Mona masih merasa asing bisa berada di rumah yang belum pernah ia injak sama sekali, suasana bahkan terasa sepi, maid tadi pun Mona lihat sudah pergi dari rumah besar ini menyisakan Mona dan penjaga di luar saja yang ada di sini.
Hampir seharian ia berada di dalam kamar Liam dan baru saat ini lah ia baru bisa nyaman keluar setelah maid bernama Lauren itu pergi.
Mona mendecak ketika ia menunggu pria itu untuk kembali begitu lama, tidak mungkin ia selamanya menggunakan pakaian pemberian dari Liam.
Ia pun memilih untuk menyadarkan tubuhnya di sofa ruang tamu memandang langit-langitnya atap.
Kenapa hidupnya menjadi seperti ini, terjebak dan harus menikah dengan Liam.
Dulu Mona akui ia selalu berdoa dan berharap pada Tuhan agar ia mengabulkan doanya untuk bisa menikah dan menjadi pendamping hidup Liam, apakah Tuhan benar-benar mengabulkannya? bolehkah ia meminta pada Tuhan untuk membatalkan permintaannya itu.
Mona benar-benar merasa sendiri, ia tidak tahu harus menceritakan segala keluh kesahnya kepada siapa.
Andai Zea masih berada di sini, mungkin ia akan mendengarkannya atau mungkin justru malah mendukung pernikahan ini.
Karena selepas penolakan Liam, Mona tak pernah menceritakan hal menyakitkan itu kepada Zea hingga sahabatnya itu tiada.
Di saat Mona tengah meratapi kehidupannya, di sampingnya sudah terdapat Liam yang sedang berdiri menatap Mona dengan paperbag di tangannya.
Liam menatap Mona dari atas hingga ujung kaki.
Wanita itu masih terlihat cantik walaupun Liam tahu pasti ia belum membersihkan tubuhnya itu terlihat dari rambutnya yang dicepol tapi berantakan.
Tak ada yang berubah dari kecantikan wanita itu walaupun tubuhnya telah mengecil tapi pipi wanita itu masih terlihat gembul, pipi yang selalu Liam inginkan untuk ia cubit itu.
Liam mendekat kemudian menyentuh pipi Mona menggunakan jemarinya.
Mona menoleh dan tersentak kaget ketika ia merasa pipinya seperti ada yang menyentuhnya, ia lebih terkejut lagi saat tahu yang menyentuhnya adalah Liam.
"Maaf ...," gumam Liam pelan saat melihat Mona yang terkejut akibat perbuatan bodohnya.
Liam pun ikut duduk di samping Mona dengan tangan yang terulur memberikan paperbag di tangannya kepada Mona.
Mona melirik ke arah paperbag yang masih ada dalam genggaman Liam.
"Untukmu."
Dalam rangka apa pria itu memberikan dirinya barang?
Diamnya Mona membuat Liam memberikan paperbag tersebut kepada Mona dan memasukkannya ke dalam genggaman wanita itu.
"Buka, kau sangat membutuhkannya."
"Bukan sesuatu yang membahayakan untukmu," ucap Liam lagi saat Mona terus menatapnya dengan curiga.
Mona mau tidak mau menerima pemberian dari Liam.
"Aku ingin pulang," ucap Mona to the point saat ia sudah merasa tidak nyaman berada di sini.
Liam menatap Mona yang terlihat tanpa ekspresi mengatakan itu semua, "Pulang? Ini rumahmu selama satu tahun," ucap Liam mengingatkan Mona.
"Apa tidak bisa untuk tidak tinggal bersama?" ucap Mona berharap pertanyaannya ini bisa terealisasikan.
Tentu tidak bisa, mereka saat ini menikah bagaimana bisa wanita itu ingin tinggal terpisah.
Keluarga mereka pun pasti tidak akan mengizinkan hal tersebut, terutama bagaimana dengan gelar CEO miliknya? bagaimana jika semuanya berantakan?
"Aku ingin pulang, aku tidak ingin disini ...," bersamamu. lanjut Mona dalam batinnya.
Liam paham bagaimana Mona tidak ingin tinggal satu atap dengannya, tapi apa ia tidak bisa menahan itu semua setidaknya hanya satu tahun? walaupun satu tahun itu sebenarnya hanya opsi sementara Liam, karena ia pun tidak tahu kedepannya, mungkin saja Liam akan mempertimbangkannya, kapan lagi dirinya menikah dengan wanita yang sejak dari dulu sebenarnya cukup membuatnya tertarik.
"Lalu dengan kau pulang apa orangtuamu akan membiarkan hal itu terjadi?"
Tentu saja Mona sudah tahu jawaban itu, pasti kedua orangtuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Mengingat hal itu membuat Mona semakin membenci semuanya. Mona pun memilih untuk tak menjawab pertanyaan Liam kemudian bangkit dari sofa.
"Malam nanti aku tidak ingin tidur bersamamu," ucap Mona setelah itu ia pergi dengan membawa paperbag pemberian dari Liam.
Liam hanya menatap punggung wanita itu yang perlahan mulai mengecil dari pandangannya.
Liam rasa wanita itu masih membencinya akibat perbuatannya dulu.
"Pasti itu masih sangat membekas untuknya," gumam Liam yang masih menyesali perbuatannya.
Sedangkan Mona setelah ia sudah berada di dalam kamar milik pria itu, Mona segera membuka paperbag pemberian dari Liam.
Beberapa dress berwarna soft langsung dapat Mona lihat dan pakaian tidur, tunggu kenapa pakaian tidurnya seperti ini?
Pakaian tidur yang berenda dan memiliki bahan yang tipis dan juga sangat minim?!
Mona menurunkan kembali lingerie yang di berikan Liam padanya.
Ia sangat tidak menyangka Liam memberikan pakaian tidur seperti ini untuknya, rupanya ia diam-diam menyukai wanita yang mengenakan pakaian minim seperti ini?
Tangan Mona kembali merogoh ke dalam paperbag, ini lebih membuat Mona terkejut ketika barang yang ada di dalam paperbag tersebut Mona lihat.
"Pakaian dalam?!" pekik Mona saat ia melihat sepasang bra dan underwear ia dapatkan dari dalam paperbag.
Reflek ia juga melempar pakaian dalam itu ke atas ranjang.
Bagaimana bisa ia berpikiran sampai ke bagian dalam untuk Mona kenakan?
Jangan bilang pria itu juga membayangkan tubuhnya?
"Jadi kau berpikiran kotor tentangku?"
Mona mendecih, sepertinya pria itu ingin bermain-main dengannya.
Kalau dulu ia bisa di perlakukan buruk olehnya, tapi saat ini ia lah yang akan membuat keadaan pria itu menjadi memburuk.
Mona pun mengambil pakaian tidur pemberian dari Liam kemudian segera bergegas ke kamar mandi.
***
Liam sedikit memijat pelipisnya saat ia selesai merapikan pekerjaannya di ruang kerjanya.
Sejenak ia melepaskankan kaitan kancing atas kemejanya kemudian menggulung sedikit baju di pergelangan tangannya.
Ia hampir saja melupakan berkas yang sempat ia bawa ke rumah karena acara pernikahan kemarin dan lupa untuk mengeceknya kembali, tapi semua telah selesai Liam cek dan itu cukup membuat punggungnya sedikit terasa pegal.
Saat ia merasa pekerjaannya telah selesai, Liam pun meninggalkan ruang kerjanya dan menuju kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya itu.
Terkejut bukan main ketika ia sudah berada di dalam kamarnya ia melihat Mona yang tengah duduk di atas ranjang sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Tubuhnya pun telah berganti pakaian yang tadi ia beli.
Tapi tunggu, kenapa baju tidur wanita itu begitu seksi? Bukankah ia meminta untuk mencarikan pakaian tidur tapi kenapa lingerie seperti ini yang pelayan toko tadi pilihkan untuk Mona?
Sudah kepalang tanggung, Liam sudah sedikit masuk ke dalam kamarnya, tidak mungkin untuknya melangkah keluar.
Liam berusaha bersikap biasa saja ketika ia sudah benar-benar berada di dalam kamarnya.
Mona yang melihat kehadiran Liam sejenak bangkit dari ranjang, meletakkan handuk yang habis ia gunakan tersebut kemudian berjalan menuju atas meja rias yang hanya berisikan parfum saja.
Mona menatap dirinya ke arah cermin sembari menyisir rambutnya tersebut.
Liam masih mematung di tempat, melihat aktivitas Mona yang tengah menyisir tersebut, tidak lebih tepatnya ia memperhatikan pakaian yang melekat di tubuh Mona.
Alihkan ke arah lain! gumam batin Liam saat matanya terus menerus ingin menatap Mona dengan susah payah pun akhirnya ia bisa mengalihkannya ke arah lain.
"Kamarku, aku harus tidur dimana?" tanya Mona membuat Liam terkejut saat wanita itu sudah berada di hadapannya.
Liam refleks melangkah mundur.
"Aku, aku lupa meminta Bi Lauren membersihkan kamar itu," ucap Liam apa adanya dengan tatapan yang ia buat biasa saja.
"Lalu kita harus sekamar lagi?"
Sepertinya memang harus seperti itu, tapi bukankah ini sangat berbahaya, wanita itu mengenakan pakaian yang begitu terbuka.
"Aku bertanya."
"Ya, seperti semalam," jawab Liam cepat.
Jujur Mona sebenarnya tidak ingin, tapi bagaimana lagi ia harus melakukannya dan sekaligus ia akan mengetes mental pria itu yang telah berani membelikannya pakaian seperti ini.
"Aku harus membersihkan tubuhku." Setelah mengatakan itu Liam pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan segera menutupnya.
Mona berdecih, hanya seperti itu saja tapi sudah terlihat gugup.
Sedangkan Liam yang sudah berada di dalam kamar mandi ia langsung menghela nafasnya panjang.
"Kenapa pelayan toko itu memberikan baju tidur yang seperti itu," gumam Liam tak habis pikir.
Apa mungkin karena ia menyebutkan istri jadi pelayan itu memberikan pakaian tidur yang seperti itu untuk--
Lupakan, ia tidak boleh berkepanjangan memikirkan ini, bagaimana bila Mona berpikiran buruk tentangnya karena bersikap aneh padanya.
Lebih baik ia segera membersihkan tubuhnya sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah keluar dari kamar mandi, ia berharap saat dirinya keluar Mona sudah terlelap tidur.