Prolog

604 Words
Langit kelabu tidak sekadar menggantung di atas istana. Ia menekan, turun rendah seolah ingin menyaksikan sendiri akhir seorang ratu. Awan-awan pekat berputar pelan seperti pusaran luka yang ditoreh di d**a langit, dan angin membawa aroma besi, tanah lembap… serta ketakutan yang berbisik dari bibir ke bibir. Halaman eksekusi dipenuhi rakyat yang dipaksa hadir, pasukan yang wajahnya dipaksa tanpa ekspresi, dan bangsawan yang pura-pura buta pada apa pun selain kewajiban berpihak. Mereka semua tahu: Hari ini bukan hari seorang ratu dihukum. Hari ini adalah hari seorang ratu dikorbankan. Issabelle berlutut di tanah basah. Lumpur mencemari ujung gaunnya, tapi ia tak peduli. Mata hazelnya—biasanya lembut—kini redup, nyaris hampa, namun dalam kehampaannya ada kilauan dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Seperti bilah yang tidak berisik, tapi siap menggores dalam. Ia tidak menangis. Tidak memohon. Bahkan tidak marah. Yang tertinggal hanyalah ketenangan yang terlalu sunyi… terlalu berbahaya. Algojo melangkah maju. Suara pedangnya saat ditarik dari sarung mengiris udara, membuat banyak orang menahan napas. Bahkan burung-burung di atap istana mendadak terbang pergi. Issabelle tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun—lebih mirip retakan pada patung yang hampir tumbang. “Begitu mudahnya aku dilenyapkan,” katanya, pelan namun setiap kata terdengar jelas di antara tiupan angin. “Padahal aku mengabdikan hidupku untuk kerajaan ini. Ironis.” Ia mengangkat wajahnya, dan tatapannya bertemu dengan Raja Eclestia. Tatapan itu bukan tatapan seorang istri kepada suami… melainkan tatapan seseorang yang tersadar bahwa orang yang ia percayai adalah tangan pertama yang mendorongnya menuju jurang. Raja Alistair berdiri dengan jubah hitam, wajah kaku seperti batu. Namun di mata itu—sekilas, sangat sekilas—terlihat sesuatu bergerak. Bukan penyesalan. Bukan keberanian. Tapi ketakutan yang dipaksa tersembunyi di balik kewibawaan. “Kau telah memilih ini Yang Mulia,” ujarnya, suaranya menembus lapisan-lapisan diam di sekeliling mereka. “Semoga kau tidak menyesalinya… ketika kebenaran merobekmu seperti pedang algojo merobek leherku hari ini.” Beberapa bangsawan menelan ludah. Pasukan tampak goyah. Karena meski diucapkan dengan sisa sisa tenaga yang dimilikinya, tidak menggema namun, mereka merasa seperti mendengar bisikan kutukan. Algojo mengangkat pedang lebih tinggi. Angin berhenti. Issabelle menunduk sedikit, lalu berbisik—bukan pada algojo, bukan pada rakyat namun, kepada raja sosok yang dulu dicintainya. Nada suaranya begitu tenang, tapi menyimpan kedalaman kegelapan yang membuat waktu seolah melambat. “Jika takdir memanggilku kembal aku tidak akan menjadi Isabelle yang kau kenal.” Ia mengangkat kepalanya sedikit, mata hazelnya menyalip dingin. “Aku membencimu Alistair.” Raja Alistair menegang. Sesuatu di dadanya merosot—sebuah rasa yang tidak ia mengerti… atau pura-pura tidak mengerti. Rasa itu menggerogoti ketegasan yang selama ini dibangun oleh ambisi dan ketakutan. Pedang algojo turun. Suara logam menghantam daging dan tulang—sekejap, final, brutal. Rakyat menutup mata serempak. Pasukan mengalihkan pandangan. Istana seolah menahan napas. Dan saat tubuh Issabelle jatuh, setitik darahnya menyentuh tanah Eclestia. Pada detik itu, angin tiba-tiba bergerak mundur. Burung-burung kembali ke udara dengan jeritan kacau. Awan gelap berputar, seolah ada sesuatu yang terbuka dari bawah tanah. Tidak ada yang berani berbicara. Raja Alistair merasakan dingin menjalar naik melalui sepatu botnya—dingin yang tidak berasal dari tanah, tapi dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa samar… namun hidup. Ia menggenggam pinggiran singgasananya sampai buku jarinya memutih. Sumpah terakhir Issabelle bergema di kepalanya, lebih keras daripada suara eksekusi barusan: “Aku Membencimu Alistair.” Gelap menutup. Sunyi menggema. Lalu… Kesadaran kembali—di tempat lain. Di waktu lain. Dengan nafas yang terputus-putus seperti baru selamat dari tenggelam. Issabelle terbangun di masa lalu. Tapi hatinya? Telah berubah menjadi medan perang. Dan kali ini… Ia bukan korban. Ia adalah badai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD