7. Issabelle Hilang

1632 Words
"Dia Memilih Pergi Dengan Senyum Bukankah Itu Menyakitkan ?" Pagi berikutnya di istana terasa… berbeda. Sisa riuh kehangatan kemarin seperti tertinggal. Namun ada yang janggal. Seperti ada yang hilang. Bukan karena lonceng jam istana berbunyi lebih nyaring memekakan telinga, melainkan karena— Ratu Issabelle tidak muncul di jam kebiasaannya. Biasanya, di waktu yang sama, tirai kamar Ratu sudah terbuka. Canna sudah menyiapkan air hangat. Pelayan sudah berdiri di lorong. Namun hari ini— lorong itu sunyi. Canna berdiri di depan pintu kamar Ratu dengan nampan sarapan di tangannya. “…Yang Mulia?” ia mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. Ia mendorong pintu sedikit—dan mendapati tempat tidur Issabelle kosong. Tirai masih tertutup. Buku tipis bersampul gelap tergeletak di meja kecil. Dan jendela terbuka—angin pagi menggerakkan tirai seperti napas. Canna terdiam, sedikit panik. Ratu pergi tanpa memberi tahu. Dan ini… baru pertama kalinya. *** Di taman samping barat, di balik lengkungan batu putih— Issabelle duduk bersila di atas rumput. Ia tidak mengenakan gaun kerajaan. Hanya gaun rumah tipis berwarna krem yang dilapisi mantel berbahan wol untuk menghalau dinginnya pagi. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai, dan di tangannya ada sepiring potongan apel dan stroberi—buah kesukaannya sejak kecil. Ahh, betapa dia merindukan hidup yang seperti ini. Harusnya sejak dulu dia lebih menikmati hidupnya daripada harus repot-repot berbakti menjadi istri yang naif. Ia menatap kolam kecil di hadapannya. Bayangannya sendiri bergetar di air. Dan untuk pertama kalinya selama ia hidup di kerajaan ini— ia tidak menanyakan apakah ia cukup, tidak menanyakan apakah ia layak, tidak menanyakan apakah ia masih dipilih. Ia hanya bertanya dengan sedikit geli: “Apa yang akan aku lakukan hari ini?” “Apa aku harus mengajak Canna mengunjungi pasar?” “Sepertinya itu ide yang menarik, aku ingin melihat hal lain di luar istana ini.” Ia memejamkan mata. Ingatannya melintas— Hari ketika ia pertama kali tiba di istana ini. Hari ketika ia berdiri di aula pernikahan, menggenggam tangan Alistair—sosok yang ia harapkan akan mencintai dan melindunginya sebagaimana Ayahnya mencintai dan melindungi Ibunya, dan betapa indahnya jika membangun keluarga hangat dengan orang yang dicintainya. Ia tersenyum kecil. “Yahh… ternyata aku tidak seberuntung Ibu.” “Eugh… itu sangat melelahkan—berharap dan menunggu. Aku tidak akan melakukannya lagi. Bukankah sebaiknya aku menikmati hidup di kerajaan ini sambil memikirkan cara untuk berpisah dengan Raja sialan itu.” Bunyi cuitan burung di sekitarnya seakan menjadi teman dialognya pagi itu— lebih tepatnya, teman gerutuannya pagi itu. Benaknya terkikik geli mendengar gerutuannya sendiri. *** Di ruang kerja Raja— Kapten Arven kembali berdiri. “Yang Mulia,” katanya hati-hati, “Ratu belum terlihat sejak pagi.” Alistair mengangkat alis. “Dia sakit?” “Tidak, Yang Mulia.” “Lalu… ke mana dia?” “Saya tidak tahu, Yang Mulia… hanya saja Canna dan pengawal Ratu berkeliling mencarinya.” “Beliau tidak meninggalkan pesan apa pun.” Ravent tergugu sejenak karena aura yang dikeluarkan Raja terasa menekan. “Apakah laporan festival musim panas dari Ratu sudah masuk?” tanya Alistair datar. Ravent menggeleng. “Belum, Yang Mulia.” “Bukankah dia berjanji akan menyerahkannya segera?” “Iya, Yang Mulia. Hamba sudah menanyakan ke sekretariat—belum ada satu lembar pun laporan atas nama Ratu.” Alistair mengetukkan jarinya ke meja. “Lalu apa yang kau lakukan di sini, Ravent?” “…Pergi ke Istana Ratu. Tagih laporan itu.” “Sekarang?” “Ya.” “Tapi Ratu sedang tidak ada di istananya, Yang Mulia.” “Maksudmu aku tidak mendengar laporanmu sebelumnya, Ravent?” ketus Alistair sambil menatap Ravent dingin. Ravent menunduk. “Baik, Yang Mulia. Saya akan segera menyampaikannya pada Ratu.” Saat Ravent berbalik, Alistair menambahkan dengan suara lebih rendah— “Dan jika kau sudah menemuinya, minta dia untuk melaporkannya langsung padaku.” Setelah Ravent keluar dari ruangannya, Alistair kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun ia seperti gagal untuk fokus. Laporan mengenai Isabelle tidak berada di peraduannya seakan mengusiknya—seolah ia takut kehilangan lagi. Kesal karena tidak bisa kembali fokus setelah mendengar laporan tentang Issabelle yang menghilang di pagi hari, Alistair beranjak dari kursi kerjanya. Ia melangkah ke jendela besar di ruangannya. Namun alih-alih mendapatkan ketenangan, sosok yang membuatnya terusik ternyata sedang bercengkrama dengan pelayannya. Sejenak ia tertegun melihat tampilan sederhana tanpa riasan, rambut ikalnya yang tergerai tersapu angin—kombinasi yang indah dengan matahari cerah pagi itu. Dan senyum itu… senyuman yang entah mengapa seketika membuat dadanya sesak, seperti ada yang meremas jantungnya. Mengapa senyum itu terasa familiar dan seakan ia merindukannya? Tanpa sadar, Alistair meraba pipinya yang terasa basah. “Ada apa ini?” “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” *** Di paviliun bunga— Lysandra sedang memilih aksesori rambut ketika seorang dayang berbisik, “Selir, Ratu belum muncul hari ini.” “…Belum?” “Iya. Biasanya beliau sudah lewat lorong utara.” “Ke mana dia?” “Hamba tidak tahu. Hanya kabar tentang pelayannya—Canna—yang mencarinya sampai berkeliling istana.” Lysandra terdiam. Ada sesuatu yang… bergerak pelan di dadanya. Seperti kabut yang tidak bisa ia genggam. “Apa yang sedang direncanakan Isabelle sebenarnya?” “Mengapa dia terkesan keluar jalur?” Benaknya mulai terusik dengan tingkah Isabelle yang terasa berbeda. *** Di taman barat— Canna akhirnya menemukan Issabelle. “Yang Mulia… saya mencari Anda sejak pagi,” katanya lirih. “Saya takut terjadi sesuatu kepada Anda, Yang Mulia.” Issabelle menoleh. “Aku bangun lebih awal hari ini, Canna, dan mendadak aku ingin menghirup udara pagi yang basah.” “Lain kali tolong beri tahu saya atau tinggalkan pesan. Saya sangat khawatir kepada Anda.” Issabelle tersentuh, dan dengan senyum lembutnya ia berkata, “Maafkan aku membuatmu khawatir, Canna. Lain kali aku akan mengulanginya.” Canna memperhatikan wajah Ratu. Tidak ada mata sembab. Tidak ada kelelahan. Yang ada hanya… ketenangan yang tenang tapi tegas. “Apa Anda baik-baik saja?” Issabelle tersenyum kecil. “Tentu. Aku sangat baik setelah menghirup udara pagi. Lihatlah, Canna—matahari pagi ini sangat cerah, cuaca yang pas untuk berjalan-jalan.” “Canna, ayo temani aku berjalan-jalan di pasar setelah sarapan. Sepertinya aku juga ingin melihat-lihat untuk festival musim panas. Kali ini aku ingin turun tangan sendiri.” “Apa tidak berbahaya, Yang Mulia?” “Tenang saja, Canna. Kita akan menyamar. Lagi pula David dan Jason akan menemani kita.” Ia mengangkat gelasnya. “Ahh, aku tidak sabar hidup bebas.” Ravent muncul di ujung taman sambil terengah dan memberi hormat. “Salam, Yang Mulia Ratu Issabelle.” “Selamat pagi. Anda di sini ternyata.” “Kapten Ravent? Kau mencariku juga?” “Apakah ada yang mendesak sampai kau berlari seperti itu?” “Yang Mulia Ratu, hamba diperintahkan Raja untuk menagih laporan festival musim panas.” Issabelle mengangguk pelan. “Ahh, itu ternyata.” “Laporannya akan selesai sore ini.” “Nanti akan aku serahkan kepada sekretaris Raja.” “Maaf, Yang Mulia. Tetapi Yang Mulia Raja ingin Anda menyampaikan langsung laporan itu.” “Tumben sekali. Huft, baiklah—akan aku sampaikan langsung padanya.” “Oh iya, Kapten Ravent. Untuk melengkapi laporan rencana festival musim panas itu, setelah sarapan dan bersiap, aku akan turun ke pasar untuk melihat apa saja yang dibutuhkan rakyat sebagai hiburan.” “Apa perlu Anda turun langsung, Yang Mulia?” “Ya. Aku harus turun langsung. Aku ingin melihat langsung rakyatku.” Nada suaranya mantap. Ravent mengangkat kepala—sedikit terkejut. “Baik, Yang Mulia.” Issabelle dan Canna berjalan melewati lorong Istana Utama menuju Istana Ratu. Mereka berjalan sambil berbincang ringan, membahas apa saja yang akan ia beli di pasar nanti. Ketika akan berbelok, mereka berpapasan dengan Lysandra dan pelayannya—yang sepertinya akan menuju ruang makan Istana Utama, tentu saja untuk menemui Raja. “Selamat pagi, Yang Mulia Ratu. Salam hormat saya.” Suara Lysandra lembut— terlalu lembut. Issabelle mengangkat wajahnya. “Selir Lysandra.” “Apa Anda akan menuju ruang makan?” “Ahh, tapi sepertinya Anda belum bersiap?” ucap Lysandra dengan nada polos dan manisnya. “Aku tidak sedang menuju ruang makan, Selir Lysandra.” “Seperti yang kau lihat, aku baru saja dari taman dan belum bersiap.” “Ahh, maaf jika saya mengganggu waktu Anda, Yang Mulia.” “Ya, tidak masalah,” ucap Issabelle tanpa membantah, karena memang dia merasa terganggu. “Aku dengar Yang Mulia membuat kehebohan di dapur kemarin.” Issabelle tersenyum tipis. “Kehebohan, ya? Padahal aku hanya membuat minuman,” jawab Issabelle setengah bergumam. “Minuman yang dibicarakan semua orang.” “Ahh, lain kali aku akan memberikannya padamu, Selir Lysandra, jika aku membuatnya. Jadi kau tidak hanya mendengar saja.” Ia tersenyum lebih lebar. “Anda tampak… berbeda, Yang Mulia.” Issabelle menatapnya. “Aku merasa berbeda.” Keheningan sebentar. Lysandra mencondongkan tubuhnya sedikit. “Apakah Yang Mulia… sedang mencoba menarik perhatian Raja?” Udara berubah. Canna menegang, takut akan apa yang diperbuat Issabelle setelah ini, karena dia tahu Issabelle akan marah jika sudah mulai dikonfrontasi oleh Lysandra. Issabelle menatap Lysandra datar, seperti tak berminat—tatapan yang tidak pernah diberikannya. Karena jika ini terjadi pada kehidupannya yang pertama, Issabelle sudah pasti akan membentak Lysandra. “Tidak.” Nada suaranya tenang. “Untuk apa? Kan sudah ada kau, Selir Lysandra, yang bisa menarik dan memberi perhatian pada Raja. Jadi bukankah aku tinggal menikmati waktuku tanpa harus kerepotan dengan hal lainnya.” Lysandra tersentak, tidak siap dengan jawaban Issabelle. Namun dia tetap tersenyum— tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Kadang… perubahan seperti ini bisa disalahartikan, Yang Mulia.” “Aku tidak berubah untuk menarik perhatian siapa pun, Selir Lysandra. Aku hanya malas mengurusi hal-hal yang terlalu membuang-buang waktu.” “Silakan lanjutkan perjalanan Anda, Selir Lysandra, karena saya harus bersiap. Masih ada hal-hal penting yang harus saya kerjakan.” Lysandra terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD