Don’t Touch Me

1141 Words
Jalanan yang tak begitu ramai dengan langit yang begitu cerah, semua pemandangan terlihat dari kaca mobil yang tengah Mona naiki. Saat ini ia sedang berada di dalam mobil yang pastinya ia saat ini bersama dengan suaminya, Liam. Pagi hari tadi Mona langsung meminta Liam untuk mengantarnya ke rumah mengambil pakaiannya saat pria itu baru setengah membuka matanya. Karena tidak mungkin untuknya mengandalkan pakaian yang di berikan oleh Liam saja. "Aku ingin pakaianku." Nyawa Liam belum benar-benar terkumpul dan Mona langsung mengatakan hal yang masih membuatnya belum terkoneksi. Liam merubah posisinya menjadi duduk. "Pakaianmu?" tanya Liam yang masih setengah sadar tersebut. Mona melipat tangannya di atas d**a, "Barang-barang milikku juga ada di sana, tidak mungkin selama satu tahun aku berada di sini tanpa barang-barangku." Oh, jadi Mona ingin mengajaknya mengambil pakaian dan juga barang-barangnya? Tapi bukankah ini masih begitu pagi, untuk apa sepagi ini wanita itu mengajaknya pergi? "Siang nanti aku akan mengantarmu." jawab Liam lagi dengan mata yang kembali terpejam bahkan berniat untuk merebahkan tubuhnya lagi. Mona menghela napasnya, apa pria itu tidak menyadari dengan adanya sinar matahari yang begitu terik ini? "Ini sudah pukul sepuluh." Pukul sepuluh? Mata Liam langsung terbuka lebar dan melihat jam. Ini kali pertama ia bangun kesiangan, ini pasti karena efek ia yang kesulitan terlelap akibat terbayang pakaian Mona. Liam juga telah melihat Mona yang sudah mengganti pakaiannya menggunakan dress pemberiannya. Ia tidak salah lihatkan? Mona begitu cantik dengan dress itu, membuat sesuatu rasa yang pernah ia rasakan ketika dulu semasa sekolah ia rasakan, ketertarikan padanya. Mona menatap Liam kemudian menatap dirinya yang terlihat oleh pantulan cermin. Ia tahu, pasti saat ini Pria itu tak bisa mengelak kalau dirinya ini sangat cantik, tapi itu juga terasa aneh untuknya di tatap seintens itu oleh Liam. "Aku tunggu kau di bawah, ingat jangan lama, aku sudah sangat bosan untuk menunggu terus," ucap Mona, Setelah mengatakan itu ia pun segera bergegas keluar dari kamar meninggalkan Liam yang menyadari perkataan Mona padanya. Bosan? apakah ia selalu membuat Mona menunggu? tentu saja ia menunggu dirinya dan bersabar lalu menyatakan cinta tapi dengan kesalahan bodohnya ia malah membuat Mona pergi darinya. Jika ia tidak melakukan kesalahpahaman itu mungkin rasa ketertarikannya pada Mona dulu bisa ia detailkan secara jelas apa ia memiliki perasaan suka padanya juga dan rasa kertarikan itu masih Liam rasakan bahkan ketika bertahun-tahun telah berlalu. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama Liam pun segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya itu lalu segera bersiap. Mona tersadar dari lamunannya ketika hentakan keras ia dapatkan saat Liam merem mobilnya secara mendadak, keningnya hampir terantuk dashboard mobil. Liam menghela napasnya, ia pun sama shocknya dengan Mona ketika pengemudi mobil di depannya tiba-tiba merem mendadak mobilnya. "Mon kau tidak apa-apa?" Mona memasang wajah cemberutnya. "Kau bisa mengendarai mobilkan?!" Liam memasang wajah menyesalnya, "Maafkan aku, tunggu disini sebentar." Liam sejenak keluar dari mobil untuk melihat mengapa mobil di depannya merem mobil secara mendadak. Rupanya tidak hanya ada satu mobil saja, melainkan ada tiga mobil di depan yang di bagian belakangnya hancur akibat tabrakan beruntun tersebut. "Keluar b******k!" "Sial, kau mabuk? Kenapa masih memaksa untuk mengemudi!" Liam menyaksikan para pengemudi yang marah kepada sang pelaku utama penyebab semua ini. Sedangkan Mona di dalam mobil ia masih mendecak kesal dengan ke cerobohan Liam, tanpa tahu keadaan yang sebenarnya terjadi. Ia terus merutuki Liam yang hampir membuat dirinya terlibat dalam kecelakaan. "Maafkan aku, ternyata mobil di depan keadaannya jauh lebih parah," jelas Liam ketika ia sudah kembali ke dalam mobil kepada Mona. Jalanan memang tak begitu ramai, tetapi akibat kelalaian pengemudi yang tadi Liam lihat mabuk membuat mobil yang ada di belakang menjadi ikut terkena imbasnya. Liam memundurkan mobilnya saat ia melihat ekspresi Mona masih terlihat kesal padanya. "Kau terluka?" tanya Liam mencoba memastikan Mona lagi, ia takut membuat Mona terluka kembali lalu membuat hubungan mereka semakin memburuk. "Diam, jangan menyentuhku!" gertak Mona ketika Liam ingin menyentuh bahunya. Tangan Liam hanya sampai di udara saja karena setelah itu ia membatalkan niatnya tersebut. Liam menjalankan mobilnya melewati mobil-mobil tadi yang terkena tabrakan beruntun, begitu pun dengan Mona yang langsung melihat sang pengemudi mobil paling depan keluar, tetapi dengan gelagat yang aneh. "Pria itu mabuk dan yang menyebabkan mobil lain ikut terkena akibat dari perbuatannya." Mabuk? Pantas bila gelagat pria itu aneh. Tidak seharusnya orang mabuk tetap nekat mengendarai mobil sendiri. Liam sesekali melirik ke arah Mona, haruskah ia menjelaskan kembali kesalahpahaman dulu bahwa ia menyakiti wanita itu pun dalam keadaan mabuk. "Dan mabuk pun membuatku dulu--" "Cepat kenapa kau lambat sekali?" celetuk Mona saat ia merasa mobil yang di kendarai Liam begitu Lambat. Liam membungkamkan mulutnya dan membatalkan untuk mengatakan hal tersebut kepada Mona. *** Helaan napas panjang ia lakukan ketika ia merasa sudah sangat lama tidak menginjakkan kakinya di kamarnya ini. Mona sangat merindukan kamarnya ini beserta isinya. Hari ini ia harus meninggalkan kamarnya untuk satu tahun ke depan. Keadaan rumahnya saat ini tak ada kedua orangtuanya hanya penjaga rumah saja yang berada di depan. Mona sendiri tidak tahu kemana kedua orang tuanya itu pergi, tapi ia yakin pasti kedua orangtuanya pergi karena memiliki kepentingan pribadi mereka. Dengan berat hati ia pun merapikan satu persatu pakaian terbaik dan ternyamannya ke dalam koper. Mona sebenarnya bisa untuk merubah pikirannya untuk tidak tinggal bersama Liam, tapi ia memikirkan kembali dendamnya yang harus terbalaskan selama ia berada dalam jangkauan Liam. Setelah selesai merapikan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper Mona pun menyeret kopernya keluar kamar. Liam yang berada di bawah untuk menunggu Mona selesai merapikan barang bawaannya akhirnya ia melihat wanita itu yang mulai menuruni anak tangga dengan membawa koper besarnya itu, dengan cekatan Liam membantu Mona dan membawakan koper miliknya itu. "Kenapa tidak memanggilku ke atas biar aku bantu bawakan?" Mona tak menjawab dan hanya melirik pria itu saja. Liam mengerti diamnya Mona pasti ia malas untuk menjawab pertanyaannya. Liam hanya mengikuti Mona dari belakang tubuhnya tanpa menanyakan apapun lagi padanya. Sebuah dering pun terdengar memecahkan keheningan yang terjadi dan itu berasal dari ponsel Mona. Helaan napas ia lakukan ketika membaca nama siapa yang meneleponnya. "Mona kau ke rumah bersama suamimu?" Mona menatap Liam, kenapa Daddynya itu bisa tahu? ia melupakan bahwa di rumah daddy-nya ini ada penjaga rumah yang pastinya akan siap siaga memberitahu kabar ini padanya. "Sebentar lagi Daddy dan Mommy akan kembali, kau bisakan untuk tetap berada di rumah?" "Ini pertama kalinya suamimu ke rumah, Daddy ingin menyambutnya." Menyambutnya? Untuk apa mereka melakukan hal itu, Mona tidak ingin melakukannya. Liam menyaksikan bagaimana istrinya itu terdiam dengan ponsel miliknya yang menempel di telinganya. Ia bertanya-tanya siapa yang menelepon Mona hingga membuatnya menjadi seperti itu. "Tidak bisa, Mona sibuk," jawab Mona to the point. "Mona harus segera kembali, Mona matikan," ucap Mona yang tak menunggu daddy-nya untuk menjawabnya, ia segera mematikannya. Liam tak berani bertanya siapa yang baru saja menelepon Mona. Ia kembali mengikuti langkah Mona yang berada di depannya dengan mendorong koper miliknya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD