bc

Bara pemuda tangguh

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
kickass heroine
drama
tragedy
highschool
small town
like
intro-logo
Blurb

Sejak kecil, Bara percaya bahwa rumah bukan sekadar bangunan.Rumah adalah suara ibunya memanggil dari dapur.Rumah adalah aroma nasi hangat menjelang magrib.Rumah adalah tangan yang selalu menyentuh kepalanya ketika ia hendak berangkat mengaji.Dan yang paling penting, rumah adalah tempat seorang ibu menunggu anaknya pulang.Namun sore itu, ketika Bara kembali dari pondok pesantren, ia tidak tahu bahwa perjalanan pulangnya akan mengubah seluruh hidupnya.Ia pulang membawa rindu.Tetapi yang menyambutnya adalah kehilangan. ok

chap-preview
Free preview
bab 1 anak yang meninggalkan rumah
Ada kepulangan yang dinanti dengan air mata bahagia. Ada kepulangan yang disambut pelukan seorang ibu. Namun ada pula kepulangan yang justru menjadi awal dari luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Bara tidak pernah menyangka bahwa kepulangannya dari pondok pesantren akan menjadi hari yang paling ingin ia lupakan sekaligus paling ingin ia ulangi. Di dalam tasnya ada sebuah hadiah kecil. Sebuah kerudung untuk ibunya. Sepanjang perjalanan, Bara tersenyum membayangkan wajah perempuan yang paling ia rindukan. Ia tidak tahu... Ketika kendaraan berhenti di depan rumahnya, seseorang yang selama ini menjadi alasan ia ingin pulang telah pergi untuk selamanya. Dan sejak hari itu, hidup Bara tidak pernah sama lagi. Dua tahun sebelumnya. "Bara, jangan lupa salat." Suara ibunya terdengar dari depan rumah. Bara yang sedang memasukkan pakaian ke dalam tas hanya menjawab dari kamar. "Iya, Bu." "Habis itu sarapan." "Iya, Bu." "Jangan jawab iya terus. Dikerjakan." Bara tersenyum. Itulah ibunya. Perempuan yang selalu mengingatkan hal-hal kecil. Pagi itu Bara akan berangkat ke pondok pesantren. Ayahnya berdiri di halaman sambil mengikat tali pada koper. Ayah Bara adalah lelaki sederhana. Tidak banyak bicara. Wajahnya keras karena kehidupan, tetapi hatinya lembut kepada keluarganya. "Bara." Bara keluar. Ayahnya menatapnya lama. "Di pondok nanti, jangan cuma pintar mengaji." Bara diam mendengarkan. "Belajar jadi manusia." Bara mengangguk. "Iya, Yah." Ayahnya menepuk pundaknya. "Dan kalau ada masalah, jangan malu pulang." Bara tersenyum. "Ibu pasti lebih sering nyuruh Bara pulang." Dari dapur terdengar suara ibunya. "Memangnya Ibu tidak boleh kangen?" Bara tertawa. Hari itu ia berangkat. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kelak ia akan merindukan percakapan sederhana itu sepanjang hidupnya. Hari-hari pertama di pesantren terasa berat. Bara sering menangis diam-diam. Ia rindu rumah. Rindu masakan ibu. Rindu ayah yang selalu mengajaknya ke masjid. Suatu malam, seorang anak sebaya duduk di sampingnya. Namanya Fikri. "Kamu nangis?" Bara buru-buru mengusap matanya. "Enggak." Fikri tersenyum. "Kalau enggak, kenapa matamu basah?" Bara terdiam. Kemudian mereka tertawa bersama. Sejak malam itu, Fikri menjadi sahabat terdekat Bara. Mereka belajar bersama. Mengaji bersama. Bangun untuk tahajud bersama. Bahkan ketika dihukum karena terlambat masuk kelas, mereka menjalaninya bersama. Fikri tahu Bara sangat menyayangi ibunya. "Kalau nanti kita sudah besar, kamu mau jadi apa?" Bara menjawab tanpa berpikir. "Jadi orang yang bisa bikin Ibu bangga." Fikri tersenyum. "Kalau aku?" "Kamu?" "Ya." Bara berpikir sebentar. "Jadi orang yang jangan bikin ibumu menangis." Mereka tertawa. Namun kalimat sederhana itu kelak menjadi sesuatu yang selalu Fikri ingat. Bulan demi bulan berlalu. Bara mulai terbiasa hidup di pesantren. Suatu pagi, ia menerima surat dari rumah. Tulisan tangan ibunya. Assalamu'alaikum, Bara. Ibu baik-baik saja. Jangan khawatir. Kamu belajar yang rajin. Jangan lupa makan. Ayahmu juga baik. Dia cuma sering diam kalau sedang rindu kamu. Kalau libur nanti, pulanglah. Ibu mau masak makanan kesukaanmu. Ibu bangga sama Bara. Bara membaca surat itu berulang kali. Fikri melihatnya. "Surat dari ibu?" Bara mengangguk. "Kamu beruntung." "Kenapa?" "Masih punya orang yang menunggu kamu pulang." Bara tersenyum. "Makanya aku harus pulang." Ia menyimpan surat itu di dalam kitabnya. Ia tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian, surat itu akan menjadi salah satu benda paling berharga dalam hidupnya. Beberapa minggu sebelum kepulangan Bara, ia menerima telepon dari ayahnya. "Yah?" "Hmm." "Bara kangen rumah." Ayahnya diam beberapa detik. "Kalau libur nanti pulang." "Bara mau bawakan sesuatu." "Apa?" "Rahasia." Ayahnya tertawa kecil. Kemudian hening. Bara merasa suara ayahnya berbeda. "Yah..." "Hmm?" "Ibu sehat?" Ayah kembali diam. "Sehat." Jawaban itu singkat. Terlalu singkat. Tetapi Bara tidak bertanya lagi. Sebelum telepon ditutup, ayahnya berkata: "Bara..." "Iya?" "Jadi anak baik." Bara tersenyum. "Iya, Yah." Itu adalah percakapan terakhir Bara dengan ayahnya sebelum kepulangannya. Hari kepulangan akhirnya tiba. Bara memasukkan pakaian ke dalam tas. Fikri membantu merapikan. "Jangan lupa hadiah." Bara tersenyum. Di tangannya ada sebuah kotak kecil. "Untuk Ibu." Fikri menepuk pundaknya. "Semoga ibumu senang." "Pastilah." Bara memandang kotak itu. "Aku sudah membayangkan wajahnya." Ia tersenyum lebar. Dalam perjalanan, Bara berkali-kali melihat hadiah tersebut. Ia membayangkan ibunya membuka kotak. Mungkin menangis. Mungkin memeluknya. Mungkin mengatakan: "Anak Ibu sudah pintar memilih hadiah." Bara tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa perjalanan pulang terlalu lambat. Kendaraan berhenti. Bara turun. Ia melihat rumahnya. Namun ada sesuatu yang berbeda. Beberapa orang berada di halaman. Tidak ada yang tersenyum. Tidak ada suara ibunya. Bara berjalan mendekat. "Assalamu'alaikum." Beberapa kepala menoleh. Mata mereka sembab. Bara mulai bingung. "Kenapa?" Tidak ada jawaban. Seorang kerabat mendekatinya. "Bara..." "Ibu mana?" Orang itu menangis. Bara mulai merasa takut. "Ibu mana?" Ia berjalan masuk. Kemudian melihat ayahnya. Ayahnya duduk di sudut ruangan. Wajah lelaki itu yang biasanya tegar kini terlihat hancur. "Bara..." Suara ayahnya bergetar. Bara mendekat. "Ayah, kenapa?" Ayahnya tidak sanggup menjawab. Bara menatap sekeliling. "Di mana Ibu?" Ayah menundukkan kepala. Kemudian air matanya jatuh. Dan Bara mengerti. Dunia seakan berhenti berputar. Bara berlari menuju kamar. Pintu terbuka. Di sana ibunya terbaring dalam balutan kain putih. Bara berhenti. Tasnya jatuh. Kotak hadiah terlepas dari tangannya. "Ibu..." Tidak ada jawaban. Ia mendekat perlahan. "Ibu..." Tangannya gemetar ketika menyentuh tangan ibunya. Dingin. Bara menarik napas. "Ibu..." Kemudian ia menangis. "Bara pulang, Bu." Tangisnya semakin keras. "Bara pulang..." Ia menggenggam tangan ibunya. "Kenapa Ibu nggak tunggu Bara?" Ayah berdiri di belakangnya. Bara menoleh. "Ayah bilang Ibu sehat..." Ayah tidak mampu menjawab. "Bara bisa pulang lebih cepat kalau tahu!" Ayah menangis. "Maafkan Ayah." Bara menundukkan kepala. Saat itu, untuk pertama kalinya Bara melihat ayahnya bukan sebagai lelaki yang selalu kuat. Tetapi sebagai seorang suami yang baru kehilangan perempuan yang dicintainya. Malam setelah pemakaman menjadi malam terpanjang dalam hidup Bara. Ia duduk sendirian di teras. Ayahnya berada di ruang tengah. Rumah itu terasa kosong. Terlalu kosong. Bara membuka kotak hadiah. Kerudung itu masih sempurna. Ia memeluknya. "Ibu nggak sempat lihat..." Air matanya jatuh. Fikri menelepon. "Bara?" Bara tidak menjawab. "Bara, kamu di rumah?" "Iya." "Bagaimana ibumu?" Hening. Fikri mulai memahami. "Bara..." "Bunda sudah nggak ada, Fik." Suara Bara pecah. Di ujung telepon, Fikri menangis. "Aku pulang..." Bara menggeleng. "Jangan." "Kenapa?" "Bara harus belajar menerima ini." Fikri terdiam. Malam itu mereka hanya diam di telepon. Tidak ada nasihat. Tidak ada kata-kata. Kadang seorang sahabat tidak perlu mengatakan apa-apa. Cukup tetap tinggal ketika dunia terasa runtuh.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
4.2K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
167.8K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.2K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.5K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.2K
bc

Ana, My Pearl

read
170.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook