Hari ini kau tidak apa-apa untuk tidak masuk ke kantor dulu, tetap dirumah.
Mona membaca secarik kertas yang berada di atas nakas lalu berdecih.
Kalaupun ia ke kantor ia harus menggunakan pakaian apa, semua pakaiannya berada di rumah kedua orangtuanya, pasti pria itu akan memakluminya melihat kondisinya yang memprihatinkan seperti ini hanya menggunakan pakaian pria itu.
Sejenak Mona mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Liam yang besar ini.
Untuk kategori pria, ia cukup rapi melihat ruangannya tidak ada barang sedikitpun yang berantakan, ia cukup tertata yang pastinya kamar miliknya ini begitu wangi.
Mona meregangkan tubuhnya sejenak sebelum beranjak dari ranjang.
Di dinding kamarnya pun Mona bisa melihat ada beberapa penghargaan kerjasama yang di berikan padanya.
"Masih berprestasi," ucap Mona ketika membaca nama pria itu terpampang begitu jelas.
Selebihnya Mona tidak menemukan apapun lagi selain penghargaan itu.
Tapi bukankah pria itu memiliki banyak penghargaan baik itu dari bidang akademik maupun non akademik, tapi kemana perginya semua penghargaan itu?
"Apa urusanku, terserah pria itu ingin membuangnya atau melakukan apa pun pada barang miliknya," decih Mona pelan.
Kaki Mona pun juga ia langkahkan menuju lemari besar milik Liam dan mulai membukanya.
Stelan kemeja dan juga jas langsung bisa Mona lihat terpajang dengan rapi dan wangi.
Mona menutup kembali lemari besar milik Liam dan mulai berjalan menuju balkon rumahnya yang langsung menghadap ke arah hamparan bukit berwarna hijau.
Ketika ia berada di atas balkon Mona baru benar-benar bisa melihat rumah pria ini begitu besar dan indah, Mona tidak menyangka bisa menyaksikan pemandangan seindah ini.
Beberapa mobil sport pun bisa ia lihat berada di bawah sana.
"Pria itu ternyata sangat kaya." ucap Mona tak habis pikir.
Ia pun juga baru mengetahui bahwa pria yang dulu ia kejar-kejar ini merupakan anak tunggal kaya raya dan seorang pewaris.
Pintar, berprestasi dan Mona akui bahwa ketampanan pria itu semakin bertambah tali sayangnya sifat baik yang ia anggap sebagai topeng membuat Mona membenci pria itu.
Sebuah ketukan pun Mona dengar dari pintu kamar Liam, Mona pun segera menuju ke pintu untuk melihat siapa yang mengetuknya.
Seorang wanita paruh baya lah yang mengetuk pintunya dengan membawa nampan berisi makanan.
"Tuan Liam memberitahu saya agar memberikan sarapan untuk Nyonya," ucap wanita paruh baya itu dengan sopan.
Mona mengambil nampan itu dengan tatapan masih menatap wanita paruh baya itu dengan sedikit bingung.
Bukankah semalam ia tidak melihat siapapun di rumah ini?
"Perkenalkan saya Lauren maid di sini.."
Mona mengangguk dan tersenyum. "Saya Mona ...."
"Tuan Liam sudah memperkenalkan Nyonya kepada saya."
Memperkenalkannya? jangan bilang bila pria itu mengenalkan dirinya sebagai istrinya?
Ya itu memang benar sebelum Liam berangkat menuju kantornya ia bertemu dengan maidnya yang setiap pagi selalu datang untuk mempersiapkan makanan dan rumahnya ini, ia meminta agar maidnya itu mempersiapkan sarapan untuk istrinya.
Maid itu tidak begitu terkejut karena satu hari sebelumnya ia meminta agar maid untuk tidak datang karena ia harus mengadakan sebuah pernikahan, yang jelas maidnya itu sudah dalam perjanjian untuk tidak memberitahu siapa Mona kepada orang di luar sana.
Tentu saja maid tersebut tidak akan membocorkan hal ini, terutama keluarga Lee sudah begitu baik padanya.
"Saya akan menjaga rahasia ini Nyonya, jangan khawatir," ucap sang maid ketika melihat raut wajah istri tuannya yang terlihat panik.
"Kalau ada perlu apa-apa nyonya bisa memanggil saya," ucap Lauren kemudian beranjak pergi.
Mona menutup pintu kamar Liam kemudian berjalan menuju sofa di kamarnya ini dengan membawa nampan di tangannya.
"Pria itu membuat keputusan tanpa memberitahu kepadaku dulu?" ucap Mona yang tak habis fikir dengan tindakan Liam.
Mona akan mempertanyakan hal ini kepada pria itu ketika ia kembali.
Ia pun menatap ke arah nampan yang berisi makanan dan s**u yang aromanya langsung membuat perut Mona berbunyi.
Tentu ia tidak akan menyia-nyiakan makanan yang ada di hadapannya dan langsung melahapnya.
***
Liam melangkah dengan tangan melipat lengan kemejanya dan langsung memperlihatkan lengan pria itu yang di penuhi otot.
Saat ini Liam tengah berada di sebuah mall dan toko untuk membeli pakaian untuk Mona kenakan, mengingat wanita itu tidak membawa pakaiannya.
Tidak mungkin bila ia terus memakai kemejanya, jadi ia memutuskan untuk membelikan wanita itu pakaian.
Namun Liam saat ini tengah merasa kesulitan untuk membeli pakaian yang pas untuknya.
Ini pertama kalinya Liam membelikan pakaian untuk wanita, sebelumnya ia tidak pernah melakukan ini termasuk kepada mantannya.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" tanya salah satu pelayan toko kepada Liam ketika melihatnya terlihat bingung.
"Apa kau bisa membantu saya untuk memilihkan pakaian terbaik disini?"
Pelayan itu mengangguk, dengan senang hati ia pasti akan membantu pelanggannya.
"Pakaian yang nyaman untuk istri saya. Tingginya sekitar 153 cm," jelas Liam lagi.
"Baik Tuan, saya akan membantu mencarikan pakaian terbaik dan ternyaman untuk istri anda ...."
Pelayan itu pun mulai beranjak pergi dan mencarikan pakaian yang di maksud Liam.
Sembari menunggu pelayan itu Liam berkeliling melihat-lihat pakaian yang lain dan memikirkan apa lagi yang harus ia belikan untuk Mona.
Namun ketika ia sedang berpikir Liam jadi teringat sesuatu apa wanita itu sudah memakan sarapannya tadi pagi yang ia minta maidnya untuk di berikan kepada Mona.
Liam mengeluarkan ponselnya.
Ia lupa, ia bahkan tidak memiliki nomor Mona di ponselnya, bagaimana bisa ia menanyakan hal tersebut padanya.
"Permisi Tuan ini pakaian terbaik dan ternyaman yang ada di sini." ucap pelayan tersebut yang ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari pakaian tersebut.
Liam menatap tangan pelayan tersebut yang terdapat beberapa pakaian.
Liam mengingat, ada pakaian yang kurang untuk wanita itu kenakan yaitu pakaian tidur.
"Pakaian tidur, saya lupa untuk meminta kau untuk mencarikannya ...," ucap Liam ketika ia baru mengingat pakaian tidur untuk Mona.
"Baik Tuan saya akan memilihkannya ...."
Pelayan tersebut pun kembali mencari pakaian tidur untuk Mona sesuai dengan permintaan Liam.
Sekitar lima menit Liam menunggu pelayan itu mendapatkan apa yang ia inginkan, ia kembali ke hadapan Liam dan memperlihatkan pakaian yang bertumpuk itu ditangan pelayan tersebut.
Pelayan itu mencoba memastikan Liam untuk melihat pakaian yang ia pilih tersebut, tapi Liam yang begitu mempercayai pelayan tersebut memintanya untuk membungkus semuanya tanpa melihatnya lebih dulu dan ia segera membayarnya.
Selepas ia selesai mencari pakaian milik Mona Liam pun segera keluar dari toko pakaian tersebut.
Langkah Liam terhenti ketika ia melihat sebuah toko yang sama sekali tidak terlintas di pikiran Liam untuk ia berikan kepada Mona.
Antara maju dan mundur bagi Liam untuk memasuki toko tersebut. Sebuah toko yang menjual pakaian yang tak terlihat di tubuh bagian luar.