"Tak semua gelap menakutkan; beberapa justru tahu cara memeluk lebih lembut dari cahaya."
Istana Eclestia biasanya dipenuhi suara: langkah terburu-buru para pelayan, denting piring dari dapur utama, dan bisikan para dayang yang membicarakan segala hal selain pekerjaan mereka.
Namun pagi ini… segalanya terlalu sunyi.
Issabelle Arianne Eclestia berdiri di depan cermin tinggi, membiarkan pantulan dirinya mengukuhkan kebenaran pahit bahwa ia telah kembali—hidup—ke tubuh yang beberapa jam lalu tergeletak di tanah eksekusi. Tapi semakin lama ia menatap bayangannya, semakin jelas ia merasakan sesuatu yang bergeser.
Dirinya… tidak sepenuhnya sama.
Ada bayangan tipis di pinggir matanya—sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—seolah cermin itu menangkap lebih dari tubuhnya. Seolah ada sisi gelap yang ikut terbangun bersamanya.
Ia mengangkat tangan. Pantulannya mengikuti, namun terlambat sepersekian detik.
“…Kau juga kembali,” bisiknya lirih, seperti berbicara pada sesuatu yang hanya ia yang bisa lihat.
Ia tidak tahu apakah itu kutukan, anugerah, atau potongan jiwanya yang pernah pecah.
Namun satu hal pasti: ia tidak kembali seorang diri.
Di sudut ruangan, Canna berdiri dengan kepala menunduk, jemarinya meremas rok dengan gelisah. Sejak pagi, sorot mata Issabelle membuat gadis itu tampak takut dan bingung setelah kemarin dia melihat Issabelle meminta maaf dan menangis. Apa Issabelle yang dikenalnya saat masih belum mencitai Raja sungguh kembali.
“Canna,” panggil Issabelle lembut—kelembutan familiar yang menarik ingatannya tentang bagaimana mereka bermain bersama setiap kelas kepribadian Issabelle selesai.
Canna sedikit terlonjak dengan mata berkaca-kaca. “Iya, Yang Mulia?”
“Siapa yang sudah datang pagi ini?”
Gadis itu mencoba menetralkan rasa harunya sebelum menjawab, “Pengawal Yang Mulia Raja menyampaikan bahwa Yang Mulia Raja ingin mendengar laporan tentang Anda pagi ini. Dan… selir Lysandra Vael dikabarkan akan hadir pada jamuan pagi.”
Nama itu—Lysandra—meluncur ke udara seperti tetesan racun.
Issabelle mengembus napas kecil, datar. “Begitu cepat.” apa ini jamuan yang sama dengan jamuan saat itu. Saat dimana dia akan dipermalukan karena rasa cemburunya. Kali ini tidak akan dia biarkan hal-hal menjijikkan itu terulah kembali.
“Yang… Yang Mulia?” Canna menatapnya ragu.
“Tidak apa-apa aku akan hadir Canna.”
Nada suaranya tetap lembut namun menyimpan dingin dingin; tenang seperti danau beku yang menyimpan mayat di dasarnya.
“Siapkan pakaianku. Dan pastikan tidak ada satu pun alasan bagi siapa pun untuk merendahkanku hari ini Canna.”
Canna menegang seketika, lalu memberi hormat dalam-dalam.
“S-Saya mengerti, Yang Mulia.”
Senyum tipis terukir di bibir Issabelle—senyum yang seharusnya tidak dimiliki seseorang yang baru “bangun” dari kematian.
Canna mengambilkan merah muda lembut, warna yang dulu menjadi favorit Issabelle—simbol kelembutan, kedamaian, dan harapan yang ia pelihara dengan bodoh yang sebenarnya itu warna kesukaan Lysandra, dulu dia akan memakai apapun yang mirip Lysandra agar Raja meliriknya sungguh menjijikkan Issabelle kau kehilangan jati dirimu. begitu benak Issabelle saat melihat warna gaun tersebut.
Issabelle hanya memandangnya sejenak sebelum menggeleng.
“Tidak merah muda Canna, singkirkan semua gaun yang seperti itu.”
Canna berkedip bingung. “Yang… merah tua?”
“Merah terlalu mencolok.”
Ia menoleh. Tatapannya tajam tanpa harus meninggikan suara.
“Ambilkan yang hitam. Dengan detail perak.”
Canna terdiam. Issabelle tidak pernah memilih warna seberani itu. Terlalu tegas, terlalu dingin, terlalu… kuat.
Tapi itu yang ia inginkan.
Gaun hitam itu membalut tubuhnya dengan sempurna, jatuh dalam lipatan anggun yang menciptakan siluet ratu—bukan ratu yang lemah, melainkan ratu yang kembali dari akhirat dengan sesuatu yang gelap di belakang bahunya.
“Yang Mulia anda terlihat… sangat berwibawa,” ucap Canna hati-hati.
Issabelle menatap pantulan dirinya sekali lagi.
"Bukankah kau familiar dengan aku yang ini Canna ?"
ucapnya lembut namun Canna mengerti maksud dari ucapannya.
“Biarkan semua orang tahu bahwa sesuatu telah berubah.”
Senyum miring muncul di bibirnya.
“Ayo. Saatnya menyapa dunia aku seidkit bersemangat pagi ini.”
Saat ia melangkah keluar, ada sesuatu yang bergerak di ujung matanya. Bayangan.
Ia pikir itu pelayan yang lewat, tetapi ketika menoleh—ruang itu kosong.
Udara tiba-tiba mendingin.
Semilir angin menyentuh tengkuknya, seperti sentuhan sesuatu yang tidak bernyawa.
“Kau kembali karena ada alasan.”
Suara itu bukan suara manusia.
Atau mungkin hanya gema dari sisa-sisa jiwanya sendiri.
Issabelle tidak menoleh. Tidak bereaksi. Tidak takut.
Ia telah melewati kematian yang menyakitkan.
Apa lagi yang bisa menakuti seseorang yang telah melihat gelapnya akhir?
Koridor utama tampak lebih panjang dari biasanya. Dua pelayan yang lewat tiba-tiba menunduk dalam-dalam ketika melihatnya. Mereka terhenti, seolah tatapannya membuat udara di sekeliling mereka menebal.
Issabelle berhenti tepat di hadapan mereka.
Keduanya membeku.
“Ada yang ingin kalian sampaikan?” tanyanya lembut—lembut yang menusuk seperti jarum.
Pelayan pertama menelan ludah. “Tidak, Yang Mulia. Kami hanya… terkejut.”
“Terkejut?”
“Dengan… aura Anda hari ini. Anda terlihat… berbeda.”
Senyum halus muncul di bibir Issabelle.
"Jelas berbeda aku baru saja kembali dari kematian.” ucap Issabelle pelan yang hanya didengar dirinya sendiri
Ia berjalan pergi, dan ketika ia sudah cukup jauh, pelayan kedua berbisik ketakutan:
“Beliau… apa yang terjadi pada Ratu Issabelle mengapa terasa berbeda.”
“Iya aku tidak melihat kemurungan diwajah Yang Mulia seperti berbubah namun terasa tepat . Seolah… terlahir kembali.”
Issabelle mendengar semuanya.
Namun ia tidak menoleh, hanya terus melangkah menuju pintu besar di ujung koridor.
Dulu, ruangan itu menyimpan harapan—keinginan kecil akan perhatian Alistair, percakapan ringan, atau setidaknya senyum yang tidak dipaksa. Ruangan yang diharapkannya sama seperti ruang makan di kediamaannya dulu penuh dengan kehangatan. Namun ternyata semua hanya harapannya saja.
Kini ia sadar… yang menunggunya bukan harapan.
Melainkan medan perang.
Ia berhenti di depan pintu makan utama, meraba permukaan kayu dingin yang terasa sangat asing padahal sudah bertahun-tahun ia sentuh.
Ia memejamkan mata sejenak.
Mati bukan akhirku.
Ini adalah awal perangku.
Mereka bukan apa-apa, aku akan berdiri untuk diriku dan orang-orang yang tulus disampingku.
Ketika ia membuka mata, tatapannya jernih, tajam, dan tenang seperti bilah yang baru diasah.
“Buka,” ucapnya pelan.
Lalu, dengan ketenangan yang lebih mengancam daripada amarah, ia berbisik pelan namun tak terbantahkan:
“Umumkan kedatanganku.”
Pintu besar itu bergerak perlahan…
dan babak baru dari kehidupannya akhirnya dimulai.