"Gadis, sekarang kamu masih bersedia menikah dengan saya?" aku hanya bisa terdiam karena bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Pria di depanku ini bukan hanya tidak mencintaiku tetapi mungkin saja dirinya juga tidak akan pernah mencintai wanita. Lalu aku harus bagaimana? Dan akan seperti apa pernikahan kami nantinya?
"Apa Tuan Muda sekarang berubah pikiran?"
"Saya bertanya kepada kamu Gadis jadi jawab saya, mengerti?"
"Saya tidak tahu Tuan." cicitku. Kutundukkan kepala sambil memegang kedua tanganku erat. Berdoa di dalam hati agar aku tidak makin merasa ketakutan dan gugup seperti ini di hadapan Tuan Muda yang terus saja menatapku lekat.
"Jika Ibu sudah sadar saya akan mengabulkan semua permintaannya termasuk menikah denganmu."
"Jika saya menolak?"
"Saya akan memohon." jawabnya yang terdengar putus asa ditelingaku
"Saya tahu mungkin kamu merasa jijik dengan saya setelah mendengar semua pengakuan saya tadi dan saya pun mengerti akan hal tersebut. Akan tetapi yang perlu kamu ketahui jika saya hanya tidak ingin membuat Ibu merasa lebih bersedih lagi terlebih setelah semua yang terjadi dengannya seperti saat ini. Saya tidak mau dan tidak akan sanggup jika harus kehilangan beliau karena bagaimanapun hanya Ibu yang saya miliki di dunia ini." aku cukup mengerti perasaan Tuan Muda saat ini karena aku juga pernah berada di posisinya. Posisi dimana kita benar-benar merasa ketakutan jika di tinggal sendirian tanpa siapa pun terlebih dengan mereka yang kita sayangi.
"Saya tidak merasa begitu Tuan Muda maksud saya, saya hanya bingung atas semuanya yang terjadi tadi. Pengankuan Tuan memang cukup membuat saya terkejut namun bukan berarti jika saya memiliki pemikiran buruk terhadap Tuan apalagi merasa seperti itu, sungguh.”
Tuan Muda tidak lagi mengatakan apa pun. Dirinya terus saja menatap wajahku dengan raut yang terlihat sedih sehingga membuatku menjadi tidak tega karenanya. Selain itu melihat kondisi Nyonya Desi yang lemah seperti ini membuatku juga makin merasa khawatir. Aku sangat menyayanginya dan telah menganggapnya sebagai Ibuku sendiri, beliau bahkan selalu bersikap baik kepadaku selama ini sehingga bagaimana mungkin aku bisa menyakitinya? Sekali lagi aku beranikan diri untuk menatap kedua majikanku tersebut hingga tiba-tiba saja Nyonya Desi membuka matanya perlahan.
"Ibu, Ibu sudah sadar? Saya panggilkan dokter ya?" tanya Tuan Muda penuh kekhawatiran namun belum sempat Tuan Muda memanggilkan dokter atau suster, tangan Nyonya Desi sudah menahannya.
"Tidak usah." jawab Nyonya Desi lemah
"Bu, Ibu masih pucat wajahnya. Saya khawatir."
"Apa kamu akan menikah dengan Gadis, Muda?"
"Ibu/Nyonya." jawabku dan Tuan Muda bersamaan
"Kenapa? Apa benar yang Ibu dengar tadi? " tanyanya dengan bibir yang bergetar dan setelahnya beliau menangis dengan pilu. Melihat keadaan Nyonya Desi yang demikian semakin membuat Tuan Muda merasa bersalah bahkan kini dapat kulihat jika putra dari majikanku tersebut juga telah ikut menitikkan air matanya.
"Maaf Bu." hanya itu yang Tuan Muda katakan dan setelahnya Nyonya Desi menangis lebih kencang lagi daripada sebelumnya. Aku yang melihat keduanya seperti ini makin merasa tidak tega serta membuatku menjadi teringat dengan ibuku yang telah tiada.
Tuhan, tolong yakinkan aku dengan segala keputusan yang aku buat saat ini, kumohon.
"Nyonya Desi salah dengar, justru kami berdua setuju untuk segera menikah. Benarkan Tuan?” tanyaku pada Tuan Muda yang terlihat cukup terkejut atas peryataanku barusan namun keterkejutannya itu hanya berlangsung sesaat karena setelahnya Tuan Muda menggenggam tanganku dan berkata,
"Iya Bu, kami berdua akan segera menikah."
Kurasakan genggaman tangan Tuan Muda yang semakin menggerat dan membuatku merasa sedikit berdebar. Aku tahu jika keputusanku ini bisa saja menjadi keputusan yang salah namun aku tetap ingin melakukannya. Setidaknya keadaaan Nyonya Desi akan membaik serta mungkin saja aku bisa meraih keinginanku untuk berkuliah dan mengenai Tuan Muda akan kupasrahkan semuanya kepada Tuhan yang Maha membolak-balikkan perasaan manusia.
***
Setelah aku dan Gadis menyatakan ketersediaan kami berdua untuk segera menikah, Ibu kembali terlihat sehat dan ceria. Entah apa yang tengah beliau pikirkan saat ini namun yang pasti aku senang melihat keadaannya yang seperti ini dibandingkan melihatnya berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Ibu di rawat selama tiga hari dan selama itu pula aku memilih untuk mengambil cuti. Aku terus menemani Ibu dan merawatnya, memastikan jika keadaannya telah baik-baik saja bahkan aku meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh agar rasa cemasku sedikit berkurang karenanya. Ibu sempat menolak melakukan hal tersebut karena merasa jika dirinya sudah membaik namun aku terus saja memaksanya sehingga Ibu pun akhirnya menyetujuinya.
Mengenai pernikahanku dan Gadis, Ibu selalu memintaku untuk segera melaksanakannya, makin cepat makin baik sehingga menikah siri pun tidak masalah sebelum semua berkas selesai di urus karena yang terpenting adalah sah secara agama, begitu katanya kemarin. Namun aku segera menolak permintaan tersebut karena aku tidak ingin menikahi Gadis secara siri bagaimanapun aku ingin menikahinya secara benar menurutku yakni sah secara agama dan juga hukum. Setelah pembicaraan beberapa saat, kamipun akhirnya sepakat jika bulan depan di minggu ketiga adalah waktu yang kami pilih.
Kini aku telah kembali ke Jakarta, melanjutkan pekerjaan yang makin menumpuk sambil menyiapkan segala hal terkait pernikahanku dengan Gadis. Aku memang memutuskan untuk menikah di kota ini mengingat akan sulit dan merepotkannya bagiku untuk mengurus semuanya jika dilaksanakan di Bandung dan untung saja Ibu menyetujuinya karena menurutnya di mana pun tempatnya yang terpenting adalah aku akan menikah.
"Mud, beneran elo mau nikah? Sama perempuan? Bukan sama kekasih elo si Richard-Richard itu?" tanya Maura saat dirinya masuk ke dalam ruanganku. Aku memang sudah menceritakan soal pernikahanku kepada Maura dan Vita, semalam melalui video call grub.
"Iya."
"Demi apa! Serius lo?" tanyanya kembali yang seakan-akan sangat tidak percaya dengan perkataanku semalam dan barusan kepadanya.
"Iya."
"Allahu Akbar! Demi apa lo? Tuh si Vita masih nanya ke gw buat segera konfirmasi ulang ke elo takutnya kita salah dengar, bukan Gadis tetapi Richard. Oh iya, ini Gadis yang kerja di rumah Ibu kan? Yang pernah kita temui beberapa bulan lalu waktu liburan ke Bandung?"
"Iya."
"Elo tuh ya, panjangan dikit kenapa sih jawabnya? Mau jadi Darren kedua hah? Iya begitu?”
"Yang gw bilang semalam beneran. Gw akan menikah dengan seorang perempuan bukan dengan laki-laki. Dengan Gadis bukan Richard. Ngerti?"
"Tuh Vit, dengar sendiri kan pengakuan Muda barusan?"
Sejak kapan Maura melakukan video call dengan Vita?
"AA’ SERIUS! Elo enggak lagi nge-prank gw kan? Gila, gila gila. Elo balik-balik langsung punya calon bini saja." teriaknya heboh di seberang sana.
"Jangan teriak-teriak, langsung lahiran baru tahu rasa lo." cecar Maura yang saat ini tengah memarahi sang menantu laknat yang juga merupakan sahabat karibnya.
"Iya maaf, habis ini berita bukan sembarang berita Mami Mertua jadi bagaimana mungkin kalau menantumu ini tidak terkejut cenderung heboh?"
"Sudah deh, kalian berdua daripada teriak-teriak enggak jelas kaya begini mending bantuin gw buat nyiapin semuanya. Waktu gw juga sudah enggak banyak buat mempersiapkan semuanya sendirian."
"Ya udah A', nanti gw hubungin EO yang gw pakai buat acara pernikahan gw kemarin sekalian minta mereka buat hubungi elo terkait semuanya nanti, bagaimana?”
“Elo atur saja deh Vit soalnya gw masih harus ngurus berkas-berkas pernikahan di KUA, itu saja gw sempet-sempetin di tengah jadwal pekerjaan.”
“Lagian nikah kok dadakan hehehehe. Aduh, Mami Mertua kenapa perut aku sakit banget ya? AAAAHHHH!." aku dan Maura yang mendengar Vita berteriak di seberang sana seketika menjadi panik setengah mati karena sepertinya wanita itu akan segera melahirkan.
Dasar Vitalia Cecilia.