BAB 4

1084 Words
Aku tidak menyangka jika wanita itu akan menerimanya. Maksudku, mengapa? Apa dia mengincar uang? Tetapi dari penampilannya dia tidak terlihat seperti itu. Akan tetapi terkadang penampilan luar tidak bisa dijadikan patokan bukan? "Boleh saya bertanya alasan sebenarnya mengapa kamu justru menerima permintaan Ibu untuk menikah dengan saya?" “Maksud Tuan Muda dengan alasan yang sebenarnya itu apa?” jawabnya masih dengan menundukkan kepala. “Selain kuliah, apa ada hal lainnya yang membuat kamu akhirnya menyetujui permintaan Ibu ini?” "Jika Tuan mengira saya di ancam oleh Nyonya Desi maka jawabannya tidak sama sekali. Saya menerimanya karena memang saya tidak mempunyai alasan untuk menolaknya Tuan." "Banyak Gadis. Usia kita yang jauh, kamu yang masih melanjutkan pendidikanmu, atau kamu yang belum siap menikah apalagi mempunyai anak karena terlalu muda. Semua itu adalah alasan kuat untuk kamu menolak permintaan Ibu saya bukan? Dan soal kuliah apa kamu fikir kuliah dengan status telah menikah itu mudah? Tidak Gadis, bagaimanapun kamu harus membagi waktu dan fokusmu nantinya belum lagi kalau kamu hamil dan memiliki anak. Apa kamu siap dengan semua itu?” “Tuan, saya tahu semuanya memang tidak akan mudah ke depannya dan saya pun mengerti dengan kondisi dan pilihan saya itu. Jujur saja, saya justru berpikir jika saya menolak pria seperti Tuan Muda itu namanya saya tidak tahu diri. Maksud saya, bohong jika saya tidak memikirkan mengenai permintaan Nyonya Desi ini karena nyatanya saya pun selalu memikirkannya hingga pada satu pemikiran jika saya menikah apa saya bisa kuliah? Maaf jika saya terdengar matrealistis namun saya hanya ingin berkata jujur kepada Tuan dan Nyonya dan jika Tuan Muda memang tidak menyukainya maka saya akan menolaknya." Jawaban macam apa itu? Tadi menerima dan sekarang menolak? Ibu pasti akan mengira jika aku yang telah menghasutnya untuk berubah pikiran. Kalaupun ingin menolak mengapa tidak dari awal saja? Lagi pula sejak kapan dia bisa berbicara sebanyak ini di hadapanku? "Saya hanya tidak ingin jika kamu merasa terpaksa karena Ibu saya yang menyuruhnya. Selain itu, saya juga tidak ingin jika kamu hidup dengan pria seperti saya." ucapku sedikit pelan di akhir kalimat. "Pria seperti Tuan? Justru seharusnya sayalah yang berkata demikian. Apa Tuan Muda tidak masalah menikah dan hidup bersama perempuan seperti saya? Tuan tampan dan mapan justru saya yang seharusnya merasa beruntung jika Nyonya Desi bersedia menerima saya sebagai menantunya." "Usia kita terlalu jauh Gadis." "Di kampung saya bahkan ada gadis ABG yang menikahi kakek-kakek." "Saya tidak mencintai kamu." "Saya juga tidak atau mungkin belum mencintai Tuan Muda." "Saya hm saya tidak menyukai perempuan." jawabku jujur pada akhirnya dan entah mengapa aku merasa harus berkata jujur kepadanya saat ini terlebih dengan semua jawabannya tadi semakin menyulitkanku untuk menolak. "Saya juga tidak suka... APA TUAN?!" tanyanya dengan wajah yang terlihat begitu terkejut atas pengakuanku barusan. "Saya katakan jika saya tidak menyukai perempuan. Saya seorang gay Gadis." *** Apa yang Tuan Muda katakan tadi? Dia tidak menyukai perempuan? Dia seorang gay? Ya Tuhan, mana mungkin pria tampan, mapan, dan rupawan sepertinya suka pisang? Apa ini kebohongannya agar aku menolak? Apa sebegitu tidak inginnya dia untuk menikah denganku sehingga harus berkata seperti itu? "Saya hanya ingin jujur agar kamu tidak menyesal nantinya. Inilah alasan mengapa saya tidak pernah membawa calon menantu kepada Ibu saya selama ini." jelasnya sambil membuang wajah ke samping, enggan menatapku. "Apa Tuan Muda bersungguh-sungguh dengan perkataan Tuan tadi?" tanyaku kembali dengan perasaan yang sedikit ragu dan takut menyinggung tentunya. Bukan, bukan karena merasa jijik hanya saja aku yang memang ingin memastikan kembali pendengaranku barusan. “Apa kamu berpikir jika saya sedang berbohong hanya untuk menolakmu? Tidak Gadis lagi pula untuk apa? Itu memang sebuah fakta dan alasan sesungguhnya mengapa hingga detik ini saya juga belum menikah dan memiliki anak. Saya bukannya tidak ingin melainkan hanya tidak bisa.” Aku terus saja menatap wajah Tuan Muda yang kini terlihat sedih dan juga lelah hingga tanpa kami berdua sadari jika ternyata Nyonya Desi telah menguping pembicaraan kami di dekat pintu sejak awal dan setelah beliau mendengar pengakuan Tuan Muda barusan, beliau pun jatuh pingsan. "NYONYA!" teriakku sambil berlari ke arah Nyonya Desi *** Ibu mendengarnya. Beliau mendengar pengakuanku sebagai seorang gay tadi. Ibu pingsan di dekat pintu. Aku yang mendengar Gadis berteriak dan berlari langsung saja mengarahkan pandangan yang dituju oleh Gadis dan disanalah Ibu, jatuh pingsan. Dengan perasaan cemas dan takut, kubawa Ibu langsung ke rumah sakit bersama Gadis dengan mobil dan sepanjang perjalanan aku terus saja menyalahkan diriku sendiri. Aku takut, bagaimanapun hanya Ibu yang aku miliki di dunia ini sebagai keluarga dan jika karena ini beliau kenapa-kenapa lalu bagaimana aku harus menjalani kehidupanku selanjutnya? Ini salahku dan memang akan selalu menjadi salahku karena lagi-lagi aku hanya bisa menyakiti Ibu dan membuatnya hingga seperti ini. Setibanya di rumah sakit, aku segera menggendong Ibu ke ruang UGD agar beliau segera mendapatkan penanganan. Kupanggil dokter dan suster layaknya orang kesetanan dan tidak memperdulikan tatapan penasaran orang-orang di sekitar karena saat ini hanya Ibu yang berada di pikiranku hingga akhirnya seorang dokter datang dan memintaku agar membiarkannya memeriksa keadaan Ibu terlebih dahulu. “Bagaimana dokter keadaan Ibu saya? Apa beliau baik-baik saja?” tanyaku yang masih saja merasa begitu cemas dan khawatir terlebih saat melihat wajah Ibu yang terlihat sedikit pucat dari sebelumnya dan makin membuatku ketakutan. "Kondisi pasien masih sedikit lemah terlebih pasien juga memiliki riwayat jantung. Saya sudah memberikan obat dan saat ini pasien sedang tertidur. Saya akan segera memindahkannya ke kamar rawat inap jika keadaannya sudah sedikit membaik sehingga Bapak bisa mengurus semuanya terlebih dahulu di ruang administrasi. Selain itu, saya harap pasien tidak mengalami syok kembali karena ini akan sangat berbahaya bagi keselamatannya." "Terima kasih dokter." setelah dokter tersebut pergi, aku pun menyuruh Gadis untuk menemani Ibu selagi aku mengurus semua keperluan administrasi. Kupandangi wajah Ibu dengan rasa bersalah karena bagaimanapun akulah yang membuatnya menjadi seperti ini sekarang. Maaf, maaf, dan maaf adalah kata-kata yang hanya bisa aku ucapkan di dalam hati saat ini. Aku telah mengecewakan wanita yang kucintai. Aku yang membuatnya menangis padahal senyumannya adalah hal yang terpenting bagiku. Setelah semua urusan administrasi selesai, Ibu kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap dan lagi-lagi aku hanya bisa merasa bersalah kepada beliau karena telah membuatnya berbaring seperti ini. "Tuan, ini saya belikan makanan dan minuman untuk Tuan Muda." Gadis memberikan satu buah kantong plastik berisikan makanan dan minuman untukku, sepertinya dia tadi keluar untuk membeli ini semua. "Terima kasih. Kamu sudah makan?" "Sudah Tuan Muda, tadi saya makan saat membelikan semua ini." setelahnya kami berdua terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. "Gadis, apakah sekarang kamu masih bersedia untuk menikah dengan saya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD