“Tangismu tidak sebanding dengan kepala yang dia korbankan.” Aroma manis selai apel dan strawberry mengisi dapur utama Istana Eclestia sejak pagi. Beberapa pelayan berbisik-bisik saat melihat meja panjang dipenuhi botol kaca kecil yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Di dalamnya, cairan merah dan keemasan tampak mengental sempurna, tertutup rapat dengan kain tipis dan pita putih. Issabelle berdiri di ujung meja dengan lengan gaunnya digulung rapi, rambut ikalnya dikuncir rendah. Tidak ada mahkota. Tidak ada lambang kerajaan. Hanya senyum ringan dan tatapan yang hangat. “Yang Mulia, apakah ini semua akan dibagikan?” tanya seorang pelayan muda ragu. Issabelle mengangguk. “Iya. Bagikan untuk kalian. Pastikan semuanya dapat. Sisakan beberapa di dapur untuk persediaan.” Ia sendiri iku

