3. Dihadapan Mereka yang Mengkhianatiku

1065 Words
“Dalam ruangan penuh cahaya, gelap yang hidup di dalamku justru paling tampak.”  “Yang Mulia Ratu Issabelle Arianne Eclestia memasuki ruangan” Suara lantang sang pengawal menggema, memecahkan percakapan kecil yang sebelumnya mengisi udara ruang jamuan. Para bangsawan serempak menegakkan punggung; beberapa berdiri dengan tergesa, seolah takut terlihat tidak sopan. Mereka hanya tahu satu hal: Ratu, yang dikabarkan sedang tidak sehat selama beberapa waktu, akhirnya kembali muncul. Mereka tidak tahu apa pun tentang dirinya yang baru Kembali dari kematian. Atau tentang dirinya yang bukan lagi sosok yang pernah mereka remehkan. Issabelle melangkah masuk—gaun hitamnya menyapu lantai seperti aliran malam yang memotong cahaya pagi. Tidak ada kelemahan dalam langkahnya. Tidak ada sisa-sisa sakit. Tidak ada senyum bodoh yang dulu selalu ia pertahankan demi kerukunan. Hanya keanggunan yang dingin. Dan sebuah ketenangan yang memaksa siapa pun untuk berhenti bernapas. Raja Alistair berdiri pertama kali. Wajahnya kaku, matanya tajam namun terselip kepedulian kala mengamati istrinya seolah meyakinkan diri bahwa yang sedang hadir saat ini istrinya telah pulih dari sakit. “Issabelle.” “Ku dengar kau sakit ?” “Syukurlah kau sudah cukup pulih untuk hadir.” Pulih. Ia menyebutnya pulih. Issabelle menahan senyum tipis—senyum yang terlalu halus untuk disebut sinis, tetapi cukup tajam jika diperhatikan. “Terima kasih atas kekhawatirannya, Yang Mulia,” jawabnya pelan. “Aku sendiri pun terkejut bisa bangun begitu cepat.” Di samping sang raja, selir Lysandra Vael bangkit memberi hormat, megulas senyum ramah yang begitu manis hingga hampir terasa seperti racun. “Salam hormat, Yang Mulia Ratu Issabelle,” ucapnya lembut. “Kami semua sangat mengkhawatirkan Anda. Saya selalu mengirimkan doa untuk kesembuhan Anda.” Doa. Issabelle hampir tertawa, namun yang keluar hanyalah lengkungan bibir tipis. “Benarkah?” katanya lirih. “Kalau begitu, sepertinya aku harus berterima kasih. Tanpa doamu, mungkin aku tidak akan kembali dari… ketidaksadaranku.” Beberapa bangsawan menahan napas. Senyum Lysandra tidak berubah, namun matanya membeku sepersekian detik. Issabelle melanjutkan, nada tetap lembut. “Aku juga menghargai kehadiranmu pagi ini, Selir Lysandra.” Lysandra menunduk dalam-dalam. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud lancang mengambil alih tugas Anda menghadiri jamuan ini.” Ia menambahkan, seolah penuh perhatian, “Saya hanya tak ingin jamuan ini mengganggu istirahat Anda. Kesehatan Anda jauh lebih penting.” “Kesehatan…” ulang Issabelle sambil mengangkat dagu sedikit. “Kau benar. Kesehatanku memang sangat penting.” "Aku harus selalu sehat untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga." Nada itu halus, namun dinginnya seperti belati yang sudah diasah. Raja Alistair berdeham, berusaha meredakan ketegangan. “Issabelle, duduklah. Kau baru pulih Kita tidak ingin kau—” “Tidak akan terjadi apa pun padaku Yang Mulia,” potongnya. “Percayalah, Yang Mulia. Tubuhku jauh lebih kuat dari yang kau khawatirkan.” Alistair menatapnya, seolah menimbang apakah ia sedang berbicara dengan istrinya… atau sesuatu yang lain. Issabelle perlahan duduk di kursinya. Di sekeliling, langkah para pelayan terhenti sesaat ketika melihat sorot matanya—terlihat berbeda lembut namun dingin dan tajam, terlalu tenang. Seolah ratu yang mereka kenal telah menghilang. Issabelle meraih gelasnya, lalu menatap seluruh ruangan. “Baiklah,” ucapnya perlahan, nada menyerupai bilah tipis yang mengiris udara. “Jika semua sudah hadir, mari kita mulai jamuannya.” Setelah semua duduk, suasana jamuan tampak kembali tenang. Para pelayan bergerak teratur, dan denting sendok mulai terdengar. Lysandra-lah yang membuka percakapan—seperti biasa, dengan senyum manis yang terlihat begitu lembut bagi mereka yang tidak mengenalnya. “Yang Mulia Ratu,” ucap Lysandra, nada seolah dipenuhi perhatian, “Aku harus mengatakan… aku sangat lega melihat Anda hadir di sini. Yang Mulia Raja sangat gelisah akhir-akhir ini.” Issabelle mengangkat mata perlahan. “Hm? Gelisah?” Tanya Issabelle dengan nada seperti gumaman terdengar tidak berminat untuk menanggapi Lysandra tersenyum kecil, menatap Alistair sekilas—sentuhan lirih yang terukur. “Tentu saja. Beliau sering begadang demi memikirkan keadaan Anda.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Kadang… bahkan sampai pagi.” Beberapa bangsawan mulai berbisik pelan. Ucapan seperti itu, jika ditangkap tidak tepat, bisa tampak seperti: "Raja menghabiskan waktu bersamaku." Provokasi sangat halus. Alistair hendak berbicara, namun Issabelle lebih cepat. “Oh?” Issabelle menatap Lysandra, tidak menunjukkan rasa tersinggung sama sekali. “Aku berterima kasih karena kau menjaga beliau selama aku tidak bisa hadir.” Suara Issabelle tenang, namun satu kata itu—menjaga—seperti jarum halus yang hanya menusuk orang yang seharusnya merasa tertusuk. Senyum Lysandra membeku sepersekian detik. Issabelle melanjutkan, nada tetap lembut: “Aku senang Yang Mulia Raja tidak merasa sendirian. Istana memang sangat sunyi tanpa seseorang yang dapat… menghibur suasana.” Kepala beberapa bangsawan terangkat. Nada itu terlalu sopan untuk disebut sindiran, namun cukup halus untuk membuat orang yang peka merasakannya. Selir Lysandra tersenyum lagi—lebih kaku kali ini. “Tentu saja, Yang Mulia. Saya hanya melakukan yang terbaik.” “Iya,” balas Issabelle singkat. “Dan aku yakin… itu memang keahlianmu.” Lysandra menelan ludah. Alistair menatap Issabelle, tidak mengerti sepenuhnya, namun merasakan perubahan yang tidak bisa dijelaskan namun coba ia tepis mungkin karena keadaan Issabelle yang baru pulih. Issabelle lalu mengalihkan perhatiannya pada makanan, seolah percakapan itu tidak penting. Ruangan itu kembali bergerak pelan, tetapi atmosfernya telah berubah. Dan semua orang merasakannya. Di ujung meja, seorang bangsawan muda tanpa sengaja menjatuhkan garpunya. Suara logam yang memantul di lantai membuat seluruh ruangan menegang seketika. Issabelle tidak menoleh. Namun tangannya berhenti di udara—sekilas saja—sebelum melanjutkan gerakannya dengan keanggunan yang hampir menakutkan. Itu cukup untuk membuat si bangsawan pucat pasi. Lysandra menatap ke arah bangsawan itu dengan kesal yang disembunyikan rapat, sementara Alistair memperhatikan istrinya tanpa berkedip. Ada sesuatu dalam sikap Issabelle yang membuatnya ragu: apakah ia benar-benar sedang berbicara dengan perempuan yang sama? Setelah beberapa menit hening yang memanjang seperti bayangan, Issabelle meletakkan gelasnya perlahan. Tatapannya menyapu ruangan—santai, hampir lembut, namun membuat beberapa orang menunduk secara refleks. “Sepertinya semua orang… sangat berhati-hati pagi ini,” ucapnya tenang. Menghela nafas pelan Issabelle melanjutkan ucapannya "Yang Mulia untuk laporan tentang festival musim panas akan saya laporkan setelah saya memeriksa kembali laporan tersebut, sepertinya ada yang harus saya perbaiki. Mohon Maaf jika karena kesehata saya membuat laporan tersebut harus tertunda." Alistair tercengang "Baik laporkan setelah kau menyelesaikannya." dia menjawab dengan gamang, enatah mengapa dia merasa tatapan Issabelle berbeda tidak ada nada mencari perhatian dari setiap ucapannya. Tapi Alistair menepis rasa itu karena mungkin itu efek dari kesehatan Issabelle yang sempat menurun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD