“Kadang, untuk menemukan kembali siapa dirimu, kau harus berani melangkah keluar dari istana yang mengurungmu.”
Gerbang selatan Istana Eclestia dibuka lebih awal dari biasanya.
Kereta kuda sederhana yang membawa Issabelle beserta Canna dan dua pengawalnya—David dan Jason—dengan Jason sebagai kusir dan David menemaninya di depan menyempurnakan penyamaran mereka.
Udara pasar membawa aroma tanah, rempah, dan roti panggang yang masih mengepul. Suara pedagang memanggil pembeli bercampur tawa anak-anak yang berlarian, membentuk dunia yang selama ini hanya Issabelle lihat dari balik jendela istana. Dunia yang sudah sangat lama ia lupakan.
Kini ia berdiri di tengahnya. Tanpa mahkota.
Tanpa lambang kerajaan. Hanya mantel abu-abu pucat dan kerudung tipis yang menutupi sebagian rambut ikalnya.
Canna berjalan di sisinya dengan mata berbinar.
“Yang Mul— eh… Belle,” bisiknya geli, menahan tawa.
“Jangan sampai ketahuan, Canna. Saat ini aku menjadi adikmu,” dengus Issabelle. Ia tidak ingin penyamaran yang dilakukannya gagal.
“Baiklah, maafkan aku. Aku hanya belum terbiasa.”
“Kita benar-benar seperti rakyat biasa.”
Issabelle tersenyum kecil.
“Ya, kita memang rakyat biasa hari ini. Aku ingin mendengar mereka dari dekat. Setidaknya selama aku masih bertahta, aku ingin memeluk mereka.”
Ia berhenti di sebuah lapak buah-buahan yang berdampingan dengan lapak penjual bunga. Dia melihat buah kesukaannya di sana.
“Buah-buah ini terlihat segar sekali, Paman. Apa kau memiliki kebun sendiri?” tanyanya pada pedagang tua di sana.
“Iya, Nona,” jawab pria itu ramah. “Dari bukit timur.”
“Wah, aku jadi ingin melihatnya.”
“Aku mau satu karung apel dan juga satu karung strawberry-nya, Paman. Berapa semuanya?”
“Semuanya dua puluh lima keping perak, Nona. Kau membeli banyak sekali, Nona. Apa kau datang dari jauh?”
“Iya, Paman. Kami datang dari perbatasan. Rumah kami hampir di tengah hutan, jadi kami berbelanja untuk persediaan. Nah… ini untukmu, Paman. Ambil saja.” Issabelle memberikan lima keping emas untuk membayar buah-buah yang dibelinya.
“Ini terlalu banyak, Nona,” kata pedagang itu kaget karena dibayar terlalu banyak.
“Tidak apa, Paman. Ambil saja. Anggap itu berkat untuk keluargamu.”
“Terima kasih banyak, Nona. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.” Issabelle tersenyum lebar karena terharu mendengar doa dari pedagang tersebut.
Bergeser ke lapak sebelahnya, Issabelle tak sengaja melihat bunga chamomile di antara bunga-bunga yang ada di lapak tersebut. Issabelle memegang setangkai chamomile putih kecil.
“Chamomile ini apa kau menanamnya, Bibi?”
“Ya, Nona. Kami memiliki kebun kecil di belakang rumah. Kebetulan rumah kami ada di pinggiran kota, jadi kami mencoba berkebun untuk menambah uang belanja rumah.”
“Ini bunga langka, Bibi. Bagaimana kau mendapat bibitnya?”
“Apakah iya, Nona. Bunga itu awalnya tumbuh liar di hutan. Cucuku membawanya karena bentuknya yang cantik dan meminta kami untuk menanamnya. Ternyata bunga itu tumbuh subur. Karena banyak dan cantik untuk pelengkap karangan bunga, jadi kami putuskan untuk menjualnya.”
“Ini bukan sekadar bunga, Bibi. Chamomile ini termasuk tanaman herbal.” Issabelle sangat antusias, seakan mendapat harta karun.
“Memangnya itu tanaman apa, Belle? Mengapa kau begitu senang melihatnya seakan melihat harta karun?” tanya Canna penasaran dengan nada sedikit kaku karena belum terbiasa berbicara tanpa tata krama kepada Issabelle.
“Apa kau lupa, Canna? Dulu Bibi Alice pernah menunjukkan tanaman ini. Ini tanaman yang bisa menjadi penenang di saat stres dan bisa membantu jika kita mengalami kesulitan tidur,” terang Issabelle.
“Ah… maaf, aku tidak mengingatnya.”
“Dasar kau ini.”
“Boleh aku ambil semuanya, Bibi?”
“Apa tidak kebanyakan, Belle?” tanya Canna. Dia masih bingung untuk apa Issabelle membeli bunga sebanyak itu.
“Ck, diam saja. Kau akan tahu saat sudah sampai di rumah.”
Pedagang itu tercengang mendengar dagangannya diborong, kemudian mengangguk, lalu menatap wajah Issabelle lebih lama.
“Nona… entah kenapa wajahmu terasa familiar.”
Issabelle menunduk ringan.
“Mungkin wajahku pasaran, Bibi.”
Canna menahan tawa, menutup mulutnya.
“Tidak. Aku belum pernah melihat wajah secantik ini. Kau seperti bangsawan—ah, tidak—kau seperti jelmaan dewi, begitu murni.”
“Ya ampun, Bibi. Kau sangat berlebihan. Aku memang bangsawan, tapi dulu sebelum orang tuaku meninggal. Sekarang aku hanya rakyat biasa. Jangan terlalu memujiku hanya karena aku memborong daganganmu, Bibi,” ucap Issabelle. Untung saja otaknya lancar mengarang cerita walaupun tidak semuanya salah.
“Ayo bayar, Canna. Aku tidak punya uang. Sebagai kakak, kau harus membayar belanjaan ini,” ucap Issabelle asal untuk mengalihkan perhatian pedagang tersebut.
Mereka melangkah lebih dalam ke pasar. Issabelle membeli roti, kain katun, mainan kayu kecil, dan permen madu. Ia berhenti, berbincang, tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya… selama di kerajaan ini, dia benar-benar merasa lepas.
Dan itu terasa nyata.
***
Di ruang kerja Raja—
Ravent berdiri dengan sikap tegang.
“Yang Mulia.”
“Ratu menyampaikan bahwa Beliau akan keluar istana. Beliau akan ke pasar bersama Canna dan dua pengawalnya. Dan sepertinya mereka sudah berangkat, Yang Mulia.”
Alistair mendongak tajam.
“Pasar?”
“Benar, Yang Mulia. Yang Mulia Ratu mengatakan mereka akan pergi setelah sarapan.”
“Untuk apa?”
“Beliau ingin melihat langsung persiapan rakyat untuk festival musim panas.”
Ruangan itu terasa lebih sunyi.
“…Apakah kau tahu itu bukan wilayah yang biasa ia kunjungi dengan bebas, Ravent?”
“Tahu, Yang Mulia.”
Alistair menutup berkas di tangannya perlahan.
“Dan kau membiarkannya pergi ke pasar hanya dengan satu orang pelayan dan dua pengawalnya?” bentak Alistair, yang mendadak merasakan khawatir dan marah secara bersamaan, padahal sebelumnya dia merasa tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan Issabelle.
“Dan laporan?” sambung Alistair mencoba mengalihkan.
“Belum diserahkan. Tapi Beliau berkata akan mengantarkannya langsung sepulang dari pasar.”
Ada jeda. Ravent menunduk, tidak siap dengan reaksi Alistair tentang Issabelle.
***
Sementara itu—
Di pasar, seorang anak kecil tersandung di dekat Issabelle. Tanpa berpikir, ia berlutut dan membantu membersihkan debu di lutut anak itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut.
Anak itu mengangguk, lalu menatapnya dengan mata berbinar.
“Bibi wangi.”
Issabelle tertawa kecil.
“Iya? Mungkin karena bunganya.”
Ia menyerahkan satu ikat chamomile itu pada anak itu.
“Ini untukmu.”
Anak itu menjerit senang.
“Terima kasih!”
“Bibi cantik sekali seperti Ratu.” Issabelle tersentak—apa anak ini mengenalinya?
“Hahaha, kau bisa saja, gadis kecil. Kau bahkan lebih cantik. Ayo aku antar, di mana orang tuamu?”
“Ibuku sedang sakit. Aku ke sini karena ingin mencari makanan untuk ibuku.”
Deg. Issabelle tersentak mendengar ucapan lugu gadis kecil itu.
“Di mana rumahmu? Ayo kami antar.”
“Rumahku tidak jauh, tapi aku belum mendapatkan makanan untuk ibuku.”
“Tidak perlu dipikirkan. Kami akan bawakan makanan untukmu dan ibumu.”
“Benarkah? Wah, kau baik sekali, Kakak Cantik. Kau benar-benar seperti seorang Ratu,” ucap gadis kecil itu.
Canna terdiam, menelan haru.
“Yang Mul—… Belle,” bisiknya, “Anda benar-benar kembali.”
Issabelle menghela napas ringan.
“Sstt, Canna. Jangan mulai. Ayo kita antar anak kecil ini. Bagaimana bisa di wilayah kerajaan yang makmur ini masih ada rakyat yang kelaparan.”
***
Saat matahari naik—
Suara hentakan kaki kuda terdengar mendekat ke arah mereka.
Issabelle mendongak.
Dan di antara suara rakyat—ia melihat satu sosok yang tidak pernah ia duga akan ditemuinya di sini.
Alistair turun dari kudanya. Langkahnya berhenti. Pandangan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya—mereka bertatapan tanpa embel-embel tahta yang menaungi mereka.
Alistair kembali teringat dengan gambaran pagi tadi: rambut ikal hazel yang tergerai, wajah tanpa riasan, pakaian sederhana tanpa aksesori, yang membedakan hanya pipi yang merona alami karena matahari.
Ia mendekat perlahan.
“Kenapa kau di sini tanpa melapor padaku, Issabelle?” tanyanya.
Issabelle tidak menunduk.
“Aku sudah mengatakan kepada Ravent.”
“Tanpa izinku?”
“Bisakah kita bahas ini nanti,” jawab Issabelle berbisik.
Alistair menghela napas keras.
“Bibi, siapa Paman ini? Dia sangat tampan. Kalian terlihat sangat cocok seperti Raja dan Ratu.” Issabelle merasa tertolong dengan suara gadis kecil yang sedang terpana dan malu-malu itu.
Sedangkan Canna dan juga dua pengawal Issabelle berdiri kaku karena tidak menyangka akan kehadiran Alistair di sana.
“Hahaha, kau centil sekali. Dia tetanggaku. Paman ini sudah menikah, mana mungkin kami cocok.” Alistair menatap tajam setelah mendengar ucapan Issabelle; entah mengapa dia tidak terima Issabelle tidak mengakuinya.
“Ayo, gadis kecil, kita harus segera ke rumahmu. Bukankah ibumu menunggu di rumah?”
“Oh iya, siapa namamu? Kita belum berkenalan,” tanya Issabelle berusaha tidak memedulikan tatapan tajam yang diberikan Alistair padanya.
“Namaku Celine, Bibi. Kalau Bibi siapa namanya?”
“Namaku Belle. Bibi yang bersamaku itu kakakku namanya Canna. Nah, dua Paman yang membawa barang itu temanku namanya David dan Jason. Dan Paman yang kau bilang tampan ini namanya Dorian,” jelas Issabelle yang menyebutkan nama-nama mereka.
Tanpa mereka sadari, ada satu orang yang merasa telinganya panas mendengar Issabelle menyebutnya tampan.