17+
Happy reading
****
"hu..hu..hu..hiks sroot!" Suara orang nangis sembari mengeluarkan ingus terdengar disalah satu bilik toilet.
Leodra menangis sejadi-jadinya, setelah melihat mamihnya yang semakin kurus—setelah terakhir kali dia melihatnya—dengan pandangan kosong membuat hati Leodra mencolos. Jika berkaitan dengan mamihnya dia sangat lemah dan mudah baper beda cerita kalau sang papih yang menunjukkan ekspresi begitu, senang hati yang ada.
"Maafin adek ya mae..." gumamnya masih dengan isakan kecil, "a-adek pengen banget meluk mamih hua..." Jika Gavin dan Rasya melihatnya menangis pasti dia bakalan jadi bulan-bulanan mereka.
Leodra menatap pantulan wajahnya dicermin, "kok Lo tega banget sih sama gue, kalau Lo mau mati no father, tapi jangan seret gue masuk ke tubuh Lo dong." ucapnya seraya menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya.
Setelah lama mengomel didepan cermin Leodra menarik napas dalam lalu membuangnya, "semangat! Yok bisa yok. Bisa tipes gue!"
Leodra membasuh wajahnya dan keluar dari toilet. Saat hendak berbalik meninggalkan toilet seseorang menarik lengannya dan menyudutkannya Kedinding.
"Ngape Lo? Tipes?" ucapnya pada orang yang menarik tangannya dengan alis terangkat sebelah.
Orang itu hanya menatap Leodra dalam tanpa mengatakan apapun. "Hello epribadi hom." ucapnya lagi sembari menggoyangkan tangannya didepan wajah orang itu. Tetap tak ada jawaban, merasa lelah Leodra menatap balik wajah orang didepannya ini.
Hidung mancung, rahang tegas, mata hitam yang tajam, serta bibir kecil yang tak terlalu tebal tak pula terlalu tipis.
"Dicipok sedap nih." ucapnya dalam ginjal. Tersadar dengan pemikirannya Leodra menggelengkan kepalanya, "sadar tod! Lo cowok, jangan kek beach."
Orang itu melayangkan tangannya kepipi Elisa, mengelusnya lembut membuat Elisa menutup matanya meresapi elusan dipipinya.
"Jangan menangis." akhirnya orang itu buka suara. "Aku tidak suka melihatmu menangis, entah kenapa setiap kali aku melihatmu dengan wajah tanpa senyuman sembari menatap kosong. Disini," dia menunjuk dadanya. "Rasanya sakit sekali. maaf." setelah mengatakan itu orang itu mendekatkan wajah mereka, perlahan tapi pasti bibir mereka mulai menyatu. Orang itu memangut bibir Elisa meresapi setiap rasa yang ada, entah setan mana yang merasuki Elisa dia mengalungkan tangannya ke leher orang itu.
Mereka saling memangut. Orang itu menggeram tertahan, dia tak pernah merasakan bibir semanis ini. Awalnya dia hanya berniat menempelkan bibir mereka, tapi dia tak tau kalau bibir ini semanis itu. s**t! Terobos ajalah anjenc.
Mungkin setan yang merasuki Elisa sudah pergi, dia langsung tersadar dan mendorong orang itu.
Dia mengangkat tangannya, orang itu memejamkan matanya bersiap menerima tamparan yang akan diberikan oleh gadis didepannya ini.
Plak
Orang itu membuka matanya, dia mendengarkan suara tamparan tetapi tak merasakan sakit.
"Tenanglah wanita!" ucap Elisa setelah menampar pipinya sendiri, "bisa-bisanya Lo nikmatin ciuman dia, ya emang nikmat sih jadi pengen nambah. Lupain!" orang itu menatap Elisa dengan kening mengerut
Elisa beralih kepada orang itu, "Lo pasti sengaja kan? Iyakan?"
"Sengaja apa-"
"Cukup, jangan ngomong lagi. Gue gak mau tau nih besok Lo ribut ama gue, berani-beraninya Lo ngambil ciuman pertama gue. Walau kalau ditubuh asli gue dah sering ngerasain yang beginian." gumamnya dikalimat terakhir
"Tapi aku-"
"Ssttt." Elisa menempelkan telunjuknya dibibir orang itu.
"Awas Lo." ancamnya dan berlalu meninggalkan orang itu, "kurang ajar nih perempuan." decaknya sembari memegang bibirnya
Max menatap punggung gadis itu hingga hilang dari pandangannya, dia menyugar rambutnya. "Sialan! Kalau ku tau semanis ini sudah kulakukan sejak dulu. ck, her mouth make me horny." Max menyusul Elisa.
Sebenarnya tadi Max sudah memperhatikan tingkah Elisa saat bertemu dengan Violetta, wajahnya menyiratkan kerinduan yang mendalam. Itu bukan pertama kalinya dia melihat wajah murung itu, tetapi saat melihat tatapan gadis itu pada Violetta dia berpikir jika Elisa merindukan sosok ibu, dia tau segalanya tentang gadis itu. Makanya dia menyusul gadis itu ketoilet.
****
"Uljimayo uriga~~ anyyeong anyyeong anyyeong... haseo~~ igiboyah..." Elisa bersenandung sembari menuruni tangga, pagi ini sepertinya hatinya sedang senang.
Elisa menghentikan langkahnya saat melihat seseorang tengah duduk dimeja makan dan sedang berbincang dengan sang papa.
"Ngapain Lo disini?" tanyanya dengan mata yang memicing.
"Aku ada urusan dengan om Bara." jawab Max.
"Oh."
"Astaga Nurul, kamu belum mandi?" ucap Elisa saat melihat Shura dengan muka bantalnya masih memakai kaos putih dan bokser hijau.
"Belum Saskia, gue kesekolah cuma cuci muka kagak mandi." ucap Shura
"Astaghfirullah Nurul, nanti Bu Endah menangis mencium baumu yang seperti bangke."
"Diam Saskia bacot, gue sembur Lo dari sini."
Elisa menarik kursi didepan Shura, "Asep mana Nurul?"
"Dia masih mengbabu Nurul di kampus."
"Kasehun sekali ya Nurul,"
"Iya Saskia."
Itulah percakapan g****k Elisa, tetapi lebih g****k Shura yang mau meladeni ucapan Elisa.
****
"Nurul cepat kita akan terlambat." teriak Elisa diruang tamu
Shura menghampiri Elisa masih dengan keadaan yang sama saat dimeja makan.
"Loh, kamu gak sekolah Nurul?"
"Gak, gue bolos jadi Lo berangkat sama tunangan Lo aja."
"Kurang ajar kamu Nurul!" umpat Elisa
"Memang Saskia, gosah ngebacot cabut sono lo!" Shura mendorong Elisa supaya pergi
"Ye, biasa aja dong Nurul anjir."
Elisa pun cabut dengan hati dongkol, sementara Shura terbahak melihat muka jengkel Elisa.