BAB 6

1165 Words
Hari yang ditunggu tiba yakni hari pernikahanku dengan Tuan muda. Rasanya masih sulit untuk bisa kupercayai jika sebentar lagi aku akan segera menikah dan menjadi istri dari seseorang terlebih dari pria seperti Tuan Muda. Perbedaan di antara kami berdua serta tidak adanya cinta dalam pernikahan ini sempat kembali membuatku meragu namun melihat betapa bahagianya Nyonya Desi saat tengah menyiapkan ini semua membuatku kembali menyakinkan diirku dan segala keputusanku. Kupandangi wajahku yang beberapa waktu lalu baru saja selesai di make-up melalui pantulan cermin di dinding kamar ini, cantik. Bahkan sanking cantiknya aku tidak percaya jika wanita ini adalah diriku sendiri. Uang memang memiliki kekuatan yang luar biasa karena mampu mengubah upik abu menjadi seorang tuan putri yang menawan seperti ini. Puas memandangi wajahku sendiri, aku pun memilih untuk melihat-lihat ruangan yang kini sedang aku temoati seorang diri. Ruangan yang digunakan sebagai ruang tunggu untukku sekaligus sebagai ruang persiapan segala keperluan pernikahan termasuk sebagai ruang make-up dan berganti pakaian. Aku hanya bisa memandanginya dalam keterdiaman sambil terus berusaha menenagkan jantungku yang berdetak semakin cepat. “Kira-kira habis berapa ya untuk mempersiapkan pesta pernikahan seperti ini?” tanyaku kepada diriku sendiri. Semua persiapan pernikahan ini memang disiapkan oleh Nyonya Desi dan Tuan Muda sementara diriku hanya mengikuti dan menuruti keduanya saja. Sebenarnya mereka pernah menanyakan dan meminta pendapatku namun aku selalu mengatakan jika aku akan selalu setuju apa pun pilihan mereka karena aku percaya jika selera keduanya jauh lebih baik dariku terlebih ini bukanlah uangku. Tok Tok Tok Pintu ruangan ini diketuk dan tidak lama terlihat sesosok wanita cantik masuk dan segera menghampiriku, Nyonya Maura. Aku mengenalnya sebagai rekan kerja sekaligus sahabat dari Tuan Muda selain itu aku juga pernah bertemu beberapa kali dengan beliau. Pertama di saat dirinya datang berkunjung ke rumah Nyonya Desi beberapa bulan yang lalu untuk berlibur dan setelahnya di saat kami semua menyiapkan pernikahan ini kemarin. Selain Nyonya Maura, aku juga mengenal Nyonya Vita, Tuan Bram, serta juga Tuan Darren dan seingatku jika mereka semua adalah satu keluarga besar. "Gadis, ayo kita keluar. Muda sudah selesai ijab kabul." ucapnya sambil tersenyum ramah kepadaku dan tidak lupa Nyonya Maura juga membantuku karena pakaian yang aku gunakan saat ini sedikit menyulitkanku untuk berdiri dan berjalan. “Kamu pasti merasa sangat gugup soalnya tangan kamu dingin sekali hehehehe.” Aku tidak menjawab apa pun karena saat ini rasanya lidahku menjadi begitu kelu. Nyonya Muara benar, aku yang sudah gugup menjadi makin gugup setelah mendengar perkataannya tadi dan tiba-tiba saja aku justru menjadi menangis. Ayah-Ibu, kini Gadis telah menikah dan telah menjadi istri dari seseorang. Doakan agar Gadis bisa selalu berbahagia dengan pilihan Gadis ini. “Loh, kenapa kamu menangis Gadis? Apa kamu sakit atau ada hal lainnya yang menganggu?” “Bukan Nyonya, hanya saja saya merasa terlalu gugup dan sejujurnya juga saat ini saya menjadi teringat dengan kedua orangtua saya. Andai saja mereka ada di sini dan melihat semuanya” “Mereka pasti melihatnya dari atas sana dan akan selalu mendoakan kamu serta Muda nantinya. Sudah jangan menangis nanti make-up kamu malah luntur lagi, kan sayang sudah secantik ini masa belum di lihat suami sudah luntur duluan hehehe.” Nyonya Maura kemudian membantuku menghapus air mataku yang sempat terjatuh dan setelahnya kami berdua keluar dari ruangan ini untuk menuju ke tempat acara ijab kabul. Setibanya di sana, dapat kulihat jika para tamu undangan terus saja memandangiku sehingga aku makin mengeratkan kedua tangaku agar tidak makin merasa gugup. Aku terus berjalan dengan langkah yang pelan dan penuh ke hati-hatian hingga akhirnya tiba dan mendapati Tuan Muda dengan pakaian adat Sunda yang dia kenakan. Jujur saja melihatnya yang seperti ini makin membuatku terpesona. Dia memang pria tampan dan menjadi makin tampan dengan penampilannya kini. Ya Tuhan, benarkah dia jodohku? Suamiku? Setelah memandangi suamiku sebentar dengan penuh kekaguman, aku pun langsung disuruh untuk duduk dan menandatangani berkas-berkas pernikahan kami dan selanjutnya sang Bapak Penghulu memintaku untuk mencium tangan Tuan Muda, sentuhan pertama kami sebagai pasangan suami-istri. Dengan tangan bergetar aku pun menyalami dan mencium telapak tangannya. Ini pertama kalinya aku bersentuhan secara intim dengan lawan jenis dan harus aku akui jika saat ini aku makin di buat gugup karenanya. “Apa kamu baik-baik saja Gadis? Kenapa tangan kamu begitu dingin?” bisik Tuan Muda saat aku telah selesai menyalaminya. Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya tidak sempat menjawab karena setelah kegiatan cium tangan tadi tiba-tiba saja seorang fotografer meminta kami berdua untuk berfoto. Aku rasa fotoku akan sangat jelek nanti mengingat betapa kakunya diriku saat ini. Selesai berfoto dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Penghulu yang berada di depan, kami pun seegra melangkah kaki menuju kursi dimana Nyonya Desi berada dan saat ini dirinya terlihat tengah menangis bahagia. "Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah" doanya kepada kami berdua dengan sangat tulus. “Amin” jawabku dan Tuan Muda bersamaan. *** Kini aku telah menikah dan menjadi suami dari seorang wanita muda bernama Gadis Ayu Wulandari. Kulihat Ibu tersenyum bahagia sedari tadi dan tanpa sadar aku pun ikut tersenyum karenanya. Bidadari ku bahagia, lalu apalagi yang aku inginkan? "Selamat ya AA’ semoga cepat-cepat dikasih baby dan kalau bisa perempuan biar nanti kita bisa besanan. Kan seru jadinya kalau begitu dan yang pasti kita akan benar-benar menjadi keluarga bukan lagi seperti keluarga." ucap Vita dengan penuh semangat saat dirinya dan Darren telah berada di hadapanku dan Gadis. "Beneran sudah sehat?" "Sudahlah A', sudah mau dua minggu lebih juga. Aduh A', elo yang nikah kenapa gw yang jadi mewek begini ya? Sumpah gw senang banget sekarang melihat elo berdiri di atas pelaminan seperti ini." ucapnya sambil menangis sesegukan. "Sudah, ayo kita makan. Katanya lapar." ajak Darren suami kanebonya; julukan sayang Vita kepada Darren. Akhirnya mereka berdua pun berpamitan. Vita masih saja terlihat menangis sesegukan sementara Darren berdiri di sampingnya sambil terus memeluk bahu Vita dan tidak lupa dengan menggendong putra mereka sedari tadi. "Selamat ya Muda. Pinter juga kamu milih istri, masih muda." ucap Bram, suami Maura dan setelahnya Maura pun langsung mencubit pinggang sang suami sampai Bram mengaduh kesakitan. "Mas, apa-apaan sih? Memang ya, kamu tuh enggak bisa lihat daun muda sedikit. Memang aku kurang muda buat kamu apa?" "Ya ampun sayang, kamu mah segalanya buat aku." "Gombal kamu Mas. Sekali lagi selamat ya Muda-Gadis dan semoga cepat-cepat diberi keturunan yang cantik dan tampan. Pokoknya gw senang banget kalian berdua bisa menikah." setelahnya mereka berduapun pamit undur diri untuk selanjutnya berjalan ke arah anak, menantu, dan cucu yang kini terlihat tengah sibuk makan di pojokan gedung tempat resepsi acara pernikahanku. "Kamu capai?" tanyaku kepada Gadis yang terlihat sedikit kelelahan untung saja saat ini antrian tamu undangan sudah berkurang bahkan hampir selesai. "Tidak Tuan Muda kaki saya hanya sedikit terasa pegal karena memang tidak pernah memakai sepatu tinggi seperti ini sebelumnya." "Kamu duduk saja atau mau langsung ke kamar untuk beristirahat?" "Tidak Tuan saya tidak apa-apa kok, sungguh." "Baiklah, tetapi jika kamu merasa lelah maka langsung istirahat saja.” “Baik.” "Selamat ya Muda." ucap seseorang yang kini membuatku begitu terkejut saat mendengar suaranya yang sangat aku hafal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD