4. Langkah Pertama

1094 Words
" Selama ini Dia Memelihara Lukanya" Lorong istana masih dipenuhi jejak wangi jamuan pagi ketika Issabelle kembali ke kamarnya. Para pelayan mengikuti di belakang dalam jarak sopan—bukan untuk mengawasi, melainkan seperti orang-orang yang sedang membiasakan diri dengan sosok Ratu yang terasa berbeda dari biasanya. Pintu tertutup. Kesunyian merayap masuk, tebal dan berat. Untuk pertama kalinya sejak “bangun”, Issabelle membiarkan dirinya duduk tanpa topeng kelembutan yang selama ini ia pakai. Napasnya pecah, panas dan berat, seolah tubuh ini telah lama ingin menjerit tetapi terus dipaksa diam. Dan di tengah keheningan itulah memori itu datang Ia tidak menolaknya. Ia membiarkan memori itu mengambang ke permukaan. Malam itu. Malam ketika ia memerintahkan semua lilin dinyalakan agar ruangan tampak lebih hangat—lebih layak menyambut suaminya. Ia duduk di tepi tempat tidur, jubah kebesaran yang terlalu berat menindih bahunya. Lilin-lilin meleleh satu per satu. Waktu bergerak lambat, nyaris kejam. Namun pintu tidak pernah terbuka. Ia—Ratu yang baru dinobatkan—menunggu suaminya dalam kesendirian yang bahkan tidak pantas bagi bangsawan rendahan. Ia dulu diam. Karena mencintai Raja lebih dari dirinya sendiri. Ia dulu diam. Karena yakin kesabaran akan dihargai. Ia dulu diam. Karena menipu diri bahwa semua itu wajar. Kini, ingatan itu kembali sebagai sesuatu yang lain. Bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Melainkan kesadaran. Kesadaran yang dingin, berat, dan tak bisa ditawar. Selama ini… apakah aku yang menjaga luka itu tetap hidup? Issabelle membuka mata. Tatapannya telah berubah. Tidak lagi milik perempuan yang menunggu. Tidak lagi milik ratu yang memohon cinta. Hanya satu kata yang muncul dari kedalaman dadanya: “Cukup.” *** Fajar menyusup melalui tirai ketika Canna masuk membawa air hangat dan perlengkapan bersiap. “Yang Mulia,” sapanya lembut, “kami siap membantu Anda bersiap untuk jadwal pagi bersama Raja.” Issabelle sedang menyisir rambutnya sendiri—sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama bertahun-tahun. “Siapkan sarapan di kamar saja, Canna,” katanya tanpa menoleh. Canna tersentak, hampir menjatuhkan sisir kedua. “Ba–baik, Yang Mulia. Apakah Anda merasa tidak enak badan? Perlu saya panggilkan tabib?” “Tidak,” jawab Issabelle tenang. “Aku hanya ingin sarapan di kamar.” Canna ragu sejenak. “Apakah ada hidangan khusus yang Anda inginkan hari ini?” “Siapkan apa yang tersedia. Tambahkan teh bunga. Aku ingin meminumnya pagi ini.” “Baik, Yang Mulia.” “Terima kasih, Canna.” Canna terdiam. Ucapan terima kasih dari sang Ratu—hal sekecil itu—membuatnya terhenyak dan membuatnya semakin yakin jika Issabelle yang dulu dia kenal telah kembali. “Sudah menjadi tugas saya, Yang Mulia,” katanya akhirnya, menunduk lebih dalam dengan senyum yang mengembang. Issabelle makan dengan perlahan ketika sarapan datang, menikmati keheningan yang biasanya membuatnya gelisah. Tidak ada pikiran tentang Raja. Tidak ada kecemasan akan jadwal. Setelah selesai, ia berdiri. “Canna tolong siapkan gaun yang nyaman. Aku ingin pergi ke perpustakaan.” Canna berkedip. “…Perpustakaan, Yang Mulia?” “Iya.” Nada itu lembut, namun menutup semua kemungkinan bantahan. Dan untuk pertama kalinya, pelayan-pelayan di lorong melihat Ratu berjalan bukan menuju Raja—melainkan menuju sesuatu yang tidak mereka pahami. Ruang makan pagi itu hangat oleh aroma roti panggang dan anggur manis. Lysandra duduk di sisi kiri kursi Raja Alistair. Gaunnya berkilau lembut, rambutnya tersusun rapi—jelas disiapkan untuknya. Begitu Alistair masuk, Lysandra berdiri dan tersenyum. Senyum yang selalu berhasil menenangkan pikirannya. “Yang Mulia tampak lelah,” katanya sambil meraih tangan sang Raja, membiarkan jemarinya menyapu punggung tangannya dengan belaian ringan. “Apakah Anda tidur dengan baik?” “Tidak sebaik biasanya,” jawab Alistair, membalas sentuhan itu tanpa ragu. “Tapi melihatmu… sudah cukup.” Lysandra menunduk manja. “Kalau begitu, izinkan saya membuat pagi Anda lebih baik. Saya sudah meminta pelayan menyiapkan hidangan kesukaan Anda.” Alistair mencondongkan tubuh dan mengecup bibirnya singkat—cukup lama untuk membuat para pelayan menunduk, pura-pura tidak melihat. Namun saat hendak duduk, pandangannya tertarik pada kursi kosong di sisi kanan. “Ratu belum datang?” tanyanya datar. Pengawal membungkuk. “Yang Mulia Ratu memilih sarapan di kamarnya.” Lysandra tersenyum lembut. “Dia mungkin masih lelah. Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Ratu selalu… sensitif.” Kata itu manis. Racunnya tersembunyi rapi. Ia mendekat, suaranya direndahkan. “Saya di sini.” Itu cukup. Alistair mengangkat tangan Lysandra dan menciumnya. Namun kerutan kecil di antara alisnya belum sepenuhnya menghilang. Kenapa rasanya aneh? Tapi Ia mengabaikannya. *** Udara pagi di perpustakaan membawa aroma batu tua dan kertas lama. Issabelle berjalan tanpa tergesa. Rak-rak tinggi menjulang seperti saksi bisu yang telah menyimpan terlalu banyak rahasia. Ia tidak tahu apa yang ia cari. Namun sesuatu di tempat itu memanggilnya. Satu buku sejarah. Satu tentang ramuan penyembuhan. Satu tentang silsilah bangsawan. Ketika ia menarik buku keempat, terdengar bunyi klik halus dari dalam rak. Buku itu berbeda. Kulit hitam keperakan. Tanpa judul. Tidak berdebu—seolah baru saja diletakkan. Issabelle membuka halaman pertama. Tulisan tangan rapi memenuhi lembar awal. Simbol, catatan, potongan kertas tambahan. Lalu sebuah halaman bertanda pita hitam. “Ketika bintang yang seharusnya hanya terbenam sekali dalam satu abad muncul kembali, takdir akan bergeser.” “Mahkota akan retak, dan yang bangkit dari kematian menjadi cermin kebenaran.” Napas Issabelle tertahan. “Kunjungan yang langka, Yang Mulia.” Penjaga perpustakaan Tuan Darel muncul dari balik rak. “Itu bukan buku yang biasanya diminati,” katanya pelan. “Buku ini menarik,” jawab Issabelle. “Apa kau tahu ini buku apa?” Pria itu ragu sejenak. “Buku itu… tidak pernah dipajang.” “Kenapa?” “Karena buku itu tidak menunggu pembaca,” katanya lirih. “Ia mencari seseorang.” Issabelle menutup buku perlahan. “Aku sedang membacanya.” “Aku tahu,” jawabnya. “Dan itulah yang membuatku khawatir.” “Kau datang untuk menghentikanku?” “Tidak,” katanya pelan. “Aku hanya memperingatkan.” “Peringatan apa?” “Bukan buku itu yang berbahaya,” katanya lirih. “Melainkan apa yang akan berubah setelah Anda membacanya.” Issabelle mengangkat dagu. “Aku mencari kebenaran.” Pria itu menunduk. “Kalau begitu… aku tidak akan menghalangimu.” Ia menambahkan dengan suara hampir berbisik, “Buku itu ditulis oleh seorang Penyihir Agung. Dan ia menghilang setelahnya.” "Penyihir agung ?" "Benar Yang Mulia, Penyihir Agung terdahulu yang menulisnya namun buku itu ikut menghilang setelah kematiannya." "Apa aku boleh meminjamnya Tuan Darel ?" "Silahkan Yang Mulia, lagipula Buku itu sepertinya telah memilih anda." ucapnya Issabelle membawa buku itu pergi setelah pamit kepada Tuan Darel. Langkahnya tenang. Namun sesuatu di dalam dirinya telah terbuka— dan tidak akan bisa ditutup kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD