5. Mimpi

1200 Words
“ Jiwanya kembali karena takdir memilihnya, lalu mengapa dia harus meratapi yang sudah lalu ?” Malam datang tanpa suara. Setelah makan malam yang ia santap di kamarnya, Issabelle duduk sendiri di dekat perapian. Api menari di dinding batu, menghangatkan ruangan—dan dirinya—cukup untuk membuat pikirannya melambat. Di pangkuannya, tergeletak buku hitam tanpa judul. Halaman-halamannya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Ia tidak membaca dengan tergesa. Perlahan, Issabelle membalik lembar demi lembar, hingga menemukan tulisan tangan tipis di atas kertas tua: “Takdir memilihnya. Jiwanya kembali bukan untuk meratap.” "Hidupmu milikmu, pilihan ada ditanganmu. Yang mana yang akan kau pilih memperbaiki dengan kebenaran atau menghancurkannya dengan dendam." "Baik dulu ataupun sekarang kau yang memilih jalan hidupmu." Dadanya berdenyut. Ia menutup buku itu, menekan sampulnya sebentar ke d**a, lalu meletakkannya di meja. Malam pun menelannya. Ia bermimpi. Ia berdiri di sebuah ruangan yang terlalu sunyi. Tidak ada cermin. Tidak ada lilin. Tidak ada pintu. Di hadapannya berdiri dirinya sendiri—Issabelle yang lebih muda. Wajahnya pucat, matanya lelah. Jemarinya menggenggam ujung gaun kebesaran yang terlalu berat. “Jangan mengulanginya, Issabelle,” kata Issabelle muda. “Kau ingat sakitnya, bukan?” “Tidak,” jawab Issabelle yang sekarang. “Aku tidak akan mengulanginya.” “Kita terlalu bodoh,” lanjut Issabelle muda, suaranya bergetar. “Menunggu sampai kehilangan diri sendiri. Aku bersyukur kau kembali—setidaknya kau bisa mengubah takdir yang menyakitkan itu. Jangan bodoh lagi. Cari kebahagiaanmu. Jangan bergantung padanya.” “Ada banyak rahasia yang akan terungkap,” kata Issabelle sekarang pelan. “Aku tak bisa menjelaskannya. Takdir akan memperlihatkan kebenarannya perlahan.” “Apakah dia datang hari ini?” tanya Issabelle muda, penuh harap yang nyaris menyakitkan. Issabelle yang sekarang menatapnya lama. “Tidak.” Wajah Issabelle muda retak. Air mata jatuh tanpa suara. “Kau bilang untuk tidak menunggunya, mengapa kau bertanya bahkan menangisinya ?” tanya Issabelle pada Issabelle muda “Karena aku bodoh, bahkan setelah semua hal menyakitkan yang dia berikan padauk. aku masih mencintainya hahaha (Issabelle muda tertawa miris)” “Dan kau tidak boleh sepertiku Issabelle jangan sampai mati bodoh lagi” sambungnya “Aku tidak ingin menunggu lagi,” bisiknya. “Dan kau tidak harus.” “Nikmati waktumu Issabelle, cintai dirimu sendiri lihat sekitarmu ada yang peduli dan mencintaimu dengan tulus.” Issabelle mengulurkan tangan. Begitu jemari mereka bersentuhan— Mimpi itu runtuh. *** Cahaya pagi menyelinap melalui tirai. Issabelle terbangun dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. Di meja samping tempat tidur, buku hitam itu masih ada. Diam. Seperti tidak pernah bergerak. Ia menatapnya lama, lalu tersenyum tipis karena dia telah memilih jalan untuk hidupnya. “Yang Mulia?” Canna masuk membawa baskom air hangat. “Kami sudah menyiapkan pakaian Anda.” Issabelle duduk dan meregangkan bahunya. “Terima kasih. Tapi hari ini aku ingin memilih sendiri.” Canna terdiam. “Gaun biru muda itu,” lanjut Issabelle, “yang tidak terlalu berat.” Mata Canna berbinar kecil. “Baik, Yang Mulia.” Saat gaun itu dikenakan, Issabelle berdiri di depan jendela. “Aku ingin berjalan ke taman setelah sarapan,” katanya ringan. “Baik Yang Mulia saya akan panggilkan David dan Jason dulu ?” “David dan Jason, siapa mereka Canna?” “Mereka pengawal anda Yang Mulia, Pengawal yang ditugaskan oleh mendiang Duke Arviant untuk menjaga anda Mata Issabelle berkaca-kaca mendengar nama ayahnya disebut, sungguh dia merindukan ayah dan ibunya yang merupakan tempat terhangat untuknya. “ah, begitu aku bahkan tidak tahu siapa nama pengawalku, aku begitu buruk ternyata. Padahal ayahku sendiri yang membawakannya.” Canna menoleh kaget bingung harus menanggapi seperti apa perkataan Issabelle begitu mengejutkannya dan terdengar menyedihkan Issabelle menoleh dengan senyum kecil. “Baiklah Canna panggil mereka untuk mengawal kita.” “Dan minta pelayan untuk menyiapkan cemilan kita akan piknik, mana seru camping tanpa piknik.” Ucap Issabelle sambil terrtawa kecil “Baik Yang Mulia, dengan senang hati saya akan melaksanakannya” Untuk pertama kalinya, Canna tersenyum tanpa rasa takut. *** Ruang makan istana masih setia pada kebiasaan lama. Lysandra duduk di sisi Raja Alistair, bersandar manja di bahunya. “Kau kelihatan tegang,” katanya sambil memainkan jari sang Raja. “Apakah aku membuatmu bosan?” “Tidak,” jawab Alistair, tersenyum kecil. “Hanya banyak urusan.” “Kalau begitu, abaikan saja sebentar,” bisik Lysandra. “Dunia bisa menunggu.” Alistair tertawa pelan. “Dunia selalu menunggu.” Namun saat matanya melirik kursi Ratu yang kosong, senyumnya sedikit tertahan. “Ratu belum datang lagi?” tanyanya ringan. “Beliau sarapan di kamarnya,” jawab pengawal. Lysandra mengusap lengan Alistair. “Mungkin ia hanya ingin beristirahat.” Alistair mengangguk, tapi rasa aneh itu tetap tinggal. Di ruang kerja Raja Alistair, seorang pria tinggi seusianya membungkuk memberi salam hormat. “Yang Mulia,” katanya. “Saya Kapten Arven. Kami mengamati pergerakan Ratu pagi ini.” “Dan?” tanya Alistair. “Beliau pergi ke taman bersama pelayan pribadinya Canna dan dua pengawalnya, sepertinya mereka melakukan piknik karena saya mendengar dari pelayan dapur Canna meminta disiapkan cemilan kedalam wadah camping Yang Mulia.” Alistair mengernyit. “Piknik?” “Ya, Yang Mulia.” Ada jeda. “Biarkan,” kata Alistair akhirnya. “Tetap awasi pergerakan Issabelle, sampaikan padaku jika dia mulai berulah lagi, sepertinya dia mulai mengganti strateginya untuk meluluhkanku.” Namun sesuatu di nadanya terdengar… tidak sepenuhnya yakin. *** Di taman belakang, Issabelle berjalan perlahan di antara bunga-bunga pagi. Canna menahan senyum. “Yang Mulia terlihat… bahagia.” Issabelle tertawa kecil. “Lucu sekali, ya? Aku hampir lupa rasanya.” Ia berhenti di bawah pohon magnolia. “Aku ingin es lemon nanti siang, bukankah menyegarkan es lemon disiang hari bagaimana jika kita membuatnya sendiri, apa kau ingat Canna dulu di kediaman Vernant aku sering membuatnya, ahh aku jadi merindukan rumah” katanya tiba-tiba dengan nada sendu diakhir kalimatnya. Canna sedikit tersentak mengengarnya. Dia mengingatnya bagaiman hangatnya masa itu sebelum Issabelle harus menikah dengan Raja kerajan Eclestia sebelum mendiang Duke dan Duchess Arviant meninggal dunia. “Apa tidak lebih baik para dapur istana yang membuatnya Yang Mulia.” Ucap Canna berhati-hati takut menyinggung sang Ratu “Mengapa ? aku juga bisa amembuatnya, bahkan mungkin lebih enak. Bukankah dulu kau sering mencobanya Canna?" "Apa kau melupakan bahwa dulu kau sering meminta bagian lebih banyak Canna?” Ucapnya dengan nada sidikit merajuk, dia terlihat lucu “eeh maaf Yang Mulia bukan maksud saya meragukan anda dan bagaimana mungkin saya melupakan es lemon terenak didunia, hanya saja anda seorang Ratu.” Canna menjawab dengan hati hati “Lalu mengapa jika aku seorang Ratu Canna, suamiku mengabaikanku bahkan aku berlaku buruk sampai rakyat tidak percaya padaku, jadi kali ini aku ingin menjadi diriku sendiri Canna aku ingin Bahagia.” Ucapnya dengan senyuman tulus yang membuat Canna terpana dengan kecantikan sang Ratu yang belum pernah dilihatnya kali bahkan David dan Jason yang melihat keduanya dari tepi taman tak luput dari rasa terpana. Mereka bingung harus menyikapinya seperti apa Ratu yang mereka lihat kali ini entah mengapa terlihat lebih hidup. “Baik, Yang Mulia saya akan membantu anda membuat es lemon itu.” Jawab Canna setelah pulih dari rasa terpananya Issabelle menatap langit biru. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan Kembali dirinya, tersenyum dan hidup untuk dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD