Masih 17+
Happy reading
*
*
*
Dengan perasaan dongkol Elisa memasuki pajero sport 2.4 Dakar 4x4 8 A/T dan membanting pintunya kasar, membuat Max—yang sedang sibuk dengan ponselnya—terlonjak kaget.
"Kamu lama sekali, aku sudah menunggu lama." ucap Max
"Kimi limi sikili, iki sidih mininggi limi. Bacot! Udah, jalanin mobilnya." ucap Elisa kesal membuat Max mengerutkan dahinya bingung.
"Kamu kenapa?" tanyanya
"Banyak nanya Lo kek Dora, jalan gak?!"
"Iya iya ini mau jalan," akhirnya Max pun memilih mengalah dan menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Elisa hanya diam dengan mempoutkan bibirnya dengan muka kesal, membuat Max salfok dan ingin melumat bibir itu.
"Gosah ngeliatin gue Lo, gue belom mo meninggoy, btw." sindir Elisa saat mereka berhenti di lampu merah, masih dengan bibir yang dimonyongkan.
Max menghela napas pelan, "jangan manyun gitu kalau kau tidak mau kesekolah dengan bibir yang membengkak." ucap Max dan kembali menjalankan mobilnya.
"Ngape emang? Napsu Lo sama bibir gue? Emang sih bibir gue tuh cipokable banget, siapa coba yang gak napsu liatnya." pongahnya dengan mengibaskan rambut putihnya
"Gak usah mancing kamu." peringat Max
"Siapa yang mancing? Gue mo sekolah ya nek,"
Max tidak membalas ucapan gadis itu dan memilih fokus melihat jalanan, karna kalau dilanjutin bisa kebablasan.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di depan gerbang SMA ANTARIKSA.
Elisa melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil tapi dengan usil Max mengunci pintunya, Elisa menatap Max, "buka gak!?"
Max menunjuk pipinya mengisyaratkan untuk dicium.
"Gosah ngimpi Lo!" sembur Elisa
"Yaudah kita disini saja sampai bel berbunyi."
"Dih, Lo pikir gue takut? Yang ada seneng gue om, bisa bolos trus nyebat dibelakang sekolah." ucapnya
"Kamu merokok?" tanya Max dengan tatapan menajam
"Iyal--" Elisa menutup mulutnya kala sadar dengan apa yang diucapkan.
"Kamu ngerokok?" tanya Max lagi
"Enggak."
Max menatap Elisa masih dengan tatapan tajam, "ih beneran. ngapain juga gue nyebat, gue cewek anjir. Beda cerita kalau khilaf." ucapnya
"Dari pada ngisap rokok yang gak jelas mending ngisap bibirku yang merah merona ini." ucap Max lebay membuat Elisa menatapnya jijik
Bisa ngelawak juga nih orang, pikirnya.
"Jangan ada harapan hal itu akan terjadi." ucap Elisa pedas, "udah deh, mending Lo buka ni pintunya." jengkelnya
Kembali Max menunjuk pipinya, Elisa berdecak dan mendekatkan wajahnya dia memberikan kecupan pada pipi mulus nan lembut itu, tapi sedetik kemudian dia menjilat pipi Max.
"s**t!" umpat Max
Ceklek
Elisa menggunakan kesempatan itu dengan membuka pintu mobil, dan hendak melarikan diri sebelum si om m***m termesum.
Tapi terlambat, Max sudah terlebih dahulu menahan lengannya dan menindihnya.
"Harusnya kau tidak melakukan itu, manist"
"Njir kesannya udah kek mau memperkaos gue ni om om bangsat." dalam ginjal
Max melumat bibir Elisa dengan keras meluapkan apa yang sedari tadi ditahannya, Elisa berusaha mendorong tubuh pria yang sedang menindihnya itu, tapi entah kemana perginya energinya dia kalah kuat dengan Max.
"Njir merasa ternodai gue anjeng! Kurang ajar ni om om, awas kalau gue udah sadar gue tebas burung Lo." Batinnya
Sibuk berperang dengan batinnya sehingga tidak sadar tangan Max sudah menelusup masuk kedalam rok sekolahnya dan mengusap paha mulusnya seduktif.
"Mpptt..." desahan tertahan keluar dari bibir Elisa
"Mulut sialan!" umpatnya dalam usus
Setelah puas dengan bibir gadis itu, Max beralih ke leher putih mulus yang sejak dulu mengalihkan dunianya. a***y dunianya:v Memberi beberapa tanda disana dan kembali melumat bibir merah merona itu, saat tangannya hendak membuka kancing seragam sekolah Elisa, seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya membuat mereka mengalihkan pandangan kearah jendela, disana sudah menempel wajah Nathan membuat keduanya.... Biasa aja. Dengan berdecak Max menyingkir dari atas Elisa dan membantu gadis itu membenahi penampilannya. Elisa membuka pintu mobil tapi sebelum turun dia menampar bibir Max, membuat Max meringis. "Awas Lo kalau berani-berani main nyosor lagi, gue perkaos Lo disini." ancamnya membuat Max mengernyit bingung, bukannya dia yang harus mengatakan itu? Blam Max berjengit kaget karena Elisa kembali menutup pintu mobil dengan membantingnya. "Hayo Lo... Abis ngapain dimobil ama kakak gue?" ucap Nathan saat Elisa keluar dari mobil "Kalian berbuat m***m kan!" ucapnya lagi , "Iya. Kenapa emang? Iri Lo? Dan gegara Lo aktivitas kita terhenti tau gak!" decak Elisa "Bujuk buneng, Elisa dah gede ya bund." ejek Nathan "Bacot gembel!" Elisa melangkahkan kakinya menuju kelas dan meninggalkan Nathan yang tengah mengumpatnya. *** Pelajaran dimulai dengan lancar, guru fisika sedang menjelaskan materi didepan tapi Elisa tak terlalu memperhatikannya karna dia sibuk memikirkan bagaimana caranya dia kembali ke tubuhnya, dia tak mungkin seperti ini terus ntar si Max khilaf kan bisa berabe, itu bisa membuat dia trauma. Memikirkan Max berbuat lebih padanya membuat dia ingin muntah. "Berarti besok gue kudu cari informasi tentang rumah sakit tempat gue dirawat, hm... Gue butuh bantuan si om m***m nih." Gumamnya pada diri sendiri "Semangat Leodra! Lo pasti bisa." semangatnya pada diri sendiri. Karna sibuk dengan memikirkan rencananya, dia tak sadar kalau bel tanda istirahat sudah berbunyi. Semua siswa berbondong-bondong menuju kantin guna memuaskan perut yang sedari tadi meronta-ronta ingin diisi. Elisa keluar kelas menuju kantin, dia berjalan hanya sendiri karna Sheryl sibuk dengan pacarnya yang waktu itu keciduk lagi skidipapap sama sahabatnya sendiri. Elisa tidak habis pikir, Sheryl yang manis begitu kudu pacaran sama anak setan macam si Al Al itu, miris. "Suit suittt.... Cewek! Sendirian aja nih." ucap Zidan sembari merangkul pundak Elisa Elisa menyikut perut Zidan karna berani merangkulnya. "Jauh-jauh Lo dari gue." ucapnya kesal "Wess sante bos." ucap Zidan sembari menarik kembali lengannya dari pundak Elisa "Btw, Lo berdua tau gak informasi tentang si Leodra?" tanya Elisa "Leodra? Siapa tuh?" tanya Zidan memandang kearah Nathan "Ituloh cowoknya si Nayla." ucap Nathan "Oh... Si playboy dari senior high school?" tanya Zidan lagi dan mendapat anggukan dari Nathan "Sembarangan Lo, mana ada gue pacaran sama Nayla." ucap Elisa tak terima "Yang bilang Lo pacaran sama Nayla siapa njing." decak Nathan "Gue bilang Leodra ya, Leodra. Bukan Elisa, ngadi ngadi Lo." lanjutnya dan membuat Elisa terdiam Dia lupa kalau sekarang dia sedang ditubuh gadis bernama Elisa, haah~~ sialan! Abis