6. Es Lemon

1185 Words
Musim panas dan kehangatan yang menghampiri atau malah membakar diri Dapur istana telah berada dalam kesibukan khas siang hari. Para juru masak bergerak cepat menyiapkan hidangan kerajaan ketika pintu besar mendadak terbuka— dan sosok yang membuat seluruh ruangan membeku melangkah masuk. Ratu Issabelle. Gaun rumahnya sederhana, rambutnya hanya disanggul longgar, dan di sampingnya Canna membawa keranjang kecil berisi lemon segar. “Selamat siang,” sapa Issabelle lembut. Tak ada yang langsung menjawab. Sendok berhenti di udara. Pisau terhenti di atas talenan. Kepala dapur segera membungkuk. “Y–Yang Mulia… “Y–Yang Mulia… apakah ada yang salah dengan hidangan pagi ini?” “Apa yang membawa Anda kemari, Yang Mulia?” “Mohon ampuni kami jika ada yang kurang dalam sajian Anda…” “Tidak,” jawab Issabelle sambil tersenyum. “Aku hanya ingin meminjam dapurmu untuk membuat minuman sendiri.” “…Sendiri?” “Iya. Aku ingin membuat es lemon.” Beberapa pelayan saling pandang—setengah takut, setengah tidak percaya. Kepala dapur memberanikan diri melangkah maju. “Mohon ampun, Yang Mulia. Biarlah hamba saja yang membuatkannya. Tempat ini kotor untuk Anda…” “Tidak, Paman Hendrik—benar Paman Hendrik, bukan?” Issabelle mencondongkan kepala sedikit. “Maaf jika aku salah.” Hendrik tersentak. Para pelayan pun ikut terdiam—Ratu mengenal nama kepala dapur. “Tapi tolong pinjamkan aku dapurmu. Aku ingin membuat minumanku sendiri.” “T–Tapi Yang Mulia, Anda seorang Ratu. Anda tidak seharusnya berada di tempat seperti ini. Hamba juga takut Yang Mulia Raja akan marah…” “Memangnya kenapa jika aku Ratu, Paman?” Issabelle tersenyum lembut. “Bukankah kalian juga meragukanku sebagai seorang ratu? Dan tentang Raja—tenang saja. Beliau tidak akan mengurusi hal seperti ini.” Seisi dapur tertegun. “Jadi… bisakah aku menggunakan dapurmu? Aku janji tidak akan membuat kacau wilayah kekuasaanmu ini.” “Ba–Baik, Yang Mulia… kami akan berjaga jika Anda membutuhkan bantuan.” “Mhm. Kalian lanjutkan saja makan siang. Aku akan dibantu Canna.” Ia menoleh. “Bolehkah aku meminjam talenan dan pisau?” “T–Tentu, Yang Mulia.” “Baik. Ayo, Canna. Kita mulai mengeksekusi lemon-lemon itu. Aku sudah tidak sabar.” “Apakah ada batang serai di sini?” “Ada, Yang Mulia—sebentar akan hamba ambilkan.” “Sebentar, Paman. Anda tidak harus menghambakan diri padaku. Anda bukan b***k. Dan lagi, usia Anda jauh di atas usiaku.” “Tapi Yang Mulia—” “Tidak ada tapi-tapian,” ucap Issabelle dengan senyum tulus—senyum yang membuat seluruh dapur terpana. Belum pernah mereka melihat ratu tersenyum seperti itu. “Baiklah, Canna. Bersihkan serai. Aku akan mengiris lemon.” Mereka pun mulai bekerja. Serai direbus bersama daun teh kering. Uap harum memenuhi ruangan. Saat air mulai mendidih, Issabelle menambahkan gula secukupnya dan irisan lemon. Canna membantu mengaduk, sementara Issabelle menyicipi—lengan bajunya tergulung tanpa canggung. “Hm… Canna, apakah kristal es sudah siap? Kita harus mendinginkan rebusan ini.” “Sudah, Yang Mulia. Aromanya segar sekali. Saya tidak sabar mencobanya.” Beberapa juru masak mengintip. “Aromanya segar…” bisik seorang pelayan. Issabelle menoleh. “Kalian mau mencicipinya? Aku sengaja membuat lebih banyak.” “B–Bolehkah, Yang Mulia?” “Tentu saja, Canna ambil secukupnya untuk kita biarkan mereka mencobanya juga.” “Baik Yang Mulia.” Canna mulai memindahkan es lemon itu kedalam teko untuk mereka dan paman Hendrik juga mulai memindah ke gelas gelas kecil. “…Ini enak sekali,” ujar seorang juru masak. “Tidak terlalu manis. Segar.” Pelayan lain menyusul. “Segar sekali.” “Ini lebih enak dari minuman jamuan musim panas.” Dan untuk pertama kalinya… dapur istana terdengar riuh yang hangat. *** Di taman belakang, angin musim panas menggoyangkan daun magnolia dengan lembut. Issabelle duduk di bangku batu putih di bawah pohon itu, teko kaca berisi es lemon berkilau di sampingnya. Butiran es beradu pelan ketika Canna menuangkan ke dalam gelas. David dan Jason berdiri tak jauh, tetapi kali ini masing-masing memegang gelas. “Kalian boleh minum,” kata Issabelle ringan, seolah itu hal paling biasa di dunia. Jason mencicipi lebih dulu. Ia menelan perlahan. “…Manisnya pas.” David mengangguk. “Segar, Yang Mulia.” Canna tertawa kecil, matanya berbinar. “Yang Mulia benar-benar hebat. Akhirnya saya bisa merasakan lagi kenikmatan dunia ini. Serai, teh, dan lemonnya… semuanya terasa hidup.” Issabelle memandang minumannya sendiri, uap dinginnya menari-nari di udara. “Aku akan sering membuatnya selama aku masih di sini, Canna,” katanya lembut. “Dan mungkin… aku akan menyerahkan resepnya kepada Paman Hendrik, supaya kalian tetap bisa menikmatinya.” Ia mengangkat gelasnya perlahan. “Selamat datang kembali, Issabelle.” Untuk pertama kalinya sejak kembali, ia merasa— ia tidak sedang bertahan hidup. Ia sedang hidup. *** Namun istana tidak pernah menyimpan kabar terlalu lama. Di ruang kerja Raja, Kapten Arven berdiri tegap. “Yang Mulia, siang ini Ratu masuk ke dapur istana.” Alistair mengangkat kepala dari berkasnya. “Ke dapur?” “Beliau membuat minuman sendiri. Para juru masak dan pelayan mencicipinya.” “…Dan?” “Banyak yang mengatakan itu sangat enak, Yang Mulia. Beberapa menyebutnya lebih segar dari minuman jamuan musim panas.” Arven berhenti sebentar, lalu menambahkan, agak ragu, “Dan… saya juga sempat mencicipinya. Rasanya memang segar sekali.” Alistair terdiam. “Dia… melakukan itu?” “Iya.” Alistair menyandarkan punggung ke kursi. “Apa rasanya seenak itu sampai kau melaporkannya dengan nada seperti itu?” Arven tersenyum kaku. “Maaf, Yang Mulia. Saya hanya jujur.” “Hm.” Alistair mendengus kecil. “Lalu kenapa bagianku belum datang?” Nada suaranya terdengar santai—tapi ada sesuatu yang menegang di baliknya. “Dia akan mengantarkannya sendiri, atau bagaimana?” “Sepertinya Yang Mulia Ratu langsung menuju taman belakang bersama Canna dan para pengawalnya.” Alistair mengalihkan pandangannya. Ada rasa tidak nyaman yang tidak ia pahami—bukan marah, bukan benci. Lebih seperti… kehilangan kendali. “Akan saya tanyakan ke dapur, Yang Mulia.” Di dapur, Arven menemukan Hendrik sedang merapikan meja. “Paman Hendrik, apakah es lemon milik Raja sudah diantarkan?” Hendrik mengerutkan kening. “Yang Mulia Ratu tidak menitipkan apa pun, Kapten.” “Tidak… ada?” “Tidak. Setelah membuat dan membawa bagiannya, beliau hanya berkata kami boleh menghabiskannya.” Arven terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kaku. Kembali di ruang kerja Raja— “Mana es lemon yang kalian ributkan itu?” tanya Alistair. Arven menunduk. “Maaf, Yang Mulia… sepertinya Yang Mulia Ratu tidak menyisihkan untuk Anda.” Alistair mengeluarkan dengusan pendek. “Apa dia mengubah strateginya sekarang?” “Untuk membuatku penasaran?” Ia berdiri, berjalan ke jendela. “Cih. Lagipula aku tidak tertarik.” Namun dadanya terasa… kosong. *** Di paviliun bunga— “Ratu?” ulang Lysandra lirih. “Di dapur?” “Iya, Selir. Katanya beliau membuat minuman dan membagikannya kepada para pelayan dan pengawal.” Lysandra tersenyum tipis. Namun jari-jarinya mencengkeram cangkir tehnya lebih erat. “…Menarik.” Dan untuk pertama kalinya— Ada tawa yang bukan miliknya. Ada kehangatan yang tidak berasal darinya. Dan itu… mulai mengusiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD