1. Kembali dari Kematian

1159 Words
Kesadaran menembus tubuh Issabelle seperti cahaya dingin dari jurang gelap. Issabelle Arianne Eclestia terbangun dengan napas terengah, tubuhnya tersentak seolah ditarik paksa kembali ke dunia. Rambut hazelnya menempel di pelipis karena keringat dingin. Jantungnya berdegup keras—begitu kuat hingga ia harus menggenggam dadanya untuk memastikan dirinya… masih hidup. Hidup. Kata itu terasa ironis bagi seseorang yang baru saja merasakan bilah algojo mengoyak lehernya. Ia bahkan masih merasakan panas tajam dari besi yang memutus napas terakhirnya. Ia menatap sekeliling. Dan saat ia menyadari di mana ia berada— —jantungnya seolah jatuh ke perut. Ia terbangun dengan napas tercekik, matanya membulat, otaknya belum memahami apakah ia benar-benar kembali hidup… atau baru saja terseret paksa dari alam kematian. Langit-langit kamar. Ia membeku. Ini bukan ruang bawah tanah tempat ia menanti eksekusi. Bukan tanah becek yang menyerap darahnya. Bukan bau besi dari pedang algojo. Kamar ini… Kamar yang seharusnya tidak lagi ada dalam hidupnya. Kamar seorang permaisuri—yang belum tahu bahwa ia akan mati sebagai korban fitnah. Ia mengenali semua detailnya: tirai putih gading, vas seruni yang selalu diganti setiap pagi, cermin berbingkai emas yang memantulkan masa lalu yang seharusnya telah terkubur bersama tubuhnya. Ia kembali. Benar-benar kembali. Napasnya memburu. Tangannya bergetar. Bahkan suara napasnya sendiri terdengar asing. Ia menyentuh lehernya— kulitnya utuh. Tak ada luka. Tak ada darah. Tak ada jejak kematian. “…Aku kembali,” bisiknya, pecah namun dingin bersamaan dengan air matanya yang mengalir melewati kulit pipinya yang pucat. Tirai kamar berayun pelan, membawa aroma lavender—aroma yang seharusnya tidak lagi memenuhi paru-parunya. Dunia yang cantik ini adalah dunia yang sama dengan dunia yang mengorbankannya tanpa mencari kebenaran. Dan tiba-tiba, gelombang memori menghantamnya. Gemuruh hukuman. Sorot mata seluruh istana yang memandangnya seolah ia monster. Lysandra Vael—selir bermata ungu yang manis dan lugu—menangis dalam pelukan raja. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, seakan ia baru saja selamat dari upaya pembunuhan. Padahal yang hampir mati saat itu adalah dirinya. Bukan Lysandra. Ia masih ingat tatapan Alistair Dorian Eclestia. Tatapan yang dulu membawanya rasa aman… tapi hari itu membawa maut. Bukan cinta. Bukan kepercayaan. Hanya jijik—dan kekecewaan. “Bagaimana bisa kau melakukan ini, Issabelle?” "Kelakuanmu sungguh menjijikkan." suara raja saat itu keluar rendah, namun setiap katanya menusuk. "HARI INI AKU AKAN MENJATUHI HUKUMAN KEPADA RATU ISSABELLE ARIANNE ECLESTIA ATAS PENGKHIATAN YANG TELAH DILAKUKANNYA TERHADAP ISTANA." "RATU ISSABELLE ARIANNE ECLESTIA AKAN DITURUNKAN DARI POSISI RATU DENGAN TIDAK TERHORMAT DAN KARENA PENGKHIANATANNYA TERHADAP ISTANA ISSABELLE ARIANNE AKAN DIBERIKAN HUKUMAN PENGGAL AGAR TIDAK ADA PENGKHIANATAN DIKERAJAAN INI." Ia ingin tertawa. Menjerit. Menampar wajah itu dan bertanya: “Kapan tepatnya kau berhenti menjadi manusia, Alistair?” Tapi bibirnya kelu. Kata-kata tak pernah sempat keluar. Ia diikat. Diseret. Dijatuhkan ke tanah dingin, di hadapan para bangsawan yang dulu mencemohnya. Ia masih ingat rasa debu dan darah di lidahnya. Dan sebelum pedang turun, ia mengedarkan pandangannya kedepan melihat wajah-wajah yang mencemohnya. Tapi dari semua wajah-wajah itu ia meringis ingin berteriak meliha Canna pelayan setianya dan dua pengawalnya yang telah terpenggal.ia menjerit menangis lalu ia berkata—kata-kata yang kini menggema lebih keras setelah ia kembali hidup: “Jika takdir memanggilku kembali… aku tidak akan menjadi orang bodoh yang mengemis padamu. Aku membencimu, Alistair.” Issabelle mengerjap, napasnya tertahan. Rasa pahit itu tetap sama—rasa kematian. “Yang Mulia…?” Suara pelayan muda memecah keheningan. Issabelle memejamkan mata. Ia mengatur napas, menenangkan gemuruh dalam dadanya, dan membangun kembali wajah tenang yang harus ia kenakan. “Masuk,” ujarnya. Pintu terbuka. Canna—pelayan yang setia padanya hingga akhir—masuk sambil membawa teh. Kepangnya berantakan, tangannya bergetar. “Yang Mulia… Anda tampak pucat. Haruskah Hamba panggilkan tabib?” Issabelle menatapnya lama. Sangat lama hingga Canna menunduk, takut menatap mata yang kini membawa dua kehidupan. “Tidak perlu Canna,” katanya lembut. Ia menyentuh bahu Canna—sentuhan yang dulu tidak pernah ia hargai karena hatinya sibuk mengejar perhatian raja yang tidak pantas. “Aku baik-baik saja.” Bohong. Ia berada di ujung kegilaan. Telapak tangan dan kakinya terasa dingin dan bergetar pelan. Namun ia tidak boleh terlihat rapuh—bukan di kehidupan yang kedua ini. Kini ia memilih dirinya sendiri. Dan dirinya… akan menjadi pedang untuk melindungi dirinya sendiri di istana ini. "Tolong siapkan air mandi saja, aku ingin mandi rasanya badanku sangat kotor." Dia masih merasakan aroma lumpur dan darah ditubuhnya. Dia ingin membersihkan seluruh tubuhnya dari kebodohan-kebodohan yang membuatnya merasa tubuhnya sangat menjijikkan. Canna bingung mendengan ucapan Issabelle, padahal Issabelle hanya berbaring dikamar dan semingguan ini Issabelle hanya melakukan semua kegiatannya di Istana Ratu karena kondisinya yang kurang sehat. Namun ditengah kebingungan yang tidak berani dia ungkapkan Canna tetap melakukan permintaan Issabelle. "Baik Yang Mulia akan Hamba siapkan. Wewangian apa yang ingin anda gunakan hari ini Yang Mulia." "Siapkan aroma mawar dengan sedikit cendana saja Canna." "Dan Canna jangan menghambakan dirimu padaku. Aku minta maaf jika selama ini aku berlaku buruk padamu Canna." "Tidak Yang Mulia jangan katakan itu saya tidak berhak mendengarnya." "Tolong maafkan aku Canna aku sungguh memperlakukanmu dengan sangat buruk selama ini. Padahal kau sangat tulus berada disisiku. Tolong maafkan aku setidaknya bantu aku dari rasa bersalah ini." Canna bingung juga takut mendengarnya, ada apa dengan Issabelle sebenarnya apa beliau mengalami mimpi buruk. Tapi sungguh Canna tidak tega melihatnya. Lagipula dia selalu mengingat pesan ibunya sebelum dia mengikuti Issabelle ke kerajaan ini, ibunya selalu berpesan untuk selalu menjaga dan menemani Issabelle apapun yang terjadi. Dan mereka juga tumbuh bersama sejak kecil di Kediaman Duke Arviant di kerajaan Fransem. "Tolong Yang Mulia jangan seperti ini, saya tidak pernah mempermasalahkan semua perlakuan anda selama ini. Tapi jika itu bisa menenangkan anda baik Yang Mulia saya memaafkan anda." "Terima Kasih Canna, tolong jangan tinggalkan aku. kita hanya berdua di kerajaan ini." Ucap Issabelle dengan rasa lega dan penuh permohonan. "Tentu saja Yang Mulia kemana pun anda pergi tentu saya akan mengikuti anda." "Terima Kasih Canna."Setelah percakapan penuh haru itu Canna segera menyiapkan air hangat untuk Issabelle. Sementara Canna membenahi tirai, Issabelle berdiri perlahan. Tubuhnya masih gemetar, namun ia memaksakan diri melangkah menuju cermin. Yang menatapnya adalah dirinya sebelum dunia hancur. Kulit porselen. Rambut bergelombang. Yang berbeda hanyalah matanya. Mata yang dulu lembut kini tampak seperti danau beku. “Sungguh… apakah takdir mengembalikanku, atau justru mempermainkanku?” bisiknya. Ia menyentuh permukaan cermin. Senyum kecil terbit—senyum yang lahir dari dendam yang tenang. “Aku kembali ke titik sebelum semuanya dimulai.” Ia menarik napas panjang. “Aku tidak akan mati untuk kedua kali setidaknya aku tidak boleh mati konyol.” "Aku akan melindungi orang-orang yang menayayangiku dengan tulus. Ia mengangkat kepalanya, bahu lurus, mata setajam badai. “Aku akan membuat semuanya membayar. Satu per satu rasa sakit yang aku terima mereka harus membayarnya.” Untuk pertama kalinya sejak kelahirannya kembali, ia merasa hidup. Bukan sebagai ratu yang diabaikan. Bukan sebagai istri yang dikhianati. Namun sebagai sesuatu yang lebih dingin. Lebih tajam. Lebih gelap. Issabelle Arianne Eclestia telah kembali. Dan Kerajaan Eclestia… tidak akan pernah sama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD