Hari Pernikahan & Kontrak

1905 Words
Langit sore membentang dengan semburat jingga keemasan, seolah ikut menjadi saksi atas janji suci yang akan terucap. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, mengelus dedaunan yang bergoyang perlahan. Aroma bunga mawar putih yang tertata rapi di sekitar altar menguar, berpadu dengan harumnya rumput basah selepas hujan pagi tadi. Di bawah lengkungan kayu yang dihiasi bunga-bunga segar, seorang wanita berdiri anggun dalam balutan gaun pengantin putih yang menjuntai hingga menyentuh tanah. Tangannya bertaut dengan lengan seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Daddy tidak menyangka Putri Daddy sebentar lagi akan menjadi milik orang lain ...." suara Harold terdengar lirih, penuh haru. Mona menoleh dengan tatapan sarkastik. "Kalau begitu kenapa Daddy melakukan perjodohan itu?" celetuknya tajam, berusaha menusuk kesadaran sang ayah. Harold menghela napas panjang, menenangkan dirinya. "Daddy hanya tidak menyangka, bukan menyesal." Ya, terserah apa katamu, Dad, ucap batin Mona. Wanita itu menegakkan bahunya. Gaun putih yang membalut tubuhnya terasa sesak, bukan karena ukurannya, melainkan karena perasaan yang mengimpit dadanya. Pernikahan ini bukan impian yang ia nanti-nantikan, bukan kisah cinta yang diimpikan gadis kecil dalam dongeng-dongeng malamnya. Ini hanya sekadar kontrak, transaksi yang menguntungkan kedua belah pihak. Setelah berpikir panjang, Mona memilih untuk menerima daripa ia harus membayar bunga dari kerugiannya saat memilih untuk mengakhiri kontrak pekerjaan, ia tidak sekaya orangtuanya yang memiliki banyak uang, untuk meminta pada mereka pun tidak mungkin, ia tidak ingin di cap sebagai anak yang mengandalkan kekayaan orangtua. Intinya ia ingin semua ini cepat berakhir dan ia bisa terlepas dari kontrak maupun perjodohan dan pernikahan ini. Liam, pria yang kini berdiri di altar, adalah alasan mengapa Mona menerima perjodohan ini. Ia pernah menolaknya, pernah menghancurkan kepercayaan dirinya dengan hinaan. Kini, pria itu menerima perjodohan ini demi ambisinya menjadi CEO, sedangkan Mona menerimanya demi satu tujuan, membalaskan rasa sakitnya. Saat Mona melangkah menuju altar, tatapan Liam tak lepas dari sosoknya. Sesaat, ia tertegun. Mona kini berbeda. Dulu, ia hanyalah gadis dengan tubuh berisi yang sering menjadi bahan ejekan. Bahkan Ia pun masih tidak menyangka bila Mona di hadapannya adalah Mona yang dulu menjadi salah satu penggemarnya yang memiliki tubuh cukup besarnya itu. Tapi kini, ia telah berubah, lekuk tubuhnya terlihat sempurna dalam balutan gaun putih itu, mungkin kalau ia bisa membayangkan pinggang rampingnya akan sempurna dalam dekapannya. Mona dan Liam saat ini telah saling berhadapan satu sama lain, mata mereka saling bertaut, tetapi tidak ada getaran, tidak ada debaran yang dulu Mona harapkan. Hanya ada sisa-sisa luka yang ia sembunyikan di balik senyum kecilnya. Sedangkan Liam, ia menggenggam tangan Mona sesuai dengan arahan pendeta. Mona menahan diri agar tidak menarik tangannya dan Liam bisa melihat dari tatapan Mona yang seperti berat tanganya di pegang olehnya. Upacara pun dimulai. Janji suci terucap dengan sakral. Mona melafalkan sumpah pernikahan dengan suara tegas, sementara dalam hati ia berjanji, Ini hanya satu tahun. Aku akan membuatnya menyesal. Saat pertukaran cincin, Mona sempat ragu sebelum akhirnya menyematkan cincin di jari Liam. Ia harus melakukannya, meski rasanya ingin berteriak. Setelah sesi memasang cincin telah selesai kini sesi yang amat membuat Mona terkejut adalah ketika Liam mendekatkan wajahnya setelah Pendeta menyatakan bahwa mereka berdua telah sah menjadi sepasang suami istri. "Apa yang ingin kau lakukan?" bisik Mona dengan geraman pelan, berusaha agar keluarga mereka tidak mendengar. "Menciummu," jawab Liam santai, lalu tanpa peringatan lagi, ia menempelkan bibirnya pada bibir Mona. Dunia seolah berhenti sejenak. Mona terdiam, matanya membulat sebelum akhirnya refleks menutup. Bibir Liam terasa hangat, menyentuhnya dengan lembut namun penuh tekanan. Tepuk tangan serta sorak bahagia dari keluarga terdengar membahana, mengiringi ciuman mereka yang berlangsung beberapa detik. Sedangkan Liam pria itu tidak menutup matanya sama sekali dan justru malah menatap seluruh wajah Mona mulai dari matanya yang tertutup hidung dan bibir wanita itu yang terlihat berwarna pink dan juga sedikit basah akibat kecupannya. Jadi seperti ini, rasanya menciummu. ucap batin Liam, ketika dulu terlintas dalam pikirannya saat melihat bibir Mona yang begitu mungil bisa ia kecup. Berbeda dengan Mona, saat Liam melepaskan bibirnya, matanya masih terpejam. Ia tidak ingin membuka mata, tidak ingin melihat ekspresi pria itu. Suara riuh tepuk tangan dan sorak langsung terdengar ketika ciuman yang Liam lakukan di bibir Mona selesai ia lakukan. Sebuah sentuhan di tangannya membuat Mona terpaksa sadar. "Lepaskan," desisnya tajam. Liam menaikkan satu alisnya tetapi menurut. "Baiklah, Istriku," ucap Liam sengaja menekankan kata Istri, walaupun itu masih terdengar asing untuknya, tapi entah mengapa ada sedikit kebahagiaan saat menyebutnya. Pancaran kebahagiaan pun bisa Mona lihat dari kedua keluarga yang terlihat bahagia dengan pernikahan yang sudah lama mereka nantikan antara dirinya dengan Liam. Kebahagiaan yang justru sama sekali tidak Mona rasakan. Tak memakan waktu yang begitu lama setelah acara janji suci pernikahan pun Mona memilih untuk mengakhiri acara tersebut yang hanya di hadiri keluarga saja. "Mona ...," tegur ayah Mona ketika putrinya selepas pendeta pergi langsung menampakkan wajah keterpaksaannya itu bahkan ia tidak ingin berdiri di samping Liam. "Acaranya sudah selesaikan?" tanya Mona dengan nada sesopan mungkin. "Mona ingin pulang," ucap Mona membuat kedua keluarga itu langsung menatap Mona begitu pun juga dengan Liam. Apa ada yang salah dengan perkataannya? acara pernikahan telah selesai di lakukan bukan, dan sekarang Mona ingin kembali pulang untuk merehatkan pikirannya. "Kau ingin pulang?" tanya Liam yang tidak di harapkan oleh Mona. "Dad, Mom." ucap Mona memberikan isyarat kepada kedua orangtuanya untuk segera pulang bersamanya. Liam mendekati Mona kemudian melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Mona. "Ayo kita kembali," ucapnya lembut. Mona menatap aneh Liam, untuk apa pria itu mengajaknya kembali? Mona ingin melepaskan tangan Liam dari pinggangnya tetapi pria itu menahannya dengan kuat. "Pasti kau sangat letih, ayo kita kembali dengan cepat." "Mom, Dad. Liam dan Mona akan kembali ke rumah lebih awal. Bila kalian ingin tetap melanjutkan makan malam kalian tidak apa-apa." Mona masih menatap Liam tanpa sepatah katapun. Suara tawa pun langsung terdengar dari ayah Liam dan juga Mona. "Daddy mengerti Liam." ucap ayahnya dengan senyuman yang langsung bisa Liam pahami. "Tidak bukan dengan--" "Ya Nak, bawa Mona bersama mu pulang, kalian kan sudah sah sebagai sepasang suami istri," timpal Harold saat ia sudah tahu maksud tujuan putrinya untuk pulang bersama mereka. Mona kini menatap ayahnya. "Dad!" cicit Mona pelan. "Makan malam tentu saja akan tetap kami adakan Nak, " sambung Harold lagi kepada Lee Ye Joon. Mona tak bisa berkata apapun lagi ketika kedua keluarga mulai meninggalkannya seorang diri hanya bersama Liam. "Lepaskan tanganmu," pinta Mona, tentu saja Liam langsung melepaskan eratannya tersebut. "Kenapa kau mengatakan itu?" "Tentang?" "Ingin pulang bersamaku!" ucap Mona lagi dengan nada tinggi. "Lalu kau ingin pulang kemana? Ke rumah orangtuamu? Kau sudah menikah Mona." ucap Liam lagi dengan tenang. "Lalu urusannya dengan menikah apa?" "Tanggung jawabmu sekarang itu aku, jadi kau harus pulang bersamaku." jawab Liam kembali. Mona memejamkan matanya lalu menghela napasnya. "Ayo kita kembali, hari juga semakin menggelap," ajak Liam kembali dengan lemah lembut persis seperti saat dulu Liam sebelum menolaknya dengan kata-kata jahatnya. Mona berdecih, ia tidak akan lagi tergoda dengan tipu daya Liam yang bersikap sok lembut seperti ini. "Kau ingin tetap di sini bersama penunggu tetap di sini?" Liam mendongak, pria itu berniat menakutinya? "Kau pikir aku takut?" ucap Mona dengan membuang wajahnya. Liam mengangguk, ia akan membuktikan apa wanita itu berani sesuai dengan kata-katanya. "Sepuluh menit aku tunggu kau di dalam mobil, kalau kau tetap tidak mau aku akan kembali sendiri." Mona menatap punggung Liam setelah pria itu berjalan pergi meninggalkannya. Ia tertawa pelan, ia bisa kembali menggunakan taksi memang ia pikir di dunia tidak ada kendaraan umum? *** Sebuah rumah dengan interior yang cukup mewah dan cukup luas ini merupakan rumah yang ia miliki hasil kerja kerasnya tanpa bantuan sedikitpun dari orangtuanya walaupun kedua orangtuanya mampu untuk membelikannya Dan itu juga berlaku untuk Mona yang menatap rumah milik pria itu dengan sedikit terpana ketika menginjak pertama kali di rumahnya ini. Mona saat ini bisa berada di rumah Liam karena sebuah keterpaksaannya ketika kata-kata Liam mengenai penunggu berkeliaran di dalam otaknya, mau tidak mau pun ia ikut bersamanya ke rumah besarnya ini. Sebelum membuka pintu Mona mencoba untuk menarik napasnya dan membuangnya kemudian membuka pintu kamar mandi, dimana sedari tadi ia berada di dalam mencoba untuk memberanikan diri keluar dari sini. Mona langsung bisa melihat Liam yang sudah duduk di atas sofa dengan kaos hitamnya. Aku yakin bila Liam memakai pakaian biasanya pasti akan terlihat tampan. Seketika kata-kata Zea yang sudah sangat lama pernah ia katakan pun kembali memenuhi pikiran Mona. Perkataan mendiang sahabatnya kembali Mona dengar ketika melihat Liam yang mengenakan pakaian biasanya. Benar, sahabat tersayang Mona yang selalu melindunginya telah lebih dulu di panggil sang maha kuasa meninggalkan Mona dengan rindu yang sampai saat ini masih selalu melekat dalam dirinya. Liam yang tengah memainkan ponselnya sejenak menghentikan aktivitasnya itu kemudian mendongak ketika ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Benar saja Mona tengah berdiri di depan pintu kamar mandi menggunakan kemeja putih miliknya yang pasti dengan ukuran yang begitu besar di tubuh Mona tetapi terlihat sangat menggemaskan. Liam memberikan pakaiannya pada Mona karena mereka yang terburu-buru kemari dan tidak memikirkan pakaian Mona. Manik Liam kini tertuju pada paha putih Mona membuat ia segera mengerjapkan matanya dan menegakkan tubuhnya. "Kemari ...." pinta Liam menyadarkan Mona dari lamunannya. Mona tersadar dan langsung menghampiri Liam "Duduk di sofa bersamaku," ajak Liam lagi. Mona tidak langsung duduk ia melihat ke atas meja di kamar besar milik pria itu yang terdapat sebuah berkas. Mona pun duduk di sofa yang sama dengan Liam tapi dengan jarak yang cukup jauh. "Tentang kontrak pekerjaanmu dan pernikahan ini." "Ya, aku tidak ingin pernikahan ini di ketahui oleh semua orang, termasuk orang di dalam perusahaan." serobot Mona, memotong pembicaraan Liam. "Keluargamu dan keluargaku pun tidak boleh membahas pernikahan ini kepada siapa pun," lanjut Mona lagi. Kalau dirinya saja mungkin Liam masih bisa menutupinya, tapi ia tidak tahu dengan keluarga mereka apa ingin mengikuti kemauan Mona? "Tidak semudah itu, kau harus memiliki alasan yang kuat untuk membuat mereka bungkam setidaknya sampai pernikahan ini berakhir." "Kau tahu dulu kehidupanku di sekolah bagaimana, aku tidak ingin semua kembali membenciku hanya karena mengetahui aku menikah denganmu. Aku tidak ingin status itu di ketahui semua orang." Liam terdiam ia jadi mengingat kesalahannya. Pasti Mona masih belum mempercayai perkataannya bila apa yang ia lakukan dulu karena mabuk. "Katakan pada keluargamu bila aku belum siap mengungkapkan pernikahan ini dan aku pun akan mengatakannya pada keluargaku." "Akan aku usahakan," ucap Liam menyetujui usul Mona. Mona menganggukan kepalanya dan bersiap beranjak dari sofa. "Kau ingin kemana?" tanya Liam. "Keluar dari sini, ini kamarmu." "Kamar yang lain jarang di pakai pasti akan sangat berdebu, tidur di sini denganku." pinta Liam kepada Mona. Lalu Liam pikir Mona mau? Bagaimana bila pria itu macam-macam dengannya? "Aku tidak akan menyentuhmu, aku bersumpah," ucap Liam. Baik Liam mengerti pasti Mona tidak ingin tidur satu ranjang dengannya. "Kau di sana dan aku di sini." Ucap Liam menunjuk sofa yang sedang ia duduki. "Aku bersumpah tidak akan menyentuhmu Mona," ucap Liam kembali saat Mona memberikan tatapan tidak percaya padanya. Mau bagaimana lagi, Mona pun berjalan menuju ranjang besar milik Liam dan mulai merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Mona melirik Liam sedikit yang masih menatap dirinya yang berada di atas ranjang terutama pada kakinya. Ia pun buru-buru menyelimuti dirinya dan memejamkan matanya. Jadi begitu isi pikiran tuan muda Lee? ucap batin Mona ketika ia menyadari pria itu melihat tubuhnya seintens itu. Sepertinya sebuah rencana balas dendam yang Mona inginkan sudah terpikirkan di dalam otaknya. Kenapa ia tidak membuat pria itu untuk menyesal saja karena telah menolaknya dengan tubuhnya yang dulu pernah ia hina?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD