“Kau hanya tidak perna berbalik melihatnya, jik dia pergi itu karena dia sudah terlau lelah” Langkah kaki mereka melambat saat gang sempit mulai menelan cahaya matahari. Bangunan-bangunan kayu berdiri terlalu rapat, seolah saling menopang agar tidak rubuh. Beberapa dindingnya miring, disangga papan-papan tua yang sudah lapuk dan berjamur. Atap-atap bocor ditambal seadanya dengan kain terpal kusam dan potongan seng berkarat. Di sela-sela lorong, genangan air keruh memantulkan cahaya matahari dengan warna kehijauan yang sakit di mata. Udara berbau tanah basah, kayu busuk, dan sisa masakan yang sudah dingin. Bau itu menggantung rendah, berat, menempel di kulit dan napas. Issabelle menahan langkahnya. Dadanya terasa mengencang. Inikah bagian dari kerajaannya yang tidak pernah ia lihat?

