke toilet yuk?"
Gadis bernama Henara itu mengangguk. Ia menggandeng lengan sahabatnya dan mengantarnya ke toilet. Dalam perjalanan ke toilet, Henara tak henti-hentinya mengatai Carmila bodoh, karena menolak ajakan Bian.
"Kamu tau gak Mil tadi itu siapa?" Henara bertanya gemas.
"Enggak," Carmila menjawab cuek.
"Yaelah Mil, makanya sesekali kamu buka mata deh, liat di sekitar kamu!"
"Emang masalahnya apa Ra?"
"Itu tadi Biaaaannn... !Ya Tuhan Carmila, dia salah satu idola di sekolah, dan kamu nolak ajakan dia gitu aja?"
"Gitu ya? Hehehe..." Carmila bingung harus jawab apa, jadi ia hanya cengengesan tak jelas.
Sementara Bian masih terpaku menatap kepergian dua gadis itu, tak percaya. Hari gini, masih ada cewek yang menolak ajakannya? Shoping guys, beli baju baru? Biasanya mereka malah merengek minta dibelikan ini itu.
Bian kembali ke tempat dimana teman-temannya masih menunggu hasil penaklukannya.
"Gagal juga nih?" Ejek Tristan.
"Bukan gagal. Dianya aja yang aneh... diajak shoping, nolak. Dasar cewek aneh!" umpat Bian.
"Hahaha..." Mereka semua kompak menertawakan Bian.
"Lo berdua emang payah." Aidan meremehkan.
"Mending kita lupain aja, yang penting tau nama dan kelasnya, kita buat dia gak kerasan di sekolah." Azka mengusulkan. Sejujurnya ia belum bisa melupakan bayangan wajah Carmila dari pikirannya. Wajah takut dan gugup saat ia mengajak berkenalan, entah mengapa membuat hatinya berdesir.
"Gue setuju ama lo, Ka." Damian mendukung Azka.
"Kita nikmatin aja pesta semalam suntuk ini..." Tristan mulai mabuk, kebanyakan minum.
"Yo'a men, kita cari aja cewek yang bersedia hav fun bareng kita... akakakk..." Damian juga sudah mulai melantur karena mabuk.
"Dan, kamar lo bisa dipake kan?" Azka merangkul pundak Aidan. Ia tidak bermaksud membawa cewek, hanya saja repot urusan klo semua mabuk di sini, jadi mending mereka pindah ke kamar saja.
Hotel ini memang merupakan salah satu properti milik keluarga Aidan. Jadi, wajar jika Aidan memiliki suit room pribadi di sini. Aidan juga sering tidak pulang dan lebih memilih menginap disini bersama keempat kawannya ketika mama papanya sedang pergi ke luar kota atau luar negeri.
"Gimana, Dan? Kita bisa pake kamar lo kan?"
Aidan diam tak menanggapi ocehan kawan-kawannya. Ego-nya masih tak terima dengan sikap cewek yang telah menghina penampilannya tadi. Memang sih tidak ada ucapan penghinaan secara langsung, tapi tetap saja gadis itu sudah berani bersikap kurang ajar padanya. Masalahnya yang jadi vokalis kan memang dirinya, jadi wajar kalau tersinggung?
"Gue ke toilet bentar ya..." Aidan meninggalkan keempat sahabatnya dengan sempoyongan akibat pengaruh alkohol. Dia sudah memikirkan sendiri cara untuk mmberi pelajaran cewek tadi.
***
Aidan berkeliling halaman hotel untuk mencari Carmila. Meski ia tidak mengingat jelas wajah Carmila, tapi Aidan masih bisa mengingat baju yang dikenakan gadis itu. Tidak ketemu. Ia pun memutuskan untuk pergi ke toilet lebih dulu dan mencuci mukanya agar lebih segar.
Saat berjalan menuju toilet, tak sengaja Aidan melihat Carmila dan kawannya berjalan kembali dari toilet. Wah, ini namanya pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aidan mengurungkan niatnya ke toilet. Ia berhenti dan duduk di bangku terdekat untuk mencegat Carmila. Menjegal gadis itu sepertinya menyenangkan. Namun, ia harus menelan kekecewaan karena ternyata Carmila dan kawannya tidak kembali ke area pesta. Mereka berdua berjalan ke dalam hotel, sepertinya berniat pulang. Aidan pun buru-buru mengikuti di belakang mereka. Samar-samar ia mendengar percakapan keduanya.
"Kamu nginep rumahku aja, besok kan minggu."
"Gak deh, Ra. Besok pagi aku harus sudah ke restoran untuk ganti shift kerjaku malam ini."
"Kan bisa berangkat dari rumahku?"
"Kejauhan, rumah kamu berlawanan arah, gapapa aku naik angkot aja."
"Ini udah malam loh, yakin mau cari angkot? Ya udah, aku antar pulang aja klo gak mau nginap."
"Aku dah biasa kok pulang malam."
"Gak, pokoknya kamu tunggu sini, aku ambil mobil dulu!"
Aidan melihat teman Carmila meninggalkan gadis itu di depan lobi sendirian. Kesempatan bagus! Ia mengeluarkan saputangan yang sudah diberi obat bius dari kantong celananya dan berjalan perlahan mendekati Carmila, lalu membekap gadis itu.
Tubuh Carmila melemas dan roboh ke samping. Aidan dengan sigap menahannya tubuhnya. Ia memanggul tubuh Carmila di pundaknya dan berjalan berputar melewati pintu samping lobi hotel dan turun ke basement. Kebetulan di sana sepi. Aidan menaiki lift dari basement yang bisa langsung menuju lantai teratas hotel, dimana kamarnya berada.
***
Aidan menghempaskan tubuh Carmila ke atas ranjang dan melucuti pakaian yang dikenakan gadis itu. Awalnya, ia sama sekali tidak memiliki pikiran untuk berbuat tak senonoh. Hanya berniat mengambil gambar bugil Carmila dan menyebarkanya. Keji? Memang. Begitulah Aidan.
Aidan mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. Matanya tak lepas dari tubuh terkapar tak berdaya di hadapannya ini. Sesuatu yang tidak ia pahami terbangun dalam dirinya. Sebuah keinginan yang besar dan rasa penasaran ingin menyentuh sedikit kulit mulus Carmila. Pengaruh alkohol membutakan akal sehat Aidan. Haish! Ia mengacak rambutnya frustasi. Rasa panas menjalari seluruh tubuhnya, berpusat di bagian terpentingnya yang sekarang sudah terbangun dengan sempurna.
Ok, menyentuh sedikit tidak apa kan?
Aidan merangkak naik ke atas ranjang. Ia mengulurkan jari telunjuknya dengan gemetar, menyentuh lengan Carmila. Hanya lengan. Uuuhh, kulitnya lembut dan kenyal seperti jeli. Ia semakin penasaran, apa seluruh tubuhnya juga lembut dan halus? Aidan meraba seluruh tubuh Carmila dengan tangan gemetar. Pertama kali baginya melihat dan menyentuh tubuh seorang gadis secara langsung membuat adrenalinnya terpacu.
Setelah puas memperhatikan seluruh tubuh Carmila, Aidan tergoda untuk mencium kening gadis itu. Berlanjut ke pipi kemudian bibir. Hambar. Sialan! ternyata selama ini ia dibohongi oleh kawan-kawannya! Mereka bilang bibir cewek itu rasanya manis. Dimana manisnya? Hambar begini.
Bagian bawah dirinya semakin berdenyut, membuat frustasi. Aidan benar-benar tak kuasa lagi menahan hasratnya yang kian memuncak. Tapi, harus bagaimana sekarang? Meski sempat beberapa kali dirinya bersama keempat kawannya menonton film dewasa, tapi untuk melakukannya secara langsung, ia masih belum memiliki pengalaman.
Aidan bingung, apa yang harus dilakukannya. Ia pun mengutuki kebodohannya karena selama ini tak pernah bertanya lebih detail pada Damian atau Tristan yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Tapi bukankah memang dirinya tak pernah berniat melepas keperjakaannya, sampai sekitar beberapa menit yang lalu, prinsipnya goyah. Ia menyerah pada hasratnya.
Ada setitik rasa bersalah saat Aidan memaksa menyatukan dirinya dengan Carmila. Tapi ia segera menepis rasa bersalah itu. Toh, semua terjadi juga karena kesalahan gadis itu sendiri, bukan?
"Hahahah...!!" Aidan tertawa terbahak. Jadi, ini yang dimaksud teman-temannya? Akhirnya, ia bisa merasakannya sendiri.
Hatinya melambung gembira. Euforia menggembirakan tiada terkira. Aidan tak mau repot memikirkan akibat dari perbuatannya malam ini. Puas, lelah dan mengantuk, membuat tubuhnya ambruk dan tertidur di samping Carmila.
***
Ia merasa pusing.
Sembari memegang kepalanya, Carmila memaksa dirinya untuk bangun. Bingung. Dimana ini? Ruangan ini terasa asing. Kenapa dirinya bisa berada disini? Ia kembali memejamkan mata, karena pusing di kepalanya tidak kunjung reda.
Setelah melakukan sedikit relaksasi dan pernapasan, ia kembali membuka matanya perlahan. Lebih baik. Pusingnya sedikit berkurang.
Masih sambil berbaring, Carmila mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Semalam dirinya menunggu Henara di lobi hotel, lalu...? Ahh, ia tidak bisa mengingat kejadian setelah itu.
Carmila mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ini bukan kamar Henara. Terlalu luas dan mewah untuk ukuran sebuah kamar. Tempat apa ini? Apa Henara yang membawanya kemari?
Ngrook! Ngrook!
Carmila tersentak. Suara dengkuran yang terdengar dekat sekali. Ia menajamkan pendengarannya. Sepertinya berasal dari dalam selimut. Ia pun menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan barulah dirinya sadar bahwa ternyata tubuhnya tidak berpakaian sama sekali.
Belum pulih dari rasa terkejutnya, Carmila kembali dibuat shock saat matanya menangkap sesosok tubuh yang tengah terbaring menelungkup di sampingnya. Seorang laki-laki. Ya, melihat dari postur dan model rambutnya, Carmila yakin sekali bahwa itu seorang laki-laki.
Siapa dia?! Mengapa bisa berada satu selimut dengannya?
Carmila mengamati lebih teliti wajah yang sedikit terhalang oleh selimut. Tidak! Ini tidak mungkin! Lelaki itu tidak mungkin Aidan. Siswa yang paling ditakuti di SMA Biru Berlian. Dia dikenal sebagai tukang bolos, biang onar, sering terlibat perkelahian dan juga brutal. Siapapun yang berani mencari mencari masalah dengannya, minimal akan berakhir di rumah sakit. Tapi kenapa dirinya bisa berada disini bersama Aidan?
Akhirnya Carmila memutuskan untuk pulang saja sebelum Aidan bangun. Entah karena alasan apa dirinya berada disini, yang jelas ia tak mau terlibat masalah dengan cowok berandalan seperti Aidan.
Carmila menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan bangkit berdiri. Spontan ia mengaduh saat rasa sakit menyerang di bagian bawahnya. Belum sempat ia memikirkan mengapa dirinya merasakan sakit, matanya menangkap noda merah di sprei yang kebetulan berwarna putih itu.
Ia tergugu. Otaknya berputar cepat. Rasa sakit saat berdiri, noda darah, dan ada laki-laki yang tidur bersamanya. Sungguh, Carmila bukanlah gadis bodoh yang tak tahu apa-apa. Dalam pelajaran biologi dan beberapa pelajaran lain pun telah banyak dibahas soal ini.
Apakah ini berarti dirinya telah kehilangan mahkotanya yang paling berharga? Apakah b******n itu pelakunya?
"Tidaaaak!" Carmila menjerit histeris. Tubuhnya luruh dan jatuh terduduk di lantai. Bagaimana mungkin ini terjadi padanya? Carmila menangis terisak. "Nggak mungkin! Ini semua gak mungkin terjadi! Tidaaaaak..."
"b******k!" Aidan mengumpat pelan karena tidur nyenyaknya terganggu."Diaaam! Jangan Berisik!" ia menambahkan tanpa sedikitpun membuka mata.
"Apa salahku? Tega sekali kamu melakukan ini padaku?!" Carmila bangkit berdiri dan naik ke atas ranjang. Ia memukuli Aidan dengan kepalan tangannya, menumpahkan segala emosinya pada Aidan. Sedih, marah dan takut bercampur jadi satu. "Jahat!"
"Ck...," Aidan terpaksa bangun dari tidur nyenyaknya. Marah. Ia paling tidak suka diganggu saat tidur. Matanya menatap tajam cewek yang sudah menganggu tidur lelapnya. Sesaat ia lupa pada apa yang telah terjadi. Hampir saja dirinya menendang keluar Carmila dari dalam suit pribadinya sebelum akhirnya ia bisa mengingat dengan jelas kejadian semalam.
Rasain lo, makanya jangan belagu! batin Aidan.
"Diam! Atau kejadian semalam bakal terulang lagi!" Aidan mengancam seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Carmila, membuat gadis itu mengerut ketakutan.
Melihat tak ada perlawanan dari Carmila, Aidan pun kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan kembali tidur. Tak sampai semenit kemudian sudah kembali terdengar dengkuranya.
Selama beberapa saat Carmila hanya terdiam terpaku, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Di sela isak tangis, ia tetap mencoba berkepala dingin. Bagaimanapun dirinya hidup sebatang kara dan harus bisa bertahan hidup sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi saja dari tempat terkutuk ini.
Lalu bagaimana dengan pertanggung jawaban? Tidak! Carmila lebih memilih untuk tidak menuntut pertanggung jawaban dari Aidan. Meski tidak kenal secara langsung, tapi dirinya sudah cukup banyak mendengar reputasi Aidan di sekolah.
Sambil menangis, Carmila memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan berjalan tertarih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menggosok seluruh tubuhnya dengan keras, jijik membayangkan bahwa tubuhnya telah terjamah oleh cowok brutal dan tidak berperasaan seperti Aidan. Apa kesalahan yang telah ia perbuat pada Aidan sampai dirinya layak mendapat perlakuan hina seperti ini?
Dalam guyuran air hangat yang mengalir dari shower, Carmila terus menangis menyesali nasib buruk yang telah menimpa dirinya. Rencana masa depannya berubah total. Setelah kejadian ini, mau tak mau dirinya terpaksa merelakan beasiswa dan sekolahnya kemudian pergi dari kota ini.
Carmila tak tahu apa yang bisa Aidan lakukan padanya di kemudian hari. Aidan bisa saja mempermalukan dirinya di sekolah, menyebarkan apa yang terjadi dan membuat namanya tercoreng. Tidak! Ia lebih memilih untuk menghindari itu semua. Harapannya, semoga ini adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Aidan. Ia akan segera pergi ke tempat dimana tak seorang pun yang mengenalnya dan memulai hidup baru.
****